Daftar Cerita Legenda Rakyat
Showing posts with label BALI. Show all posts
Showing posts with label BALI. Show all posts

ASAL MULA SELAT BALI

0 komentar

Selat Bali adalah selat yang memisahkan antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Untuk menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Bali melalui Selat Bali ini, yang dihubungkan dengan layanan kapal ferry dengan Pelabuhan Gilimanuk di Pulau Bali dan Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi - Pulau Jawa.


Alkisah, di Kerajaan Daha, Kediri, Jawa Timur, hiduplah seorang Brahamana (pendeta) yang bernama Empu Sidi Mantra. Ia seorang pendeta yang kaya raya dan terkenal sakti mandraguna. Selain itu, ia juga memiliki seorang istri yang cantik jelita dan seorang putra yang gagah dan tanpan bernama Manik Angkeran. Meski demikian, pendeta itu tidak bisa hidup tenang dan bahagia, karena anak semata wayangnya, Manik Angkeran, memiliki sifat tidak terpuji, yaitu gemar berjudi. Ia selalu mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya dan berhutang kepada orang lain ketika kalah berjudi. Hal inilah yang membuat Empu Sidi Mantra dan istrinya merasa resah, karena hampir setiap hari orang-orang mendatangi rumahnya untuk menagih hutang putranya. Keadaan tersebut berlangsung hingga bertahun-tahun, sehingga lambat-laun harta kekayaan sang Empu terkuras habis.

Pada suatu sore, Manik Angkeran pulang ke rumahnya dengan nafas tersengal-sengal.
  • “Bapa, Ibu! Tolong aku!” seru Manik Angkeran.
  • “Ada apa, Putraku? Apa yang terjadi denganmu?” tanya ibunya dengan perasaan cemas.
  • “A...a... aku dikejar-kejar orang, Bu!” jawab Manik Angkeran dengan nafas yang masih terengahengah.
  • “Hmm... kamu pasti kalah berjudi lagi ya!” timpa bapanya.
  • “Iya, Bapa! Aku kalah berjudi dan tidak sanggup membayar taruhan. Tolong aku, Bapa! Mereka ingin membunuhku,” Manik Angkeran mengiba kepada bapanya.
Tak berapa lama kemudian, datanglah beberapa orang pemuda membawa golok. Mereka berteriakteriak di depan rumah menyuruh Manik Angkeran keluar.
  • “Hai, Manik Angkeran! Keluar dan bayarlah hutangmu!” teriak salah seorang pemuda sambil mengacung-acungkan goloknya.
Manik Angkeran pun semakin ketakutan. Ia segera masuk ke kamarnya untuk bersembunyi. Sementara itu, dengan tenangnya, Empu Sidi Mantra segera menemui para pemuda yang berdiri di depan rumahnya.
  • “Tenang, wahai Anak Muda! Percayalah, saya akan membayar semua hutang putraku. Tapi, berilah saya waktu tiga hari untuk mencari uang dulu,” pinta Empu Sidi Mantra.
  • “Baiklah, Empu! Kami menerima permintaan Empu. Tiga hari lagi, kami akan kembali kemari untuk menagih janji Empu,” kata salah seorang pemuda, lalu membubarkan diri bersama teman-temannya.
Pada malam harinya, Empu Sidi Mantra berdoa untuk memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Saat tengah malam, tiba-tiba ia mendengar suara bisikan yang sangat jelas di telinganya.
  • “Hai, Sidi Mantra! Pergilah ke kawah Gunung Agung! Di sana ada harta karun yang dijaga oleh seekor naga bernama Naga Besukih,” demikian suara bisikan itu.
Keesokan harinya, berangkatlah Empu Sidi Mantra itu ke kawah Gunung Agung. Setelah berjalan cukup jauh dengan berbagai rintangan, sampailah ia di tempat tersebut. Ia pun duduk bersila sambil membunyikan genta (lonceng) saktinya seraya mulutnya komat-kamit menyebut nama Naga Besukih. Tak berapa lama kemudian, naga itu pun keluar dari tempat persembunyiannya.
  • “Hai, kisanak! Kamu siapa dan ada apa kamu memanggilku?” tanya Naga Besukih itu.
  • “Saya Empu Sidi Mantra dari Tanah Jambudwiba. Maksud kedatangan saya kemari untuk meminta bantuanmu,” kata Empu Sidi Mantra.
  • “Apa yang bisa kubantu, hai Mpu? Katakanlah!” seru Naga Besukih. Empu Sidi Mantra pun mengutarakan maksud kedatangannya. Karena merasa iba, Naga Besukih segera menggeliatkan tubuhnya. Seketika itu pula, emas dan berlian pun berhamburan keluar dari balik sisiknya.
  • “Bawalah emas dan intan ini Mpu! Semoga cukup untuk membayar hutang-hutang putramu. Tapi, ingat! Jangan lupa untuk menasehati putramu agar dia mau merubah perilakunya!” seru sang Naga.
  • “Baik, Naga! Terima kasih atas bantuannya,” ucap Empu Sidi Mantra.
Setelah mengambil semua perhiasan emas dan intan tersebut, Empu Sidi berpamitan kepada sang Naga. Setibanya di rumah, ia langsung memanggil putranya.
  • “Wahai, putraku Manik Angkeran! Bapa akan memberikan semua emas dan intan ini kepadamu, tapi dengan satu syarat, kamu harus berjanji untuk tidak berjudi lagi,” ujar Empu Sidi Mantra.
  • ‘Baik, Bapa! Manik berjanji untuk tidak berjudi lagi,” ucap Manik Angkeran. 
Empu Sidi Mantra pun percaya begitu saja pada ucapan putranya. Akhirnya, ia menyerahkan semua perhiasan emas dan intan tersebut kepada putranya. Dengan perasaan senang dan gembira, Manik Angkeran segera menjual semua perhiasan emas dan intan tersebut. Setelah itu, ia pergi membayar hutang-hutangnya. Ternyata, uang hasil penjualan emas dan intan tersebut tidak habis digunakan untuk melunasi seluruh hutangnya.

Melihat jumlah uang yang masih tersisa begitu banyak, akhirnya ia pun tergiur untuk kembali bermain judi. Dengan uang itu, ia berharap akan menang dan memperoleh uang yang lebih banyak lagi. Tapi, nasib berkata lain, ia kalah berjudi dan uangnya pun habis. Bahkan, ia kembali dililit hutang. Akhirnya, ia kembali ke rumahnya dengan wajah lesu.
  • “Bapa! Aku sudah membayar semua hutangku kepada mereka,” kata Manik Angkeran dengan nada lemas.
  • “Ya, baguslah kalau begitu! Tapi, kenapa wajahmu tampak kusut begitu?” tanya bapanya heran.
  • “Maafkan aku, Bapa! Tadi aku bermain judi dan berhutang lagi,” jawab Manik Angkeran sambil menundukkan kepalanya.
  • “Apa katamu! Dasar anak keras kepala, tidak mau mendengar nasehat orang tua!” bentak bapanya.
  • “Maafkan aku, Bapa! Tolong bantu aku sekali ini saja, Bapa!” Manik Angkeran mengiba di hadapan ayahnya.
  • “Tidak! Bapa tidak dapat membantumu lagi. Bayar sendiri hutang-hutangmu itu!” seru bapanya dengan wajah memerah.
Manik Angkeran pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kebingungan mencari cara untuk membayar hutang-hutangnya. Di tengah kebingungannya, tiba-tiba ia teringat bahwa bapanya memperoleh perhiasan emas dan intan di kawah Gunung Agung. Ia pun nekad mencuri genta milik bapanya, lalu pergi ke kawah gunung itu. Setibanya di sana, ia bingung lagi karena tidak mengerti doa dan mantra yang harus diucapkan. Akhirnya, ia mencoba membunyikan genta itu tanpa mengucapkan mantra. Setelah beberapa kali membunyikannya, tiba-tiba seekor naga besar keluar dari sarangnya dan menghampirinya.
  • “Ampun, Naga! Jangan memangsaku!” pinta Manik Angkeran.
  • “Hai, Anak Muda! Kamu siapa? Kenapa kamu membunyikan genta itu tanpa membaca mantra?” tanya Naga Besukih.
  • “A... a... Aku Manik Angkeran, putra Empu Sidi Mantra,” jawab Manik Angkeran dengan gugup.
  • “Hai, Manik Angkeran! Ada apa engkau memanggilku dengan genta yang kau curi dari bapamu itu?” tanya Naga Besukih. Manik Angkeran pun menyampaikan maksud kedatangannya. Ia mengiba kepada Naga Besukih agar ia diberikan harta yang melimpah untuk membayar hutang-hutangnya.
  • “Naga! Kasihanilah Aku! Orang-orang akan membunuhku jika tidak segera membayar hutangku kepada mereka,” Manik Angkeran kembali mengiba. Melihat kesedihan Manik Angkeran, sang Naga pun merasa kasihan kepadanya.
  • “Baiklah! Aku akan membantumu, tapi kamu harus berjanji untuk berhenti berjudi,” ujar Naga Besukih.
Setelah itu, sang Naga segera membalikkan badannya hendak mengeluarkan emas dan intan melalui sisik ekornya. Begitu ia hendak menyetakkan ekornya, tiba-tiba Manik Angkeran segera menghunus kerisnya dan memotong ekor naga itu. Tak ayal lagi, Naga Besukih pun meronta-ronta dan menjerit kesakitan. Ketika ia membalikkan badannya, Manik Angkeran telah pergi membawa ekornya yang penuh dengan emas dan intan itu. 

Naga Besukih berusaha untuk mengejarnya, namun putra Empu Sidi Mantra itu sudah menghilang entah ke mana. Ia hanya menemukan bekas tapak kakinya. Maka dengan kesaktiannya, ia membakar tapak kaki itu. Manik Angkeran yang telah pergi jauh meninggalkan kawah Gunung Agung pun merasakan kedua telapak kaki terasa panas, dan lama kelamaan seluruh tubuhnya terbakar hingga akhirnya menjadi abu.

Sementara itu, di Kerajaan Daha, Empu Sidi Mantra dan istrinya sedang gelisah, karena anak semata wayang mereka menghilang. Mereka sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tidak juga menemukannya.
  • “Pa! Ke mana perginya putra kita? Kita sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tak seorang pun warga yang tahu keberadaannya?” tanya istri Empu Sidi Mantra dengan perasaan cemas. Empu Sidi Mantra hanya terdiam sambil berpikir. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ia tersentak kaget.
  • “Wah, jangan-jangan putra kita pergi ke Gunung Agung,” kata Empu Sidi Mantra.
  • “Kenapa Bapa bisa berpikiran begitu?” tanya istrinya.
  • “Aku berpikiran demikian, karena putra kita menghilang bersamaan dengan hilangnya genta saktiku. Dia pasti pergi ke kawah itu untuk menemui Naga Besukih,” jawab Empu Sidi Mantra.
Keesokan harinya, berangkatlah Empu Sidi Mantra ke kawah Gunung Agung untuk mencari putranya. Setibanya di sana, ia melihat Naga Besukih sedang gelisah di luar sarangnya.
  • “Wahai, Naga Besukih! Apakah engkau melihat putraku?” tanya Empu Sidi Mantra.
  • “Iya, Mpu! Kemarin dia ke sini meminta harta untuk membayar hutang-hutangnya. Namun, ketika aku hendak memberinya harta itu, tiba-tiba ia memotong ekorku, lalu membawanya pergi bersama harta itu,” jelas Naga Besukih.
  • “Apakah kamu tahu kemana perginya?” Empu Sidi Mantra kembali bertanya dengan perasaan cemas.
  • “Maaf, Mpu! Kamu tidak usah lagi mencari putramu. Aku telah membakarnya hingga binasa,” jawab Naga Besukih. Betapa terkejutnya Empu Sidi Mantra mendengar berita buruk itu. Ia pun memohon kepada sang Naga agar putranya dihidupkan kembali.
  • “Maafkan aku dan putraku, Naga! Dia putraku satu-satunya. Aku mohon hidupkanlah dia kembali,” pinta Empu Sidi Mantra.
  • “Baiklah, Mpu! Demi persahabatan kita, aku akan memenuhi permitaanmu. Tapi dengan satu syarat, kamu harus mengembalikan ekorku,” kata Naga Besukih.
Empu Sidi Mantra pun berjanji untuk memenuhi syarat Naga Besukih. Dengan kesaktiannya, Naga Besukih berhasil menghidupkan kembali Manik Angkeran. Empu Sidi Mantra segera pergi mencari putranya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya ia pun menemukan putranya di sebuah hutan lebat, dan kemudian mengajaknya kembali ke kawah Gunung Agung untuk menemui dan mengembalikan ekor Naga Besukih.

Setibanya di kawah Gunung Agung, Empu Sidi Mantra segera mengembalikan ekor Naga Besukih seperti semula. Setelah itu, ia bersama naga itu menasehati putranya agar benar-benar mau merubah perilakunya. Manik Angkeran pun sadar dan berjanji untuk mengikuti nasehat mereka. Sebagai hukuman, ia harus tinggal di sekitar Gunung Agung.

Akhirnya, Empu Sidi Mantra pun kembali ke Kerajaan Daha seorang diri. Ketika tiba di Tanah Benteng, ia menorehkan tongkat saktinya ke tanah untuk membuat garis batas antara dia dan putranya. Karena kesaktiannya, bekas torehan tongkatnya bertambah lebar sehingga tergenangi air laut, dan lambat laun tempat itu berubah menjadi sebuah selat. Oleh masyarakat setempat, selat itu dinamakan Selat Bali.

*****

Demikianlah kisa Asal Mula Selat Bali dari Provensi Bali, Indonesia. Pembelajaran yang dapat diperoleh dari kisah ini adalah bahwa berjudi merupakan perilaku tidak terpuji yang harus dijauhi. Pembelajaran lain yang dapat dipetik adalah bahwa sifat gemar berjudi dapat mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan keji seperti menipu, mencuri, dan merampok harta orang lain.


AGATHA NICOLE TJANG

ASAL MUASAL UPACARA NANGLUK MERANA (MEMBASMI HAMA) KABUPATEN KARANGASEM

0 komentar

Di Pulau Bali yang merupakan Pulau Dewata, terdapat tiga putra Batara Siwa yaitu Batara Gunung Agung, Batara Andakasa dan Batara Batur. Batara Batur setiap ada hama merusak tanamannya agar segera meminta maaf kepada Batara Gunung Agung dan Batara Andakasa ke laut. Di samping itu, Batara Batur juga diharapkan agar setiap tahun memohon maaf ke sana dengan melakukan upacara yang disebut Nangluk Merana, yaitu upacara mengusir atau membasmi hama.


Alkisah, secara turun-temurun dari nenek moyang orangtua ke generasi sekarang bahwa ada kisah tentang asal muasal hama di kabupaten Karang Asem. Di Pulau Jawa tersebutlah seorang raja bernama Batara Siwa yang beristana di Gunung Mahameru. Batara Siwa mempunyai tiga orang putra yang semuanya tinggal di pulau dewata (Bali-Indonesia).
  • Putra tertua beristana di Gunung Agung dengan gelar Batara Gunung Agung. Ia memiliki kegemaran beternak hewan seperti kerbau, sapi, babi, kambing, dan ayam. 
  • Putra kedua beristana di Andakasa dengan gelar Batara Andakasa. Ia adalah penguasa laut di sekitar Pulau Bali dan gemar memelihara berbagai jenis ikan di laut. 
  • Putra ketiga beristana di Batur dengan bergelar Batara Batur. Putra bungsu Batara Siwa ini gemar menanam beraneka ragam tumbuhan pangan.
Ketiga putra Batara Siwa tersebut senantiasa hidup rukun dan rakyat mereka pun hidup makmur. Ternak peliharaan Batara Gunung Agung berkembang dengan cepat dan gemuk-gemuk. Demikian pula segala jenis ikan peliharaan Batara Andakasa. Tanaman peliharaan Batara Batur juga senantiasa tumbuh dengan subur. Dalam mengembangkan kegemaran ketiga putra Batara Siawa tersebut, mereka dibantu oleh rakyatnya masing-masing.

Suatu ketika, kerukunan antara ketiga orang bersaudara tersebut berubah menjadi permusuhan. Hal ini bermula dari pengrusakan yang dilakukan oleh binatang ternak Batara Gunung Agung terhadap tanaman Batara Batur. Rakyat Batur sudah berusaha menghalau kawanan binatang tersebut, namun mereka gagal karena jumlahnya terlalu banyak. Akhirnya, mereka segera mengadukan peristiwa itu kepada Batara Batur. Mendengar laporan tersebut, putra bungsu Batara Siwa itu menjadi murka. Ia bergegas menuju ke tempat kejadian dengan membawa senjata. Begitu melihat banyak sekali binatang yang sedang merusak tanamannya, tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung menyabetkan senjatanya ke binatang-binatang tersebut. Tak ayal, satu per satu binatang tersebut jatuh bergelimpangan di antara tanaman. Sebagian binatang yang selamat berlarian menuju ke Gunung Agung.

Sementara itu, Batara Gunung Agung menjadi terkejut saat melihat binatang peliharaannya kembali ke kandang lebih cepat dari biasanya. Yang membuatnya lebih terkejut lagi karena binatang peliharaannya tinggal sedikit. Ia pun segera memerintahkan pengawalnya untuk menyelidiki hal itu.
  • “Pengawal! Cepat kamu selidiki penyebab dari kejadian ini!” seru Batara Gunung Agung.
  • "Baik, Paduka! Perintah Paduka segera hamba laksanakan,” jawab sang pengawal seraya mohon diri.
Sesampai di Batur, sang pengawal melihat Batara Batur bersama rakyatnya sedang sibuk membersihkan bangkai-bangkai binatang yang bergelimpangan di sekitar lahan pertanian. Setelah mengetahui penyebab binatang ternak tuannya berkurang, sang pengawal segera kembali ke Gunung Agung.
  • “Ampun, Paduka! Rupanya, binatang ternak Paduka berkurang karena dibunuh oleh Batara Batur,” lapor pengawal itu.
  • “Apa katamu?” kata Batara Gunung Agung dengan terkejut, 
  • “Wah, hal ini sangat sulit untuk dipercaya.”
Penguasa Gunung Agung itu tidak pernah menyangka kalau Batara Batur tega melakukan hal itu. Ia pun bergegas menemui adiknya di Batur.
  • “Wahai, Adikku! Mengapa engkau membunuh binatang-binatang ternakku?” tanya Batara Gunung Agung.
  • “Maafkan Dinda, Kanda! Dinda mengira binatang-binatang itu bukan milik Kanda. Lagi pula, mereka merusak tanaman Dinda,” jawab Batara Batur.
  • “Kalau bercocok tanam, seharusnya engkau pagari tanamanmu agar tidak dirusak binatang,” ujar Batara Gunung Agung dengan perasaan kesal.
  • “Maaf, Kanda. Kanda jangan hanya menyalahkan Dinda. Binatang ternak Kanda juga perlu dipagari agar tidak berkeliaran di mana-mana dan tidak merusak tanaman orang lain,” kata Batara Batur membela diri.
Batara Gunung Agung hanya terdiam. Dalam hatinya berkata bahwa apa yang dikatakan oleh adiknya itu cukup masuk akal. Namun karena terlanjur kecewa, ia enggan mengakui kesalahannya. Sebelum meninggalkan Batur, ia berkata kepada adiknya. 
  • “Semoga bangkai-bangkai itu berbau busuk dan amis.”
Begitu Batara Gunung Agung kembali ke istananya, seketika itu pula bau busuk dan amis meliputi seluruh Batur. Oleh karena tidak tahan dengan bau tersebut, Batara Batur memerintahkan seluruh rakyatnya untuk membuang semua bangkai itu ke sungai hingga hanyut ke laut. Tak ayal, para penduduk yang tinggal di sekitar laut menjadi resah karena tidak tahan mencium bau busuk dan amis tersebut. Mereka pun segera melaporkan keadaan itu kepada Batara Andakasa sebagai penguasa laut.
  • "Ampun, Paduka! Air laut telah dicemari oleh bangkai binatang yang jumlahnya sangat banyak,” lapor salah seorang warga.
  • “Benar, Paduka! Selain air laut berbau busuk dan amis, banyak pula ikan yang mati akibat bangkaibangkai itu,” imbuh seorang warga lainnya.
Batara Andakasa sangat sedih mendengar kabar buruk itu. Setelah diselidiki, diketahuilah bahwa penyebab semua itu adalah Batara Batur. Batara Andakasa pun segera menemui adiknya di Batur.
  • “Wahai, Adikku! Mengapa engkau membuang bangkai-bangkai binatang itu ke laut? Bangkai binatang tersebut menyebabkan ikan-ikan peliharaanku banyak yang mati,” ungkap Batara Andakasa.
  • “Semestinya bangkai-bangkai itu kamu tanam di dalam tanah supaya tanah menjadi subur,” imbuhnya.
  • “Maafkan Dinda, Kanda! Dinda tidak tahu apa yang harus Dinda perbuat dengan bangkai binatang yang banyak itu. Dinda tidak pernah berpikir kalau bangkai itu akan membunuh ikan-ikan peliharaan Kanda,” jawab Batara Batur.
Tanpa banyak tanya lagi, Batara Andakasa segera meninggalkan adiknya. Namun sebelum pergi, ia berpesan kepada Batara Batur agar selalu waspada dan berhati-hati menjaga tanamannya. Sesampai di laut, Batara Andakasa segera memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mengumpulkan seluruh bangkai binatang yang sudah berulat itu. Setelah itu, ia berdoa agar tulang dari bangkai binatang tersebut berubah menjadi tikus, ulatnya menjadi ulat hama, serta bulunya menjadi sangit dan wereng. Doa Batara Andakasa pun terkabulkan, sehingga dalam sekejap semua bangkai binatang tersebut berubah menjadi hama. Ia kemudian memerintahkan seluruh hama itu untuk menyerang tanaman Batara Batur.
  • “Kalian semua, hancurkan seluruh tanaman adikku di Batur!” seru Batara Andakasa. 
Mendengar perintah itu, hama-hama tersebut dengan cepat merusak seluruh tanaman Batara Batur. Melihat kejadian itu, Batara Batur menciptakan hujan untuk menghalau mereka. Namun, usaha itu tidak berhasil. Akhirnya, ia melaporkan masalah itu kepada ayahandanya, Batara Siwa, di Gunung Mahameru.

Mendengar laporan dari putra bungsunya, Batara Siwa bergegas menuju ke Bali. Sesampai di sana, ia kemudian mengumpulkan ketiga putranya untuk dinasehati.
  • “Wahai, putra-putraku! Rukunlah kalian dalam bersaudara!” ujar Batara Siwa, 
  • “Putraku Batara Gunung Agung buatkanlah kandang untuk binatang ternakmu.
  • "Demikian juga putraku Batara Batur janganlah lupa memagari tanamanmu. Untuk putraku Batara Andakasa tidak usah khawatir. Mulai saat ini, ikan-ikan peliharaanmu sudah senang makan bangkai jika ada yang hanyut ke laut sehingga mereka menjadi gemuk.”
Sebelum kembali ke istananya di Gunung Mahameru, Batara Siwa juga berpesan kepada Batara Batur setiap ada hama merusak tanamannya agar segera meminta maaf kepada Batara Gunung Agung dan Batara Andakasa ke laut. Di samping itu, Batara Batur juga diharapkan agar setiap tahun memohon maaf ke sana dengan melakukan upacara yang disebut  Nangluk Merana,  yaitu upacara mengusir atau membasmi hama.

Sejak itulah, setiap tahun para petani di Bali sampai saat ini melakukan upacara Nangluk Merana agar Batara Andakasa bermurah hati memberikan keselamatan kepada mereka dan kesuburan bagi tanaman mereka. Upacara tersebut pada umumnya dilaksanakan di pura-pura yang berstatus sebagai pura subak (Subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam bercocok tanam padi di Bali, Indonesia), yang terletak di tepi pantai.


*****

Demikianlah cerita Asal Muasal Upacara Nangluk Merana dari daerah Karangasem, Bali. Adapun pelajaran berharga yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah tidak adanya rasa saling menghormati dan menghargai antar sesama saudara/manusia, jika tidak adanya sifat saling menghormati dan menghargai dapat menyebabkan terjadinya permusuhan dan pertikaian. Dan sebaiknya selalu menghormati dan meminta petunjuk pada orangtua untuk menengahi permasalahan.



AGATHA NICOLE TJANG

ASAL USUL DESA TRUNYAN - DESA KEDISAN - DAN DESA ABANG DUKUH

0 komentar

Desa Trunyan, Desa Kedisan, dan Desa Abang Dukuh merupakan desa yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Keberadaan nama ketiga desa tersebut terkait dengan pengembaraan empat orang putra Raja Surakarta ke Bali untuk mencari bau harum yang sangat menyengat.


Pada dahulu kala, Raja Solo yang bertahta di Keraton Surakarta mempunyai empat orang anak, tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang paling bungsu. Suatu hari, tiba-tiba mereka mencium bau harum yang sangat menyengat.
  • “Hai, bau harum apa itu?” tanya Pangeran Sulung,
  • “Apakah kalian menciumnya juga?“Iya, Kanda. Bau harum itu amat menyengat,” jawab ketiga adiknya serentak.
Keempat bersaudara itu pun mencari sumber bau harum yang menyengat tersebut.
  • “Sepertinya bau harum itu berasal dari arah timur, Kanda,” ujar si Putri Bungsu.
  • “Iya, kamu benar, Adikku,” Kakak sulungnya mengiyakan.
Keempat bersaudara itu amat penasaran dan tertarik pada bau harum itu.
Akhirnya, mereka pun bersepakat untuk mencari sumbernya. Setelah menyiapkan segala keperluan dan mendapat izin dari sang Ayah, mereka pun mengadakan perjalanan menuju ke arah timur. Semakin jauh mereka ke timur, bau harum itu kian menyengat.

Setelah berbulan-bulan berjalan dengan menyusuri hutan lebat, menyeberangi sungai, dan Selat Bali, akhirnya mereka tiba di Pulau Bali. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga ke perbatasan Pulau Bali di sebelah timur, yaitu perbatasan antara Desa Ciluk Karangasem dan Tepi yang terletak di dekat Buleleng. Setiba di kaki Gunung Batur sebelah selatan, si Putri Bungsu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
  • “Ada, adinda? Mengapa berhenti?” tanya Pangeran Sulung.
  • “Adinda tertarik pada tempat ini, Kanda. Jika diperkenankan, izinkanlah Adinda tinggal di tempat ini,” pinta si Putri Bungsu.
Permintaan Putri Bungsu pun disetejui oleh ketiga kakaknya. Sejak itulah, Putri Bungsu dari Kerajaan Surakarta itu berdiam di tempat tersebut. Namun, ia kemudian pindah ke lereng Gunung Batur sebelah timur, tempat Pura Batur berdiri. Selanjutnya, sang Putri diberi gelar Ratu Ayu Mas Maketeg

Sementara itu, ketiga kakak Putri Bungsu kembali melanjutkan perjalanan. Saat tiba di suatu dataran bernama Kedisan yang terletak di sebelah barat daya Danau Batur, mereka mendengar suara burung yang amat merdu. Saking senangnya, Pangeran Ketiga berteriak kegirangan. Namun, Pangeran Sulung tidak senang mendengar kelakuan adiknya itu.
  • “Hai, Adikku! Jika kamu senang dengan tempat ini, maka tinggallah kamu di sini,” seru Pangeran Sulung.
  • “Tidak, Kanda. Adik mau ikut kalian,” tolak sang Adik.
Akan tetapi, Pangeran Sulung sudah terlanjur murka. Maka, ia pun menendang adiknya hingga terjatuh dalam keadaan posisi duduk bersila dan berubah menjadi patung. Hingga saat ini, patung Batu Bathara (Dewa) itu itu masih dapat kita temukan di Kedisan dengan posisi duduk bersila. Patung Bathara yang merupakan penjelmaan Pangeran Ketiga Raja Solo itu diberi gelar Ratu Sakti Sang Hyang Jero dan kini sedang bersemayam (melinggih) di Meru Tumpang Pitu atau bangunan suci dalam pura yang beratap tujuh tingkat di Pura Dalam Pingit, di Desa Kedisan.

Tinggal dua orang pangeran yang tersisa dalam perjalanan itu, yaitu Pangeran Sulung dan Pangeran Kedua. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyusuri tepi Danau Batur sebelah timur. Ketika sampai di sebuah dataran, mereka bertemu dua gadis cantik. Oleh karena tertarik pada gadis-gadis itu, Pangeran Kedua pun menyapa mereka. Namun, Pangeran Sulung tidak menyukai tindakan adiknya itu.
  • “Hai, Adikku! Jika kamu senang pada gadis itu, tinggallah kamu di sini!” seru Pangeran Sulung.
  • “Tidak, Kanda. Dinda ingin bersama Kanda,” jawab Pangeran Kedua.
Sekal lagi, Pangeran Sulung sudah terlanjur naik pitam kepada adiknya. Pangeran Sulung kemudian menyepak adiknya hingga jatuh dalam keadaan tertelungkup. Konon, Pangeran Kedua itu kemudian menjadi kepala desa dan desa itu dinamakan Desa Abang Dukuh. Disebut Abang karena tempat itu merupakan bagian dari Desa Abang, dan dinamakan dukuh karena berasal dari kata telungkup yang dalam bahasa setempat disebut dengan istilah dukuh.

Pangeran Sulung melanjutkan perjalanan seorang diri untuk mencari sumber bau harum itu. Ia kembali menyusuri pinggir Danau Batur yang curam di sebelah timur. Setiba di sebuah dataran, ia mendapati seorang dewi yang cantik jelita sedang duduk sendirian di bawah Pohon Taru Menyan. Pangeran Sulung rupanya amat terpesona pada kecantikan sang Dewi dan berniat untuk melamarnya. Ketika ia menghampiri dewi itu, bau harum yang berasal dari pohon Taru Menyan itu semakin menusuk hidungnya.
  • “Oh, rupanya pohon inilah sumber bau harum itu,” gumam Pangeran Sulung.
Pangeran Sulung pun semakin mantap untuk melamar dewi itu. Lamaran itu ia sampaikan kepada kakak sang Dewi.
  • “Baiklah. Engkau boleh menjadi suami adikku, tapi dengan satu syarat,” kata kakak sang Dewi.
  • “Apakah syarat itu?” tanya Pangeran Sulung ingin tahu.
  • “Engkau harus menjadi pancer jagat (pasak dunia) atau pemimpin desa, ” kata kakak si Dewi. 
  • “Baiklah, syarat itu saya terima,” kata Pangeran Sulung. 
Akhirnya, pesta perkawinan Pangeran Sulung dan sang Dewi dilangsungkan dengan meriah. Setelah itu, Pangeran Sulung dinobatkan sebagai pemimpin desa yang dikenal dengan nama Desa Trunyan. Nama desa itu diambil dari nama pohon Taru Menyan. Taru berarti pohon dan menyan berarti harum. Kemudian, setelah menjadi suami sang Dewi, Pangeran Sulung diberi gelar Ratu Sakti Pancering Jagat, sedangkan istrinya bergelar Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar. Ratu Sakti Pancering Jagat kemudian menjadi dewa tertinggi orang Trunyan, sedangkan istrinya menjadi Dewi Danau Batur yang hingga kini dipercaya sebagai penguasa danau tersebut.

Sejak itulah, Ratu Sakti Pancering Jagat dibantu sang istri memimpin Desa Trunyan dengan arif dan bijaksana. Lama-kelamaan, desa itu pun berkembang menjadi kerajaan kecil. Sebagai raja yang arif dan bijaksana, Ratu Sakti Pancering Jagat menginginkan negeri dan seluruh rakyatnya hidup aman dan tenteram serta terhindar dari serangan luar. Oleh karena itulah, ia pun memerintahkan seluruh rakyat untuk menghilangkan bau semerbak itu.
  • “Wahai, seluruh rakyatku! Aku perintahkan kalian agar jenazah-jenazah orang Trunyan tidak lagi dikuburkan, tetapi biarkan saja membusuk di bawah pohon Taru Menyan sehingga bau harum itu tidak akan lagi mengundang kedatangan orang luar ke negeri ini!” titah Ratu Sakti Pencering Jagat"
  • - - - - tetapi di era ini justru hal ini yang membuat orang luar datang berkunjung dari seantero dunia
Sejak itulah, setiap ada penduduk Trunyan yang meninggal, jenazah mereka hanya dibiarkan membusuk di atas tanah. Karena bau busuk itulah, Desa Trunyan tidak lagi mengeluarkan bau harum. Demikian pulah sebaliknya, jenazah-jenazah penduduk Trunyan itu juga tidak mengeluarkan bau busuk. Bau harum dan bau busuk tersebut telah saling menetralisir.

*****
Desa Trunyan, Kintamani, Bali

Demikianlah kisah Asal Mula Desa Trunyan, Kedisan, dan Abang Dukuh dari Bali. Kisah ini masih dipercayai oleh masyarakat Trunyan sehingga dalam upacara kematian, jenazah orang yang meninggal akan diletakkan di bawah Taru Menyan atau biasa disebut dengan istilah mepasah. Jenazah yang dimakamkan dengan cara ini hanya orang-orang yang matinya secara normal atau tidak mempunyai kesalahan, dalam artian mati bukan karena kecelakaan atau dibunuh. Mepasah hanya berlaku bagi mayat yang telah berumah tangga, bujangan, dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal. Untuk pemakaman jenazah bayi (sema muda) dan pemakaman orang yang mempunyai kesalahan (sema bantas) dikuburkan di lokasi yang agak jauh dari desa.


AGATHA NICOLE TJANG

PURA DALEM BALINGKANG DAN PADUKA SRI MAHADEWI SASANGKAJA CIHNA (PUTRI KANG TJING WEI - 康婷薇)

0 komentar


Kemarin, hari Rabu Tanggal 23 Agustus 2017, bertepatan dengan saudara-saudari ku yang beragama Hindu Bali melaksanakan perayaan dan upacara PAGERWESI, Nicole dan keluarga berdoa dan bersembahyang ke Pura Ulun Danu Batur - Pura Kahyangan Padma Bhuwana di Kintamani, Bangli dan Pura Agung Besakih - Pura Kahyangan Sad Winayaka atau Pura Sad Kahyangan di Kecamatan Rendang,Kabupaten Karangasem, tujuannya adalah untuk bersembahyang kepada PUTRI KANG TJING WEI - 康婷薇 atau Kang Cing We atau Paduka Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna -- (Cihna-Cina) atau Ratu Ayu Mas Subandar (Palinggih di Pura Dalem Balingkang) atau I Gede Ratu Ayu Mas Subandar (Palinggih di Pura Ulun Danu Batur) atau Ida Ratu Ayu Subandar (Palinggih di Pura Agung Besakih), perjalanan yang cukup melelahkan tetapi sekaligus menambah pengalaman dan pengetahuan, berangkat dari rumah Jam 11:00 WITA dan pulangnya Jam 21:30 WITA.

Nicole bertanya sama orangtua siapakah beliau PUTRI KANG TJING WEI - 康婷薇 atau Kang Cing We atau Paduka Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna -- (Cihna-Cina) atau Ratu Ayu Mas Subandar (Palinggih di Pura Dalem Balingkang) atau I Gede Ratu Ayu Mas Subandar (Palinggih di Pura Ulun Danu Batur) atau Ida Ratu Ayu Subandar (Palinggih di Pura Agung Besakih) itu ?  jawaban orangtuaku cukup rumit dan membingungkan dan akhirnya karena penasaran Nicole coba cari jawaban pertanyaan dari beberapa sumber melalui online, berikut adalah hasil penelusurannya;

Sosok PUTRI KANG TJING WEI - 康婷薇 atau Kang Cing We atau Paduka Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna -- (Cihna-Cina) atau Ratu Ayu Mas Subandar (Palinggih di Pura Dalem Balingkang) atau I Gede Ratu Ayu Mas Subandar (Palinggih di Pura Ulun Danu Batur) atau Ida Ratu Ayu Subandar (Palinggih di Pura Agung Besakih) tidak terlepas dari PURA DALEM BALINGKANG. Menurut Babad Bali dengan nara sumber Jero Mangku I Ketut Riana tertulis pada harian Bali Post; Dalam Prasasti Sukawana (Goris, 1954) disebut, Desa Sukawana diserang hujan badai dan Keraton Jaya Pangus hancur, sehingga jong les pindah ke Balingkang. Keberadaan Pura Dalem Balingkang (PDB) sebagai pura maupun sebagai Keraton Raja Bali Kuna tercatat pula dalam "Pengeling-eling Desa Les-Penuktukan, Tejakula, Buleleng" yang dikeluarkan oleh Raja Jaya Kasunu sekitar abad ke-11. Ia tercatat sebagai leluhur Raja Jaya Pangus Harkajalancana.

Masyarakat Bali dewasa ini terbagi menjadi dua kelompok utama -- Bali Mula (Aga) dan Bali Majapahit. Prof. Dr. I Gusti Bagus (alm.) dalam tulisannya "Kebudayaan Bali" (1979) menyebut, masyarakat Bali Mula mendiami daerah pegunungan di Bali, sedangkan Bali Majapahit mendiami daerah dataran. Bahasanya pun berbeda, disebut "omong negari" dan "omong pojol" oleh masyarakat Bali Mula.

Dua Permaisuri
Dalam konteks PDB, nama balingkang berasal dari kata "bali + ing kang". Secara tuturan dan bukti tertulis, ini dikaitkan dengan pernikahan Raja Jaya Pangus Harkajalancana yang memerintah pada tahun saka 1103-1191 atau 1181-1269 Masehi. Raja Jaya Pangus punya dua permaisuri, Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna -- (Cihna-Cina). Dalam cerita rakyat yang berkembang disebut, istri Cinanya bernama Kang Cing We, putri Tuan Subandar pedagang dari Cina. Maka digabunglah Bali-Ing-Kang jadi Balingkang.
Masyarakat Bali Kuna di sekitar Danau dan Gunung Batur tercatat amat sulit ditundukkan oleh Raja Sri Kresna Kepakisan yang ditempatkan oleh Maha Patih Gajah Mada. Sampai dewasa ini, mereka amat sulit terpengaruh oleh budaya Hindu Majapahit. Sampai tahun 2006 ini, Pura Pucak Panarajon belum mau menggunakan Ida Pedanda sebagai Sang Trini-nya, tetap menggunakan Jro Mangku dan Jro Kebayan dengan upacara podgala atau mewinten pang solas.

Masyarakat Bali Mula di sekitar Danau Batur menyebut dirinya dengan Gebog Domas (Kelompok Delapan Ratus). Kelompok ini dibagi jadi empat bagian Gebog Satak (Dua Ratus) Sukawana, Kintamani, Selulung dan Bantang. Kelompok ini memiliki Tri Kahyangan yakni :
  • Pura Pucak Panarajon (Pura Penulisan) sebagai pusatnya terletak di Sukawana, Kintamani, dengan tiga tingkatan pura yang disebut Gunung Kahuripan. Tingkatannya, Pura Panarajon (Ida Bhatara Siwa Sakti), Pucak Panulisan (sejajar dengan pusat pemerintahan -- dulu sebagai keraton Raja Jaya Pangus), dan Pucak Wangun Hurip (simbol membangun kehidupan).
  • Pura Bale Agung di Sukawana dengan Ida Bhatara Ratu Sakti Kentel Gumi, setara dengan Bhatara Brahma,
  • Pura Pusering Jagat -- Pura Puseh Panjingan di Desa Les-Penuktukan, Tejakula, Buleleng, beristana Ida Ratu Sakti Pusering Jagat setara dengan Bhatara Wisnu, dan
  • Pura Dalem Balingkang beristana Ida Dalem Kepogan (Dalem Balingkang) setara dengan Dewa Siwa.
Kelompok Satak Sukawana terdiri atas beberapa desa di Kecamatan Kintamani dan Tejakula, Buleleng. Sebagai ikatan yang padu, Desa Pinggan ditugaskan oleh Sukawana sebagai kesinoman membawa surat ke kelompok Tejakula. Di Sukawana banyak ada peninggalan tanah pelaba pura, serta di Balingkang ada 175 ha. Rupanya secara diam-diam keduanya saling menguasai tanah itu.

Pada 1960, Sukawana menugaskan Pinggan mengirim surat ke kelompok Buleleng Timur. Surat itu "disembunyikan" sehingga semua warga Buleleng tak tahu ada upacara di Panarajon. Ini berlangsung sampai 1963, sehingga pada 1964 Sukawana malu menugaskan Pinggan. Akhirnya, kelompok pemuja PDB pada 1964 yakni Pinggan, Siakin, Tembok, Gretek Sambirenteng, Les-Penuktukan menyatakan keluar dari kelompok Sukawana dan membuat kelompok baru bernama Gebog Satak Balingkang.

Lalu, sejak 1964 kelompok pemuja Pura Pucak Bukit Indra Kila, Desa Dausa, Kintamani juga melepaskan diri dari Pura Panarajon.

PDB yang dipuja kelompok Gebog Satak Balingkang, juga dipuja oleh warga masyarakat di sekitar Desa Petak, Gianyar. Ini terjadi karena ada hubungan historis dengan keluarga Puri Petak Gianyar. Secara faktual, di utama mandala bagian sisi selatan ada kompleks bangunan pura lengkap dengan sanggar agung, meru 11 (tingkat 11), sebagai pemujaan Ida Dalem Klungkung (Raja Klungkung) dan meru 9 (tingkat 9) sebagai pemujaan pada Ida Dalem Bangli (Raja Bangli).

Menurut Ida Cokorda Dalem Balingkang dalam disertasinya di Surabaya pada 1989, menyebut tentang keberadaan leluhurnya di PDB serta fungsi meru 11 dan meru 9 di utama mandala. Dituturkan, semua itu ada kaitan dengan saat sesudah penyerbuan Panji Sakti ke Bintang Danu pada 1772. Waktu itu, Dewa Agung Mayun Sudha adalah Raja Pejeng, Gianyar. Ia diserang oleh penguasa dari Puri Blahbatuh, Puri Peliatan, Puri Gianyar, dan Puri Ubud.

Karena lawannya banyak, pasukan Puri Pejeng terdesak. Dewa Agung Mayun Sudha yang merasa terdesak, bersama piluhan anak buahnya lari menyelamatkan diri ke arah pegunungan. Rombongan ini bersembunyi di sekitar PDB yang saat itu bangunannya telah terbakar, tinggal dasarnya saja. Bersama rombongannya, Dewa Agung Mayun Sudha memimpin merabas hutan seluas 175 ha. Ia mengajak warga membangun kembali PDB sehingga pelan-pelan menjadi lengkap.

Setelah puranya dibangun, diadakanlah upacara dengan dukungan Raja Bangli serta Raja Klungkung. Akhirnya, hubungan Dewa Agung Mayun Sudha dengan Raja Bangli dan Raja Klungkung makin baik. Suatu hari, Dewa Agung Mayun Sudha memohon bantuan pada Raja Bangli dan Klungkung akan merebut kembali kerajaannya. Disarankan, agar diserang Desa Petak dulu, sebagai tempat berpijak. Dengan bantuan pasukan Raja Klungkung dan Bangli, Desa Petak yang terdiri atas sepuluh dusun dapat dikuasai, sehingga Dewa Agung Mayun Sudha berkuasa di sana.

Untuk mengenang dan memuliakan Ida Bathara Dalem Balingkang, maka Dewa Agung Mayun Sudha bergelar Ida Cokorda Putra Dalem Balingkang. Sampai saat ini, keluarga Puri Petak menjadi pemuja utama di PDB, selain Gebok Satak Balingkang.

Struktur Pura
Struktur PDB termasuk unik, karena dulu konon dijadikan istana raja yang menghindari serangan raja lainnya. Dalam beberapa pustaka ada disebut, PDB sebagai istana Raja Maya Danawa. Raja ini dikalahkan oleh Bathara Indra dari Tampaksiring. Namun dalam naskah lontar "Linaning Maya Danawa" dikisahkan Maya Danawa mati terbunuh oleh Ki Kebo Parud -- utusan Raja Kerta Negara yang menyerang dari utara.

Dalam struktur PDB, di awal adalah kompleks Pura Tanggun Titi -- ujung jembatan dan ada sumber air. Di sumber air ini kerbau disucikan sebelum mepepada. Di kompleks Pura Tangun Titi ada pemujaan Ratu Ngurah Sakti Tanggun Titi, Ratu Mas Melanting, Ratu Sakti Gede Penyarikan, dan Sang Hyang Haji Saraswati. Kompleks kedua setelah melewati tanah lapang yang dulu difungsikan membangun tempat penginapan, ada bangunan cangapit, yakni pintu masuk yang dilengkapi tempat duduk raja saat menyaksikan jro gede mepada mengelilingi pura.

Di jaba tengah, tak banyak bangunan, hanya ada paruman agung, stana Ida Bhatara Sami, serta palinggih Ratu Ayu Subandar. Palinggih ini sebagai pemujaan pada Kang Ci Wi dan ini amat diyakini oleh masyarakat Cina membawa berkah. Di kompleks utama atau jeroan, dibangun pemujaan Puri Agung Petak dengan meru 11 dan meru 9. Juga dibangun pemujaan Dalem Balingkang dengan gedong bata dan meru 7 -- ini mengingatkan pada Sapta Dewata. Ada pula bangunan balai panjang bertiang 24, bertiang 20, dan balai mundar-mundar bertiang 16 (dibagi empat sisi, masing-masing bertiang 4).

Dalam sumber lain yang lebih detail Pura Dalem Balingkang dijelaskan oleh :
  • Atmojo, Sukarto K., 1975.  Prasasti Cempaga. Gianyar : Lembaga Purbakala dan Peniggalan Nasional. 
  • Darma, I Wayan, 2009. Pura Dalem Balingkang di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Kajian tentang Sejarah, Struktur, dan Fungsi Pura). Skripsi. Singaraja : Undiksa. 
  • Kadi, I Nengah. 2013. Eksistensi Palinggih Ratu Ayu Mas Subandar di Pura Dalem Balingkang Desa Pakraman Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Perspektif Teologi Hindu). Skripsi. Denpasar : IHDN.
  • Ningrat, I Nengah Asrama Juta, 2010. Pemujaan Bhatara Dalem Balingkang di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli (Perspektif Multikulturalisme). Tesis. Denpasar : IHDN. 
  • Reuter, Thomas A., 2005. Budaya dan Masyarakat di Pegunungan Bali. Terjemahan : A. Rahman Zainuddin. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. 
  • Tim Penyusun. 2006. Mengenal Pura Sad Kahyangan dan Kahyangan Jagat. Denpasar : Pustaka Bali Post
  • Tim Penyusun. 2009. Purana Pura Dalem Balingkang. Denpasar : Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
  • Jro Kubayan Tongkok, 103 tahun (Jro Kubayan Kiwa Desa Pakraman Sukawana) 
  • I Guru Wadri, 100 tahun (Pangelingsir Desa Pakraman Pinggan) 
  • I Nengah Dauh , 77 tahun (Prajuru Desa Pakraman Les-Penuktukan)
Sejarah Pura Dalem Balingkang
Pura Dalem Balingkang berdiri megah pada lahan seluas 15 hektar di wilayah Desa Pakraman Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Untuk menuju Pura Dalem Balingkang, harus turun dari Pura Pucak Penulisan menuju Banjar Paketan di Desa Pakraman Sukawana. Dari Banjar Paketan menuruni jalan berliku dengan panorama indah deretan gunung Batur, gunung Abang, dan gunung Agung menuju Pura Dalem Balingkang. Pura Pucak Penulisan merupakan hulunya Pura Dalem Balingkang, karena Pura Dalem Balingkang tepat menghadap ke Pura Pucak Penulisan. Pura Dalem Balingkang seolah-olah dikelilingi oleh tembok yang terdiri dari bubungan berupa perbukitan yang melingkari kawah gunung Batur terletak di sebelah timur, barat, utara dan selatan. Di samping itu juga dikelilingi oleh sungai Melilit yang merupakan sumber mata air bagi masyarakat sekitarnya. Pura Dalem Balingkang terletak di sebelah barat kurang lebih 2,5 kilometer dari pemukiaman atau perumahan masyarakat Desa Pakraman Pinggan. 

Sejarah Pura Dalem Balingkang akan dibahas dari beberapa sudut pandang, diantaranya : 
  • Berdasarkan Purana Pura Dalem Balingkang, 
  • Berdasarkan mitos masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang, 
  • Berdasarkan Kekawin Barong Landung.
Purana Pura Dalem Balingkang
Purana Pura Dalem Balingkang menyebutkan bahwa Maharaja Sri Haji Jayapangus beristana di gunung Panarajon. Pada masa pemerintahannya Maharaja Sri Haji Jayapangus didampingi oleh permaisuri beliau yang bergelar Sri Parameswari Induja Ketana. Beliau Sri Parameswari Induja Ketana disebut sebagai putri utama yang sangat bijak. Beliau berasal dari danau Batur yang merupakan keturunan Bali Mula atau Bali asli. 

Pada masa pemerintahan waktu itu yang menjabat sebagai Senapati Kuturan adalah Mpu Nirjamna. Beliau mempunyai dua orang penasehat yang bergelar Mpu Siwa Gandhu dan Mpu Lim. Mpu Lim mempunyai dayang berwajah cantik bernama Kang Cing We, putri dari I Subandar yang memperistri Jangir yaitu wanita Bali.

Setelah lama Kang Cing We menjadi dayang Mpu Lim, ada keinginan beliau Sri Haji Jayapangus untuk memperistri Kang Cing We sekaligus diupacarai. Oleh karena demikian keinginan beliau, segaralah beliau Mpu Siwa Gandhu menghadap dan memberikan saran kepada baginda raja. 
Bahwa kehendak baginda raja memperistri putri I Subandar yaitu Kang Cing We tidak tepat, karena baginda raja beragama Hindu sedangkan Kang Cing We beragama Buddha. 
Namum, nasehat Sang Dwija tidak diindahkan oleh baginda raja. Marahlah baginda raja kepada Bhagawantanya, oleh karena demikian Mpu Siwa Gandu tidak lagi menjadi penasehat di kerajaan Panarajon. Segeralah baginda melangsungkan upacara pernikahan, yang disaksikan oleh para rohaniawan dari agama Hindu maupun agama Buddha, para pejabat seperti sang pamegat, para pejabat desa, dan para karaman. 

Setelah beberapa lama upacara pernikahan berlalu, I Subandar mempersembahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong untuk bekal putrinya mengabdi kepada baginda raja. Selanjutnya dikemudian hari agar baginda raja menganugrahkan dua keping uang kepeng atau pis bolong tersebut kepada rakyat beliau yang ada di seluruh pulau Bali. Sebagai sarana  upacara yajña atau kurban sampai dikemudian hari.

Berdasarkan kesepakatan Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We tersebut, marahlah Mpu Siwa Gandhu terhadap sikap baginda raja. 
Beliau Mpu Śiwa Gandhu melaksanakan tapa brata memohon anugerah kepada para dewa agar terjadi angin ribut dan hujan lebat selama satu bulan tujuh hari. Karena memang benar-benar khusuk Mpu Siwa Gandhu melaksanakan tapa brata, maka benarlah terjadi angin puting beliung dan hujan lebat. Musnahlah keraton Sri Haji Jayapangus di Panarajon. 
Beliau Sri Haji Jayapangus diiringi oleh sisa-sisa abdinya mengungsi ke tengah hutan, yakni ke wilayah Desa Jong Les. Di sana beliau dengan cepat merabas semak belukar dan hutan lebat, juga dilengkapi dengan upacara dan upakara yajña.

Bangunan suci kerajaan baginda raja sekarang bernama Pura Dalem Balingkang. Kata “Dalem” diambil dari kata tempat itu yang disebut Kuta Dalem Jong Les. 
Adapun kata Balingkang diambil dari kata “Bali”, yaitu baginda raja  sebagai menguasa jagat Bali Dwipa. Kata “Kang” sebenarnya diambil dari nama istri beliau yang bernama Kang Cing We. 
Ada lagi disebutkan, pada saat baginda raja mengungsi dari Panarajon ke tengah hutan disebut Kuta Dalem. Di sana beliau berhasil memusatkan pikiran beliau sampai ke pikiran paling dalam atau daleming cita memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Beliau berhasil membangun keraton dan tempat suci di Kuta Dalem. Setelah beliau memerintah di Balingkang kembali sejahteralah seluruh kerajaan Bali Dwipa. Lebih-lebih setelah didampingi oleh kedua permaisuri beliau yang selalu duduk di kiri-kanan singasana beliau. Adapun yang mendampingi atau mengabih di kanan bergelar Sri Prameswari Induja ketana, dan di kiri bergelar Sri Mahadewi Sasangkaja Cihna atau Kang Cing We. Serta para pejabat kerajaan  dan para abdi atau rakyat beliau semuanya.

Berdasarkan Mitos Masyarakat di Sekitar Pura Dalem Balingkang
Berdasarkan mitos yang berkembang pada masyarakat di sekitar Pura Dalem Balingkang. Diceritakan bahwa pada jaman dahulu ada seorang raja yang bernama Sri Jayapangus. Beliau beristana di bukit Panarajon, serta keraton beliau di Kuta Dalem. 

Mulanya saat beliau memerintah di Panarajon beliau mempunyai seorang permaisuri bernama Dewi Mandul atau seorang permaisuri yang tidak bisa melahirkan. Sri Jayapangus berkeinginan mempunyai seorang putra untuk meneruskan tahta atau kedudukannya di Panarajon. Namun, keinginan beliau tidak terkabulkan berhubung permaisuri tidak dapat melahirkan seorang putra. Suatu ketika beliau berjalan-jalan di Pasar Kuta Dalem, beliau bertemu dengan seorang wanita yang berwajah cantik yang merupakan putri saudagar dari Cina
Karena melihat kecantikan putri tersebut, maka ada keinginan beliau untuk mengawininya secara diam-diam. Tanpa melalui upacara yang disaksikan oleh para pejabat kerajaan, maupun tanpa sepengetahuan permaisuri beliau yaitu Dewi Mandul. 

Perkawinan secara diam-diam Sri Jayapangus dengan putri Cina tersebut diketahui oleh Bhatara Śiwa. Akhirnya Bhatara Śiwa "mengusir?" Sri Jayapangus dari Panarajon karena kesalahan beliau melakukan perkawinan tanpa upacara yajña, yang tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang raja.

Sri Jayapangus yang diiringi oleh kedua permaisurinya menuruni bukit Panarajon, menelusuri hutan menuju arah timur laut pada saat hujan deras dan angin puting beliung. Beliau tanpa mengenal lelah terus melanjutkan perjalanan menuruni perbukitan, dan akhirnya sampai disuatu tempat yang bernama Gunung Lebih. Di sana beliau beristirahat dan melakukan pemujaan terhadap para dewa, memohon petunjuk serta memohon perlindungan-Nya. Ketika melakukan pemujaan beliau mendapat sabda atau pawisik dari para dewa agar terus melanjutkan perjalanan sampai hujan dan angin reda. Apabila hujan dan angin mulai reda, maka di sanalah beliau diperintahkan untuk memasang suatu tanda dan membangun sebuah keraton. Pada saat beliau turun dari bukit Panarajon dikenal dengan istilah Kuta Dalem Jong Les.
Mengingat sabda atau pawisik dari para dewa tersebut, beliau terus melanjutkan perjalanan menuruni bukit Panarajon yang diiringi oleh kedua permaisurinya. Akhirnya beliau sampai disuatu tempat yang bernama Dharma Anyar, yaitu tempat pertapaan bagi orang suci baik Mpu, Maha Rsi, atau yang lainnya. Setibanya beliau di Dharma Anyar hujan dan angin mulai reda,  akhirnya di Dharma Anyar beliau membangun keraton yang dikenal dengan nama Balingkang. Di sana beliau kembali menata kerajaan seperti dahulu di Panarajon. Serta didampingi oleh para Senapati Kuturan, pejabat kerajaan, dan kedua permaisurinya.

Pernikahan Sri Jayapangus dengan putri Cina yang disebut-sebut Dewi Danuh, melahirkan seorang putra yang bernama Mayadanawa. Mayadanawa dikenal dengan gelar Dalem Bedahulu yang beristana di Pejeng. Beliau berhasil dikalahkan oleh Gajah Mada dari kerajaan Majapahit. 

Lama-kelamaan situs keraton Sri Jayapangus di Balingkang dijadikan tempat pemujaan atau tempat suci untuk memuja Sri Jayapangus dan kedua permaisurinya yang telah disucikan melalui upacara yajña. Hingga sampai sekarang dikenal dengan nama Pura Dalem Balingkang.

Berdasarkan Kekawin (geguritan) Barong Landung
Keberadaan Pura Dalem Balingkang juga termuat dalam Geguritan Barong Landung yang ditulis oleh I Nyoman Suprapta (dalam tesis Juta Ningrat, 2010), sebagai berikut :

Diceritakan seorang raja yang tersohor, bijaksana dan banyak menulis prasasti-prasasti yang memuat tentang pelaksanaan upacara keagamaan, beliau bernama Sri Haji Jayapangus tempat kerajaan beliau di Bukit Panarajon. Dalam pemerintahanya didampingi oleh seorang permaisuri yang bernama Dewi Danuh putri dari keturunan Bali Mula. Kelama-kelamaan datanglah seorang pedagang dari negeri Cina yang bernama Dewi Ayu Subandar bersama seorang putri cantik berkulit putih dan bermata sipit yang dikenal dengan nama Kang Cing We. Kang Cing We kemudian diangkat menjadi pelayan Mpu Lim. Karena Kang Cing We sering berada di keraton dan memiliki wajah yang sangat cantik, terpikatlah hati sang raja untuk memperistrinya. Dengan demikian sang raja mengumumkan kepada penggawa kerajaan dan rakyatnya untuk mempersiapkan upacara perkawinan. Mendengar kabar sedemikian rupa, maka menghadaplah salah satu Bhagawanta raja yakni Mpu Siwa Gandu. Sang Bhagawanta raja menyarankan sang raja untuk tidak mengawini Kang Cing We, karena raja tidak boleh memiliki dua permaisuri selain itu pula  Kang Cing We beragama Buddha sedangkan Sri Haji Jayapangus beragama Śiwa atau Hindu. Sang raja tidak mendengarkan nasehat sang Bhagawanta raja dan tetap besikukuh untuk mengawini Kang Cing We. Sehingga terselenggaralah upacara perkawinan tersebut. Karena Sang Bhagawanta merasa sarannya tidak diindahkan oleh Jayapangus, maka marahlah Sang Bhagawanta dan melaksanakan tapa brata menciptakan bencana, hujan lebat, gempa dan bencana lainya sehingga hancurlah kerajaan beliau. Dengan kehancuran kerajaan beliau, maka dipindahkanlah kerajaannya ke Jong Les atau Dalem Balingkang. Perkawinannya dengan Dewi Danuh memiliki seorang  putra yang bernama Mayadenawa dan diangkat menjadi raja di Bedahulu. Sedangkan perkawinanya dengan Kang Cing We tidak mempunyai keturunan. Karena lama tidak mempunyai keturunan untuk melanjutkan pemerintahanya di Dalem Balingkang. Sedangkan Dewi Danuh sudah moksa, maka sang raja meminta ijin kepada Kang Cing untuk bertapa di puncak gunung Batur. Seraya memohon anugrah agar dikaruniai seorang putra. Sesampainya di puncak gunung bertemulah dengan seorang putri yang sangat cantik, sehingga jatuh cintalah Sang raja terhadap waita tersebut. Lama sang raja tidak mengirim kabar ke keraton Dalem Balingkang maka disusullah oleh Kang Cing We ketempat pertapaan. Sesampainya Kang Cing We ditempat pertapaan dilihat sang raja sedang berkasih-kasihan dengan seorang  wanita cantik. Melihat kejadian seperti itu maka marahlah Kang Cing We dan memaki-maki wanita tersebut yang tiada lain adalah penjelmaan dari Dewi Danuh untuk menggoda tapanya sang raja. Karena merasa dirinya dimaki-maki oleh seorang manusia atau Kang Cing We. Maka marahlah Sang Dewi tersebut secepat kilat keluar api dari dahi-Nya dan api tersebut mengejar Kang Cing We dan membakarnya. Sehingga wafatlah Kang Cing We. Dengan kematian Kang Cing We sang raja pun menjadi sedih dan berduka sehingga disudahilah tapanya. Karena sang raja sebelumnya mengaku belum mempuyai istri kepada Sang Dewi, maka Sang Dewi memutuskan sang raja mendapatkan hukuman yang setimpal, dan akhirnya sang raja bernasib sama. Atas sepeninggal beliau berdua atau sang raja dan sang permaisuri dari kerajan, maka rakyatnya pun menyusul ke tempat pertapaan, dan menemukan junjunganya sudah wafat. Rakyat Dalem Balingkang menjadi sedih dan memohon ke pada Sang Dewi untuk menghidupkan kembali kedua junjunganya. Melihat ketulusan hati permohonan rakyat Dalem Balingkang tersebut maka Sang Dewi mengabulkan permohonya tetapi dalam bentuk lingga berupa Barong Landung Lanang-Istri. Kemudian Sang Dewi memerintahkan rakyat Dalem Balingkang untuk membawa kedua lingga tersebut ke Dalem Balingkang dan diberikan anugrah bahwa kedua lingga tersebut bisa memberikan perlindungan dari alam niskala atau memerintah dari alam niskala. Sesampainya di Dalem Balingkang dibuatkanlah upacara agama.
Maharaja Sri Haji Jayapangus dengan kedua permaisurinya disebutkan juga dalam prasasti Cempaga A Ib.1-2, yaitu sebagai berikut :
Ing çaka 1103 çrawanamāsa i thi nāwami çuklapakā, ma, pa, wāraning wayangwayang, irikā diwaça ājnā pāduka çri mahārāja.
Ja Hāji Jayapangus, Hārkajalañcana, sahā rājapātnidwaya pāduka Bhtāri Çri Parameswari Indujakotana, Pāduka Çri Mahādewi Çaçangkajacihnā.
Terjemahan :
Berangka tahun 1103 Çaka dan menyebut nama raja Paduka Sri Maharaja Haji Jayapangus Harkajalancana dan kedua orang permaisurinya masing-masing bernama Paduka Bhatari Sri Prameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Sasangkajacihna (Atmodjo, 1975).
Cerita di atas menggambarkan bahwa pada masa pemerintahan Sri Haji Jayapangus, sudah terjadi hubungan yang erat antara Śiwa dan Buddha . Bahkan kedua tokoh  agama dimaksud sudah dijadikan penasehat kerajaan, yaitu Mpu Siwa Gandhu tokoh ajaran Śiwa dan Mpu Lim tokoh ajaran Buddha. Hubungan agama juga terlihat pada perkawinan Sri Haji Jayapangus dengan Kang Cing We.
Pada akhirnya terbentuk dua unsur yang berbeda yaitu unsur purusa dan pradana atau Śiwa-Buddha.
Mitologi-mitologi yang berkembang dimasyarakat dapat memperkuat sistem kepercayaan bagi umat Hindu-Buddha.
Berdasarkan pada peristiwa atau kejadian yang pernah terjadi pada jaman dahulu. Seperti halnya seorang raja yang mampu memberikan perlindungan pada rakyatnya.
Sehingga setelah beliau wafat disucikan berdasarkan upacara yajña. Serta dipuja atau disungsung oleh pengikutnya, kemudian beliau disebut bhatara.
Pura Dalem Balingkang adalah tempat bersthananya Ida Bhatara Dalem Balingkang atau Sri Haji Jayapagus. Beserta leluhur raja-raja di Panarajon yang pernah berkuasa di Bali. Setelah disucikan dengan upacara yajña, maka Sri Haji Jayapangus disetarakan dengan Dewa Surya atau Dewa Śiwa oleh para pemujanya.

Photo Pura Dalem Balingkang

Palinggih Saraswati - Pura Dalem Balingkang

Jalan Menuju Pura Dalem Balingkang

Pura Tanggun Titi - Pura Dalem Balingkang
Pohon Cemara di Nista Mandala - Pura Dalem Balingkang
Candi Menuju Madhya Mandala - Pura Dalem Balingkang
Pemaruman Agung (Madhya Mandala) - Pura Dalem Balingkang
Bale Gong - Pura Dalem Balingkang
Arca Pralingga Ida Bhatara Dalem Balingkang - Pura Dalem Balingkang
Palinggih Ratu Ayu Mas Subandar - Pura Dalem Balingkang
Palinggih Ratu Ayu Mas Subandar - Pura Dalem Balingkang
Jero Kawanan - Pura Dalem Balingkang
Jero Kanginan - Pura Dalem Balingkang
Linggih Bujangga - Pura Dalem Balingkang
Candi Bentar Menuju ke Utama Mandala - Pura Dalem Balingkang
Utama Mandala - Pura Dalem Balingkang
Utama Mandala - Pura Dalem Balingkang
Utama Mandala - Pura Dalem Balingkang
Utama Mandala - Pura Dalem Balingkang
Meru Tumpang 11 dan 9 - Pura Dalem Balingkang
Meru Tumpang 7- 5-3-2 dan Bale Piyasan - Pura Dalem Balingkang
Gedong Dalem-Linggih Ida Bhatara Dalem Balingkang - Pura Dalem Balingkang
Sanggar Agung Rong Tiga - Pura Dalem Balingkang
Bale Agung Saka 12 dan 24 - Pura Dalem Balingkang
Bale Agung Saka 16 - Pura Dalem Balingkang
Bale Agung Saka 20 - Pura Dalem Balingkang
Linggih Pertiwi - Pura Dalem Balingkang
Lumbung - Pura Dalem Balingkang
Bale Slaka Saka 16 - Pura Dalem Balingkang
Linggih Bingin - Pura Dalem Balingkang

PETA MENUJU PURA DALAM BALINGKANG

Dengan hasil penelusuran ini Nicole semakin tahu tentang sosok PADUKA SRI MAHADEWI SASANGKAJA CIHNA (PUTRI KANG TJING WEI - 康婷薇) dan PURA DALEM BALINGKANG serta sejarahnya.

Suatu hikmah dan pembelajaran berharga yang kita bisa petik dan teladani dari sini adalah pentingnya bertoleransi dan menghormati serta menghargai perbedaan, perbedaan tidak membuat sesama kita berbeda tetapi perbedaan menambah persaudaraan yang beragam. Sampai detik ini keharmonisan antara orang keturunan Tionghoa/Cina dengan Bali Kuna/Bali Mula/Bali Aga yang berbahasa "omong negari" dan Bali Majapahit yang berbahasa "omong pojol" terjalin sangat indah, erat dan penuh persaudaraan, demikian pula dengan keyakinan ber-Agama antara HINDU dan BUDDHA di Bali. Nicole berharap di daerah-daerah lain pun di wilayah NKRI tercinta ini bisa menjalin kerukunan suku dan agama sebaik di Bali. (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)

Sabbe satta bhavantu sukhitatta
सब्बे सत्ता भवंतु सुखितत्ता 
Semoga semua makhluk hidup berbahagia


ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT TERBARU

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT POPULER

ADHI MEKAR INDONESIA "AMI SCHOOL" DENPASAR BARAT, BALI

 
  • AGATHA NICOLE © 2017 | Modified By YURI | Powered By BLOGGER | KEDAI LOMBOK