Daftar Cerita Legenda Rakyat
Showing posts with label SULAWESI UTARA. Show all posts
Showing posts with label SULAWESI UTARA. Show all posts

LEGENDA NAPOMBALU

0 komentar

Napombalu adalah nama sebuah pulau karang yang terletak di sebelah selatan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Indonesia. Menurut cerita, pulau yang terkenal sebagai tonggak batas Kepulauan Talaud paling selatan ini merupakan penjelmaan dari seorang laki-laki yang dikubur hidup-hidup bernama Lawongo.
∞∞∞


Alkisah, di Pulau Kabaruan, Sulawesi Utara, hiduplah seorang pemuda tampan bernama LAWONGO. Ia seorang pemburu babi hutan dan pemain suling yang mahir. Kemahirannya bermain suling sangat dikagumi oleh masyarakat sekitar. Banyak gadis cantik yang jatuh cinta kepadanya, namun tak seorang pun yang memikat hatinya. Untuk mencari gadis yang didambakannya, ia sering berkeliling di Pulau Kabaruan mempertunjukkan kemahirannya memainkan suling.

Pada suatu hari, tibalah Lawongo di Desa Damau. Para warga desa pun berkumpul hendak menyaksikan pertunjukannya. Lawongo memainkan sulingnya dengan lincahnya sambil mengamati gadis-gadis yang ikut menonton pertunjukannya. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba padangan matanya tertuju pada seorang gadis cantik yang berdiri di antara kerumunan penonton. Melihat kecantikan gadis itu, ia pun langsung terpikat. Dengan penuh semangat, ia pun mengeluarkan seluruh kemampuannya bermain suling untuk memikat hati gadis itu. Gadis itu pun terbuai menikmati permainan suling Lawongo sambil menatap mata Lawongo denga penuh arti.

Setelah pertunjukan Lawongo selesai, para warga pun membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing, kecuali gadis itu. Si Gadis tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Lawongo pun segera menghampiri dan menyapanya.
  • “Hai, gadis cantik! Apakah Adik suka dengan permainan suling Abang?” tanya Lawongo.
  • “Iya, Bang! Adik sangat kagum dengan permainan suling Abang?” jawab gadis itu sambil tersenyum.
Mendapat tanggapan baik dari gadis itu, Lawongo pun tidak segan-segan mengungkapkan perasaannya dengan untaian pantun.

Dari mana hendak ke mana
Dari Jepang ke Bandar Cina
Kalau boleh kami bertanya
Bunga yang kembang siapa punya?

Dari Jepang ke Bandar Cina
Singgah berlabuh di Singapura
Bunga yang kembang siapa punya?
Aku ingin memetiknya

Gadis itu pun menjawab dengan untaian pantun pula.

Tetak buluh sampaikan kain
Kain cela tepi bersuji
Masakan lepas pada yang lain
Jika sudah disitu janji

Kain celah tepi bersuji
Lalu sampaikan atas galah
Jika sudah disitu janji
Hajatpun lalu disampaikan Allah

Setelah mengungkapkan perasaan suka sama suka, kedua sejoli itu pun saling berjanji.

Tanam melati di ruma-ruma
Ubur-ubur sampingan dua
Kalau mati bersama
Satu kubur kita berdua

Ubur-ubur sampingan dua
Tanam melati bersusun tangkai
Satu kubur kita berdua
Kalau boleh bersusun bangkai

Akhirnya, Lawongo pun menikah dengan gadis itu. Sejak saat itu, ia pun menetap di Desa Damau, tempat tinggal istrinya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, Lawongo bercocok tanam dan berburu babi hutan. Hampir setiap hari ia berhasil mendapatkan binatang buruan. Penduduk Desa Damau pun sangat menghargai pekerjaannya tersebut, karena sejak kedatangannya ke desa itu, para penduduk terhindar dari gangguan babi hutan yang kerap berkeliaran di sekitar desa dan merusak tanaman mereka. Di samping itu, pada malam harinya, para penduduk sangat terhibur dengan irama suling yang dimainkan oleh Lawongo. Lawongo pun segera mendapat perhatian dari penduduk setempat dan menjadi pujaan bagi semua warga, baik yang tua maupun yang muda. Bahkan, banyak gadis kerap mencari-cari perhatian dan menggondanya, namun Lawongo tidak pernah terpengaruh oleh godaan itu.

Sebesar apa pun godaan yang datang kepadanya, Lawongo akan tetap sayang kepada istrinya. Sejak awal ia sudah berjanji untuk selalu bersama istrinya sehidup-semati, karena ia merasa senang, tenteram, dan bahagia hidup bersama pujaan hatinya itu. Namun, di tengah-tengah ketenangan, ketenteraman, dan kebahagiaan itu, tiba-tiba muncul malapetaka yang menimpa kehidupannya.

Pada suatu malam, Lawongo bermimpi sedang pergi berburu babi di tengah hutan. Babi yang sedang diburuhnya itu sangat besar. Selama menjadi pemburu binatang, ia tidak pernah menemukan babi sebesar itu. Dengan seluruh kemampuannya, ia pun melemparkan tombaknya ke arah babi hutan itu.
Duggg...!!! Tombaknya tempat mengenai punggung babi itu. 
Apa yang terjadi? Babi besar itu bukannya roboh, tetapi justru mengamuk dengan ganasnya dan berbalik menyerangnya. Menyadari hidupnya terancam, Lawongo pun segera mencabut pisaunya dari warangkanya, lalu menikamkannya ke lambung kanan babi itu. Setelah memastikan babi itu benar-benar telah mati, ia segera memasukkan pisaunya ke dalam warangkanya dan kemudian membawa pulang babi hasil buruannya itu untuk ditunjukkan kepada istrinya.  Saat tiba di rumahnya, tiba-tiba ia terbangun dan tersadar dari mimpinya. Oleh karena malam masih larut, ia pun kembali melanjutkan tidurnya di samping istrinya.

Keesokan harinya, seperti biasanya, Lawongo bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap-siap pergi berburu. Setelah mempersiapkan tombak dan pisaunya, berangkatlah ia ke hutan. Ia sengaja tidak membangunkan istrinya karena hari masih sangat pagi.

Sesampainya di hutan, Lawongo langsung melakukan perburuan. Sudah setengah hari ia berkeliling di hutan itu, namun tak seekor pun binatang buruan yang ditemukannya.
“Aneh, sungguh aneh! Kenapa suasana hari ini sangat sepi? Tak seekor burung yang berkicau. Pepohonan pun seakan diam membisu. Babi hutan dan binatang lainnya juga tidak ada yang berkeliaran,” gumam Lawongo dengan heran.
Hari pun sudah semakin siang. Badan Lawongo sudah sangat letih, perutnya terasa sangat lapar, dan kerongkongannya pun terasa kering karena haus. Ia pun segera memanjat pohon kelapa dan memetik beberapa butir buah kelapa muda, lalu membelahnya. Betapa terkejutnya ia ketika akan mencabut pisaunya, pisau itu melekat sangat keras pada warangkanya.
“Aduuuh, kenapa pisau ini sangat disulit dicabut?” keluh Lawongo.
Dengan sekuat tenaga Lawongo mencabut pisau itu, dan akhirnya ia pun berhasil. Ia sangat terperanjat saat melihat darah membeku di pisaunya itu.
“Wah, ternyata darah inilah yang menyebabkan pisau ini sulit dicabut dari warangkanya,” gumamnya.
Sejenak Lawongo terdiam memikirkan kenapa ada darah membeku pada pisaunya itu. Tiba-tiba, ia pun teringat pada mimpinya semalam. Saat itu pula, ia teringat pada istrinya yang tidur di sampingnya semalam.
  • “Waduh! Jangan-jangan aku salah tikam semalam?” ucap Lawongo dengan menduga-duga.
  • Tanpa berpikir panjang, Lawongo segera berlari pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia melihat sudah banyak warga yang berkumpul di depan rumahnya.
  • “Ada apa, Pak! Kenapa kalian berkumpul di sini?” tanya Lawongo kepada seorang warga.
  • “Maaf, Lawongo! Kami turut berduka cita melihat kondisi istrimu,” jawab warga itu.
  • “Memangnya kenapa dengan istriku?” tanya Lawongo cemas.
  • “Para warga menemukan istrimu dalam keadaan terbujur kaku,” jawab warga itu.
Mendengar keterangan warga itu, Lawongo pun semakin yakin dengan dugaannya bahwa bukanlah babi hutan yang ia tusuk dengan pisaunya semalam, melainkan istrinya yang sedang tidur di sampingnya. Ia pun segera berlari masuk ke dalam rumahnya untuk melihat keadaan istrinya. 

Saat masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya tidur terlentang ditutupi oleh kain kafan di atas pembaringan yang ditunggui oleh sejumlah warga. Dengan perlahan-lahan, Lawongo membuka kain kafan itu. Saat kain kafan terbuka, terlihatlah tubuh pada bagian lambung istrinya penuh dengan darah yang sudah membeku.
“Tidaaak....!!! Jangan tinggalkan aku, Istriku!” teriak Lawongo dengan histeris di antara kerumunan warga yang sedang mengelilingi istrinya.
Lawongo sangat menyesal atas kejadian yang menimpa istrinya itu.
“Maafkan Abang, Istriku! Abang tidak bermaksud melakukan ini. Abang sangat mencintaimu,  Istriku!” seru Lawongo sambil menangis terseduh-seduh.
Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Istri Lawongo yang sangat dicintainya itu telah pergi menghadap kehadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Lawongo pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan istrinya. Sesuai dengan sumpah janjinya ketika untuk selalu bersama istrinya sehidup semati dan satu kubur berdua, ia pun meminta kepada warga agar segera membuat dua peti mati, satu untuk istrinya dan satu lagi untuk dirinya. Semua warga terperanjat mendengar permintaannya itu.
“Jangan lakukan itu, Lawongo! Jika kamu ikut mati bersama istrimu, kami akan merasa kesepian, karena tidak lagi mendengar irama sulingmu yang sangat merdu itu. Lagipula kamu masih terlalu muda dan masih mempunyai banyak harapan untuk bisa hidup lebih baik lagi,” pesan seorang warga.
Namun, Lawongo tidak menghiraukan nasehat tersebut. Ia tetap bertekad mati bersama istri yang sangat dicintainya itu.
“Tidak, Pak! Aku harus mati bersama istriku. Dialah satu-satunya harapan saya di dunia ini,” kata Lawongo.
Setelah itu, Lawongo berpesan kepada sanak saudara, teman-teman, dan penduduk setempat agar segera membuat lubang dan saluran udara pada peti matinya.
“Kalian tidak usah bersedih. Saya akan bermain suling di dalam peti mati itu untuk menghibur kalian semua,” kata Lawongo.
Para warga tidak dapat lagi mencegah keinginan Lawongo dan segera memenuhi permintaannya. Setelah semuanya selesai, Lawongo pun bersiap-siap untuk dikuburkan bersama istrinnya. Sebelum masuk ke dalam peti matinya, Lawongo kembali berpesan kepada warga.
“Jika kalian sudah tidak mendengar lagi suara sulingku, berarti aku sudah tidak ada lagi di dalam kubur ini. Pergilah kalian ke pantai dan kalian akan melihat benda aneh muncul dari laut, datang dari kaki langit. Benda aneh itu adalah penjelmaanku. Tapi, ingat! Kalian jangan menunjuk benda itu dan jangan pula kalian teriaki. Kalian diam saja di pantai dengan tenang sambil menunggu benda itu,” ujar Lawongo.
Setelah Lawongo masuk ke dalam peti mati itu, para warga pun segera menguburkan Lawongo bersama istrinya. Pada hari pertama dan kedua, mereka masih mendengar suara suling Lawongo dengan sangat nyaring dan merdu. Pada hari ketiga, suara suling Lawongo semakin kecil. Memasuki hari kempat dan kelima, suara suling itu hanya terdengar sayup-sayup dan akhirnya pada hari ketujuh suara suling Lawongo lenyap sama sekali.

Teringat pada pesan Lawongo, pagi-pagi sekali, seluruh sanak keluarga dan teman-teman Lawongo serta penduduk Desa Damau segera berlari menuju ke pantai. Sesampainya di pantai, mereka duduk dengan tenang sambil menunggu benda aneh yang datang dari kaki langit sebagaimana yang dikatakan oleh Lawongo. Sudah dua jam mereka menunggu, namun belum ada tanda-tanda akan munculnya benda aneh itu. Para warga pun mulai meragukan akan kebenaran perkataan Lawongo.
  • “Wah, sudah lama kita menunggu di sini, tapi benda aneh itu tidak muncul juga. Jangan-jangan Lawongo hanya mengada-ada,” ucap seorang warga.
  • “Benar, barangkali Lawongo hanya membohongi kita semua,” tambah seorang warga lainnya.
  • “Sebaiknya kita tunggu beberapa saat lagi,” sahut salah seorang keluarga istri Lawongo.
Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba sebuah benda berwarna kehitam-hitaman mencuat menyerupai gunung muncul dari permukaan laut di kaki langit. Benda aneh itu bergerak menuju ke arah pantai Desa Damau. Melihat benda itu, para warga hanya terperangah melihat benda aneh itu. Mereka pun tidak berani berteriak dan menunjuk benda itu sebagaimana pesan Lawongo. Semakin lama benda itu semakin mendekat ke arah mereka. Mereka pun mulai ketakutan karena khawatir benda besar itu menabrak pulau tempat tinggal mereka. Baru saja mereka akan berlari meninggalkan pantai itu, tiba-tiba benda raksasa itu berhenti di tengah laut.

Para warga pun semakin penasaran ingin mengetahui benda itu dari dekat. Maka berlayarlah beberapa orang warga menuju ke arah benda itu. Setelah mereka mendekat, ternyata benda itu adalah sebuah pulau karang.

Mereka pun menamai pulau itu Napombalu yang diambil dari kata NAPO berarti pulau karang, dan kata NAWALU yang berarti benda aneh yang berubah menjadi sebuah pulau.
Di saat pasang besar, pulau itu tenggelam dan di saat surut, pulau itu muncul kembali di permukaan laut.

*****

Demikianlah LEGENDA NAPOMBALU dari daerah Sulawesi Utara, Indonesia. Legenda ini termasuk ke dalam kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa mencintai seseorang secara berlebihan dapat membutakan hati dan pikiran, serta mempersempit wawasan kita tentang masa depan.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH TULAP DAN LELAKI TUA

0 komentar

Tulap adalah sosok raksasa yang berwajah seram dan suka memangsa manusia dan binatang yang ada di dalam hutan. Suatu hari, ketika sedang berkeliling hutan mencari mangsa, si Tulap menemukan seorang lelaki tua sedang mencari kayu bakar. Ia pun berniat memangsa lelaki tua tersebut.

∞∞∞


Dahulu, di sebuah hutan belantara di Sulawesi Utara, terdapat sesosok raksasa yang ganas bernama Tulap. Sehari-hari, si Tulap berburu manusia dan binatang yang memasuki hutan tempat kediamannya untuk dijadikan santapannya. Seperti biasa, setiap pagi Tulap bersiap-siap berkeliling untuk hutan mencari mangsa. Ia berjalan menyusuri hutan belantara sambil memasang mata dan telinga. Setelah beberapa jauh berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara gaduh tidak jauh di hadapannya.
“Suara apa itu?” gumam Tulap seraya memperlambat langkahnya.
Tulap kemudian bersembunyi di balik semak-semak. Dari balik semak-semak itulah ia mengintip ke arah suara gaduh itu berasal. Rupanya, ada seorang lelaki tua yang sedang mencari kayu bakar.
“Hmm… akhirnya aku mendapatkan mangsa. Walaupun sudah tua, orang itu tetap enak dijadikan santapan,” gumamnya.
Tulap tidak sabar lagi ingin segera menangkap lelaki tua itu. Ia pun keluar dari persembunyiannya.
“Hai, Pak Tua! Sedang apa kamu di sini?” tanya Tulap dengan suara menggelegar.
Mendengar suara itu, Pak Tua menjadi ketakutan. Semula, ia bermaksud melarikan diri. Namun ia menyadari bahwa walaupun lari raksasa itu pasti akan bisa menangkapnya.
  • “Sa… sa… saya sedang mencari kayu bakar, Tuan Raksasa,” jawab lelaki tua itu dengan gugup dan tubuh gemetaran.
  • “Ha… ha… ha…,” Tulap tertawa terbahak-bahak.
  • Lelaki tua itu pun semakin ketakutan.
  • “Ampun, Tuan Raksasa. Tolong, jangan sakiti saya,” rengek Pak Tua.
  • Tulap kembali tertawa terbahak-bahak lalu berkata kepada lelaki tua itu.
  • “Baiklah, aku tidak akan memangsamu. Tapi, maukah kamu ikut bersamaku? Temani aku mencari burung untuk santapan siang kita nanti,” bujuk si Tulap.
Lelaki tua itu sebenarnya mengetahui bahwa bujukan si Tulap hanya akal-akalan saja. Ia tahu bahwa dirinya pasti akan dijadikan santapannya. Namun, karena takut raksasa itu murka dan langsung memangsanya, Pak Tua pun menuruti ajakannya.

Keduanya pun berjalan menyusuri hutan belantara. Lelaki tua itu disuruh berjalan di depan kemudian Tulap mengikutinya dari belakang. Pak Tua tampak semakin ketakutan. Ia sesekali ia menoleh ke belakang karena takut raksasa itu memangsanya dari belakang. Sesaat kemudian, Pak Tua tiba-tiba berhenti.
  • “Hai, Pak Tua. Kenapa kamu berhenti?” tanya Tulap heran.
  • “Maaf, Tuan. Di depan kita ada banyak jarum dan peniti,” jawab Pak Tua.
  • “Ambil dan bawa pulang semua benda itu!” seru si Tulap.
Pak Tua itu pun memungut semua jarum dan peniti yang menancap di tanah lalu memasukkan ke dalam saku celananya. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan dengan menyusuri hutan, mendaki bukit, menuruni lembah, serta menyeberangi beberapa sungai. Tak berapa lama kemudian, mereka menemukan sebatang pohon pisang yang berbuat lebat. Tulap segera memetik beberapa buah pisang yang sudah masak lalu menyuruh Pak Tua itu membawanya.

Mereka sudah cukup berjalan. Si Tulap yang sudah mulai kelelahan mengajak lelaki tua itu beristirahat sejenak di bawah pohon yang rindang. Saat beristirahat, pandangan si Tulap tiba-tiba tertuju pada sebuah tongkat yang biasa digunakan memukul sagu. Ketika mereka hendak meninggalkan tempat itu, si Tulap menyuruh Pak Tua untuk membawa tongkat itu. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba seekor tikus jantan yang besar dan berekor putih melintas. Untung tikus itu lincah menghindar sehingga tidak terinjak oleh kaki si Tulap. Raksasa itu pun mengajaknya ikut bersama mereka.
“Hai, tikus! Ayo ikut bersama kami mencari makanan yang enak,” ajak si Tulap.
Tikus itu menuruti ajakan si Tulap karena takut dimangsa. Ketiganya pun melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama kemudian, mereka bertemu dengan seekor lipan raksasa. Si Tulap pun mengajaknya ikut serta. Kini, si Tulap yang berjalan paling di depan kemudian disusul Pak Tua, si tikus, dan si lipan yang paling belakang sendiri. Setelah beberapa meter berjalan, tiba-tiba terdengar kicau seekor burung mutuo. Rombongan si Tulap pun serentak berhenti.
“Wah, ini pasti makanan enak,” kata si Tulap.
Ketika si Tulap hendak menangkapnya, burung itu ternyata sedang bertelur. Raksasa itu pun membujuknya agar ikut bersama mereka.
“Hai, burung mutuo. Ikutlah bersama kami. Nanti kamu bertelur di rumahku saja,” ujar si Tulap.
Akhirnya, burung mutuo itu bergabung bersama rombongan si Tulap. Sudah semakin jauh mereka berjalan. Raksasa itu terlihat mulai lemas karena kelaparan. Sejak pagi belum dia belum menyantap daging manusia. Oleh karena tidak ingin niat jahatnya ketahuan, si Tulap menyuruh Pak Tua, si tikus, si lipan, dan burung mutuo berjalan dulu menuju ke rumahnya.
  • “Kalian tunggulah di rumahku, nanti aku menyusul. Aku mau mencari makanan dulu untuk kalian,” ujar si Tulap.
  • “Baik, Tuan Raksasa,” jawab Pak Tua dan binatang-binatang tersebut serentak.
Sementara si Tulap mencari makanan, Pak Tua dan ketiga binatang itu berjalan menuju ke rumah raksasa yang jahat itu. Dalam perjalanan, tiba-tiba timbul perasaan curiga terhadap gelagat si Tulap.
  • “Hai, kawan-kawan. Aku yakin si Tulap akan menjadikan kita sebagai santapannya,” ungkap Pak Tua.
  • “Apa yang harus kita lakukan, Pak Tua?” tanya si tikus.
  • “Iya, Pak Tua. Bagaimana bisa menghadapinya?” imbuh si lipan.
  • “Tenang, kawan-kawan! Kita harus menggunakan siasat,” ujar Pak Tua.
Pak Tua dan para binatang itu pun bermusyawarah untuk mencari cara agar bisa membinasakan raksasa yang buas itu. Setelah mengatur siasat, mereka melanjutkan perjalanan. Setiba di rumah si Tulap, mereka segera menjalankan siasat yang telah direncanakan sebelumnya. Si tikus mendapat tugas menggigit teling si Tulap ketika sedang tidur. Si lipan bertugas menggigit tangan Tulap ketika sedang membasuh muka di penampungan air. Sementara itu, burung mutuo bertugas mengepak-epakkan sayapnya agar lampu mati dan debu masuk ke mata di si Tulap. Adapun Pak Tua bertugas meletakkan jarum dan peniti di depan tempat tidur si Tulap, serta beberapa kulit pisang di depan pintu keluar.

Saat hari mulai gelap, si Tulap pun pulang ke rumahnya. Karena kelelahan, ia langsung masuk ke kamar dan langsung terlelap dengan dengkuran yang sangat keras.
  • “Kawan-kawan, ayo kita mulai bertindak!” seru Pak Tua, 
  • “Raksasa itu sudah tidur.”
Mereka langsung bertindak untuk melaksanakan tugas masing-masing. Pertama-tama, si tikus menggigit telinga si Tulap. Raksasa itu pun serentak terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Ketika ia meloncat ke depan tempat tidur, kakinya tertusuk jarum dan peniti yang telah dipasang oleh Pak Tua. Ia pun menjerit-jerit kesakitan menuju ke ruang dapur untuk membasuh mukanya. Pada saat itu pula, burung mutuo mengepakkan sayapnya tiga kali sehingga lampu penerangan di dalam rumah itu padam. Mata raksasa itu juga kemasukan debu.

Dalam keadaan suasana gelap gulita, si Tulap berjalan meraba-raba menuju ke tempat penampungan air yang ada di dapur. Saat ia mengambil air, si lipan yang sudah menunggu segera menggigit tangannya. Raksasa yang malang itu pun kembali menjerit kesakitan seraya berlari menuju pintu keluar. Saat melewati pintu keluar itu, kakinya tergelincir karena menginjak kulit pisang yang telah diletakkan di situ oleh Pak Tua. Tak ayal, raksasa itu jatuh terjengkang.

Melihat keadaan itu, Pak Tua pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera memukul kepala si Tulap dengan tongkat yang ia bawa dari hutan. Raksasa yang ganas itu pun akhirnya tewas. Dengan tewasnya si Tulap, si lelaki tua dan kawan-kawannya menjadi lega karena terbebas dari ancaman bahaya. Mereka pun kembali ke tempat tinggal masing-masing. Sejak itulah, mereka kembali hidup tenang tanpa gangguan si Tulap.


*****

Demikianlah KISAH TULAP DAN LELAKI TUA dari Sulawesi Utara. Pesan moral yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bahwa dengan kekuasaan yang kita miliki hendaknya tidak digunakan untuk menindas orang yang lemah. sebab setiap orang mempunyai akal walaupun kelihatan lemah.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH SIGARLAKI DAN LIMBAT

0 komentar

SIGARLAKI dan LIMBAT adalah dua orang pemburu binatang yang tinggal di daerah Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Indonesia. Sigarlaki adalah seorang majikan sedangkan Limbat adalah pelayannya. Suatu hari, Sigarlaki menuduh pelayannya itu mencuri sisa daging binatang buruannya yang disimpan di dalam lemari. Karena si pelayan menolak tuduhan itu, maka Sigarlaki ingin menguji kejujuran pelayannya itu.

∞∞∞


Pada zaman dahulu, daerah Tondano, yang kini termasuk ke dalam wilayah Sulawesi Utara, merupakan sebuah daerah yang subur. Hutan lebat terhampar begitu luas. Di antara hamparan hutan tersebut terdapat sungai-sungai dan rawa-rawa yang airnya sangat jernih. Berbagai jenis burung dan binatang liar pun hidup bebas di tengah-tengah hutan tersebut. Mulai dari binatang yang hidup di air seperti ikan, udang, dan kepiting hingga binatang yang hidup di darat seperti ular, babi hutan, rusa, dan sebagainya.

Di pinggir sebuah kolam di dalam hutan itu, hiduplah seorang pemuda perkasa yang bernama Sigarlaki. Sehari-harinya, ia bekerja sebagai pemburu binatang. Ia sangat mahir menombak. Hampir tidak ada sasaran yang luput dari tombakannya.

Sigarlaki tinggal bersama dengan pelayannya yang bernama Limbat. Limbat adalah seorang pelayan yang jujur dan setia. Apapun pekerjaan yang diperintahkan oleh majikannya, ia senantiasa melaksanakannya dengan baik. Ke mana pun majikannya pergi, ia selalu turut serta menemani.

Suatu hari, Sigarlaki dan Limbat berburu agak jauh ke tengah hutan. Sudah setengah hari mereka berburu, namun tak seekor binatang buruan pun yang mereka dapatkan. Hari itu, hutan tampak sepi. Karena mulai kesal dan hari pun menjelang siang, akhirnya Sigarlaki mengajak Limbat untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon rindang.
  • “Limbat! Kita beristirahat dulu. Perburuan kita lanjutkan setelah istirahat nanti!” ujar Sigarlaki.
  • “Baik, Tuan!” jawab Limbat seraya mengeluarkan bekal yang dibawanya dari rumah.
Sambil menikmati santapan, Sigarlaki memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tombaknya selalu siap di dekatnya untuk digunakan jika tiba-tiba ada binatang buruan yang melintas di depannya. Namun, tak seekor binatang pun yang melintas hingga mereka selesai bersantap.

Hati Sigarlaki pun semakin tidak tenang. Ia semakin penasaran dan tidak sabar lagi ingin menombak binatang buruan. Setelah merasa cukup istirahat, ia segera mengajak Limbat untuk kembali melanjutkan perburuan.

Kemudian mereka berjalan menyusuri hutan dan semak-belukar hingga jauh ke dalam. Sigarlaki berkali-kali mengeluh karena belum berhasil mendapatkan seekor pun binatang buruan. Limbat dengan sabar mendengar keluhan majikannya walaupun ia sering terkena imbas kemarahan sang majikan.

Setelah senja turun, Sigarlaki dan Limbat kembali ke rumah tanpa membawa hasil. Setibanya di rumah, Sigarlaki memerintahkan Limbat agar segera memasak sisa daging babi hutan yang ada di lemari.
  • “Limbat, cepat masak daging yang ada di lemari itu! Aku sudah lapar sekali!” seru Sigarlaki.
  • “Baik, Tuan!” jawab Limbat.
Sigarlaki berbaring di balai-balai bambu depan rumahnya sambil menunggu Limbat selesai memasak. Hari itu benar-benar hari yang sangat mengesalkan bagi Sigarlaki. Sementara itu, Limbat yang akan mengerjakan perintah tuannya tersentak kaget karena daging persediaannya di lemari hilang. Dengan hati cemas, ia pun segera melaporkan hal itu kepada majikannya.
“Maaf, Tuan! Daging persediaan kita tidak ada di lemari,” lapor Limbat dengan perasaan gugup.
Mendengar laporan itu, kekesalan Sigarlaki pun semakin menjadi-jadi.
  • “Hai, Limbat! Pasti kamu yang telah mencuri daging itu!” tuduh Sigarlaki.
  • “Ampun, Tuan! Demi Tuhan, bukan saya yang mengambil daging itu,” jawab Limbat menolak tuduhan itu.
  • “Hai, Pelayan bodoh! Kamu tidak usah menyangkal!” bentak Sigarlaki.
  • “Benar, Tuan! Bukan saya yang mengambilnya,” jawab Limbat.
  •  “Coba buktikan kalau memang kamu benar, hai Pelayan!” seru Sigarlaki.
  • “Bagaimana caranya saya membuktikannya, Tuan?” tanya Limbat bingung.
Sigarlaki mencelupkan tombaknya ke dalam kolam di dekat rumahnya. Lalu ia menyuruh Limbat menyelam ke dalam kolam itu. Sebelum tombaknya tenggelam ke dalam air, Sigarlaki berpesan kepada Limbat.
“Hai, Limbat! Jika kamu lebih dulu keluar dari kolam daripada tombak itu, berarti kamulah yang mencuri daging itu. Tapi, jika tombak ini yang lebih dulu keluar, berarti kamu tidak bersalah,” ujar Sigarlaki.
Limbat merasa syarat yang diberikan majikannya itu sangat tidak masuk akal. Tombak yang matanya terbuat dari besi itu tidak akan mungkin terapung, apalagi jika tombak tersebut tertancap di dasar kolam itu. Karena merasa tidak mencuri, Limbat pun menuruti permintaan majikannya dengan hati yang sabar.

Begitu Sigarlaki menenggelamkan tomboknya ke dasar kolam, Limbat pun segera menyelam. Namun, baru saja Sigarlaki menenggelamkan tombaknya, tiba-tiba seekor babi hutan muncul dari balik semak-semak hendak minum di tepi kolam. Tanpa berpikir panjang, ia segera mengangkat kembali tongkatnya lalu melemparkannya ke arah babi hutan itu. Namun, sayang, tombakannya kali ini luput sehingga babi hutan itu melarikan diri masuk ke dalam semak-semak.

Sementara itu, Limbat yang baru saja muncul ke permukaan air kolam sangat senang karena merasa telah berhasil membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Namun, Sigarlaki yang terlanjur kecewa meminta agar pembuktian itu diulangi lagi.
“Hai, Limbat! Pembuktian ini saya anggap batal. Aku mengangkat tombak ini dari kolam itu karena aku melihat seekor babi hutan di tepi kolam itu. Untuk itu, pembuktian ini harus kita ulangi,” jelas Sigarlaki.
Limbat pun tak berdaya untuk menolak permintaan majikannya itu. Akhirnya, dengan penuh keyakinan, Limbat menuruti permintaan itu untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar tidak bersalah. Baru saja Sigarlaki menancapkan tombaknya ke dalam kolam, tiba-tiba seekor kepiting besar keluar dari kolam itu lalu menggigit kaki Sigarlaki. Sigarlaki pun menjerit kesakitan dan tanpa sengaja ia mengangkat kembali tongkatnya.

Sementara itu, Limbat yang baru saja muncul ke permukaan air kolam melihat kaki tuannya digigit kepiting segera naik ke darat untuk menolongnya. Setelah melepas gigitan kepiting itu, ia mengobati luka di kaki tuannya dengan dedaunan. Dengan demikian, Limbat berhasil membuktikan dirinya tidak bersalah. Sigarlaki pun segera meminta maaf kepada Limbat untuk mengakui kesalahannya.
  • “Maafkan saya Limbat, karena telah menuduhmu mencuri daging itu!” ucap Sigarlaki.
  • “Iya, Tuan! Kita lupakan saja semua kejadian tadi. Yang penting Tuan telah selamat dari gigitan kepiting itu,” kata Limbat sambil tersenyum.
Sungguh mulia hati Limbat. Meskipun telah dizalimi, ia tidak segan-segan untuk menolong tuannya. Sejak saat itu, Sigarlaki tidak pernah lagi menzalimi Limbat. Bahkan, ia telah menganggap Limbat sebagai saudara sendiri, bukan sebagai pelayan lagi.

*****

Demikianlah KISAH SIGARLAKI DAN LIMBAT dari daerah Minahasa, Sulawesi Utara. Kisah ini termasuk dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas di antaranya adalah keutamaan sifat sabar, penurut, tidak pendendam, suka menolong, dan akibat buruk dari sifat suka menuduh sembarangan orang lain. Sifat sabar, penurut, tidak pendendam, dan suka menolong terlihat pada sikap dan perilaku Limbat. Ia selalu menuruti segala perintah dan sabar menghadapi sikap buruk majikannya. Meskipun telah dizalimi oleh Sigarlaki, ia tidak pernah merasa dendam dan bahkan tidak segan-segan menolong tuannya itu. Sementara itu, Sigarlaki mendapat hukuman berupa gigitan kepiting karena telah menuduh si Limbat secara sembarangan.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH RATU ADIOA

0 komentar

Ratu Adioa adalah seorang pemuda yang selalu berperilaku santun dan hormat kepada kedua orang tuanya. Ia tidak pernah membantah dan menyakiti hati keduanya karena mereka telah mendidik dan membesarkannya. Suatu ketika, ia ditantang oleh empat orang sahabatnya agar menghabisi nyawa kedua orangnya. Jika ia tidak menerima tantangan itu, maka nyawanya sendiri yang akan terancam.

∞∞∞


Alkisah, di sebuah kampung di daerah pesisir Sulawesi Utara, Indonesia, terdapat lima orang pemuda yang bersahabat, yaitu Ratu Wulanwanna, Wonte Ulu, Wonte Hall, Wonte Tembaga, dan Ratu Adioa. Mereka rata-rata hidup berkecukupan. Ratu Adioa seorang pemburu binatang di hutan, Wonte Ulu seorang nelayan, Wonte Hall pembuat perahu, dan Wonte tembaga seorang tukang besi. Sedangkan Ratu Wulanwanna adalah putra seorang juragan kapal. Selain Adioa, keempat orang bersahabat tersebut memiliki sifat sombong dan suka berlaku kasar terhadap orang-orang di sekitarnya, termasuk kepada kedua orang mereka.

Pada suatu hari, Ratu Wulanwanna ingin menantang keberanian keempat sahabatnya untuk membunuh kedua orang tua mereka masing-masing. Ia pun mengajak keempat sahabatnya untuk berkumpul di suatu tempat yang sepi agar rencananya tidak diketahui oleh orang tua mereka.
  • “Wahai, sahabat-sahabatku! Tahukah kalian mengapa aku mengajak kalian berkumpul di tempat ini?” tanya Ratu Wulanwanna memulai pembicaraan.
  • “Belum?” jawab keempat sahabatnya serentak.
  • “Begini sahabatku, aku ingin menantang keberanian kalian untuk membunuh kedua orang kita masing-masing. Apakah kalian bersedia menerima tantangan ini?” tanya Ratu Wulanwanna.
  • “Mengapa kedua orang kita yang harus kita bunuh?” tanya Wonte Ulu bingung.
Mendengar pertanyaan itu, Ratu Wulanwanna tersenyum seraya menjelaskan maksud rencananya tersebut.
“Ketahuilah, wahai sahabatku! Dengan membunuh kedua tua kita, maka kita akan mewarisi semua harta kekayaan mereka dan tidak ada lagi yang akan menghalangi segala keinginan kita,” jawab Ratu Wulanwanna seraya tersenyum.
Rupanya, jawaban Ratu Wulanwanna tersebut menggugah pikiran Wonte Ulu, Wonte Hall, dan Wonte Tembaga. Mereka bersedia menerima tantangan tersebut. Sementara Adioa hanya diam tertegun dan belum menyatakan kesediaannya.
“Hai, Adioa! Mengapa kamu diam saja? Apakah kamu tidak berani menerima tantangan ini?” tanya Ratu Wulanwanna dengan nada membentak.
Ratu Adioa tetap saja diam dan kebingungan. Dalam hatinya, ia tidak mau menerima tantangan itu, karena ia sangat menyayangi kedua orang tuanya. Namun, jika tidak menerima tantangan tersebut, ia akan dibenci dan bahkan dibunuh oleh keempat sahabatnya. Setelah berpikir keras, ia pun menemukan sebuah cara agar keempat sahabatnya tidak membencinya dan kedua orang tuanya pun selamat. Ia akan berpura-pura menerima tantangan tersebut, kemudian secara diam-diam, ia akan menyembunyikan kedua orang tuanya di dalam sebuah gua di tengah hutan. Gua itu sangat aman, karena di antara keempat sahabatnya hanya dialah yang mengetahui keberadaannya. Gua itu sering ia gunakan sebagai tempat beristirahat ketika sedang berburu binatang di hutan.
“Baiklah, sahabat! Aku bersedia menerima tantangan ini,” jawab Ratu Adioa dengan suara lantang.
Pada malam harinya, Ratu Wulanwanna, Wonte Ulu, Wonte Hall, dan Wonte Tembaga segera menghabisi nyawa kedua orang tua mereka yang sedang tertidur lelap. Setelah itu, mereka menguburnya di pinggir hutan. Sementara Adioa, secara diam-diam menyembunyikan kedua orang tuanya di dalam gua, lalu membuat dua tumpukan tanah dan memberinya batu nisan di atasnya, sehingga mirip dua buah kuburan yang bersandingan. Setelah itu, ia mengolesi darah ayam pada kedua batu nisan tersebut untuk meyakinkan keempat sahabatnya bahwa ia benar-benar telah membunuh kedua orang tuanya.

Sejak itu, keempat sahabat Adioa tersebut mewarisi semua harta kedua orang tua mereka. Namun, mereka senantiasa hidup boros dan bekerja sekehendak hati, sehingga lama-kelamaan hidup mereka semakin melarat. Sementara Adioa tetap rajin berburu binatang ke hutan untuk memenuhi kebutuhan kedua orang tuanya yang berada di dalam gua.

Pada suatu hari, ada tiga buah kapal mewah sedang berlabuh di dermaga. Mengetahui kedatangan ketiga kapal tersebut, Ratu Wulanwanna segera memerintahkan Ratu Adioa ke dermaga untuk menanyakan kepada awak kapal tentang maksud kedatangan mereka.
“Adioa! Pergilah ke dermaga dan tanyakan maksud kedatangan mereka!” seru Ratu Wulanwanna.
Mendengar perintah sahabatnya itu, Adioa pun berangkat ke dermaga. Setibanya di dermaga, ia pun menemui salah seorang awak kapal.
  • “Maaf, Tuan! Kalian siapa dan apa maksud kedatangan kalian ke kampung kami?” tanya Adioa.
  • “Kami adalah utusan raja dari Kerajaan Timur. Kami kemari membawa teka-teki untuk penduduk kampung ini. Jika kalian berhasil menjawab teka-teki kami, maka seluruh isi kapal ini akan menjadi milik kalian. Tetapi jika kalian tidak berhasil menjawabnya, maka kampung ini dan seluruh isinya akan menjadi milik kami,” jawab awak kapal itu.
  • “Apakah teka-teki yang hendak Tuan sampaikan kepada kami?” tanya Adioa.
  • “Kamu tunggu di sini sebentar, hai Anak Muda!” seru awak kapal itu seraya masuk ke dalam kapalnya.
Tak berapa lama kemudian, awak kapal itu kembali bersama dua temannya. Mereka membawa dua buah tengkorak manusia, dua ekor anak ayam, dan dua buah gayung yang berisi air.
  • “Begini, Anak Muda! Kami mempunyai tiga buah teka-teki untuk kalian.
  • Pertama, kami meminta kalian memilih dari kedua tongkorak manusia ini, mana yang perempuan dan mana yang laki-laki.
  • Kedua, pilih dari kedua ekor ayam ini, mana yang betina dan mana yang jantan.
  • Ketiga, tebaklah air dalam dua gayung ini, mana yang berisi air tawar dan mana yang air laut. Bagaimana, apakah kalian berani menerima tantangan ini?” tanya awak kapal itu.
  • “Maaf, Tuan! Saya tidak bisa memutuskan sekarang. Saya harus merundingkan hal ini bersama keempat sahabat saya,” jawab Adioa.
Setelah berpamitan, Ratu Adioa segera menyampaikan tantangan tersebut kepada keempat sahabatnya. Mereka pun berunding dan bersepakat menerima tantangan tersebut dengan senang hati dan penuh harapan.
  • “Wah, jika kita berhasil menjawab teka-teki tersebut, maka kita akan menjadi kaya lagi,” celetuk Wonte Hall.
  • “Benar, sahabat! Hidup kita bisa kembali seperti dulu lagi,” tambah Wonte Tembaga.
  • “Sudahlah, sahabat! Janganlah terlalu berlebihan! Sebaiknya kita berunding untuk memecahkan teka-teki tersebut,” ujar Ratu Adioa.
Kelima pemuda bersahabat itu pun segera membahas teka-teki tersebut. Sudah sehari-semalam mereka berunding, namun belum juga menemukan jawabannya. Akhirnya, mereka pun bersepakat untuk membuat taruhan di antara mereka. Barangsiapa yang berhasil menjawab teka-teki tersebut, maka dialah yang akan diangkat menjadi raja.

Setelah itu, Adioa kembali ke dermaga untuk meminta waktu kepada awak kapal itu.
  • “Maaf, Tuan! Berilah kami waktu seminggu lagi untuk mencari jawaban teka-teki Tuan!” pinta Adioa.
  • “Baiklah, kalau itu yang kalian inginkan. Kami akan menanti jawaban kalian seminggu lagi. Tapi, jika kalian tidak menemukan jawaban teka-teka kami, maka kampung ini menjadi milik kami,” ujar awak kapal itu.
  • “Setuju, Tuan!” jawab Adioa singkat seraya berpamitan.
Setelah itu, Adioa dan keempat sahabatnya segera mencari jawaban teka-teki itu. Secara diam-diam, Adioa pergi menemui kedua orang tuanya dalam gua dan menceritakan kepada mereka tentang teka-teki tersebut.
“Ayah, Ibu! Apakah kalian mengetahui jawaban teka-teki itu?” tanya Adioa dengan penuh harap.
Ayah Adioa hanya tersenyum, lalu berkata, 
  • “Kakekmu dulu pernah memberikan teka-teki itu kepada Ayah kekita Ayah masih kecil. Tapi, waktu itu Ayah tidak bisa menjawabnya.”
  • “Tapi, jangan khawatir Anakku! Kakekmu telah memberitahu jawaban teka-teki itu,” sambung Ayah Adioa.
  • “Kalau begitu, apa jawabannya, Ayah?” desak Adioa.
  • “Dengarlah baik-baik, Anakku! 
  • Untuk menjawab teka-teki yang Pertama, ambillah sebatang lidi, lalu kamu tusukkan ke dalam lubang tengkorak itu. Jika lidi itu lurus berarti tengkorak laki-laki, jika bengkok berarti tengkorak perempuan.
  • Untuk jawaban teka-teki yang Kedua, ambillah segenggam beras dan berilah makan kedua anak ayam itu. Ayam yang makan sambil menengadah berarti ayam jantan, sedangkan ayam yang makan sambil menunduk berarti ayam betina. 
  • Jawaban yang Ketiga, jika air dalam gayung itu beriak tandanya air laut, sedangkan jika tidak beriak berarti air tawar,” jawab Ayah Adioa.
Betapa senang hati Adioa mendengar jawaban ayahnya. Hatinya gembira sekali, karena telah menemukan jawaban teka-teki tersebut.
  • “Terima kasih, Ayah!” ucap Adioa.
  • “Sama-sama, Anakku! Pergilah temui awak kapal tersebut dan jawablah teka-teki mereka! Kamu pasti dapat memenangkannya dan membawa pulang semua isi kapal mereka,” ujar ayah Adioa.
  • “Jangan lupa membawa segenggam beras dan sebatang lidi, Anakku!” seru ibu Adioa.
  • “O... iya! Terima kasih Bu telah mengingatkan Adioa,” ucap Adioa.
Setelah menyiapkan segenggam beras dan sebatang lidi, Ratu Adioa pun berpamitan kepada kedua orang tuanya, lalu bergegas menemui keempat sahabatnya. Setiba di tempat sahabat-sahabatnya berkumpul, ia mendapati mereka masih dalam kebingungan, karena belum menemukan jawaban teka-teki tersebut. Mereka tampak cemas dan takut para awak kapal tersebut akan membawa mereka ke negeri seberang untuk dipersembahkan kepada raja.
  • “Hai, kenapa kalian tampak kebingungan?” tanya Adioa.
  • “Waduh, Adioa! Kami sudah berusaha mencari jawaban teka-teki itu, tapi belum juga menemukannya,” keluh Ratu Wulanwanna.
  • “Kami sudah pasrah, Adioa! Hanya kamulah harapan kami satu-satunya yang dapat menyelamatkan kampung ini,” sahut Wonte Tembaga.
  • “Iya, Adioa! Apakah kamu sudah menemukan jawabannya?” tanya Wonte Hall.
  • Dengan tenang, Adioa menjawab, 
  • “Jangan khawatir, wahai sahabat-sahabatku! Aku sudah menyiapkan jawabannya. Ayo kita menuju ke dermaga menemui awak kapal itu!” ajak Adioa.
Kelima pemuda bersahabat tersebut bersama para penduduk kampung beramai-ramai menuju ke dermaga untuk mendengarkan jawaban teka-teki yang akan disampaikan oleh Adioa. Setibanya di dermaga, para awak kapal itu pun turun dari kapal menyambut kedatangan Adioa dan rombongannya.
  • “Bagaimana, Anak Muda? Apakah kamu sudah menemukan jawabannya?” tanya seorang awak kapal.
  • “Sudah, Tuan!” jawab Adioa sambil bersiap-siap.
Para penduduk yang hadir di tempat itu tampak tegang. Hati mereka diselimuti perasaan cemas dan khawatir. Jika Adioa tidak mampu menjawab teka-teki tersebut, maka kampung mereka akan dikuasai oleh raja dari negeri seberang itu. Demikian pula para awak ketiga kapal tersebut, mereka khawatir jika Adioa berhasil menjawab teka-teki tersebut, maka seluruh isi kapal mereka akan menjadi milik Adioa dan penduduk kampung itu.

Sesaat kemudian, awak kapal pun mempersilahkan Adioa untuk menjawab teka-teka tersebut.
“Silahkan, Anak Muda! Jawablah teka-teki itu!” seru awak kapal itu.
Dengan tenang, Ratu Adioa menjawab ketiga teka-teki tersebut sesuai dengan petunjuk ayahnya. Ketika ia berhasil menjawab teka-teki yang pertama, terdengarlah suara tepuk tangan yang ramai dari keempat sahabatnya dan para penduduk setempat. Begitu pula ketika ia berhasil menjawab teka-teki yang kedua. Begitu ia berhasil menjawab teka-teki yang  ketiga, seluruh penduduk bersorak gembira dengan penuh kegirangan. Sementara para awak kapal hanya tercengang bercampur rasa kagum kepada Adioa, karena tak satu pun jawabannya yang meleset.
  • “Hai, Anak Muda! Kami sangat kagum kepadamu. Kamu memang pemuda yang hebat. Sesuai dengan janji kami, maka seluruh isi kapal itu menjadi milikmu dan penduduk di sini,” kata awak kapal itu seru
  • “Terima kasih, Tuan!” ucap Adioa sambil menyalami awak kapal itu.
Setelah seluruh isi ketiga kapal tersebut diturunkan, para awak kapal itu pun berpamitan untuk kembali ke negeri mereka. Begitu mereka pergi, para penduduk berpesta menyambut kemenangan mereka dan kemudian mengangkat Ratu Adioa Menjadi Raja.

Keesokan harinya, Raja Ratu Adioa pun menjemput kedua orang tuanya yang sedang bersembunyi di dalam gua. Setelah itu, ia menceritakan kepada keempat sahabat dan seluruh rakyatnya bahwa keberhasilannya menjawab teka-teki tersebut adalah berkat bantuan kedua orang tuanya. Mendengar cerita itu, keempat sahabatnya pun merasa sangat menyesal karena telah membunuh orang tua mereka. Kini, mereka tidak dapat menikmati kebahagiaan hidup bersama kedua orang tuanya, seperti yang dialami oleh Ratu Adioa.

*****

Demikianlah KISAH RATU ADIOA dari daerah Sulawesi Utara, Indonesia. Dongeng di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa salah satu cara atau jalan untuk mencapai keberhasilan adalah menghormati orang tua. Mereka merupakan salah satu tempat kita untuk meminta nasehat dan petunjuk dikala kita sedang mengalami kesulitan, karena mereka memiliki banyak pengalaman hidup. Oleh karena itu, jika ingin mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan serta terhindar dari kesulitan, seperti Ratu Adioa dalam cerita di atas, maka sebaiknya kedua orang tua senantiasa harus dihormati.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH MANUSIA KETAM DAN BIDADARI

0 komentar

Kepulauan Talaud adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Menurut cerita yang beredar di kalangan masyarakat setempat, manusia pertama yang menghuni daerah tersebut berasal dari seekor ketam, yaitu jenis kepiting yang berkaki enam dan bercapit.

∞∞∞


Alkisah, di sebelah utara Pulau Sulawesi terdapat sebuah daerah yang bernama Kepulauan Talaud. Dahulu, saat belum dihuni oleh manusia, kabupaten yang terletak di kawasan paling utara Indonesia timur ini masih dipenuhi tetumbuhan dan hanya dihuni oleh seekor ketam yang tinggal di puncak Gunung Karakelang. Menurut cerita masyarakat setempat, binatang amfibi tersebut kemudian berubah menjadi seorang manusia laki-laki. Oleh karena tidak memiliki nama, maka manusia laki-laki itu dipanggil Manusia Ketam. Agar dapat bertahan hidup, ia setiap hari berkeliling pulau mencari dedaunan dan buah-buahan untuk dimakan. Ke mana pun pergi, ia juga selalu membawa saputta atau sumpit yang terbuat dari bilah bambu.

Suatu hari, ketika sedang berkeliling di pulau itu, Manusia Ketam tiba-tiba mencium bau harum yang sangat menyengat.
  • “Mmm… bau apa nih?” gumam Manusia Ketam, 
  • “Rasanya aku belum pernah mencium bau harum seperti ini?”
Manusia Ketam sangat penasaran dengan bau harum itu. Ia pun segera mencari sumber bau itu sambil mengembang-kempiskan hidungnya. Semakin lama bau harum itu semakin menyengat hidungnya.
“Sumber bau harum itu pasti ada di sekitar sini,” gumamnya.
Beberapa saat kemudian, Manusia Ketam sampai di tepi sebuah telaga. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat beberapa wanita cantik sedang mandi di tengah telaga. Mereka adalah para bidadari yang berasal dari Negeri Kahyangan. Manusia Ketam sangat heran karena selama berada di pulau itu ia belum pernah melihat wanita cantik, apalagi bidadari yang secantik itu. Sebelum para bidadari tersebut mengetahui kedatangannya, Manusia Ketam segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Dari balik pohon itu, ia kemudian mengamati gerak-gerik para bidadari yang sedang asyik mandi.
“Wow, ini pemandangan yang sangat mengagumkan. Sungguh cantik wanita-wanita itu,” gumam Manusia Ketam dengan kagum.
Rupanya, salah satu dari bidadari tersebut tiba-tiba mencium bau manusia.
“Sepertinya ada bau manusia,” kata salah bidadari itu.
Namun, perkataan bidadari itu tidak dihiraukan oleh bidadari lainnya karena mereka sedang asyik bercanda dan bersuka-ria. Sementara itu, Manusia Ketam yang sedang bersembunyi di balik pohon tiba-tiba pandangannya tertuju pada sejumlah kain berwarna-warni yang teronggok di atas batu, tidak jauh dari tempat para bidadari itu mandi. Rupanya, onggokan kain berwarna-warni itu adalah baju dan sayap milik para bidadari tersebut.

Manusia Ketam kemudian berpikir bahwa para bidadari pasti tidak akan bisa terbang tanpa sayap itu. Oleh karena itu, ia bermaksud untuk mengambil salah satu dari onggokan sayap tersebut. Dengan melangkah perlahan-lahan, ia mendekati onggokan kain itu lalu menghisap sayap yang berwarna ungu dengan saputta-nya. Setelah itu, ia segera bersumbunyi di balik pohon.

Hari sudah siang. Saatnya para bidadari tersebut kembali ke Kahyangan. Mereka pun segera naik ke darat. Alangkah terkejutnya salah seorang dari mereka ketika hendak mengenakan pakaiannya.
“Kakak! Apakah kalian melihat sayapku?” tanya bidadari itu.
Rupanya, bidadari yang kehilangan sayapnya itu adalah bidadari bungsu.
  • “Memang kamu letakkan di mana, Adikku?” tanya bidadari sulung.
  • “Adik meletakkannya di atas batu ini bersama sayap kalian,” jawab si bungsu mulai cemas.
  • “Wah, jangan-jangan sayapmu diterbangkan angin,” imbuh bidadari yang nomor dua.
  • “Kalau begitu, ayo kita cari-cari bersama-sama di sekitar tempat ini!” seru bidadari sulung.
Beberapa bidadari tersebut sudah mencari di sekitar telaga, namun sayap si bungsu belum juga mereka temukan. Karena hari sudah semakin siang, akhirnya enam bidadari yang lain harus segera kembali ke Kahyangan.
  • “Maafkan kami, Adikku! Kami terpaksa meninggalkanmu sendirian di sini,” ujar bidadari yang sulung.
  • “Jangan tinggalkan Adik, Kakak! Adik takut tinggal di sini seorang diri,” kata bidadari bungsu mengiba.
  • “Maafkan kami, Bungsu! Kami tidak bisa berlama-lama di tempat ini, nanti ayahanda marah,” imbuh bidadari lainnya.
Akhirnya, bidadari- bidadari tersebut terpaksa meninggalkan si bungsu di bumi. Bidadari bungsu pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis dan meratapi nasibnya yang malang. Manusia Ketam yang tidak tega melihat bidadari bungsu itu terus menangis, terpaksa keluar dari persembunyiannya. Ia lalu menghampiri bidadari bungsu dan menyapanya.
  • “Hai, gadis cantik! Kenapa kamu menangis?” tanya Manusia Ketam seolah-olah tidak mengetahui penyebab kesedihan bidadari cantik itu.
  • “Sayapku hilang, Tuan,” jawab putri bungsu sambil menangis tersedu-sedu, “Apakah Tuan melihat sayap saya?”
Manusia Ketam tersenyum dan kemudian mengatakan bahwa sayap itu ada pada dirnya.
  • “Maaf, putri cantik! Akulah yang mengambil sayapmu. Aku akan mengembalikannya kepadamu tapi dengan satu syarat,” ujar Manusia Ketam.
  • “Apakah syaratmu itu, Tuan?” tanya Bidadari Bungsu.
  • “Kamu sungguh cantik dan mempesona. Maukah kamu menjadi istriku?” ungkap Manusia Ketam.
Bidadari Bungsu terdiam. Ia merasa bahwa syarat itu sungguhlah berat baginya karena ia tidak akan mungkin tinggal di bumi. Kedua orang tuanya pasti akan murka kepadanya. Namun karena Manusia Ketam terus menekan dan mengancam tidak akan menyerahkan sayap itu kepadanya, akhirnya ia terpaksa memenuhi syarat tersebut.
  • “Baiklah, Tuan. Aku terima syaratmu, tapi kamu juga harus memenuhi satu syarat dariku,” ujar Bidadari Bungsu.
  • “Apakah syaratmu itu, Putri? Katakanlah!” desak Manusia Ketam.
  • “Setelah kita menikah nanti, kamu harus ikut bersamaku kembali ke Kahyangan,” jawab Bidadari Bungsu.
  • “Ha, hanya itukah syaratmu Tuan Putri?” tanya Manusia Ketam, 
  • “Dengan senang hati, aku bersedia tinggal bersamamu di Negeri Kahyangan”.
Akhirnya, Manusia Ketam dan Bidadari Bungsu menikah. Setelah itu, keduanya terbang bersama menuju ke Negeri Kahyangan. Mereka tiba di sana saat malam sudah larut. Manusia Ketam terheran-heran melihat sebuah pemandangan yang sangat mengagumkan. Tampak sebuah kota yang terang benderang oleh lampu berkelap-kelip dengan sangat indah. Di tengah kota itu berdiri sebuah istana yang amat megah dan luas. Di depan istana terdapat jalan raya yang luas dan bersih. Jalan raya itu terlihat ramai oleh lalu-lalang orang yang lewat. Mereka pun kemudian beristirahat di sebuah kamar yang luas dan indah di dalam istana.

Keesokan hari, Manusia Ketam sangat heran karena kota yang semalam dilihatnya telah berubah menjadi sebuah pohon yang amat besar. Orang-orang yang lalu-lalang pun berubah menjadi burung, termasuk istrinya. Manusia Ketam bersama burung-burung tersebut tinggal di atas pohon. 

Pagi itu, bidadari bungsu yang telah menjelma menjadi burung terbang mencari makan, sedangkan Manusia Ketam tetap berada di pohon itu menunggu istrinya pulang. Begitu malam tiba, pohon besar itu kembali berubah menjadi kota. Keadaan seperti itu terus berlangsung setiap hari sehingga lama-kelamaan Manusia Ketam menjadi terbiasa.

Suatu hari, bidadari bungsu mengandung. Ia pun segera menyampaikan berita gembira itu kepada suaminya.
  • “Kanda, kini Dinda telah mengandung,” ungkap bidadari bungsu, 
  • “Tapi, setelah anak kita lahir nanti, Dinda meminta Kanda untuk berjanji.”
  • “Berjanji untuk apa Dinda?” tanya Manusia ketan dengan penasaran.
  • “Kanda harus berjanji untuk tidak melihat anak kita setelah lahir nanti,” jawab bidadari bungsu.
  • “Kenapa Dinda? Bukankah dia itu anak Kanda juga?” tanya Manusia Ketam dengan heran.
  • “Ketahuilah, Kanda! Tidak seorang pun manusia yang boleh tinggal di negeri ini. Oleh karenanya, Kanda harus memenuhi janji itu. Jika tidak, Kanda dan anak kita akan diusir dari negeri ini,” jelas Bidadari Bungsu.
Akhirnya, Manusia Ketam pun berjanji untuk memenuhi permintaan istrinya. Beberapa bulan kemudian, Bidadari Bungsu pun melahirkan. Meski demikian, Manusia Ketam tidak bisa meluapkan perasaan bahagianya karena ia tidak boleh melihat darah dagingnya sendiri. Hatinya pun diselimuti oleh rasa penasaran yang amat dalam.

Suatu hari, ketika istrinya sedang pergi mencari makan, Manusia Ketam secara diam-diam menengok ke tempat anaknya diletakkan. Tanpa diduga, ternyata ia hanya mendapati sebutir telur besar di tempat itu. Ia pun semakin penasaran. Telur itu kemudian diambil lalu diamatinya secara seksama. Setelah itu, telur tersebut ia kembalikan ke tempatnya karena takut ketahuan istrinya. Namun, saat ia meletakkan telur itu tidak lagi seperti posisinya semula.

Tak berapa lama kemudian, bidadari bungsu telah kembali. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat posisi telur itu telah berubah.
“Wah, suamiku pasti telah menyentuh telur ini,” gumamnya.
Bidadari Bungsu sangat marah karena mengetahui suaminya telah melanggar janji. Tanpa bertanya-tanya lagi, ia kemudian melemparkan suami dan anaknya yang berwujud telur itu ke bumi. Keduanya pun jatuh di atas tanah Kepulauan Talaud, tempat asal Manusia Ketam semula. Tak ayal, telur itu pun pecah. Sungguh sebuah peristiwa yang ajaib. Dari dalam telur itu keluar seorang bayi perempuan mungil yang amat cantik. Akhirnya, Manusia Ketam pun merawat bayi itu dengan penuh kasih sayang hingga dewasa. Menurut keyakinan masyarakat setempat, perempuan itulah yang kemudian menurunkan orang-orang di Kepulauan Talaud. 

*****

Demikian KISAH MANUSIA KETAM DAN BIDADARI yang merupakan Manusia Pertama di Kepulauan Talaud, dari daerah Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Kisah ini termasuk kategori mitos yang di dalamnya terkandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang suka mengingkari janji seperti Manusia Ketam akan mendapatkan akibat dari pengingkaran tersebut. Ia dilemparkan oleh istrinya dari Kahyangan karena telah mengingkari janji untuk tidak melihat bayinya. Akibatnya, ia pun berpisah dengan sang istri yang cantik jelita itu.

Pelajaran lain yang terkandung dalam cerita di atas adalah bahwa segala sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tidak jujur, maka sesuatu itu akan mudah lenyap. Manusia Ketam berhasil menikahi bidadari bungsu karena ketidakjujurannya, yaitu dengan cara menyembunyikan sayap bidadari bungsu. Dengan sayap itu, ia kemudian memaksa bidadari untuk menikah dengannya. Dari sini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa bidadari bungsu bersedia menikah dengan Manusia Ketam karena terpaksa, bukan berdasarkan cinta dan kasih sayang yang tulus.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT TERBARU

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT POPULER

ADHI MEKAR INDONESIA "AMI SCHOOL" DENPASAR BARAT, BALI

 
  • AGATHA NICOLE © 2017 | Modified By YURI | Powered By BLOGGER | KEDAI LOMBOK