Daftar Cerita Legenda Rakyat
Showing posts with label JAWA - DI JOGJAKARTA. Show all posts
Showing posts with label JAWA - DI JOGJAKARTA. Show all posts

LEGENDA GUBUKRUBUH MUNCULNYA ADIPATI JIN BUN 靳卟嗯- RADEN PATAH

1 komentar

Secara administratif, Dusun Gubukrubuh termasuk dalam wilayah Desa Getas, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Menurut cerita masyarakat tempat, asal-usul munculnya nama dusun ini berawal dari kisah pelarian seorang raja dari Kerajaan Majapahit, yakni Prabu Brawijaya V yang diburu oleh putranya sendiri yakni Adipati Jin Bun atau Panembahan Jin Bun (靳卟嗯) atau Raden Abdul Fattah atau RADEN PATAH.
Adipati Raden Patah alias 靳卟嗯 Jin Bun bergelar Senapati Jin Bun atau Panembahan Jinbun;
lahir di Palembang, tahun 1455; dan wafat di Demak, tahun 1518 adalah pendiri dan raja Demak pertama dan memerintah tahun 1500- 1518. Menurut kronik Tiongkok dari Kuil Sam Po Kong Semarang, ia memiliki nama Tionghoa yaitu Jin Bun tanpa nama marga di depannya, karena hanya ibunya yang berdarah Tionghoa.
Jin Bun artinya orang kuat. Nama tersebut identik dengan nama Arabnya "Fattah (Patah)" yang berarti kemenangan.
Pada masa pemerintahannya Masjid Demak didirikan, dan kemudian ia dimakamkan di sana.
  
***


Dikisahkan, pada zaman dahulu tersebutlah sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Majapahit. Ibu Kota kerajaan ini terletak di daerah Trowulan, Jawa Timur, Indonesia. Kerajaan Majapahit memiliki kekuasaan yang sangat luas, yakni membentang dari ujung utara Pulau Sumatra hingga Pulau Jawa, Indonesia. Bahkan, wilayah kekuasaan kerajaan ini mencakup wilayah Malaka (Malaysia), Kamboja bagian selatan (sekarang Vietnam), dan Tiongkok.

Pada masa itu Kerajaan Majapahit dipimpin oleh seorang Prabu bernama Raden Kertabumi yang bergelar Bhatara Wijaya V atau biasa dipanggil Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V adalah raja terakhir Kerajaan Majapahit. Sebagai Raja yang besar, Prabu Brawijaya V memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap raja-raja yang berada di negeri-negeri jajahannya. Oleh karena itulah, hampir setiap negeri jajahan tersebut senantiasa mengirimkan upeti, baik berupa perhiasan maupun hasil bumi, kepada Prabu Brawijaya V sebagai tanda persahabatan. Bahkan, sebagian dari raja negeri-negeri taklukan tersebut ada yang menjadikan putri-putri tercantik mereka sebagai upeti sebagai persembahan kepada penguasa Kerajaan Majapahit. Tidak mengherankan jika Prabu Brawijaya V memiliki banyak istri dan selir.

Diantara para Istri permaisuri dan selir tersebut, menurut Babad Tanah Jawi, Prabu Brawijaya V mempunyai seorang selir Tionghoa, puteri dari Kyai Batong (alias Tan Go Hwat). Menurut Purwaka Caruban Nagari, nama asli selir Tionghoa tersebut adalah Siu Ban Ci, putri Tan Go Hwat dan Siu Te Yo dari Gresik. Tan Go Hwat merupakan seorang saudagar dan juga ulama bergelar Syeikh Bantong (alias Kyai Batong). 

Rupanya, kehadiran Putri Siu Ban Ci, menimbulkan kecemburuan bagi istri dan selir Prabu Brawijaya yang lain, terutama Putri Campa Ratu Dewi Anarawati. Ratu Dewi Anarawati adalah seorang putri dari Kerajaan Champa (Sekarang Kamboja/Cambodia) yang dipersembahkan oleh Raja Champa kepada Prabu Brawijaya.
Suatu waktu, Ratu Dewi Anarawati memohon kepada Prabu Brawijaya agar Putri Siu Ban Ci disingkirkan dari istana. Prabu Brawijaya pun mengambulkan permohonan itu. Dengan berat hati, sang Prabu terpaksa menghibahkan Putri Siu Ban Ci yang sedang mengandung itu kepada Adipati Arya Damar atau Swan Liong (anak dari Prabu Brawijaya III yang beristri putri keturunan Tionghoa juga), Adipati Palembang yang berasal dari keturunan Tionghoa muslim yang merupakan sepupu dari Prabu Brawijaya V. 

Adipati Arya Damar atau Swan Liong pun menerima hadiah itu dengan senang hati karena menerima pemberian hadiah seorang janda Raja Majapahit adalah suatu kehormatan. Setelah Putri Siu Ban Ci melahirkan, Adipati Arya Damar atau Swan Liong pun menikahi putri berdarah Tionghoa itu. Anak yang lahir dari rahim Putri Siu Ban Ci adalah seorang anak lelaki dan diberi nama Jin Bun 靳卟嗯 atau dikenal juga dengan nama muslim Raden Hassan. Sementara itu, dari hasil perkawinan Arya Damar dengan Putri Siu Ban Ci, lahirlah juga seorang putra dan diberi nama Kin San atau Hussein, atau Raden Hussein.

Menurut kronik Tiongkok dari kuil Sam Po Kong, nama panggilan waktu Raden Patah masih muda adalah Jin Bun, putra Kung-ta-bu-mi (alias Bhre Kertabhumi alias Brawijaya V) raja Majapahit (versi Pararaton) dari selir Tionghoa. Kemudian selir Tionghoa diberikan kepada seorang berdarah setengah Tionghoa bernama Swan Liong di Palembang (saudara sepupu Prabu Brawijaya V). Swan Liong merupakan putra Yang Wi Si Sa (alias Hyang Purwawisesa atau Brawijaya III) dari seorang selir Tionghoa juga. Dari perkawinan kedua Arya Damar alias Swan Liong dan Putri Siu Ban Ci itu lahirlah  Kin San (alias Raden Hussein). Kronik Cina ini memberitakan tahun kelahiran Jin Bun adalah 1455.
Menurut Slamet Muljana (2005), Babad Tanah Jawi teledor dalam mengidentifikasi bahwa Prabu Brawijaya V sebagai ayah Raden Patah sekaligus ayah Arya Damar, yang lebih tepat isi naskah kronik Cina Sam Po Kong bahwa ayah Swan Liong (alias Arya Damar) adalah Yang Wi Si Sa (alias Hyang Purwawisesa atau Brawijaya III), kakak dari Prabu Brawijaya V.  Dan ayah Jin Bun (alias Raden Patah) yaitu Kung-ta-bu-mi alias Prabu Brawijaya V, dan ayah Kin San atau Husein atau Raden Hussein adalah Arya Damar alias Swan Liong dari Ibu yang sama yakni putri Siu Ban Ci.

Sejak kecil, Jin Bun/Raden Hassan dan Kin San/Raden Hussein dididik oleh Adipati Arya Damar/Swan Liong dengan pendidikan islami. Menjelang dewasa, Babad Tanah Jawi menyebutkan, Raden Patah menolak menggantikan Arya Damar menjadi Adipati Palembang. Raden Hassan memohon ijin kepada ibunya untuk menemui ayah kandungnya, Prabu Brawijaya, di tanah Jawa. Putri Siu Ban Ci pun tidak bisa menghalangi keinginan putranya. Dari Palembang, Raden Hassan bersama saudara tirinya, Raden Hussein bertolak ke Jawa.

Sampailah Raden Hussan dan Raden Hussein di pelabuhan Gresik yang ramai. Melihat keadaan Gresik yang hiruk-pikuk, Raden Hassan kagum. Dia bisa membayangkan bagaimana besarnya kekuasaan Majapahit. Melihat di Gresik banyak orang muslim, Raden Hassan tertarik dan memutuskan untuk berguru kepada Sunan Giri dalam rangka memperdalam ilum agama Islam.
Selang beberapa lama kemudian, Raden Hassan bersama Raden Hussein melanjutkan perjalanan ke Pesantren Ampel di Surabaya untuk berguru kepada Sunan Ampel atau Bong Swi Hoo. Ia pun disambut suka cita oleh Sunan Ampel dan diberi nama baru oleh Sunan Ampel, yaitu Raden Abdul Fattah, kemudian dikenal oleh masyarakat Jawa dengan nama Raden Patah.

Setelah merasa cukup memperdalam ilmu agama, keduanya melanjutkan perjalanan. Raden Hussein menuju Kerajaan Majapahit untuk mengabdi, namun dengan tetap menyembunyikan jatidirinya. Kecakapan Raden Hussein membuat karirnya di Kerajaan Majapahit melesat dengan cepat, hingga ia dipercaya untuk menjabat sebagai Adipati Terung.

Sementara itu, Raden Patah pergi ke Jawa Tengah untuk membuka hutan dan membangun sebuah pesantren yang diberi nama Pesantren Glagahwangi. Atas kepemimpinannya, pesantren itu semakin lama semakin maju.  Suatu waktu, Raden Hussein yang telah menjadi Adipati Terung mengundang Raden Patah ke kediamannya. Ia bermaksud mengajak kakak tirinya itu untuk menemui Prabu Brawijaya V di Kerajaan Majapahit.
  • “Kanda, Raden Patah. Sebaiknya kita menemui ayahanda Kanda di Majapahit,” ujar Raden Hussein.
  • “Baiklah. Terima kasih atas kesediaan Adinda menemani Kanda. Kanda pun sudah tidak sabar ingin bertemu dengan beliau,” kata Raden Patah.
Keesokan harinya, keduanya pun berangkat ke Kerajaan Majapahit. Setiba di sana, Raden Hussein langsung memperkenalkan Raden Patah kepada Prabu Brawijaya V.
  • “Ampun, Baginda Prabu. Hamba menghadap bersama saudara tiri hamba, Raden Patah,” ungkap Raden Hussein di hadapan Prabu Brawijaya V.
  • “Lalu, apa maksud kedatangan kalian ke sini?” tanya sang Prabu.
  • “Ampun, Baginda. Perlu Baginda ketahui bahwa Raden Patah ini putra Baginda, sedangkan hamba sendiri adalah anak dari Arya Damar sekaligus keponakan Baginda,” aku Raden Hussein.
  • “Apa katamu?” kata Prabu Brawijaya tersentak kaget, 
  • “Hai, kalian jangan mengaku-ngaku sebagai putraku!”
  • “Benar. Saya ini putra Baginda,” sahut Raden Patah.
Prabu Brawijaya pun semakin bingung. Ia merasa bahwa dirinya tidak mempunyai putra bernama Raden Patah. Setelah Raden Patah dan Raden Hussein menceritakan asal usul mereka bahwa mereka adalah anak dari Putri Siu Ban Ci, barulah Prabu Brawijaya mulai percaya.
“Tapi, bukankah ibunda kalian ada di Negeri Palembang? Bagaimana kalian bisa sampai ke sini?” tanya Prabu Brawijaya V.
Raden Hussein dan Raden Patah pun menceritakan kisah perjalanannya dari Palembang hingga tiba ke Jawa. Mendengar cerita itu, Prabu Brawijaya pun semakin percaya dan akhirnya mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat menjadi Bupati Glagahwangi yang kemudian berganti nama menjadi Demak dengan ibukota di Bintara. Menurut cerita, Raden Patah pindah dari Surabaya ke Demak sekitar tahun 1475.

Dengan dibantu pamannya, Pangeran Sabrang Lor, Raden Patah mengembangkan Demak Bintoro menjadi pelabuhan dagang yang ramai. Dalam waktu singkat, para pedagang muslim dari Tiongkok pun banyak yang menetap di daerah itu, terutama di daerah Semarang, Lasem, Juwana, dan Tuban. Dua tahun kemudian, Raden Patah yang telah dinobatkan menjadi Sultan Demak menaklukkan Semarang yang termasuk wilayah bawahannya.

Mendengar kabar tersebut, Prabu Brawijaya V pun mulai khawatir kalau-kalau putranya itu akan memberontak. Ketika itu, Raden Patah memang berniat untuk menyerang Kerajaan Majapahit dan mengislamkan ayahandanya beserta seluruh rakyatnya. Namun, ketika niat itu ia sampaikan kepada Sunan Ampel, sang Sunan justru menasehatinya.
  • “Jangan, Den! Sebaiknya Raden jangan memberontak pada Kerajaan Majapahit!” ujar Sunan Ampel kepada Raden Patah., 
  • “Walaupun berbeda agama, Prabu Brawijaya V itu tetaplah ayahanda Raden.”
Raden Patah pun mengurungkan niat tersebut. 

Setelah Sunan Ampel meninggal dunia, Raden Patah akhirnya menyerang Kerajaan Majapahit. Dalam serangan tersebut, Prabu Brawijaya V dan para pasukannya kalah. Oleh karena malu diajak masuk Islam oleh putranya, ia bersama sejumlah pengikutnya melarikan diri ke daerah barat hingga tiba di wilayah Gunungkidul yang terletak di bagian selatan Yogyakarta. Sang Prabu tidak berani melarikan diri ke utara karena daerah itu sudah dikuasai oleh tentara Demak dan di pantai utara Jawa telah dihuni oleh para pedagang muslim.  

Raden Patah yang mengetahui arah pelarian ayahandanya segera mengejar karena menginginkan sang Ayah masuk agama Islam. Sementara itu, Prabu Brawijaya V bersama pengikutnya yang sudah tiba di Gunungkidul terus menyusuri hutan berlantara. Suatu ketika, Prabu Brawijaya V bersama para pengikutnya berhenti di sebuah hutan lebat. Sang Prabu Brawijaya V beristirahat di sebuah gubuk yang berada di tengah hutan itu. Tanpa mereka sadari, ternyata Raden Patah dan pasukannya juga sudah sampai di daerah itu. Ketika mereka sedang beristirahat, tiba-tiba pasukan Raden Patah datang menyergap. Akhirnya, pasukan Prabu Brawijaya V pun menyerah dan menjadi pengikut Raden Patah. Sementara itu, Prabu Brawijaya V bersama dua orang istri dan beberapa panglimanya berhasil meloloskan diri. Pasukan Prabu Brawijaya V yang tertangkap itu pun masuk agama Islam atas nasihat Raden Patah. Di gubuk itu, mereka diajari cara melaksanakan shalat.

Sejak itulah, daerah tersebut diberi nama Dusun Gubukrubuh, yang diambil dari kata gubuk yaitu tempat mereka pertama kali melaksanakan shalat, dan kata rubuh yang berarti “runtuh” memiliki dua pengertian, yaitu pengertian secara fisik dan secara batin. Secara fisik, kata rubuh diartikan sebagai rubuhnya badan pada saat shalat dari posisi berdiri ke posisi rukuk, kemudian ke posisi sujud. Secara batin, rubuh diartikan runtuhnya iman atau keyakinan mereka dari keyakinan agama Hindu menjadi keyakinan agama Islam.

Sementara itu, Prabu Brawijaya V bersama kedua istrinya yang berhasil melarikan diri tiba di Pantai Selatan Gunungkidul. Di sana, mereka menemukan jalan buntu. Mereka tidak tahu harus berlari ke mana lagi. Jika kembali ke utara akan bertemu dengan pasukan Raden Patah, mau lari ke arah selatan tapi terhalang oleh laut samudra. Sang Prabu Brawijaya V pun merasa bahwa barangkali hidupnya hanya sampai di situ. Ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan membakar diri hingga tewas karena seluruh tubuhnya kobong atau terbakar. Oleh masyarakat setempat, pantai tempat Prabu Brawijaya V membakar dirinya itu dinamakan Pantai Ngobaran, yang diambil dari kata kobar atau kobong.

Versi Perang antara Demak dan Majapahit diberitakan dalam naskah babad dan serat, terutama Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. 
Dikisahkan, Sunan Ampel melarang Raden Patah memberontak pada Majapahit karena meskipun berbeda agama, Prabu Brawijaya V tetaplah ayah Raden Patah. Namun sepeninggal Sunan Ampel, Raden Patah tetap menyerang Majapahit. Prabu Brawijaya V moksa dalam serangan itu. Untuk menetralisasi pengaruh agama lama, Sunan Giri menduduki takhta Majapahit selama 40 hari.
Moksa adalah peristiwa atau kejadian dimana karena ketinggian ilmu kanuragan dan spiritual seseorang yang mengakhiri hidupnya dengan “membunuh” raga diri dari bumi, sementara spirit/roh diri masih ada di bumi.
Peristiwa inilah yang dilihat oleh saksi mata penutur cerita legenda rakyat turun temurun sebagai “membakar diri”/kobong/api berkobar (Ngobaran) yang menjadi nama pantai Ngobaran di Gunungkidul.

Versi Kronik Tiongkok dari kuil Sam Po Kong
Memberitakan adanya perang antara Jin Bun melawan Kung-ta-bu-mi tahun 1478. Perang terjadi setelah kematian Bong Swi Hoo (alias Sunan Ampel). Jin Bun menggempur ibu kota Majapahit. Kung-ta-bu-mi alias Bhre Kertabhumi ditangkap dan dipindahkan ke Demak secara hormat. Sejak itu, Majapahit menjadi bawahan Demak dengan dipimpin seorang Tionghoa muslim bernama Nyoo Lay Wa sebagai bupati.

Versi Prof. Dr. N. J. Krom dalam buku “Javaansche Geschiedenis” ( “Sejarah Jawa” ) dan Prof. Moh. Yamin dalam buku “Gajah Mada” 
Mengatakan bahwa bukanlah Demak yang menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V, tetapi adalah Prabu Girindrawardhana. Kemudian pasca serangan Girindrawardhana atas Majapahit pada tahun 1478 M, Girindrawardhana kemudian mengangkat dirinya menjadi raja Majapahit bergelar Prabu Brawijaya VI, Kekuasaan Girindrawardhana tidak begitu lama, karena Patihnya melakukan kudeta dan mengangkat dirinya sebagai Prabu Brawijaya VII. Perang antar Demak dan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya VII bukan pada masa Raden Patah dan Prabu Brawijaya V.
Pada tahun 1485 Nyoo Lay Wa mati karena pemberontakan kaum pribumi. Maka, Jin Bun mengangkat seorang pribumi sebagai bupati baru bernama Pa-bu-ta-la, yang juga menantu Kung-ta-bu-mi.

Tokoh Pa-bu-ta-la ini identik dengan Prabu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya yang menerbitkan prasasti Jiyu tahun 1486 dan mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri.

Selain itu, Dyah Ranawijaya juga mengeluarkan prasasti Petak yang berkisah tentang perang melawan Majapahit. Berita ini melahirkan pendapat kalau Majapahit runtuh tahun 1478 bukan karena serangan Demak, melainkan karena serangan keluarga Girindrawardhana.

Apakah Raden Patah pernah menyerang Majapahit atau tidak, dia diceritakan sebagai raja pertama Demak. Menurut Babad Tanah Jawi, ia bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama, sedangkan menurut Serat Pranitiradya, bergelar Sultan Syah Alam Akbar, dan dalam Hikayat Banjar disebut Sultan Surya Alam.
Nama Patah sendiri berasal dari kata al-Fatah, yang artinya "Sang Pembuka", karena ia memang pembuka kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Pada tahun 1479 ia meresmikan Masjid Agung Demak sebagi pusat pemerintahan. Ia juga memperkenalkan pemakaian Salokantara sebagai kitab undang-undang kerajaan.

Kepada umat beragama lain, sikap Raden Patah sangat toleran. Kuil Sam Po Kong di Semarang tidak dipaksa kembali menjadi masjid, sebagaimana dulu saat didirikan oleh Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam.


Raden Patah juga tidak mau memerangi umat Hindu dan Buddha sebagaimana wasiat Sunan Ampel, gurunya. Meskipun naskah babad dan serat memberitakan ia menyerang Majapahit, hal itu dilatarbelakangi persaingan politik memperebutkan kekuasaan pulau Jawa, bukan karena sentimen agama. Lagi pula, naskah babad dan serat juga memberitakan kalau pihak Majapahit lebih dulu menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik.


Tome Pires dalam Suma Oriental memberitakan pada tahun 1507 Pate Rodin alias Raden Patah meresmikan Masjid Agung Demak yang baru diperbaiki. Lalu pada tahun 1512 menantunya yang bernama Pate Unus atau Adipati Unus bupati Jepara  menyerang Portugis di Malaka. Tokoh Pate Unus ini identik dengan Yat Sun dalam kronik Tiongkok yang diberitakan menyerang bangsa asing di Moa-lok-sa (Malaka) tahun 1512.
Perbedaannya ialah, Pate Unus adalah menantu Pate Rodin, sedangkan Yat Sun adalah putra Jin Bun. Kedua berita, baik dari sumber Portugis ataupun sumber Tiongkok, sama-sama menyebutkan armada Demak hancur dalam pertempuran ini. Menurut kronik Tiongkok, Jin Bun alias Raden Patah meninggal dunia tahun 1518 dalam usia 63 tahun. Ia digantikan Yat Sun sebagai raja selanjutnya, yang dalam Babad Tanah Jawi bergelar Pangeran Sabrang Lor.

Menurut naskah babad dan serat, Raden Patah memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah Solekha anak dari Malokha putri Sunan Ampel, Malokha adalah isteri dari P. Wironegoro Lasem, melahirkan Raden Kikin alias Surowiyoto dan Ratu Mas Nyawa. Isteri kedua melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana, yang masing-masing secara berurutan kemudian naik takhta, bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Sultan Trenggana.
Istri yang ketiga seorang putri dari Randu Sanga, melahirkan Raden Kanduruwan. Raden Kanduruwan ini pada pemerintahan Sultan Trenggana berjasa menaklukkan Sumenep.
Ketika Pangeran Sabrang Lor meninggal tahun 1521, Raden Kikin dan Raden Trenggana bersaing memperebutkan takhta. Raden Kikin akhirnya mati dibunuh putra sulung Raden Trenggana yang bernama Raden Mukmin alias Sunan Prawata, di tepi sungai. Oleh karena itu, Raden Kikin pun dijuluki Pangeran Sekar Seda ing Lepen, artinya bunga yang gugur di sungai.

Kronik Tiongkok hanya menyebutkan dua orang putra Jin Bun saja, yaitu Yat Sun dan Tung-ka-lo, yang masing-masing identik dengan Pangeran Sabrang Lor dan Sultan Trenggana.

Dalam Suma Oriental, Tomé Pires menulis bahwa Pate Rodin memiliki putera yang juga bernama Pate Rodim, dan menantu bernama Pate Unus. Berita versi Portugis ini menyebut Pate Rodin Yunior lebih tua usianya daripada Pate Unus. Dengan kata lain Sultan Trenggana disebut sebagai kakak ipar Pangeran Sabrang Lor.

* * *

Demikian cerita LEGENDA GUBUKRUBUH MUNCULNYA ADIPATI JIN BUN  靳卟嗯- RADEN PATAH  dari Yogyakarta. Menurut salah sesepuh Dusun Gubukrubuh, para ulama dan pemerintah setempat pernah berkeinginan untuk mengganti nama dusun ini menjadi “Sumber Mulyo”, namun masyarakat setempat menolaknya sehingga nama Gubukrubuh tetap dipakai sampai saat ini. Pendidikan agama Islam pun berkembang dengan pesat di dusun ini. Hingga kini, di Dusun Gubukrubuh terdapat lembaga pendidikan dari berbagai jenjang, yaitu mulai dari tingkat pendidikan PAUD, Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtida’iyyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, hingga Pondok Pesantren. Tidak mengherankan jika dusun ini menjadi kebanggaan Desa Getas karena satu-satunya desa di Gunungkidul yang seluruh penduduknya beragama Islam.

Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa betapa pun keinginan kita untuk memaksa seseorang berpindah keyakinan, kalau bukan orang itu sendiri yang menghendaki, maka hal itu tidak akan terjadi. Seperti halnya Raden Patah, walaupun ia telah berusaha mengejar ayahnya hingga ke daerah Gunungkidul untuk diajak masuk Islam, namun sang Ayah lebih memilih membunuh raga diri (Moksa) daripada memenuhi ajakan putranya.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA CERITA RAKYAT RORO JONGGRANG

0 komentar

RARA JONGGRANG (ejaan alternatif: Loro Jonggrang; Lara Jonggrang) adalah sebuah legenda atau cerita rakyat populer yang berasal dari Jawa Tengah dan Yogyakarta di Indonesia. Roro Jonggrang adalah putri dari Prabu Baka dari Kerajaan Prambanan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Roro Jonggrang memiliki paras yang cantik jelita. Cerita ini mengisahkan cinta seorang pangeran kepada seorang putri yang berakhir dengan dikutuknya sang putri akibat tipu muslihat yang dilakukannya.
Suatu ketika, ia dilamar oleh seorang kesatria yang bernama BONDOWOSO dari Kerajaan Pengging. Roro Jonggrang bersedia menerima lamaran itu, asalkan Bondowoso mampu membuatkan seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu semalam. Dongeng ini juga menjelaskan asal mula yang ajaib dari Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Baka, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam candi Prambanan. Rara Jonggrang artinya adalah "dara (gadis) langsing".

∞∞∞


Konon di Jawa Tengah terdapat dua kerajaan yang bertetangga, KERAJAAN PENGGING DAN KERAJAAN BAKA. Pengging adalah kerajaan yang subur dan makmur, dipimpin oleh PRABU DAMAR MAYA. Ia berputra RADEN BONDOWOSO (BANDAWASA) yang gagah perkasa dan sakti. Kesaktian Bondowoso terletak pada senjatanya yang bernama BANDUNG. Selain itu, Bondowoso juga mempunyai balatentara berupa makhluk-makhluk halus. Jika membutuhkan bantuan, Bondowoso mampu mendatangkan makhluk-makhluk halus tersebut dalam waktu sekejap.

Sedangkan kerajaan Baka dipimpin oleh raksasa pemakan manusia bernama PRABU BAKA. Ia seorang raksasa yang menakutkan dan memiliki kesaktian yang tinggi. Ia dibantu oleh seorang patih bernama GUPALA. Wilayah kekuasaannya sangat luas. Kerajaan-kerajaan kecil di sekitar wilayahnya semua takluk di bawah kekuasaannya. Meskipun seorang raksasa, Prabu Baka mempunyai seorang putri cantik yang berwujud manusia bernama RORO JONGGRANG. Prabu Baka sangat menyayangi putri tunggalnya itu. Sebagai wujud kasih sayangnya kepada putrinya, ia mewariskan seluruh kesaktian dan kepandaian yang dimilikinya. Maka jadilah Roro Jonggrang seorang putri yang cantik jelita dan sakti mandraguna.

Untuk memperluas kerajaan, Prabu Baka menyerukan perang kepada kerajaan Pengging. Pertempuran meletus di kerajaan Pengging. Akibatnya, banyak rakyat Pengging tewas, menderita kelaparan, dan kehilangan harta benda. Demi mengakhiri perang, Prabu Damar Maya mengirimkan putranya untuk menghadapi Prabu Baka.
  • “Hai, Bondowoso! Siapkan pasukanmu untuk pergi menyerang Prambanan!” perintah Raja Pengging.
  • “Baik, Gusti! Perintah segera hamba laksanakan!” jawab Bondowoso sambil memberi hormat.
Keesokan harinya, berangkatlah Bondowoso bersama pasukannya ke kerajaan Baka. Setibanya di kerajaan Baka, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana. Prabu Baka pun tidak tinggal diam. Ia segera memerintahkan pasukannya untuk menahan serangan pasukan Bondowoso yang datang secara tiba-tiba. Pertempuran sengit pun tak terelakkan lagi. Namun karena pasukan Prabu Baka kurang persiapan dalam pertempuran itu, akhirnya pasukan Bondowoso berhasil menaklukkan mereka. Prabu Baka sendiri tewas terkena senjata sakti Bandowoso yang bernama Bandung. SEJAK ITU, BONDOWOSO PUN DIKENAL DENGAN NAMA BANDUNG BONDOWOSO. Ketika Patih Gupala mendengar kabar kematian junjungannya, ia segera melaporkan kabar kematian Prabu Baka kepada Putri Rara Jongrang. Sang putri pun meratapi kematian ayahnya.

Setelah Bandung Bondowoso dan pasukannya memenangkan pertempuran itu, Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati istana Prambanan.
  • “Wahai, Bandung Bondowoso! Sebagai ucapan terima kasihku atas keberhasilanmu mengalahkan Prabu Baka, aku memberimu amanat untuk mengurus Kerajaan Prambanan dan segala isinya, termasuk keluarga Prabu Baka,” kata Raja Pengging.
  • “Terima kasih, Gusti! Hamba berjanji untuk menjaga amanat Gusti,” jawab Bandung Bondowoso.
Setelah itu, Bandung Bondowoso pun segera menempati istana Prambanan. Pada saat hari pertama menempati istana Pramabanan, ia langsung terpesona melihat kecantikan Roro Jonggrang dan berniat untuk menjadikannya sebagai permaisuri.
Pada suatu hari, Bandung Bondowoso menyatakan maksud hatinya kepada Raja Jonggrang.
“Wahai, putri Roro Jonggrang! Bersediakah engkau menjadi permaisuriku?” tanya Bandung Bondowoso.
Roro Jonggrang tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia hanya terdiam dan kebingungan. Sebenarnya, ia amat membenci Bandung Bondowoso karena telah membunuh ayahnya. Namun, ia takut menolak lamarannya karena bagaimana pun juga ia tidak akan sanggup mengalahkan kesaktian Bondowoso. Setelah berpikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara untuk menolak lamaran itu dengan cara yang halus.
  • “Baiklah, Bandung Bondowoso! Aku bersedia menerima lamaranmu, tapi kamu harus memenuhi satu syaratku,” jawab Roro Jonggrang.
  • “Apakah syaratmu itu, Roro Jonggrang?” tanya Bandung Bondowoso.
  • “Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu semalam,” jawab Roro Jonggrang.
Tanpa berpikir panjang, Bandung Bondowoso pun menyanggupinya, karena ia yakin mampu memenuhi syarat itu dengan bantuan balantentaranya. Pada malam harinya, Bandung Bondowoso mengundang balatentaranya yang berupa makhluk halus tersebut. Dalam waktu sekejap, balatentaranya pun datang dan segera membangun candi dan sumur sebagaimana permintaan Roro Jonggrang. Mereka bekerja dengan sangat cepat. Sang pangeran berhasil menyelesaikan SUMUR JALATUNDA berkat kesaktiannya. Setelah sumur sumur selesai, Rara Jonggrang berusaha memperdaya sang pangeran agar bersedia turun ke dalam sumur dan memeriksanya. Setelah Bandung Bondowoso turun, sang putri memerintahkan Gupala untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu. Akan tetapi, Bandung Bondowoso berhasil keluar dengan cara mendobrak timbunan batu berkat kesaktiannya. Bondowoso sempat marah, namun segera tenang karena kecantikan dan bujuk rayu sang putri.

Pada dua pertiga malam, mereka hampir menyelesaikan seribu candi. Hanya tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur yang belum mereka selesaikan.  Roro Jonggrang yang ikut menyaksikan pembuatan candi itu mulai khawatir. Ia pun segera memberitahukan hal itu kepada salah seorang dayang kepercayaannya.
  • “Dayang! Pembangunan seribu candi dan penggalian dua buah sumur tersebut hampir selesai. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Roro Jonggrang kepada dayang itu.
  • “Tenanglah, Gusti! Pasti ada jalan keluarnya,” hibur dayang itu.
Roro Jonggrang kembali berpikir keras dan ia pun menemukan jalan keluarnya. Ia akan membuat suasana menjadi seperti pagi, sehingga para makhluk halus tersebut menghentikan pekerjaannya sebelum menyelesaikan seribu candi.
  • “Dayang! Segera bangunkan teman-temanmu! Suruh mereka membakar jerami dan menumbuk padi di lesung, serta menaburkan bunga-bunga yang harum baunya!” perintah Roro Jonggrang.
  • “Baik, Gusti!” jawab dayang itu seraya bergegas masuk ke dalam istana membangunkan dayang-dayang lainnya.
Dayang-dayang pun bangun dan segera melaksanakan perintah Roro Jonggrang. Tak berapa lama, tampaklah cahaya kemerah-merahan dari arah timur akibat dari pemakaran jeramih. Suara lesung pun terdengar bertalu-talu. Bau harum bunga-bungaan mulai tercium. Beberapa saat kemudian, suara ayam jantan berkokok mulai terdengar. Para balatentara Bandung Bondowoso pun segera menghentikan pekerjaannya, karena mengira hari sudah pagi. Mereka pergi meninggalkan tempat pembuatan candi tersebut, padahal kurang sebuah candi lagi yang belum mereka selesaikan. Batu-batu berukuran besar masih berserakan di tempat itu.
Melihat balatentaranya akan kembali ke alamnya, Bandung Bondowoso berteriak dengan suara keras.
“Teman-teman, kembalilah! Hari belum pagi. Genapkan seribu candi. Tinggal sebuah candi lagi!” teriak Bandung Bondowoso.
Para makhluk halus tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Akhirnya, Bandung Bondowoso berniat meneruskan pembangunan candi itu untuk menggenapi seribu candi. Namun belum selesai candi itu ia buat, pagi sudah menjelang. Ia pun gagal memenuhi permintaan Roro Jonggrang.
Mengetahui kegagalan Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang segera menemuinya di tempat pembuatan candi itu.
“Bagaimana Bandung Bondowoso? Apakah candiku sudah selesai?” tanya Roro Jonggrang sambil tersenyum.
DEWI DURGA-RORO JONGGRANG
di CANDI PRAMBANAN
Betapa marahnya Bandung Bondowoso melihat sikap Roro Jonggrang itu. Apalagi setelah ia mengetahui bahwa Roro Jonggranglah yang telah menggagalkan usahanya. Ia pun melampiaskan kemarahannya dengan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca.
“Hai, Roro Jonggrang! Kamu telah menggagalkan usahaku untuk mewujudkan seribu candi yang kurang satu lagi. Jadilah kau arca dalam candi yang keseribu!” teriak Bandung Bondowoso.
Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, seketika itu pula Roro Jonggrang berubah menjadi arca batu. Wujud arca itu sangat cantik, secantik Roro Jonggrang. Hingga kini, arca itu dapat disaksikan di dalam ruang candi besar yang bernama Candi Roro Jonggrang yang berada dalam kompleks Candi Prambanan. Sementara candi-candi yang ada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu. Sewu dalam bahasa Jawa berarti seribu.

Menurut kisah ini, situs Ratu Baka di dekat Prambanan adalah istana Prabu Baka, sedangkan 999 candi yang tidak rampung kini dikenal sebagai Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama di Prambanan adalah perwujudan sang putri yang dikutuk menjadi batu dan tetap dikenang sebagai LARA JONGGRANG YANG BERARTI "GADIS YANG RAMPING".

∞∞∞


Legenda ini adalah dongeng atau cerita rakyat yang menjelaskan asal mula yang ajaib dari situs-situs bersejarah di Jawa, yaitu Keraton Ratu Baka, Candi Sewu, dan arca Durga di ruang utara candi utama Prambanan. Meskipun candi-candi ini berasal dari abad ke-9, akan tetapi diduga dongeng ini disusun pada zaman yang kemudian yaitu zaman Kesultanan Mataram.

Tafsiran lainnya menyebutkan bahwa legenda ini mungkin merupakan ingatan kolektif samar-samar masyarakat setempat mengenai peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di kawasan ini. Yaitu peristiwa perebutan kekuasaan antara wangsa Sailendra dan wangsa Sanjaya untuk berkuasa di Jawa Tengah. Prabu Baka mungkin dimaksudkan sebagai Raja Samaratungga dari wangsa Sailendra, Rakai Pikatan sebagai Bandung Bondowoso, dan Pramodhawardhani, putri Samaratungga sekaligus istri Rakai Pikatan, sebagai Rara Jonggrang. Peristiwa bersejarah sebenarnya adalah pertempuran antara Balaputradewa melawan Pramodawardhani yang dibantu suaminya Rakai Pikatan yang akhirnya dimenangi Rakai Pikatan dan mengakhiri dominasi wangsa Sailendra di Jawa Tengah.

Demikian LEGENDA CERITA RAKYAT RORO JONGGRANG, dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Kisah ini termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita atas adalah akibat yang ditimbulkan dari sifat curang dan licik. Sifat ini tampak pada kelicikan Roro Jonggrang dalam menggagalkan usaha Bandung Bondowoso membangun seribu candi agar tidak menikahinya. Akibatnya, ia pun dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bondowoso.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA ASAL MULA GUNUNG MERAPI

0 komentar

GUNUNG MERAPI (ketinggian puncak 2.930 m dpl, per 2010) adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara. Kawasan hutan di sekitar puncaknya menjadi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sejak tahun 2004. Gunung ini sangat berbahaya karena menurut catatan modern mengalami erupsi (puncak keaktifan) setiap dua sampai lima tahun sekali dan dikelilingi oleh permukiman yang sangat padat. SEJAK TAHUN 1548, GUNUNG INI SUDAH MELETUS SEBANYAK 68 KALI. 
Kota Magelang dan Kota Yogyakarta adalah kota besar terdekat, berjarak di bawah 30 km dari puncaknya. Di lerengnya masih terdapat permukiman sampai ketinggian 1700 m dan hanya berjarak empat kilometer dari puncak. Oleh karena tingkat kepentingannya ini,
MERAPI MENJADI SALAH SATU DARI ENAM BELAS GUNUNG API DUNIA YANG TERMASUK DALAM PROYEK GUNUNG API DEKADE INI.
Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu daerah yang kini ditempati oleh Gunung Merapi masih berupa tanah datar. Oleh karena suatu keadaan yang sangat mendesak, para dewa di Kahyangan bersepakat untuk memindahkan GUNUNG JAMURDIPA yang ada di Laut Selatan ke daerah tersebut. Namun setelah dipindahkan, Gunung Jamurdipa yang semula hanya berupa gunung biasa (tidak aktif) berubah menjadi gunung berapi.

∞∞∞


Alkisah, Pulau Jawa adalah satu dari lima pulau terbesar di Indonesia. Konon, pulau ini pada masa lampau letaknya tidak rata atau miring. Oleh karena itu, para dewa di Kahyangan bermaksud untuk membuat pulau tersebut tidak miring. Dalam sebuah pertemuan, mereka kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah gunung yang besar dan tinggi di tengah-tengah Pulau Jawa sebagai penyeimbang. Maka disepakatilah untuk memindahkan GUNUNG JAMURDIPA yang berada di Laut Selatan ke sebuah daerah tanah datar yang terletak di perbatasan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Kabupaten Magelang, Boyolali, serta Klaten Provinsi Jawa Tengah.

Sementara itu, di daerah di mana Gunung Jamurdipa akan ditempatkan terdapat dua orang empu yang sedang membuat keris sakti. Mereka adalah EMPU RAMA dan EMPU PAMADI yang memiliki kesaktian yang tinggi. Oleh karena itu, para dewa terlebih dahulu akan menasehati kedua empu tersebut agar segera pindah ke tempat lain sehingga tidak tertindih oleh gunung yang akan ditempatkan di daerah itu. Raja para dewa, Batara Guru pun segera mengutus BATARA NARADA dan DEWA PENYARIKAN beserta sejumlah pengawal dari istana Kahyangan untuk membujuk kedua empu tersebut.

Setiba di tempat itu, utusan para dewa langsung menghampiri kedua empu tersebut yang sedang sibuk menempa sebatang besi yang dicampur dengan bermacam-macam logam. Betapa terkejutnya Batara Narada dan Dewa Penyarikan saat menyaksikan cara Empu Rama dan Empu Pamadi membuat keris. Kedua Empu tersebut menempa batangan besi membara tanpa menggunakan palu dan landasan logam, tetapi dengan tangan dan paha mereka. Kepalan tangan mereka bagaikan palu baja yang sangat keras. Setiap kali kepalan tangan mereka pukulkan pada batangan besi membara itu terlihat percikan cahaya yang memancar.
“Maaf, Empu! Kami utusan para dewa ingin berbicara dengan Empu berdua,” sapa Dewa Penyarikan.
Kedua empu tersebut segera menghentikan pekerjaannya dan kemudian mempersilakan kedua utusan para dewa itu untuk duduk.
  • “Ada apa gerangan, Tuanku? Ada yang dapat hamba bantu?” tanya Empu Rama.
  • “Kedatangan kami kemari untuk menyampaikan permintaan para dewa kepada Empu,” jawab Batara Narada.
  • “Apakah permintaan itu?” tanya Empu Pamadi penasaran, ”Semoga permintaan itu dapat kami penuhi.”
Batara Narada pun menjelaskan permintaan para dewa kepada kedua empu tersebut. Setelah mendengar penjelasan itu, keduanya hanya tertegun. Mereka merasa permintaan para dewa itu sangatlah berat.
  • “Maafkan hamba, Tuan! Hamba bukannya bermaksud untuk menolak permintaan para dewa. Tapi, perlu Pukulun ketahui bahwa membuat keris sakti tidak boleh dilakukan sembarangan, termasuk berpindah-pindah tempat,” jelas Empu Rama.
  • “Tapi Empu, keadaan ini sudah sangat mendesak. Jika Empu berdua tidak segera pindah dari sini Pulau Jawa ini semakin lama akan bertambah miring,” kata Dewa Penyarikan.
  • “Benar kata Dewa Penyarikan, Empu. Kami pun bersedia mencarikan tempat yang lebih baik untuk Empu berdua,” bujuk Empu Narada.
Meskipun telah dijanjikan tempat yang lebih baik, kedua empu tersebut tetap tidak mau pindah dari tempat itu.
“Maaf, Tuan! Kami belum dapat memenuhi permintaan itu. Kalau kami berpindah tempat, sementara pekerjaan ini belum selesai, maka keris yang sedang kami buat ini tidak sebagus yang diharapkan. Lagi pula, masih banyak tanah datar yang lebih bagus untuk menempatkan Gunung Jamurdipa itu,” kata Empu Pamadi.
Melihat keteguhan hati kedua empu tersebut, Empu Narada dan Dewa Penyaringan mulai kehilangan kesabaran. Oleh karena mengemban amanat Batara Guru, mereka terpaksa mengancam kedua empu tersebut agar segera pindah dari tempat itu.
“Wahai, Empu Rama dan Empu Pamadi! Jangan memaksa kami untuk mengusir kalian dari tempat ini,” ujar Batara Narada.
Kedua empu tersebut tidak takut dengan acaman itu karena mereka merasa juga sedang mengemban tugas yang harus diselesaikan. Oleh karena kedua belah pihak tetap teguh pada pendirian masing-masing, akhirnya terjadilah perselisihan di antara mereka. Kedua empu tersebut tetap tidak gentar meskipun yang mereka hadapi adalah utusan para dewa. Dengan kesaktian yang dimiliki, mereka siap bertarung demi mempertahankan tempat itu. Tak ayal, pertarungan sengit pun tak terhindarkan.

Meskipun dikeroyok oleh dua dewa beserta balatentaranya, kedua empu tersebut berhasil memenangkan pertarungan itu. Batara Narada dan Dewa Penyarikan yang kalah dalam pertarungan itu segera terbang ke Kahyangan untuk melapor kepada Batara Guru.
“Ampun, Batara Guru! Kami gagal membujuk kedua empu itu. Mereka sangat sakti mandraguna,” lapor Batara Narada.
Mendengar laporan itu Batara Guru menjadi murka.
  • “Dasar memang keras kepala kedua empu itu. Mereka harus diberi pelajaran,” ujar Batara Guru.
  • “Dewa Bayu, segeralah kamu tiup Gunung Jamurdipa itu!” seru Batara Guru.
Dengan kesaktiannya, Dewa Bayu segera meniup gunung itu. Tiupan Dewa Bayu yang bagaikan angin topan berhasil menerbangkan Jamurdipa hingga melayang-layang di angkasa dan kemudian jatuh tepat di perapian kedua empu tersebut. Kedua empu yang berada di tempat itu pun ikut tertindih oleh Gunung Jamurdipa hingga tewas seketika.

Menurut cerita, roh kedua empu tersebut kemudian menjadi penunggu gunung itu. Sementara itu, perapian tempat keduanya membuat keris sakti berubah menjadi kawah. Oleh karena kawah itu pada mulanya adalah sebuah perapian, maka para dewa mengganti nama gunung itu menjadi GUNUNG MERAPI.

∞∞∞


FAKTA GEOLOGI
Gunung Merapi adalah gunung termuda dalam rangkaian gunung berapi yang mengarah ke selatan dari Gunung Ungaran. Gunung ini terbentuk karena aktivitas di zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke bawah Lempeng Eurasia menyebabkan munculnya aktivitas vulkanik di sepanjang bagian tengah Pulau Jawa. Puncak yang sekarang ini tidak ditumbuhi vegetasi karena aktivitas vulkanik tinggi. Puncak ini tumbuh di sisi barat daya puncak Gunung Batulawang yang lebih tua.

Proses pembentukan Gunung Merapi telah dipelajari dan dipublikasi sejak 1989 dan seterusnya. Berthomier, seorang sarjana Prancis, membagi perkembangan Merapi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah Pra-Merapi (sampai 400.000 tahun yang lalu), yaitu Gunung Bibi yang bagiannya masih dapat dilihat di sisi timur puncak Merapi. Tahap Merapi Tua terjadi ketika Merapi mulai terbentuk namun belum berbentuk kerucut (60.000 - 8000 tahun lalu). Sisa-sisa tahap ini adalah Bukit Turgo dan Bukit Plawangan di bagian selatan, yang terbentuk dari lava basaltik. Selanjutnya adalah Merapi Pertengahan (8000 - 2000 tahun lalu), ditandai dengan terbentuknya puncak-puncak tinggi, seperti Bukit Gajahmungkur dan Batulawang, yang tersusun dari lava andesit. Proses pembentukan pada masa ini ditandai dengan aliran lava, breksiasi lava, dan awan panas.
Aktivitas Merapi telah bersifat letusan efusif (lelehan) dan eksplosif. Diperkirakan juga terjadi letusan eksplosif dengan runtuhan material ke arah barat yang meninggalkan morfologi tapal kuda dengan panjang 7 km, lebar 1–2 km dengan beberapa bukit di lereng barat. Kawah Pasarbubar (atau Pasarbubrah) diperkirakan terbentuk pada masa ini. Puncak Merapi yang sekarang, Puncak Anyar, baru mulai terbentuk sekitar 2000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya, diketahui terjadi beberapa kali letusan eksplosif dengan VEI 4 berdasarkan pengamatan lapisan tefra. Karakteristik letusan sejak 1953 adalah desakan lava ke puncak kawah disertai dengan keruntuhan kubah lava secara periodik dan pembentukan awan panas (nuée ardente) yang dapat meluncur di lereng gunung atau vertikal ke atas. Letusan tipe Merapi ini secara umum tidak mengeluarkan suara ledakan tetapi desisan. Kubah puncak yang ada sampai 2010 adalah hasil proses yang berlangsung sejak letusan gas 1969.


Pakar geologi pada tahun 2006 mendeteksi adanya ruang raksasa di bawah Merapi berisi material seperti lumpur yang secara "signifikan menghambat gelombang getaran gempa bumi". Para ilmuwan memperkirakan material itu adalah magma. Kantung magma ini merupakan bagian dari formasi yang terbentuk akibat menghunjamnya Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar tercatat pada tahun 1006 (dugaan), 1786, 1822, 1872, dan 1930. Letusan pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu, berdasarkan pengamatan timbunan
debu vulkanik. Ahli geologi Belanda, van Bemmelen, berteori bahwa letusan tersebut menyebabkan pusat Kerajaan Medang (Mataram Kuno) harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan pada tahun 1872 dianggap sebagai letusan terkuat dalam catatan geologi modern dengan skala VEI mencapai 3 sampai 4. Letusan terbaru, 2010,
diperkirakan juga memiliki kekuatan yang mendekati atau sama. Letusan tahun 1930, yang menghancurkan tiga belas desa dan menewaskan 1400 orang, merupakan letusan dengan catatan korban terbesar hingga sekarang.

Letusan bulan November 1994 menyebabkan luncuran awan panas ke bawah hingga menjangkau beberapa desa dan memakan korban 60 jiwa manusia. Letusan 19 Juli 1998 cukup besar namun mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa. Catatan letusan terakhir gunung ini adalah pada tahun 2001-2003 berupa aktivitas tinggi yang berlangsung terus-menerus. Pada tahun 2006 Gunung Merapi kembali beraktivitas tinggi dan sempat menelan dua nyawa sukarelawan di kawasan Kaliadem karena terkena terjangan awan panas. Rangkaian letusan pada bulan Oktober dan November 2010 dievaluasi sebagai yang terbesar sejak letusan 1872 dan memakan korban nyawa 273 orang (per 17 November 2010), meskipun telah diberlakukan pengamatan yang intensif dan persiapan manajemen pengungsian. Letusan 2010 juga teramati sebagai penyimpangan dari letusan "tipe Merapi" karena bersifat eksplosif disertai suara ledakan dan gemuruh yang terdengar hingga jarak 20–30 km. Gunung ini dimonitor non-stop oleh Pusat Pengamatan Gunung Merapi di Kota Yogyakarta, dibantu dengan berbagai instrumen geofisika telemetri di sekitar puncak gunung serta sejumlah pos pengamatan visual dan pencatat kegempaan di Ngepos (Srumbung), Babadan, dan Kaliurang.


ERUPSI 2006
Di bulan April dan Mei 2006, mulai muncul tanda-tanda bahwa Merapi akan meletus kembali, ditandai dengan gempa-gempa dan deformasi. Pemerintah daerah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta sudah mempersiapkan upaya-upaya evakuasi. Instruksi juga sudah dikeluarkan oleh kedua pemda tersebut agar penduduk yang tinggal di dekat Merapi segera mengungsi ke tempat-tempat yang telah disediakan.

Pada tanggal 15 Mei 2006 akhirnya Merapi meletus. Lalu pada 4 Juni, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status awas. Kepala BPPTK Daerah Istimewa Yogyakarta, Ratdomo Purbo menjelaskan bahwa sekitar 2-4 Juni volume lava di kubah Merapi sudah mencapai 4 juta meter kubik - artinya lava telah memenuhi seluruh kapasitas kubah Merapi sehingga tambahan semburan lava terbaru akan langsung keluar dari kubah Merapi. Tanggal 1 Juni, Hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, tiga hari belakangan ini terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Muntilan sekitar 14 kilometer dari Puncak Merapi, paling merasakan hujan abu ini. Tanggal 8 Juni, Gunung Merapi pada pukul 09.03 WIB meletus dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha melarikan diri ke tempat aman. Hari ini tercatat dua letusan Merapi, letusan kedua terjadi sekitar pukul 09.40 WIB. Semburan awan panas sejauh 5 km lebih mengarah ke hulu Kali Gendol (lereng selatan) dan menghanguskan sebagian kawasan hutan di utara Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman.

ERUPSI 2010
Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. 

Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni
wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.
Erupsi pertama terjadi sekitar pukul 17.02 WIB tanggal 26 Oktober. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km dan disertai keluarnya awan panas yang menerjang Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. dan menelan korban 43 orang, ditambah seorang bayi dari Magelang yang tewas karena gangguan pernapasan. Sejak saat itu mulai terjadi muntahan awan panas secara tidak teratur. Mulai 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB. Selanjutnya mulai teramati titik api diam di puncak pada tanggal 1 November, menandai fase baru bahwa magma telah mencapai lubang kawah. Namun, berbeda dari karakter Merapi biasanya, bukannya terjadi pembentukan kubah lava baru, malah yang terjadi adalah peningkatan aktivitas semburan lava dan awan panas sejak 3 November. Erupsi eksplosif berupa letusan besar diawali pada pagi hari Kamis, 4 November 2010, menghasilkan kolom awan setinggi 4 km dan semburan awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Selanjutnya, sejak sekitar pukul tiga siang hari terjadi letusan yang tidak henti-hentinya hingga malam hari dan mencapai puncaknya pada dini hari Jumat 5 November 2010. Menjelang tengah malam, radius bahaya untuk semua tempat diperbesar menjadi 20 km dari puncak. Rangkaian letusan ini serta suara gemuruh terdengar hingga Kota Yogyakarta (jarak sekitar 27 km dari puncak), Kota Magelang, dan pusat Kabupaten Wonosobo (jarak 50 km). Hujan kerikil dan pasir mencapai Kota Yogyakarta bagian utara, sedangkan hujan abu vulkanik pekat melanda hingga Purwokerto dan Cilacap. Pada siang harinya, debu vulkanik diketahui telah mencapai Tasikmalaya, Bandung, dan Bogor. Bahaya sekunder berupa aliran lahar dingin juga mengancam kawasan lebih rendah setelah pada tanggal 4 November terjadi hujan deras di sekitar puncak Merapi. Pada tanggal 5 November Kali Code di kawasan Kota Yogyakarta dinyatakan berstatus "awas" (red alert).

Letusan kuat 5 November diikuti oleh aktivitas tinggi selama sekitar seminggu, sebelum kemudian terjadi sedikit penurunan aktivitas, namun status keamanan tetap "Awas". Pada tanggal 15 November 2010 batas radius bahaya untuk Kabupaten Magelang dikurangi menjadi 15 km dan untuk dua kabupaten Jawa Tengah lainnya menjadi 10 km. Hanya bagi Kab. Sleman yang masih tetap diberlakukan radius bahaya 20 km. Pada tahun 2010, Gunung Merapi kembali meletus dan mengakibatkan ribuan warga mengungsi, ratusan rumah hancur, serta puluhan orang meninggal dunia, termasuk Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi.

Gunung Merapi di bagian puncak tidak pernah ditumbuhi vegetasi karena aktivitas yang tinggi. Jenis tumbuhan di bagian teratas bertipe alpina khas pegunungan Jawa, seperti Rhododendron dan edeweis jawa. Agak ke bawah terdapat hutan bambu dan tetumbuhan pegunungan tropika. Hutan hujan tropis pegunungan di bagian selatan Merapi merupakan tempat salah satu forma anggrek endemik Vanda tricolor 'Merapi' yang telah langka. Lereng Merapi, khususnya di bawah 1.000 m, merupakan tempat asal dua kultivar salak unggul nasional, yaitu salak 'Pondoh' dan 'Nglumut'.

Demikian LEGENDA ASAL MULA GUNUNG MERAPI dari Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia. Hingga saat ini, kawah Gunung Merapi tersebut masih aktif dan sering mengeluarkan lahar disertai dengan hembusan awan panas.
Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita atas adalah bahwa orang yang tidak mau mendengar nasehat akan mendapatkan celaka seperti halnya Empu Rama dan Empu Pamadi. Oleh karena enggan mendengar nasehat para dewa, akibatnya mereka tewas tertindih Gunung Jamurdipa.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH SYEKH BELABELU YANG RENDAH HATI

0 komentar

SYEKH BELABELU atau yang bernama asli JAKA BANDEM adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri dari istana ke sebuah bukit di wilayah pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, karena tidak mau dipaksa memeluk agama Islam oleh penakluknya yakni kerajaan Islam Demak.
Dalam pelariannya, ia justru bertemu dengan seorang ulama bernama SYEKH MAULANA MAGRIBI dan mulai tertarik belajar tentang Islam dan berguru kepadanya. Syekh Belabelu memiliki suatu kebiasaan buruk yang tidak disukai oleh gurunya, yaitu gemar makan nasi dengan jumlah yang banyak. Beberapa kali sang Guru mengingatkannya agar tidak makan nasi secara berlebihan, namun Syekh Belabelu tetap tidak menghiraukannya. Akhirnya, sang Guru yang merasa ilmunya paling tinggi menantangnya untuk beradu kesaktian dan adu cepat sampai ke Mekah, Arab Saudi.
∞∞∞


Alkisah, di daerah Jawa Timur, tersebutlah seorang raja bernama Raja Hayam Wuruk yang bertahta di Kerajaan Majapahit, dengan gelar Maharaja Sri Rajasangara. Sang Raja mempunyai seorang putri yang lahir dari permaisurinya, bernama Kusumawardani. Ia juga mempunyai seorang putra yang lahir dari selirnya, bernama Wirabhumi. Ketika Raja Hayam Wuruk wafat (1389 M), kedudukannya digantikan oleh menantunya yang bernama Wikramawardhana (suami Kusumawardhani). Sementara itu Pangeran Wirabhumi diberi kekuasaan di ujung timur Pulau Jawa yang bernama daerah Blambangan, sehingga lahirlah Kerajaan Blambangan yang terletak di sebelah selatan Banyuwangi atau yang lebih dikenal Alas Purwo.

Pada mulanya, hubungan antara Wikramawardhana dengan Wirabhumi berjalan harmonis. Wirabhumi tetap mengakui kekuasaan pemerintahan pusat, Kerajaan Majapahit. Namun, ketika Prabu Sri Suhita menjadi raja menggantikan ayahnya Wikramawardhana, Raden Wirabhumi merasa tidak puas dengan penggantian tersebut. Sejak itulah, hubungan kedua kerajaan tersebut menjadi retak, sehingga mengakibatkan terjadinya perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg (1401-1406 M).

Menurut cerita, Perang Paregreg tersebut menjadi salah satu penyebab kemunduran Kerajaan Majapahit, sebelum akhirnya runtuh setelah diserang oleh Raden Patah dan pasukannya dari Kerajaan Islam Demak, Jawa Tengah pada 1478 Masehi atau 1400 saka. Dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit dan masuknya pengaruh Islam, seluruh rakyat Majapahit yang beragama Hindu menjadi terdesak. Para kerabat dan keluarga Keraton Majapahit yang enggan memeluk agama Islam meninggalkan istana. Sebagian besar dari mereka menyeberang ke Pulau Bali, dan sebagian yang lain melarikan diri ke Pulau Kalimantan, serta ke pulau-pulau lainnya.

Salah seorang kerabat Keraton Majapahit yang enggan memeluk agama Islam adalah RADEN JAKA BANDEM, putra Prabu Brawijaya terkahir. Hanya saja, ia dan para pengikutnya tidak tahu harus melarikan diri ke mana. Akhirnya, mereka berjalan menyusuri pantai selatan menuju ke arah barat.
Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, mereka pun tiba di sebuah pantai yang bernama Parangtritis, yaitu sebuah pantai yang landai, berpasir putih, dan deburan ombaknya yang besar. Di sebelah utara pantai itu terdapat dua bukit kapur yang berdekatan, yaitu Bukit Pemancingan dan Bukit Sentana.
“Wahai, pengikutku! Pengembaraan ini kita akhiri sampai di sini. Saya kira tempat ini sangat bagus dan aman untuk tempat tinggal. Raden Patah dan para pengikutnya tidak akan mungkin menemukan kita di sini!” ujar Raden Jaka Bandem kepada pengikutnya.
Setelah memeriksa keadaan kedua bukit tersebut, akhirnya Raden Jaka Bandem bersama pengikutnya memilih Bukit Pemancingan untuk tempat tinggal. Di atas bukit itu, mereka mendirikan padepokan, dan Raden Jaka Bandem diangkat menjadi ketua padepokan. Mereka kemudian membuka lahan pertanian di sekitar bukit dan memperoleh hasil padi dan pangan lainnya yang melimpah. Keberhasilan Raden Jaka Bandem tersebut mengundang simpati penduduk sekitar yang sering lewat ketika sedang berburu atau hendak menangkap ikan di pesisir Pantai Selatan. Banyak di antara mereka yang datang ke padepokannya untuk belajar cara bercocok tanam yang baik. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang tertarik ingin belajar baca tulis dan ilmu bela diri kepadanya. Raden Jaka Bandem pun menerima mereka sebagai murid dengan senang hati.

Selang beberapa tahun kemudian, datanglah seorang ulama bernama SYEKH MAULANA MAHGRIBI. Ia adalah utusan RADEN PATAH ATAU PANGERAN SENOPATI PANEMBAHAN JIN BUN yang diperintahkan untuk menyiarkan agama Islam di wilayah itu. Setelah menyaksikan keindahan alam Pantai Parangtritis dan mengetahui bahwa banyak orang yang tinggal di puncak Bukit Pemancingan, ia dan para pengikutnya memutuskan untuk menetap dan mendirikan pondok di atas Bukit Sentana. Setelah pembangunan pondok itu selesai, Syekh Maulana Maghribi mulai mengajak dan menarik sempati penduduk sekitar, terutama Raden Jaka Bandem sendiri yang akhirnya tertarik untuk datang belajar agama Islam di pondoknya, disamping itu juga Raden Jaka Bandem menyadari bahwa tidak mungkin lagi untuk menyingkir atau melarikan diri dan demi keselamatan semua pengikutnya, Raden Jaka Bandem merasa ia tidak bisa menolak dan menampik perubahan kekuasaan yang saat ini dikuasai oleh orang-orang Islam kerajaan Demak .
“Jika aku berhasil mengajak Raden Jaka Bandem masuk Islam, tentu para pengikut dan murid-muridnya akan mengikutinya,” pikir Syekh Maulana Maghribi.
Alhasil, Syekh Maulana Maghribi berhasil menarik simpati Raden Jaka Bandem dan mengangkatnya menjadi murid. Raden Jaka Bandem seorang murid yang cerdas dan tekun, sehingga ia dapat menguasai pelajaran yang didapatkan dari gurunya dengan cepat.
Setelah beberapa lama mendalami ajaran Islam, Raden Jaka Bandem memutuskan untuk masuk agama Islam. Dengan demikian, para pengikut dan murid-muridnya pun berbondong-bondong memeluk agama Islam. Syekh Maghribi Kemudian Mengganti Nama Raden Jaka Bandem Menjadi Syekh Belabelu dan memperkenankannya mengajarkan agama Islam di padepokannya. Syekh Belabelu pun merubah fungsi padepokannya menjadi pondok. Dalam waktu tak berapa lama, orang-orang pun berdatangan berguru kepadanya.

Di sela-sela kesibukannya mengajar di pondoknya, Syekh Belabelu mengisi waktunya dengan bertapa. Namun, cara bertapanya berbeda dari yang biasa dilakukan orang-orang pada umumnya. Ia bukannya menjauhkan diri dari kesenangan dunia dengan cara berpuasa, melainkan lebih mementingkan kepuasan dirinya, terutama pada masalah makan. Sebenarnya, kebiasaan tersebut sudah dilakoni sejak ia masih muda. Tak heran jika seluruh atap dan dinding pondoknya dipenuhi oleh kerak nasi. Semakin hari, ia pun bertambah gemuk.

Syekh Maulana Maghribi yang mengetahui hal itu masih memakluminya, karena Syekh Belabelu masih menjalankan kewajibannya, seperti shalat lima waktu. Namun, lama-kelamaan, ia merasa jengkel karena kebiasaan buruk muridnya itu semakin menjadi-jadi. Semakin hari porsi makannya semakin berlebihan. Suatu hari, sang Guru mendatangi pondoknya untuk menasehatinya.
  • “Hai, Belabelu! Hentikan kebiasaanmu makan berlebihan itu!” seru Syekh Maulana Maghribi dengan nada marah.
  • “Begitu pula cara bertapamu berbeda dengan cara yang pernah kuajarkan kepadamu!” tambah Sykeh Maulana Maghribi.
Syekh Belabelu menjawab bahwa setiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri bertapa untuk mencapai tujuannya. Rupanya, ia tetap ingin bertapa dengan caranya sendiri dan tidak mau meninggalkan kegemarannya makan nasi.
“Maaf, Tuan Guru! Aku akan tetap bertapa dengan caraku sendiri,” jawab Syekh Belabelu.
Mendengar jawaban itu, Syekh Maulana Maghribi bertambah jengkel dan menantang muridnya itu untuk saling adu kesaktian.
“Baiklah kalau begitu, Belabelu! Bagaimana kalau kita saling adu kesaktian untuk membuktikan siapakah di antara kita yang paling sakti?” tantang Syekh Maulana Maghribi.
Syekh Belabelu tidak bersedia menerima tantangan gurunya.
“Maaf, Tuan Guru! Jika bertanding hanya untuk mengetahui siapa di antar kita yang terkuat, saya kira tidak ada gunanya, Guru! Bukankah sudah ada yang terkuat, yaitu Allah SWT?” jawab Syekh Belabelu.
Syekh Maulana Maghribi tidak puas dengan jawaban itu. Akhirnya, ia kembali menantang muridnya itu dengan cara yang lain.
“Bagaimana kalau aku tantang kamu berlomba adu cepat?” ajak Syekh Maulana Maghribi.
Syekh Belabelu menerima tantangan itu. Kemudian guru dan murid itu pun bersepakat akan berlomba adu cepat sampai ke Mekah untuk mengikuti shalat Jum’at. Perlombaan itu baru akan dilaksanakan pada pekan keempat bulan depan, karena keduanya harus mengasah kekuatan mereka dengan cara bertapa selama satu bulan. Guru dan murid itu pun mulai bertapa dengan cara mereka masing-masing.

Syekh Maulana Maghribi bertapa dengan cara meninggalkan segala kesenangan dunia, tidak makan dan minum. Sementara Syekh Belabelu melaksanakan tapanya seperti biasanya, yaitu menanak nasi dan makan. Bahkan, ia masih terlihat sibuk menanak nasi hingga hari yang telah ditentukan telah tiba.
“Hai, Belabelu! Apakah engkau sudah lupa bahwa sekarang sudah hari Jum’at? Bukankah pagi ini kita akan berlomba adu cepat sampai ke Mekah untuk melaksanakan shalat Jum’at di sana?” tanya Syekh Maulana.
Syekh Belabelu hanya tersenyum. Ia kemudian menjawab dengan nada santai.
“Saya tidak lupa ketentuan itu, Guru! Tapi saya harus menunggu sampai nasiku matang dan makan dulu. Jika Guru tidak keberatan, silahkan berangkat terlebih dahulu, saya akan segera menyusul, dan saya pasti terlebih dahulu tiba di sana!” ujar Syekh Belabelu sambil meneruskan menanak nasi.
Tanpa menghiraukan lagi perkataan sang Murid, Syekh Maulana Mahgribi pun berangkat ke Mekah dengan membawa bekal seperlunya. Ia merasa yakin bahwa dia pasti akan sampai terlebih dahulu di Mekah. Sementara Syekh Belabelu masih asyik menikmati nasinya yang sudah matang. Di wajahnya sama sekali tidak terlihat perasaan cemas atau khawatir akan dikalahkan oleh gurunya.

Sementara itu, Syekh Maulana Maghribi telah tiba di Mekah. Ia melihat sudah banyak orang yang datang ke MASJIDIL HARAM hendak menunaikan shalat Jum’at. Ia pun segera masuk ke dalam masjid. Alangkah terkejutnya ia ketika menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tempat duduk, tiba-tiba pandangannya tertuju kepada seorang jamaah yang sangat dikenalnya.
“Hai, bukankah itu Syekh Belabelu? Bagaimana mungkin dia bisa sampai di sini terlebih dahulu? Bukankah tadi dia masih sibuk memasak nasi ketika aku meninggalkannya?” gumam Syekh Maulana Maghribi dengan heran.
Syekh Belabelu yang melihat gurunya sedang berdiri di antara jamaah segera melambaikan tangan dan memberi isyarat agar sang Guru duduk di sampingnya. Dengan perasaan malu, Syekh Maulana Maghribi pun segera duduk di samping Syekh Belabelu.
  • “Hai, Belabelu! Bagaimana kamu bisa mendahuluiku tiba di sini?” bisik Syekh Maulana Maghribi.
  • “Maaf, Tuan Guru! Tuan Guru berangkat ke sini dengan kekuatan sendiri, sedangkan saya hanya dengan menyandarkan diri kepada kekuatan Allah SWT, karena kekuatan Allah SWT berada di atas segala-galanya,” jawab Syekh Belabelu sambil tersenyum.
Akhirnya, Syekh Maulana Maghribi menyadari bahwa dirinya mempunyai batas kemampuan dan mengakui keunggulan Syekh Belabelu, meskipun dia adalah muridnya.

∞∞∞

Demikian KISAH SYEKH BELABELU YANG RENDAH HATI dari daerah Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Hingga kini, makam Syekh Maulana Maghribi dan Syekh Belabelu yang berada di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, menjadi salah satu obyek wisata sejarah dan religi yang ramai dikunjungi.
Para peziarah tidak hanya berasal dari wilayah Yogyakarta, tetapi juga dari luar Yogyakarta dan bahkan dari luar Jawa. Mereka datang ke petilasan tersebut dengan niat dan tujuan yang berbeda-beda untuk ngalap (mencari) berkah, seperti memohon kenaikan pangkat, mendapat pekerjaan, dagangannya laris, hasil panennya meningkat, dan bahkan ada yang memohon agar pengetahuan agama Islamnya bertambah.
Permohonan tersebut mereka sampaikan melalui para juru kunci, yaitu abdi dalem Kraton Yogyakarta yang ditugaskan secara bergantian. Biasanya, petilasan kedua syekh tersebut ramai dikunjungi oleh peziarah pada malam Selasa Kliwon dan Juma’at Kliwon, serta malam 1 Syuro (1 Muharram).

Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa hendaknya kita tidak merendahkan orang lain dengan hanya melihat kedudukannya lebih dari pada kita, karena boleh jadi orang yang direndahkan itu lebih baik dari kita, setiap individu/pribadi yang percaya dengan jalan keyakinannya punya cara sendiri-sendiri dalam menjalaninya, dan kita tidak bisa memaksakan kepada orang lain bahwa cara kita lah yang paling benar dan baik. Hal ini terlihat pada sikap dan perilaku Syekh Maulana Maghribi yang merasa lebih hebat dari pada muridnya sendiri, Syekh Belabelu. Akhirnya, ia pun menjadi malu sendiri, karena ternyata sang Murid lebih hebat dari dirinya, “ kalau suka merendahkan orang, kalau tidak menjadi abu, menjadi arang”.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT TERBARU

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT POPULER

ADHI MEKAR INDONESIA "AMI SCHOOL" DENPASAR BARAT, BALI

 
  • AGATHA NICOLE © 2017 | Modified By YURI | Powered By BLOGGER | KEDAI LOMBOK