Daftar Cerita Legenda Rakyat
Showing posts with label BETAWI - JAKARTA. Show all posts
Showing posts with label BETAWI - JAKARTA. Show all posts

KISAH ASNI DAN MIRAH

0 komentar

Asni dan Mirah adalah dua pendekar silat dari Betawi. Keduanya tidak saling mengenal. Asni menetap di daerah Kemayoran, sedangkan Mirah tinggal di daerah Marunda.
Asni mempunyai seorang saudara seayah namun lain ibu, namanya Tirta juga seorang pendekar silat yang bertempat tinggal di Karawang -  Jawa Barat. 
Antara Tirta dan Mirah telah saling mengenal. Bahkan, Tirta ternyata jatuh hati kepada gadis yang cantik dan sakti itu. Namun, nasib ternyata berkata lain. Pada akhirnya ternyata Asni yang berhasil memperistri Mirah.
***


Pada zaman dahulu di Betawi masih terdapat banyak pendekar silat. Dua di antaranya yang cukup terkenal adalah Tirta dan Asni. Kedua pemuda itu adalah kakak beradik, tapi lain ibu. Meskipun bersaudara, namun Asni tidak mengetahui jika ia punya saudara tiri bernama Tirta, sementara Tirta sendiri sudah tahu hal ini dari ibunya. Tirta tinggal bersama ibunya di Karawang, sebuah daerah di tepi kota, sedangkan Asni tinggal bersama ayahnya di Kemayoran. 

Tirta dan Asni memiliki perbedaan sifat yang terlihat pada perilaku sehari-hari mereka. Tirta tumbuh menjadi pemuda berandalan. Keahlian beladirinya digunakan untuk membuat kekacauan. Bahkan, Tirta suka merampok dan mencuri. Hasil curiannya ia gunakan untuk mabuk-mabukan bersama teman-temannya. Sementara itu, Asni tumbuh menjadi pemuda yang berbudi luhur. Meskipun berilmu tinggi, ia tetap santun, rendah hati, dan suka menolong. Tidak mengherankan jika Asni sangat disegani dan namanya menjadi cukup terkenal.

Suatu malam, warga Kemayoran digemparkan oleh sebuah peristiwa perampokan di sebuah rumah orang kaya bernama Babah Yong. Harta bendanya dibawa kabur oleh kawanan perampok. Para centeng (satpam) pun terkapar tak berdaya saat menghadapi kawanan perampok tersebut.
Mendengar kabar itu, penguasa Kemayoran yang bernama Tuan Ruys, Bek (Kepala Kampung) Kemayoran, dan para opas (agen polisi) segera mendatangi rumah Babah Yong untuk melakukan penyelidikan. Setelah mengamati bekas-bekas perampokan itu, Tuan Ruys pun menduga bahwa pelaku perampokan itu adalah orang yang sakti mandraguna.
“Hmm… aku yakin pelakunya bukanlah orang biasa. Hanya orang berilmu tinggilah yang mampu mengalahkan para centeng Babah Yong,” kata Tuan Ruys.
Dengan dugaan itu, penguasa Kemayoran itu langsung teringat pada Asni.
“Ya, siapa lagi kalau bukan Asni. Hanya dialah orang sakti di daerah ini,” gumam Tuan Ruys.
Tanpa berpikir panjang, Tuan Ruys segera memerintahkan Kepala Kampung Kemayoran untuk menangkap Asni. Namun, kepala kampung itu menolak karena ia tidak yakin jika Asni pelakunya.
  • “Maat, Tuan Ruys. Saya yakin bukanlah Asni pelakunya. Saya sangat mengenal sifat dan perilakunya,” sanggah sang kepala kampung.
  • “Kalau begitu, coba tunjukkan siapa lagi pendekar sakti di Kemayoran ini selain Asni!” ujar Tuan Ruys.
Rupanya, Kepala Kampung Kemayoran tidak bisa menunjukkan bukti sebagaimana yang diminta Tuan Ruys. Akhirnya pada malam itu, ia bersama para opas segera menangkap Asni dan memasukkannya ke dalam penjara. Asni yang merasa tidak bersalah pun menolak untuk dipenjara.
“Maaf, barangkali tuan-tuan keliru menuduh saya sebagai pelaku perampokan itu. Saat peristiwa itu terjadi saya sedang berada di rumah,” Asni membela diri.
Mendengar pembelaan Asni, akhirnya Kepala Kampung Kemayoran memerintahkan para opas untuk memanggil keluarga dan tetangga Asni untuk dijadikan saksi. Setelah mendapat beberapa pertanyaan, mereka pun memberikan kesaksian bahwa memang benar Asni sedang berada di rumah saat peristiwa perampokan itu terjadi.
“Dugaanku ternyata benar,” kata Bek Kemayoran dalam hati.
Akhirnya Asni pun dibebaskan tapi dengan syarat ia harus menangkap pelaku perampokan itu. 
“Jika kamu gagal menangkap perampok itu, maka kamu akan kembali dipenjara,” ancam Tuan Ruys.
Meskipun keputusan itu tidak adil baginya, Asni pun menerima dengan lapang dada. Ia merasa bahwa menjaga keamanan Kemayoran juga termasuk tanggung jawabnya. 

Keesokan harinya, ia mulai mencari pelaku perampokan yang menyatroni rumah Babah Yong. Karena yakin perampok itu bukanlah warga Kemayoran, ia pun melakukan pencarian hingga ke kampung-kampung lain. Salah satunya adalah Kampung Marunda karena ia tahu bahwa kampung itu terkenal memiliki pendekar sakti bernama Bang Bodong. Bang Bodong mempunyai seorang putri yang cantik dan mahir bersilat bernama Mirah. Mirah adalah idola bagi setiap pemuda di Marunda. Bahkan, sudah banyak pemuda yang datang melamarnya, namun belum seorang pun yang diterima karena tidak memenuhi syarat yang diajukan Mirah. Syarat itu adalah harus mengalahkan kesaktian Mirah.
Sementara itu, Asni yang hendak memasuki Kampung Marunda tiba-tiba mendapat teguran dari para penjaga kampung karena tidak melapor.
“Hai, anak muda! Berani-beraninya kamu masuk ke daerah kami tanpa izin,” hardik seorang penjaga.
“Masa siang-siang begini harus melapor,” jawab Asni.
Mendengar jawaban itu, para penjaga kampung menjadi tersinggung karena merasa tidak dihargai. Akhirnya, terjadilah pertkelahian antara Asni dengan beberapa orang penjaga kampung. Dengan ketinggian ilmu silatnya, Asni dapat merobohkan para penjaga itu dengan mudah. Salah satu penjaga kampung kemudian melapor kepada Bang Bodong.
“Bang, ada pengacau yang masuk ke kampung kita!” lapor penjaga itu.
Tanpa banyak tanya, Bang Bodong bersama Mirah segera menuju ke tempat kejadian. Saat bertemu dengan Asni, Bang Bodong langsung menyerang pemuda itu. Betapa terkejutnya ia karena serang-serangannya dapat dipatahkan dengan mudah oleh Asni. Merasa dipermalukan, Bang Bodong mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya. Meskipun umurnya sudah tua, pendekar Marunda itu masih sangat lincah bergerak sehingga Asni harus bersusah payah berkelit ke sana ke mari untuk menghindar.


Setelah beberapa lama pertarungan itu berlangsung, Bang Bodong mulai kelelahan. Begitu ia lengah, Asni langsung melayangkan sebuah tendangan keras tepat mengenai lambung kirinya. Tak ayal, pendekar Marunda itu pun jatuh terpental ke tanah dan tidak bisa melanjutkan pertarungan.
Melihat ayahnya kalah, Mirah langsung menyerang Asni. Pertarungan antara kedua pendekar itu tampak seimbang meskipun pada akhirnya Mirah harus mengakui kesaktian Asni. Saat melihat putrinya kalah, Bang Bodong justru tertawa terbahak-bahak.
  • “Ha…ha… ha… !”
  • “Ayah, kenapa menertawaiku seperti itu?” tanya Mirah dengan bingung.
  • “Akhirnya datang juga jodohmu, anakku,” kata Bang Bodong dengan nada menggoda.
  • “Apa maksud, Ayah?” Mirah kembali bertanya.
Bang Bodong segera bangkit lalu mendekati putrinya.
“Putriku, apakah kamu sudah lupa dengan janjimu? Bukankah kamu pernah berjanji bahwa jika ada pemuda yang mengalahkanmu maka dialah yang akan menjadi jodohmu?” jelas Bang Bodong mengingatkan putrinya.
Mendengar penjelasan itu, Mirah lalu tersenyum malu-malu. Bang Bodong pun kemudian menyapa Asni.
“Maaf, anak muda. Kamu siapa dan apa maksud kedatanganmu ke Marunda?” tanya Bang Bodong kepada Asni.
Asni pun memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya Setelah mendengar penjelasan Asni, Bang Bodong meminta pendapat Asni mengenai janji yang telah dibuat putrinya.
  • “Ketahuilah, Asni! Putriku pernah membuat janji bahwa siapa pun pemuda yang berhasil mengalahkannya, maka dialah yang berhak menjadi suaminya,” ungkap Bang Bodong seraya bertanya kepada Asni, 
  • “Apakah kamu bersedia menikah dengan putriku?”
Pucuk dicinta ulam pun tiba, maksud hati ingin menangkap perampok, Asni malah mendapat gadis cantik dan sakti. Maka, tak ada alasan bagi Asni untuk menolak tawaran itu. Akhirnya, Asni dan Mirah pun menikah. Sebelum pernikahan mereka dilangsungkan, Bang Bodong dan putrinya juga bersepakat untuk membantu Asni mencari perampok itu.

Setelah melakukan penyelidikan, mereka menemukan bukti bahwa perampok itu adalah Tirta yang berasal dari Karawang. Bang Bodong sendiri kenal dengan Tirta karena Tirta beberapa kali berusaha mendapatkan cinta putrinya, yakni Mirah. Namun, mereka sulit menangkap Tirta karena keberadaannya tidak diketahui. Setelah berpikir sejenak, akhirnya Bang Bodong menemukan sebuah cara.
  • “Satu-satunya cara untuk menangkap Tirta adalah menjebaknya dalam pesta pernikahan kalian,” kata Bang Bodong.
  • “Maksudnya?” tanya Asni bingung.
  • “Begini Asni. Tirta itu sangat mencintai Mirah. Aku yakin, dia pasti datang dalam pesta pernikahan kalian,” jelas Bang Bodong.
Setelah itu, mereka pun segera melakukan persiapan-persiapan secara matang, termasuk mengirim undangan kepada Tirta di rumahnya. Selain itu, mereka juga bekerjasama dengan Bek Kemayoran dan Tuan Ruys dengan mengundang mereka ke pesta tersebut.

Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Asni dan Mirah dilangsungkan di kediaman Bang Bodong. Tampak para undangan mulai berdatangan, termasuk Bek Kemayoran dan Tuan Ruys yang lengkap dengan senjatanya. Tak berapa lama kemudian, Tirta pun tiba dan duduk di barisan kursi paling belakang. Namun, Tirta agak curiga karena ia melihat Bek Kemayoran dan Tuan Ruys juga hadir dalam pesta itu dan duduk sejajar dengannya. 

Sesekali, kedua penguasa dari Kemayoran itu melirik kepada Tirta. Menyadari dirinya dalam bahaya, Tirta segera meninggalkan pesta itu untuk melarikan diri. Tuan Ruys dan Bek Kemayoran bersama para opas segera mengejarnya. Asni dan Mirah turut melakukan pengejaran. Tirta berhasil dikejar sehingga terjadilah perkelahian antara Tirta melawan Asni dan Mirah. Begitu Tirta lengah, Tuan Ruys melepaskan tembakan ke arah Tirta dan tepat mengenai dada kanannya. Tak ayal, pendekar silat dari Karawang itu langsung roboh. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia sempat berpesan kepada Asni.
“Ketahuilah, Asni! Sebenarnya kita bersaudara, namun lain ibu. Beruntunglah kamu mendapatkan Mirah. Ia gadis yang cantik dan baik hati. Tolong jagalah dia baik-baik!” ungkap Tirta.
Betapa terkejutnya Asni mendengar pengakuan Tirta. Ia pun berusaha mengobati luka saudaranya itu. Namun, nyawa Tirta sudah tidak tertolong lagi. Asni pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyesali semua perbuatan jahat yang telah dilakukan saudaranya itu.

Setelah peristiwa itu, Kemayoran dan Marunda kembali aman. Asni pun memboyong istrinya ke Kemayoran untuk membuka usaha dagang. Berkat kegigihan dan keuletannya, usaha mereka pun maju pesat dan mereka pun hidup berbahagia.

* * *

Demikian KISAH ASNI DAN MIRAH dari Betawi atau yang sekarang kita kenal sebagai Jakarta. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu keutamaan gemar berbuat baik dan akibat buruk dari sifat suka berbuat jahat. Sifat yang pertama terlihat pada sikap dan perilaku Asni. Ketika hendak membantu para petugas untuk menangkap perampok, ia justru mendapatkan Mirah. Sementara itu, sifat yang kedua terlihat pada sikap Tirta. Akibat perilaku jahatnya itu, Tirta tewas terkena peluru Tuan Ruys.   (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

MURTADO MACAN KEMAYORAN

0 komentar

Pada zaman penjajahan Belanda, di daerah Kemayoran tinggal seorang pemuda bernama Murtado. Ayahnya adalah mantan kepala kampung (Bek) di daerah tersebut.
Murtado adalah anak yang baik. Ia suka menolong orang yang membutuhkannya. Maka Murtado disenangi oleh penduduk di kampung tersebut. Selain itu, ia tekun menuntut ilmu, baik ilmu agama mau pun ilmu pengetahuan lainnya. Tak ketinggalan, ilmu bela diri juga dipelajarinya hingga ia menjadi seorang jagoan yang rendah hati.
***


Pada waktu itu, keadaan masyarakat di daerah Kemayoran tidak tenteram. Penduduk selalu diliputi rasa ketakutan akibat gangguan dari jagoan-jagoan Kemayoran yang berwatak jahat. Belum lagi pajak yang di tarik oleh Belanda dan Tauke sangat memberatkan. Padahal, sebagian besar penduduk adalah petani miskin dan pedagang kecil-kecilan.

Sebenarnya daerah itu dipimpin oleh orang pribumi yang bernama Bek Lihun dan Mandor Bacan. Namun keduanya telah menjadi kaki tangan Belanda sehingga mereka sangat kejam dan hanya memikirkan keuntungan pribadinya saja.

Pada suatu hari, di kampung Kemayoran diadakan derapan padi (panen/memotong padi). Acara itu boleh dilaksanakan dengan syarat setiap lima ikat padi yang dipotong, satu ikat adalah untuk yang memotong, sedangkan yang empat ikat untuk kompeni. Mandor Bacan ditunjuk mengawasi jalannya upacara itu.

Dalam upacara itu, ada seorang gadis cantik ikut memotong padi. Murtado pun tak ketinggalan ikut di samping gadis ter sebut. Mereka rupanya sudah lama men jalin kasih. Tiba-tiba Mandor Bacan me lihat ke arah gadis itu dan berniat kurang ajar. Niat itu berhasil digagalkan Murtado. Rupa nya Mandor Bacan tidak terima. Lalu terjadi lah perkelahian. Dalam perkelahian itu Murtado memperlihatkan ketinggian ilmu beladirinya, sehingga Mandor Bacan dapat dikalahkan dan lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu kemudian melapor kepada Bek Lihun.

Mendengar laporan mandornya, Bek Lihun menjadi marah. Berbagai upaya di lakukan untuk membunuh Murtado. Namun semua upaya itu dapat digagalkan Murtado. Sampai suatu hari, Bek Lihun mencoba mencelakai kekasih Murtado. Maka hilanglah kesabaran Murtado. Di tendang dan di hajarnya Bek Lihun hingga babak belur. Akhirnya Bek Lihun minta ampun dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Setelah kejadian-kejadian itu, maka mulai insyaflah Bek Lihun. Dia mulai menghargai Murtado.

Ketika itu beberapa gerombolan perampok di bawah pimpinan Warsa mulai mengganas di Kemayoran. Setiap malam mereka merampas harta benda penduduk. Kadang-kadang juga melakukan pembunuhan. Menghadapi hal ini Bek Lihun merasa kewalahan. Bahkan ia berkali-kali mendapat teguran dari kompeni karena tidak dapat menjaga keamanan di kampungnya sehingga pajak-pajak untuk kompeni tidak berjalan lancar.

Bek Lihun akhirnya meminta bantuan kepada Murtado. Murtado yang menyadari bahwa ia juga bertanggung jawab atas keamanan kampung tersebut menyetujui per mohonan Bek Lihun. Bersama dua orang teman nya yang bernama Saomin dan Sarpin, Murtado mencari markas perampok itu di daerah Tambun dan Bekasi, tetapi tidak ditemukan. Kemudian mereka pergi ke daerah Karawang. Di sana gerombolan Warsa dapat dikalahkan. Warsa sendiri mati dalam perkelahian itu. Oleh Murtado dan teman-temannya semua hasil rampokan gerombol an itu diambil dan di bawa kembali ke Kemayoran. Kemudian di kembali kan lagi ke pada pemiliknya masing-masing. Semua rakyat di daerah Kemayoran berterima kasih dan merasa berhutang budi kepada Murtado.

Penguasa Belanda pun sangat menghargai jasa-jasa Murtado. Mereka ingin mengangkatnya menjadi bek di daerah Kemayoran menggantikan Bek Lihun. Tetapi tawaran Belanda ini ditolak Murtado, karena dia tidak ingin menjadi alat pemerintah jajahan. 
“Lebih baik hidup sebagai rakyat biasa tetapi ikut menjaga keamanan rakyat,” gumamnya.
Murtado pun aktif berjuang untuk membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajahan, penindasan, dan pemerasan.

***

Demikianlah Kisah MURTADO MACAN KEMAYORAN dari DKI Jakarta. Kisah ini mengajarkan bahwa orang yang berani menegakkan kebenaran dan keadilan akan selalu berguna bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Sedangkan orang yang jahat seperti Bek Lihun dan Mandor Bacan yang mau bertobat masih dapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya sedangkan perampok Warsa mendapat ganjaran kematian sebagai hukumannya.   (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH PEJUANG UNTUNG SUROPATI

0 komentar

Untung Suropati adalah seorang pejuang yang gagah berani dalam menentang Kompeni Belanda di Indonesia. Kisah perjuangan Untung Suropati yang legendaris itu banyak ditulis dalam bentuk sastra, seperti sastra sejarah, roman, novel, dan bahkan dalam bentuk cerita rakyat.
***

Untung Suropati sebenarnya bukan orang asli Betawi (Lahir : Bali, 1660), tetapi awal perjuangannya menentang penjajah Belanda dimulai dari dari Betawi/Batavia – Jakarta, sehingga saat ini berdiri sebuah TAMAN SUROPATI ditengah-tengah Ibukota DKI Jakarta. 

Taman Suropati (awalnya bernama Burgemeester Bisschopplein) adalah nama sebuah taman di Jakarta. Pada awalnya nama taman ini diambil dari nama wali kota Batavia pertama, G.J. Bisshop (1916–1920). Taman ini merupakan pusat kawasan Menteng, berada tepat di antara pertemuan tiga jalan utama, yaitu Menteng Boulevard (Jalan Teuku Umar), Orange Boulevard (Jalan Diponegoro), dan Nassau Boulevard (Jalan Imam Bonjol). Lapangan yang kini disebut sebagai Taman Suropati ini sejak tahun 1920 sudah menggantikan lapangan bundar yang luas dalam Rencana Moojen. 

Taman Suropati, yang disebut-sebut sebagai titik nol Republik Indonesia, awal perjuangan UNTUNG SUROPATI. 

Taman Suropati menjadi taman yang rindang dan sejak beberapa tahun yang lalu dihiasi dengan patung-patung karya pematung dari negara-negara pendiri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara.  

Dari kecil, Untung Surapati tinggal di rumah seorang perwira VOC bernama, Edelaar Moor sebagai budak suruhan. Semenjak kehadiran Untung Surapati di rumah Moor, karir dan kekayaan Moor meningkat pesat. Namun setelah dewasa, Untung Surapati berani mencintai bahkan menikahi Suzane, putri Moor. Moor murka dan memenjarakan Untung. Meskipun sebenarnya, putrinya juga mencintai Untung Surapati. Dengan kecerdikannya, Untung Surapati berhasil melarikan diri bersama tahanan lainnya dari penjara. Ia kemudian membentuk komplotan untuk membalas sakit hatinya pada orang-orang Belanda.

Untung Surapati dan komplotannya lantas menjarah dan merampok rumah-rumah orang Belanda. Aksi Untung Surapati baru bisa dihentikan setelah Belanda menawarkan sebuah jabatan tinggi di militer pada Untung Surapati. Selama karir militernya, Untung Surapati berhasil menangkap putra Sultan Ageng Tirtayasa, yaitu Pangeran Purbaya. Namun, karena pasukan Belanda memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar, Untung tidak terima, dan membunuh Kapten Tack beserta 70 orang pasukannya.

Untung Surapati kemudian mendirikan sebuah kerajaan di Pasuruan, Jawa Timur. Setelah menjadi raja, Untung Surapati lebih dikenal dengan sebutan Adipati Aria Wiranegara. Belanda kemudian menyerang kerajaan Pasuruan secara besar-besaran. Setelah mempertahankan Pasuruan mati-matian, akhirnya Untung Surapati tewas dalam pertempuran itu (Wafat : Bangil, 5 November 1706).

* * *
Pada zaman dahulu, ada seorang anak lelaki berusia tujuh tahun yang tidak diketahui nama aslinya. Anak itu seorang budak belian berasal dari Bali yang ditemukan oleh Kapten van Beber (perwira VOC) ketika bertugas di Makassar, Sulawesi Selatan). Sang Kapten kemudian menjual budak itu kepada Perwira Moor yang berada di Batavia (kini Jakarta) karena kekurangan uang. 

Sejak anak itu menjadi budaknya, karir dan kekayaan Perwira Moor meningkat pesat. Ia menganggap budak itu telah membawa keberuntungan dalam hidupnya, sehingga diberinya nama si Untung.

Perwira Moor adalah seorang duda dan mempunyai seorang putri yang seusia dengan Untung. Nama putri itu adalah Suzanne. Perwira Moor membeli Untung agar putrinya yang sudah piatu itu mempunyai teman bermain dan bersenda gurau setiap hari. Untung adalah anak yang pandai bergaul, sehingga dalam waktu singkat ia sangat akrab dengan Suzanne. Sejak itu, mereka selalu bersama, baik dalam suka maupun duka. Kedekatan itu rupanya menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka hingga akhirnya terjalin hubungan asmara tanpa sepengetahuan ayah Suzanne.

Ketika berusia dua puluh tahun, Untung menikahi Suzanne secara diam-diam. Namun, hubungan cinta terlarang mereka tidak berlangsung lama karena terlanjur diketahui oleh ayah Suzanne. Hal itulah membuat Perwira Moor menjadi murka.

Suzanne pun dibuang ke sebuah pulau di dekat Betawi, sedangkan Untung dicebloskan ke dalam penjara.

Sejak itulah, kebencian Untung terhadap Kompeni Belanda semakin menjadi-jadi. Di dalam penjara, ia berusaha menarik hati para tawanan lainnya. Suatu ketika, Untung mempunyai ide untuk melarikan diri dari penjara. Ide itu kemudian ia sampaikan kepada tawanan lainnya.
”Wahai, saudara-saudara sebangsa dan setanah airku! Kompeni Belanda tidak bisa lagi dibiarkan terus menjajah kita. Kita harus keluar dari penjara ini dan segera mengusir mereka dari tanah air tercinta ini!” ajak Untung.
Para tawanan lainnya hanya terperangah mendengar ide Untung. Mereka menanggap bahwa ide itu hanyalah impian belaka.
  • ”Hai, anak muda! Bagaimana mungkin kita bisa melarikan diri penjara ini? Bukankah penjara ini dijaga ketat oleh serdadu Belanda yang dilengkapi senjati api?” sahut seorang tawanan lainnya.
  • ”Tenang saudara-saudaraku,” ujar Untung, 
  • ”aku akan melengkapi kalian dengan senjati api. Aku mempunyai uang tabungan yang dapat kita gunakan membeli senjata api.”
Mendengar penjelasan itu, para tawanan lainnya pun setuju. Dengan berbagai cara, mereka berhasil mendapatkan senjata api. Akhirnya, terjadilah pemberontakan dari dalam penjara. Dengan dilengkapi senjata api, Untung bersama tawanan lainnya mengamuk dan berhasil mendobrak pintu penjara. Sipir (penjaga penjara) yang tidak mampu memadamkan amukan mereka segera meminta bantuan dengan mendatangkan serdadu perang Belanda. Karena jumlah mereka sangat banyak, akhirnya Untung dan teman-temannya terdesak dan melarikan diri ke dalam hutan. Di dalam hutan, ia menghimpun kekuatan untuk mengganggu Kompeni Belanda.

Untung bersama pasukannya membuat onar ketika malam hari dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya tiba di Keraton Banten. Untung segera menghadap Sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, dan menceritakan sepak terjangnya dalam menentang Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian menasehati agar Untung pergi menghadap Sultan Cirebon.
”Pergilah ke Cirebon dan mintalah perlindungan kepada Sultan Cirebon!” ujar Sultan Banten.
Akhirnya, Untung dan pasukannya berangkat ke Cirebon. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Raden Suropati, anak angkat Sultan Cirebon.
”Hai, siapa kalian dan apa maksud kedatangan kalian kemari?” tanya Raden Suropati.
Untung kemudian menceritakan keinginannya menghadap Sultan Cirebon. Raden Suropati bersama pengawalnya bersedia mengantar Untung menghadap ayahandanya.
”Baiklah! Kami akan mengantar kalian menghadap sultan, tapi dengan syarat kalian harus menyerahkan semua senjata kalian kepada kami!” ujar Raden Suropati.
Untung menyanggupi persyaratan itu, kecuali senjata miliknya yang berwujud patrem. Dia tidak mau menyerahkannya kepada Raden Suropati. Rupanya, Raden Suropati tidak menerima hal itu. Ia menginginkan agar Untung menyerahkan juga senjatanya. Karena Untung tetap bersikukuh mempertahankan senjatanya, akhirnya terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Untung dan pasukan Raden Suropati. Pertempuran tersebut dimenangkan oleh pasukan Untung, sedangkan Raden Suropati tewas terkena senjata Untung.

Setelah itu, Untung dan pasukannya melanjutkan perjalanan menuju Keraton Cirebon. Setibanya di Keraton, Untung menceritakan semua peristiwa yang telah menimpa Raden Suropati. Mendengar kabar itu, Sultan Cirebon tidak marah dan menerima Untung dengan baik. Bahkan, sang Sultan memberikan nama ”Suropati” itu kepada Untung.

Sejak itulah, budak belian itu bernama Untung Suropati.

Setelah beberapa lama Untung tinggal di Cirebon, sang Sultan menasehatinya agar pergi ke Mataram untuk mengabdi kepada Kanjeng Sunan Mangkurat II di Kartasura. Setibanya di Kartasura, Untung menyampaikan keinginannya untuk mengabdi kepada Kanjeng Sunan Mangkurat.
”Aku akan menerimamu mengabdi kepadaku, tapi dengan syarat kamu harus memadamkan pemberontakan yang sedang berkobar di Banyumas,” ujar Kanjeng Sunan Mangkurat.
Tanpa berpikir panjang, Untung Suropati menerima persyaratan itu. Ia bersama pasukannya segera berangkat ke Banyumas. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan, Untung kembali ke Kartasura dan diangkat menjadi pemimpin pasukan. Sementara itu, Kompeni Belanda yang mendengar kabar tentang keberadaan Untung Suropati di Kartasura segera mengirim pasukannya untuk menangkap Untung Suropati.

Pada suatu hari, seorang mata-mata datang dengan tergopoh-gopoh menghadap Kanjeng Sunan Mangkurat II.
”Ampun Kanjeng Sultan! Pasukan Belanda sedang menuju kemari. Mereka datang dengan persenjataan lengkap,” lapor mata-mata itu.
Mendengar kabar itu, Sultan Kanjeng Sunan Mangkurat II segera memanggil Untung Suropati untuk menghadap.
  • ”Hai, Untung Suropati! Pimpinlah pasukanmu untuk menghadang Kompeni Belanda!” seru Kanjeng Sultan.
  • ”Baik, Kanjeng!” jawab Untung Suropati seraya memberi hormat.
Setelah menyiapakan seluruh pasukannya, Untung Suropati segera berangkat ke wilayah perbatasan Kartasura. Begitu pasukan Belanda memasuki wilayah Kartasura, Untung Suropati dan pasukannya segera menghadang mereka. Pertermpuran sengit pun tak terhindarkan lagi. Dalam pertempuran itu, pasukan Untung Suropati dibantu Pangeran Puger yang dikirim oleh Kanjeng Sultan Mangkurat II.

Pangeran Puger dibekali keris pusaka keraton Kanjeng Kyai Plered dan mengenakan pakaian yang mirip dengan pakaian Untung Suropati. Dengan begitu, Kapiten Belanda tak akan mengira bahwa yang dihadapinya adalah Untung Suropati. Dengan keris pusaka Kanjeng Kyai Plered, Pangeran Puger berhasil menghabisi nyawa Kapitan Tar. Sementara pasukan Kapitan Tar yang masih tersisa dihabisi oleh Untung Suropati dan pasukannya.

Setelah berhasil menghadang kedatangan Belanda, Untung Suropati kembali diperintahkan oleh Sultan Mangkurat II untuk merebut Pasuruan. Ia dan pasukannya pun berhasil mengalahkan Bupati Pasuruan yang bernama Anggajaya.

Akhirnya, Untung Suropati diangkat menjadi Adipati Pasuruan dengan gelar Adipati Wiranegara.

Selama menjadi adipati, Untung Suropati senantiasa membangkitkan semangat juang rakyatnya dalam menentang Kompeni Belanda. 

Sudah beberapa kali pemerintah Belanda berusaha menumpas perjuangannya, namun beberapa kali pula mereka mengalami kegagalan. Sementara itu di Kartasura, Sultan Amangkurat II telah wafat, sehingga terjadilah perebutan tahta antara Pangeran Puger dengan Amangkurat III. Untuk merebut tahta tersebut, Pangeran Puger pun berkhianat dan memihak kepada Kompeni Belanda. Akhirnya, dengan bantuan Kompeni Belanda, ia berhasil mengalahkan Amangkurat III. Ia pun dinobatkan menjadi susuhunan dengan nama Pakubuwana I Kartasura atas dukungan Kompeni Belanda. 

Sementara Amangkurat III yang diusir dari Kartasura segera mencari perlindungan kepada Untung Suropati di Pasuruan. Setahun kemudian, gabungan pasukan Belanda, Kartasura, Madura, dan Surabaya di bawah pimpinan Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran sengit pun terjadi di benteng Bangil. Dalam pertempuran itu, pasukan Pasuruan terdesak, sedangkan Untung Suropati mengalami luka berat hingga akhirnya wafat.

Demikianlah perjuangan Untung Suropati dalam menentang penjajah Belanda, dimulai dari seorang budak belian hingga menjadi adipati. Perjuangannya menentang Kompeni Belanda kemudian dilanjutkan oleh putra-putranya dengan gagah berani yang dilandasi semangat pantang menyerah.

* * *

Demikian Kisah Pejuang Untung Suropati dari DKI Jakarta. Menurut cerita, sebelum wafat, Untung Suropati pernah berwasiat agar kematiannya dirahasiakan. Hingga kini, letak makamnya belum diketahui secara pasti. Namun, dapat ditemukan sebuah petilasan berupa gua di Pendukuhan Mancilan, Kota Pasuruan, Jawa Timur, yang dipercaya sebagai tempat persembunyiannya ketika dikejar oleh Kompeni Belanda.

Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa Untung Suropati adalah seorang pejuang sejati dan kesatria pemberani. Ia rela berkorban demi membela bangsa dan negaranya dari penjajah. Atas jasa-jasa dan perjuangannya menentang Kompeni Belanda, Untung Suropati dianugerahi gelar Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia dari Pemerintah Indonesia pada tahun 1975. Sifat kesatria sebagaimana yang ditunjukkan oleh Untung Suropati tersebut sangatlah diperlukan dalam kehidupan manusia.   (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KESOMBONGAN SI ANGKRI JAGOAN TANJUNG PRIOK

0 komentar

Si Angkri adalah seorang pendekar silat yang sakti tapi sombong dari Tanjung Priok, Jakarta Utara. Dengan kesaktian yang dimiliki, ia selalu bertindak semena-mena. Tak seorang pun penduduk sekitar yang berani melawan, apalagi menghentikan kesewenangannya. Suatu malam, ia bersama dua orang pembantunya mencuri barang-barang pecah belah dan kain sutra di gudang milik seorang opsinder (pengawas) yang bernama Bloomekomp. Saat mengetahui perbuatan Angkri dan anak buahnya tersebut, opsinder Bloomekomp meminta bantuan kepada kepala opas (agen polisi) dan bek (kepala kampung) untuk menangkap Angkri dan anak buahnya.
***

Dahulu pada masa kolonial Belanda berkuasa di Bumi Pertiwi Indonesia, di  pelabuhan Batavia Lama atau kini dikenal dengan pelabuhan Tanjung Priok merupakan salah satu pusat keramaian di daerah Jakarta Utara. Setiap hari kapal-kapal pedagang dari dalam maupun luar daerah silih berganti berlabuh di pelabuhan tersebut untuk melakukan bongkar muat berbagai jenis barang dagangan seperti hasil bumi, barang pecah belah, kain sutra, dan sebagainya. Barang-barang dagangan tersebut kemudian disimpan di dalam gudang-gudang yang ada di kawasan pelabuhan Tanjung Priok.

Pada masa itu, pusat-pusat keramaian di Jakara Utara dikuasai oleh jagoan-jagoan silat. Pelabuhan Tanjung Priok sebagai salah satu pusat keramaian di daerah itu kebetulan dikuasai oleh seorang jagoan bernama Angkri dan dua orang pembantunya yaitu Bai dan Madun. Ke mana pun pergi, Angkri selalu mengenakan pakaian hitam-hitam, ikat kepala, gelang akar bahar di kedua lengannya, dan beberapa cincin batu akik yang besar bertengger di jari-jari tangannya. Selain itu, di pinggang Angkri dan anak buahnya juga selalu terselip golok yang amat tajam. Tidak mengherankan jika mereka amat ditakuti oleh penduduk sekitar, terutama mereka yang tinggal di sekitar pasar ikan.

Pada suatu siang, sebuah kapal besar sedang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal besar itu membawa barang dagangan berupa pecah belah dan kain sutra. Barang-barang dagangan tersebut diturunkan dari kapal dan kemudian disimpan di dalam gudang milik seorang opsinder Bloomekomp.
Mengetahui hal itu, Angkri bersama kedua anak buahnya segera menyusun siasat secara diam-diam. Mereka bermaksud mencuri barang-barang dagangan tersebut. Sambil menunggu malam larut, mereka bermain kartu tidak jauh dari gudang yang akan menjadi sasarannya.

Ketika suasana di sekitar gudang mulai sepi, Angkri dan kedua anak buahnya segera bertindak. Dengan penuh kehati-hatian, mereka menjebol kunci pintu gudang itu dan menyelinap masuk ke dalam gudang. Bai dan Madun dengan cepat memasukkan sejumlah barang-barang pecah belah dan kain sutra ke dalam wadah yang mereka bawa. Sementara itu, Angkri berjaga-jaga di dekat pintu sambil mengawasi kalau-kalau ada orang yang memergoki mereka.
Setelah wadah mereka penuh dengan barang-barang berharga tersebut, Angkri dan kedua anak buahnya segera meninggalkan gudang itu. Mereka menyusuri lorong-lorong di sekitar rumah penduduk menuju ke arah barat Kota Intan.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali opsinder Bloomekomp hendak mengecek barang-barang dagangannya ke dalam gudang. Alangkah terkejutnya ia saat melihat kunci pintu gudangnya telah dirusak orang.
“Hai, siapa yang telah merusak pintu gudangku?” gumamnya dengan perasaan cemas.
Begitu masuk ke dalam gudang, opsinder Bloomekomp menjadi marah dan geram karena sebagian barang dagangannya hilang. Ia pun segera melapor kepada kepala opas yang berjaga di kawasan pelabuhan tersebut. Mendengar laporan tersebut, kepala opas bersama anak buahnya segera melakukan penyelidikan. Dalam waktu tidak beberapa lama, mereka pun dapat mengetahui bahwa pelaku pencurian itu adalah Angkri dan kedua anak buahnya. Kepala opas kemudian menghubungi Bek Kasan (kepala kampung Kasan) dan tiga orang anggota keamanan untuk mencari tahu keberadaan ketiga pencuri tersebut.
  • “Apakah kalian tahu ke mana biasanya Angkri dan kawan-kawannya pergi?” tanya kepala opas kepada ketiga anggota keamanan tersebut.
  • “Saya tahu, Pak,” sahut salah seorang anggota keamanan, 
  • “Kalau bukan ke Pasar Ikan, mereka biasanya ke Kampung Kapal Rusak.” 
Mendengar keterangan itu, kepala opas, Bek Kasan serta ketiga anggota keamanan tersebut segera mencari Angkri dan kawan-kawannya di kedua tempat tersebut. Namun, Angkri dan kawan-kawannya tidak mereka temukan.
“Ke mana lagi kita harus mencari mereka?” tanya kepala opas bingung.
Bek Kasan dan ketiga anggota keamanan itu hanya diam karena mereka juga bingung. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mencari keterangan kepada warga sekitar dan usaha itu pun membuahkan hasil. Menurut keterangan beberapa warga bahwa Angkri dan kawan-kawannya sedang berada di sebelah barat Kota Intan, dekat laut menuju ke Kamal.
  • “Wah, mereka pasti akan pergi ke Kamal membawa barang-barang curian itu,” celetuk kepala opas.
  • “Kalau begitu, sebaiknya kita langsung saja ke sana sebelum mereka meninggalkan Kota Intan,” ujar Bek Kasan.
Meskipun hari sudah mulai gelap, kepala opas dan rombongannya terus melakukan pengejaran untuk menangkap Angkri dan kawan-kawannya.

Sementara itu, Angkri dan kedua anak buahnya sedang memasuki rumah teman lama mereka yang bernama Pak Ocin. Kebetulan pada saat itu, Kasun bersama istrinya Mujenah sedang bertamu di rumah itu. Kasun adalah teman lama mereka juga. Angkri bermaksud menitipkan barang-barang curiannya kepada Pak Ocin.
  • “Hai, Ocin!” seru Angkri, 
  • “Saya mau titip barang ini di rumahmu. Besok pagi saya akan kembali mengambilnya. Saya mau mencari kapal dulu.”
Mengetahui bungkusan yang dibawa oleh kedua anak buah Angkri itu berisi barang-barang curian, Pak Ocin menolak untuk dititipi bungkusan tersebut.
  • “Tidak bisa, Kri,” jawab Pak Ocin.
  • “Apa katamu, Cin?” gertak Angkri.
Bai dan Madun pun mulai jengkel melihat sikap Pak Ocin. Karena itu, keduanya bermaksud mencabut golok mereka yang terselip di pinggang untuk menghajar Pak Ocin.
“Sabar, Dun! Sabar, Bai! Jangan kalian lakukan itu. Bukankah kita semua adalah teman lama,” ujar Kasun untuk menenangkan mereka.
Baru saja kata-kata itu keluar dari mulut Kasun, tiba-tiba sebuah tamparan keras dari Angkri mendarat
di pelipis kanannya.
“Rasakanlah itu bagianmu, Sun!” seru Angkrik.
Merasa dilecehkan Kasun langsung naik pitam sehingga perkelahian pun tidak terelakkan. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, Kasun berupaya untuk menghadapi Angkri dan kedua anak buahnya.
Melihat perkelahian itu, istri Kasan berteriak meminta tolong. Para tetangga yang mendengar teriakan itu, tidak berani datang menolong karena mereka sudah tahu siapa pembuat keributan tersebut. Mereka lebih baik pura-pura tidak mengetahui peristiwa itu daripada memberi pertolongan. Salah-salah merekalah bisa kena bacokan golok tajam si Angkri.

Sementara itu, perkelahian antara Kasun dengan Angkri dan anak buahnya masih berlangsung seru. Namun, karena dikeroyok oleh tiga orang jagoan silat, Kasun akhirnya roboh dan mukanya babak belur sehingga tidak bisa lagi melanjutkan pertarungan. Angkri dan anak buahnya pun bergegas meninggalkan rumah Pak Ocin dengan membawa barang-barang curian mereka.

Tak berapa lama setelah peristiwa itu, kepala opas dan rombongannya pun tiba di rumah Pak Ocin.
  • “Hai, Kasun. Siapa yang membuat wajahmu babak belur begitu?” tanya Bek Kasan heran.
  • “Angkri dan anak buahnya, Bek Kasan,” sahut Pak Ocin.
  • “Di mana mereka sekarang?” tanya kepala opas sudah tidak sabar ingin menghajar mereka.
  • “Mereka baru saja pergi. Kira-kira lima menit yang lalu,” jawab Pak Ocin.
  • “Baiklah, kalau begitu,” kata kepala opas, “Pak Ocin, tolong kamu obati luka Pak Kasun! Kami akan mengejar mereka.”
Tidak begitu sulit kepala opas dan rombongannya menemukan mereka karena Angkri dan anak buahnya sedang membawa bungkusan yang cukup berat.
“Hai kalian, berhenti!” teriak kepala opas saat melihat Angkri dan anak buahnya.
Angkri dan anak buahnya berusaha mempercepat larinya, namun rombongan kepala opas telah mencegatnya. Kepala opas dan tiga orang anggota keamanan segera meringkus Bai dan Madun yang sudah tidak berdaya karena kelelahan. Sementara itu, Bek Kasan menantang Angkri untuk berkelahi. Angkri pun menerima tantangan itu.
“Hai, Bek Kasan. Ilmu silatmu tidak ada apa-apanya dengan ilmu silatku. Majulah kalau memang kamu berani menantangku!” seru Angkri dengan sombongnya. 
Pertarungan sengit pun tak terelakkan. Mulanya pertarungan itu berlangsung dengan tangan kosong. Namun, ketika mulai kewalahan menghindari serangan Bek Kasan yang datang bertubi-tubi, Angkri segera mencabut goloknya. Begitu ia hendak mengayunkan goloknya, tiba-tiba sebuah tendangan keras dari Bek Kasan mengenai tangannya. Golok yang ada di genggamannya pun terpental. Akhirnya, Angkri terpaksa kembali menggunakan tangan kosong sambil mengeluarkan jurus-jurus pamungkasnya. Dengan jurus pamungkas itu, ia berhasil mengenai tubuh Bek Kasan hingga jatuh terletang di atas sebuah batu besar. Angkri pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat, ia meloncat dan menghunjamkan kedua lututnya ke arah perut Bek Kasan. Tanpa diduga, ternyata Bek Kasan lebih cepat menggulingkan badannya ke arah kanan sehingga kedua lutut Angkri menghunjam batu besar itu. Tak ayal, kedua lututnya patah sehingga tidak mampu lagi berdiri.

Melihat Angkri tidak berdaya, Bek Kasan segera memegang kepala dan menarik rambut musuhnya itu dari belakang.
“Ampun…! Ampun…, Bek Kasan! Saya mengaku kalah,” teriak Angkri memohon ampun.
Akhirnya, Angkri si jagoan dari Tanjung Priok itu menyerah. Ia kemudian diborgol dan dibawa ke kantor opas di di Kota Intan untuk selanjutnya disidang. Berdasarkan keputusan hakim, Angkri dan kedua anak buahnya dihukum atas tuduhan mencuri barang milik opsinder Bloomekomp. Bai dan Madun dihukum penjara beberapa tahun, sedangkan Angkri sebagai kepala perampok mendapat hukuman gantung.
Sejak itu, kawasan pelabuhan Tanjung Priok menjadi aman. Para pedagang maupun nelayan dapat melaksanakan pekerjaan sehari-hari mereka tanpa dihantui perasaan takut mendapat gangguan dari Angkri dan anak buahnya.

* * *

Demikian kisah KESOMBONGAN SI ANGKRI JAGOAN TANJUNG PRIOK dari DKI Jakarta. Pesan moral yang dipetik dari cerita di atas adalah orang yang sombong karena ketinggian ilmunya pada akhirnya binasa juga. Demikian pula Angkri yang sombong karena merasa ilmunya paling sakti pada akhirnya menyerah menghadapi Bek Kasan. Akibat perbuatannya, ia pun dijatuhi hukuman gantung.   (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

SI JAMPANG PERAMPOK BUDIMAN DARI BETAWI

0 komentar

Si Jampang adalah pendekar legendaris dari Betawi yang dikenal sebagai “Perampok Budiman Dari Betawi”. Dengan kepiawaiannya bermain silat, ia kerap merampok harta milik tuan-tuan tanah maupun orang kaya yang tamak di seantero Betawi. Lalu, hasil rampokannya dibagi-bagikan kepada rakyat jelata. Bagi, tuan tanah dan orang kaya, si Jampang adalah momok yang menakutkan. Namun, ia merupakan sosok pahlawan bagi rakyat kecil.
***
Dahulu di tanah Betawi ada seorang pendekar legendaris yang dijuluki sebagai “Perampok Budiman Dari Betawi ”. Ia adalah si Jampang yang terkenal tampan, gagah perkasa, dan sakti. Nama si Jampang diambil dari nama daerah asal ibunya yaitu daerah Jampang di Sukabumi, Jawa Barat. Ayahnya berasal dari Banten.

Si Jampang dan istrinya tinggal di daerah Grogol (sekarang wilayah Jakarta Barat). Mereka hidup berbahagia dan dikaruniai anak laki-laki yang sering dipanggil si Jampang Muda. Namun, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Saat anak mereka mulai beranjak remaja, istri si Jampang meninggal dunia karena sakit. Sejak itulah, si Jampang hidup menduda dan merawat anak semata wayangnya seorang diri. Karena ingin melihat anaknya menjadi anak saleh dan berguna bagi masyarakat, ia pun menitipkannya ke pondok pesantren.

Sejak itu, sang anak lebih tinggal di pondok pesantren. Terkadang, ia pulang menemui sang ayah jika memerlukan uang pembayaran sekolah dan untuk biaya hidup. Si Jampang merasa kesepian. Dari situlah muncul pikirannya ingin membantu rakyat Betawi yang menderita akibat mendapat tekanan dari para tuan tanah dan para orang kaya yang kikir.
“Ah, lebih baik aye rampok harta mereka untuk aye bagikan kepada rakyat jelata,” pikirnya.
Si Jampang pun mulai merampok harta benda para tuan tanah dan orang-orang kaya di daerah Grogol. Mereka yang menjadi korbannya pun murka kepadanya. Namun, rakyat justru senang karena sering mendapat bagian harta hasil rampokan si Jampang. Sejak itulah, ia terkenal sebagai perampok dan menjadi buah bibir warga, tidak terkecuali di kalangan para kyai dan santri di pondok pesantren. 

Hal itu membuat si Jampang Muda malu karena sepak terjang ayahnya. Suatu ketika, anak si Jampang pulang ke rumah dengan membawa semua pakaiannya.
  • “Hai, Tong! Kenapa pakaianmu kamu bawa pulang semua?” tanya si Jampang kepada anaknya.
  • “Aye tidak mau mengaji lagi, Be,” jawab sang anak, 
  • “Aye malu sekali.”
  • “Malu kenapa, Tong?” tanya sang Ayah.
  • “Bukankah Babe keturunan Banten? Biasanya orang-orang Banten itu alim. Tapi, Babe kok malah suka merampok? Semua orang di pesantren membicarakan Babe. Aye kan malu,” kata sang anak dengan perasaan kecewa.
  • “Hai, Tong. Kamu tidak perlu menasehati Babe seperti itu. Katakan saja apa maumu,” kata si Jampang.
  • Anak si Jampang hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu berkata kepada ayahnya.
  • “Pokoknya, aye tidak mau mengaji lagi,” tegas anak si Jampang.
  • “Payah, kamu Tong. Tadi memberi nasihat seperti kyai, tapi sekarang malah tidak mau mengaji lagi. Kamu mau jadi apa? Mau jadi perampok seperti ayah?” tanya sang Ayah.
  • Anak itu kembali menggeleng-gelengkan kepala. Ia benar-benar kecewa dengan perilaku ayahnya.
  • “Jadi, maumu apa, Tong? Mau menikah?” desak sang ayah yang mulai kesal.
  • “Tidak, Be. Babe saja yang menikah biar tidak kesepian lagi,” ujar sang anak.
Mendengar perkataan anaknya, si Jampang tertawa terbahak-bahak. 
  • “Oh, kamu mau ibu lagi?” kata sang Ayah, 
  • “Baiklah, kalau begitu. Babe akan mencarikanmu ibu yang baru.”
Sang anak hanya terdiam. Sementara itu, si Jampang langsung teringat pada seorang janda bernama Mayangsari yang mempunyai seorang anak bernama Abdih. Janda itu adalah mantan istri Sarba, sahabatnya sejak kecil ketika mereka masih tinggal di Banten.

Suatu hari, si Jampang menyambangi rumah janda itu. Ciput, pembantu Mayangsari, ketakutan melihat kedatangan si Jampang yang terkenal sebagai perampok itu.
“Ah, jangan-jangan si Jampang ingin merampok di rumah ini,” pikirnya.
Ciput pun terlihat gugup saat menyambut kedatangan si Jampang.
  • “Ma... Maaf, Tuan Jampang. Ada apa gerangan Tuan ke mari?” tanya Ciput.
  • “Saya kemari ingin bertemu dengan tuan kamu,” jawab si Jampang. “Apakah ada?”
  • “Ada, Tuan,” jawab Ciput, “Silakan duduk dulu, akan saya panggilkan.”
Tak berapa lama, Mayangsari pun keluar menemui si Jampang. Ia lalu menceritakan perihal penyebab suaminya meninggal dunia.
  • “Dulu, kami ziarah ke makam di Gunung Kepuh Batu. Di sana, Bang Sarba bernazar akan menyumbang sepasang kerbau ke makam itu jika dikaruniai anak. Namun, setelah kami mempunyai anak laki-laki bernama Abdih, Bang Sarba lupa pada nazarnya. Kata orang, hal itulah penyebab kematian Bang Sarba,” cerita Mayangsari.
  • “Aye jadi bingung karena Abdih sedang sekolah di Bandung dan membutuhkan biaya yang banyak. Padahal, aye sendiri hanya ibu rumah tangga. Untung Bang Sarba meninggalkan sedikit warisan yang bisa membantu biaya sekolah Abdih,” lanjutnya.
  • “Kamu tidak usah bingung memikirkan Abdih. Nanti aye yang mengurusnya,” ujar si Jampang.
  • “Apa maksudmu?” tanya Mayangsari.
  • Si Jampang tersenyum lalu menjelaskan maksudnya kepada Mayangsari.
  • “Begini, Mayang. Kamu kan janda, sedangkan aye seorang duda. Akan lebih baik jika kita menikah saja,” ujar si Jampang.
Mendengar perkataan itu, Mayangsari menjadi tersinggung karena ia tahu benar sifat dan perilaku si Jampang. Ia tidak sudi menikah dengan seorang perampok.
“Hai, Jampang. Jika mau menikah, menikahlah dengan orang lain!” cetus Mayangsari, “Aye lebih baik tetap menjanda daripada menikah dengan perampok.”
Mendengar perkataan itu, si Jampang sangat malu sekali. Ia pun cepat-cepat pergi dari rumah itu. Namun, dalam hatinya berkata bahwa dirinya tetap bertekad ingin memperistri janda itu. Saat itu pula, ia langsung ke rumah Sarpin, keponakannya yang sering diajak merampok bersamanya.
  • “Pin, aye perlu dukun,” ungkap si Jampang.
  • “Untuk apa, Mang ?” tanya Sarpin bingung.
Si Jampang pun menceritakan perihal yang baru saja dialaminya di rumah Mayangsari.
  • “Aye harus menikahinya, Pin. Untuk itulah, aye perlu dukun untuk meluluhkan hatinya,” ujar si Jampang.
  • “Oh, aye tahu dukun yang ampuh, Mang. Namanya Pak Dul dari Kampung Gabus,” kata Sarpin.
Hari itu juga, si Jampang ditemani Sarpin pergi ke Kampung Gabus. Setiba di rumah Pak Dul, ia pun menyampaikan maksud hatinya.
“Pak Dul, tolong aye. Aye minta guna-guna agar Mayangsari tergila-gila pada aye,” pinta si Jampang seraya memberi imbalan kepada Pak Dul.
Dukun itu kemudian memberikan ilmu guna-guna kepada si Jampang. Mayangsari pun menjadi gila terkena guna-guna si Jampang. Ia sering tertawa sering dan memanggil-manggil nama si Jampang. Abdih yang baru pulang dari Bandung amat heran melihat perilaku ibunya.
  • “Kenapa Ibu jadi begini, Put?” tanya Abdih kepada pembantunya.
  • “Barangkali gara-gara si Jampang. Dia pernah ke mari hendak melamar, tetapi ditolak,” jawab Ciput.
  • “Wah, benar. Ini pasti diguna-guna oleh si Jampang. Lihat saja, ibu selalu memanggil-manggil namanya,” imbuh Abdih.
Abdih sedih melihat kondisi ibunya. Ia pun segera mencari keterangan mengenai dukun yang dapat menyembuhkan ibunya. Akhirnya, Abdih pun menemukan Pak Dul dari Kampung Gabus. Tanpa berpikir panjang, ia segera ke rumah dukun itu untuk meminta bantuan. 

Sang Dukun pun menyanggupi permintaan Abdih. Karena dia sendiri yang membuat guna-guna itu, makan ia pun dapat mencabutnya dengan mudah. Seketika itu juga, Mayangsari sembuh dan tidak ingat lagi kepada si Jampang.

Keesokan harinya, Abdih pergi menemui si Jampang di rumahnya untuk membalas dendam. Namun, saat bertemu pendekar sakti itu, ia malah takut sendiri melihat tampangnya. Ia pun terpaksa bicara baik-baik kepada si Jampang agar tidak lagi mengganggu ibunya. 
  • “Apa katamu? Aku tidak boleh menikahi ibu?” ujar si Jampang, 
  • “Bisa tidak bisa, aku harus menikah dengan ibumu!” gertak si Jampang.
Abdih semakin ketakutan melihat sikap nekad si Jampang. Ia pun segera mencari akal agar si Jampang tidak jadi menikah dengan ibunya.
  • “Bukannya tidak boleh menikahi ibuku, Mang. Tapi, ada syaratnya,” kata Abdih.
  • “Apa syarat itu, Abdih? Cepat katakan!” desak si Jampang.
  • “Mang Jampang harus menyerahkan sepasang kerbau sebagai mas kawinnya,” jawab Abdi.
Abdi tahu bahwa si Jampang tidak akan mungkin memenuhi syarat itu. Maka, sebab itulah ia mengajukan persyaratan itu. Tapi, bagi si Jampang, tidak ada yang sulit baginya.
“Baiklah, Abdih. Kembalilah ke rumahmu! Syaratmu akan segera kupenuhi,” kata si Jampang.
Abdi pun kembali ke rumahnya dengan perasaan cemas. Jika memang benar si Jampang dapat memenuhi syarat itu, maka dirinya pun akan memiliki bapak tiri seorang perampok. Sementara itu, si Jampang kebingungan untuk memperoleh kerbau. Harga kerbau sangat mahal, sementara dia tidak mempunyai uang. Setelah berpikir sejanak, ia pun teringat pada Haji Saud, seorang kaya raya yang tinggal di daerah Tambun. Sepasang kerbau bagi Haji Saud bukanlah berarti apa-apa.


Suatu malam, si Jampang bersama Sarpin menuju ke rumah Haji Saud dengan memakai topeng dan membawa golok. Keduanya berhasil mencuri sepasang kerbau milik Haji Saud dengan mudah. Namun, ketika mereka akan keluar pintu desa, puluhan anggota polisi telah mengepung. Para anggota polisi tersebut menodongkan senapan laras panjang. Si Jampang dan Sarpin pun tidak bisa berbuat apa-apa.

Mereka akhirnya dimasukkan ke dalam penjara dan si Jampang sebagai gembong perampok dihukum mati. Mendengar kabar tersebut, para tuan tanah dan orang-orang kaya merasa gembira. Sebaliknya, rakyat amat bersedih. Bagi mereka, si Jampang bukan sekedar perampok, tapi ia merupakan pahlawan.

* * *

Demikian SI JAMPANG PERAMPOK BUDIMAN DARI BETAWI dari Jakarta. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang suka merampok seperti si Jampang akan mendapatkan balasannya. Jika ia merampok harta milik orang-orang kaya kikir demi membantu rakyat jelata, hal itu pun masih tidak bisa dibenarkan apalagi jika ia mencuri untuk kepentingan pribadi, maka akan mendapat celaka sebagai ganjarannya. Dan satu kesalahan fatal yang dilakukan oleh si Jampang yang di benci oleh TUHAN YANG MAHA ESA adalah perbuatan musyrik dengan memakai dukun untuk memaksakan keinginannya kepada orang lain.

Meskipun begitu, si Jampang masih tetap di ingat masyarakat Betawi sebagai pahlawan rakyat kecil sebagai “Perampok Budiman Dari Betawi ”, mungkin karena pemahaman bijaksana sebagaimana adat orang Betawi yang pemaaf dan ramah-tamah, sehingga satu kesalahan kecil tersebut tidak menodai citranya sebagai pahlawan rakyat kecil.   (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

PANGERAN CODET Asal Mula Nama Kampung Condet Dan Kampung Gedong

0 komentar

Kampung Condet yang menjadi Kelurahan Balekambang dan Kampung Gedong yang menjadi Kelurahan Batuampar, sebuah daerah yang terletak di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, ternyata menyimpan sebuah legenda, dimana kedua wilayah kelurahan tersebut masih menjadi satu wilayah dengan nama CONDET.
Dahulu, Condet adalah milik rakyat. Namun, sejak penjajah masuk ke wilayah Betawi, daerah Condet
dan sekitarnya dikuasai oleh seorang tentara Belanda yang bernama Jan Ament. Ia adalah seorang
yang suka bertindak sewenang-wenang, sehingga wilayah Condet menjadi terbagi dua.
Oleh karena itu, masyarakat Condet pun melakukan perlawanan terhadap Jan Ament.

* * *

Pada pertengahan abad ke-18 M., di tanah Betawi ada seorang pangeran yang kaya-raya bernama Pangeran Geger. Masyarakat sekitar lebih akrab memanggilnya dengan nama Pangeran Codet karena terdapat bekas luka di dahinya. 

Wilayah kekuasaan sang pangeran meliputi daerah yang kini dikenal sebagai wilayah Codet di Jakarta Timur. Pangeran Codet memiliki istri bernama Polong dan lima orang anak. Salah satunya adalah Maemunah yang memiliki paras yang cantik nan rupawan. Tidak mengherankan jika banyak bangsawan yang datang melamarnya.

Suatu hari, datanglah seorang pemuda tampan dan gagah perkasa bernama Astawana hendak melamar Maemunah. Astawana berasal dari Makassar (Sulawesi Selatan), tapi ia sudah cukup lama tinggal di Betawi, tepatnya di sebelah timur Condet. Astawana terkenal memiliki kesaktian yang tinggi dan baik hati. Saat sampai di depan rumah Pangeran Codet, Astawana memberi salam.
Nama ASTANAWA di abadikan menjadi nama sebuah gang di kelurahan Batuampar “Gang Astanawa”
“Assalamu’alaikum!” ucap pemuda itu dengan suara pelan.
Belum ada jawaban dari pemilik rumah. Salamnya baru mendapat jawaban setelah ia mengucapkan salam yang ketiga kalinya dengan suara agak keras.
“Waalaikum salam...!” terdengar suara wanita dari dalam rumah menjawab salamnya.
Beberapa saat kemudian, tampaklah seorang gadis cantik berjalan dari dalam rumah. Gadis yang tidak lain adalah Maemunah itu segera mempersilakan Astawana duduk di kursi yang ada di teras rumah. Teras rumah merupakan ruang tamu bagi rumah masyarakat Betawi.
“Silakan duduk, Bang!” ujar Maemunah.
Setelah itu, Maemunah segera masuk ke dalam untuk memanggil kedua orangtuanya. Tak berapa lama kemudian, Pangeran Codet bersama istrinya pun datang menemui Astawana.
  • “Maaf, Anak Muda. Anda siapa dan apa maksud kedatangan Anda ke mari?” tanya Pangeran Codet.
  • “Nama saya Astawana. Kedatangan saya kemari untuk melamar putri Tuan yang bernama Maemunah,” ungkap Astawana.
Mendengar nama pemuda itu, Pangeran Codet dan istrinya tersentak kaget. Nama itu tidak asing lagi bagi mereka.
  • “Pangeran Astawana yang terkenal sakti itu bukan?” tanya istri Pangeran Codet.
  • “I... Iya, Tuan!” jawab Astawana sedikit gugup, “Kebetulan saja orang-orang di daerah ini banyak yang mengenal saya.”
Begitulah sifat Astawana. Meskipun memiliki kesaktian yang tinggi, ia selalu merendahkan. Hal itulah yang membuat Pangeran Codet dan istrinya terpikat untuk menjadikannya menantu. Tapi, semua itu tergantung pada Maemunah. Mereka tidak bisa memutuskan atas kemauan mereka sendiri tanpa persetujuan dari putri mereka. Ketika Maemunah datang membawa minuman, sang Ayah pun menyampaikan maksud kedatangan Astawana.
  • “Putriku, duduklah sebentar,” kata Pangeran Codet, 
  • “Ayah ingin memperkenalkamu dengan pangeran muda ini. 
  • Apakah kamu pernah mengenalnya?”
Maemunah tersenyum sambil tertunduk malu dan kemudian menjawab bahwa ia hanya sering mendengar nama itu, tapi belum pernah bertemu secara langsung.
  • “Aye hanya mengenal namanya, Be,” jawab Maemunah singkat.
  • “Ketahuilah, kedatangan Astawan kemari ingin melamarmu. Bagaimana pendapatmu, Putriku?”
Aye, adalah sebutan untuk kata “Saya”
Be, adalah panggilan singkat dari kata “Babe” untuk kata “Bapak”

Maemunah tidak langsung menjawab dan termenung sejenak. Setelah berpikir bahwa Astawana adalah seorang yang sakti mandraguna, maka ia pun menjawab dengan mengajukan sebuah persyaratan kepada pemuda sakti itu.
  • “Iya, lamaran aye terima jika Abang mampu membuatkan dua rumah di dua tempat yang berbeda dalam waktu semalam,” pinta Maemunah, 
  • ”Dua rumah itulah sebagai mas kawinnya.”
Mendengar permintaan itu, Astawana tidak perlu berpikir panjang. Ia yakin mampu memenuhi syarat itu dengan kesaktian yang dimilikinya.
“Baiklah, saya menyanggupi persyaratan itu,” jawab Astawana dengan penuh keyakinan.
Ketika hari mulai gelap, pemuda asal Makassar itu segera berdoa untuk memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Berkat doa dan dan kesaktiannya, ia pun berhasil mewujudkan pemintaan Maemunah.

Dua rumah tersebut kemudian disebut sebagai Batuampar (Wilayah kampung Gedong) dan Balekambang (Wilayah kampung Condet)  di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.


Permintaan Maemunah telah dipenuhi oleh Astawana. Perkawinan mereka pun dilangsung dengan meriah. Tamu undangan dari berbagai penjuru memadati kediaman Pangeran Codet. Kemeriahan pesta itu semakin terlihat ketika gambang kromong mulai dipentaskan. Alunan musik khas Betawi itu pun terdengar merdu menghibur para tamu undangan. Kedua mempelai yang duduk bersanding di kursi pelaminan tampak tersenyum bahagia menikmati kemeriahan pesta.  Demikian pula Pangeran Codet dan istrinya turut bersuka-cita atas pernikahan putrinya.

Selang beberapa waktu setelah pernikahan putrinya, Pangeran Codet meninggal dunia karena sakit. Seluruh harta kekayaannya, termasuk tanah dan kekuasaannya diwarisi oleh Maemunah. Sejak itulah, istri Astawana itu menjadi penguasa di wilayah itu menggantikan kedudukan ayahnya. 

Untuk menghormati sang Ayah, Maemunah menyebut daerah kekuasaannya sebagai wilayah Codet yang lama-kelamaan diucapkan dengan nama Condet.

Maemunah adalah sosok yang adil dan bijaksana. Atas kepemimpinannya, masyarakat di sekitarnya pun senantiasa hidup damai dan tenteram. 

Namun, beberapa tahun kemudian, kedamaian Condet terusik oleh kedatangan kompeni Belanda ke wilayah Betawi. Kaum penjajah itu mulai merampas tanah milik penduduk secara paksa. Jika ada penduduk yang melawan, mereka tidak segan-segan menganiaya, bahkan membunuh.

Salah seorang Belanda yang tinggal di sekitar Condet adalah Jan Ament. Ia terkenal kejam dan serakah. Meskipun telah memiliki tanah yang luas dari hasil rampasan, ia tetap tidak merasa puas. Ia ingin menjadi tuan tanah paling kaya dan menguasai wilayah Condet. Mengetahui Maemunah memiliki tanah yang luas, Jan Ament pun ingin merampasnya.

Suatu hari, Jan Ament bersama antek-anteknya mendatangi rumah Maemunah. Dengan sebilah pedang panjang terselip di pinggang, Jan Ament berseru di depan rumah Maemunah.
“Hai, perempuan pribumi, cepat keluar! Kalau tidak, aku akan masuk memaksamu ke keluar!” teriaknya sambil berkacak pinggang.
Maemunah yang mendengar teriakan itu segera keluar bersama suaminya. Dengan tenang, putri almarhum Pangeran Codet itu menyapa Jam Ament dengan ramah.
  • “Maaf, Tuan! Barangkali ada sesuatu yang bisa aye bantu?” tanya Maemunah.
  • “Aku ke sini untuk meminta seluruh tanah milikmu. Cepat serahkan semua surat-surat tanahmu kepadaku! Kalau tidak, kamu akan tahu sendiri akibatnya. Pedang panjangku ini akan menebas lehermu,” ancam Jan Ament.
Astawana yang berdiri di samping istrinya angkat bicara karena tidak tahan lagi melihat sikap Jan Ament.
“Hai, Belanda pengecut! Beraninya sama perempuan saja. Lawan aku jika kamu berani!” tantang Astawana seraya melompat ke hadapan Jan Ament.
Jan Ament tersentak kaget dan mundur beberapa langkah. Ketika ia hendak mengunus pedangnya, tiba-tiba sebuah tendangan keras melayang menghantam dadanya. Tentara Belanda itu pun terpental ke belakang dan terjatuh ke tanah. Melihat tuannya tidak berdaya, antek-antek Jan Ament hendak membantu. Namun, Jan Ament mencegah dan mengajak mereka untuk meninggalkan tempat itu.
“Ayo kita pergi dari sini!” ujar Jan Ament sambil memegang dadanya yang terkena tendangan Astwana. 
Sebelum meninggalkan halaman rumah Maemunah, Jan Ament mengancam akan kembali dengan jumlah orang yang lebih banyak.

Beberapa hari kemudian, Jan Ament kembali mendatangi rumah Maemunah untuk menantang Astawana. Namun, ia tetap tidak mampu mengalahkan suami Maemunah yang sakti itu. Menurut cerita, Jan Ament baru berhasil merebut tanah Maemunah setelah menggunakan akal licik. Ia mengirim seorang anteknya untuk mengetahui kelemahan Astawana. Alhasil, usaha tersebut berhasil sehingga suami Maemunah itu dapat dikalahkan. 

Sejak itulah, Jan Ament menjadi penguasa di Condet dan dilanjutkan oleh anak cucunya. Keturunan Jan Ament yang menjadi tuan tanah tinggal di rumah besar di Kampung Gedong. Mereka membuat aturan yang memberatkan rakyat Condet dengan mewajibkan membayar sewa tanah setahun sekali. Selain itu, para petani diwajibkan melakukan kompenian, yaitu kerja bakti tanpa diberi upah untuk kepentingan tuan tanah.

Semakin hari, kesewenang-wenangan kompeni Belanda terhadap rakyat Condet semakin menjadi-jadi. Jika ada warga yang tidak mampu membayar sewa tanah, mereka tidak segan-segan merampas dan menyita barang-barang atau pun rumah warga itu. Tapi, jika mendapat rumah sitaan yang rusak, mereka langsung membakarnya.

Kesewenang-wenangan itu membuat rakyat Condet resah. Oleh karena itu, pada tahun 1916 M., rakyat Condet yang dipimpin oleh Entong Gendut bersepakat untuk melakukan perlawanan. Entong Gendut adalah seorang pendekar silat dari Batu Ampar yang juga bagian dari wilayah Kampung Condet. Ia dibantu oleh Astawana yang sudah kalah dan direbut tanahnya sebagian oleh Jan Ament, dan dua orang pendekar sakti lainnya bernama Modin dan Maliki yang keduanya juga berasal dari Batu Ampar.

Entong Gendut bersama kawan-kawannya mempersiapkan diri terlebih dahulu. Mereka melatih warga belajar ilmu silat. Setelah anggotanya mencapai ratusan orang, perkumpulan silat yang dipimpin oleh Entong Gendut itu pun mulai melakukan perlawanan. Mereka dipersenjatai dengan golok, tombak, keris, dan panah. Sementara itu, kompeni Belanda dilengkapi dengan senjata api dan senapan.

Saat pertempuran sedang berlangsung, anak buah Entong Gendut banyak yang tewas tertembus peluru. Tidak sedikit pula anggota pasukan kompeni Belanda yang tewas, terluka terkena bacok, atau tertembus anak panah. Dalam pertempuran itu, rakyat Condet akhirnya kalah setelah tentara Belanda mendapat bantuan sekompi pasukan. Entong Gendut dan Astanawa pun tewas karena dadanya tertembus peluru. Sementara itu, para pengikutnya termasuk Modin dan Maliki ditangkap dan dimasukkan ke penjara. Tanah di wilayah Condet baru kembali menjadi milik rakyat setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, di mana hak-hak Jan Ament dan keturunannya dihapuskan, dan sampai saat ini Kampung Condet di Kelurahan Balekambang (BARAT) dan Kampung Gedong di Kelurahan Batuampar (TIMUR) dipisahkan wilayahnya oleh Jalan Raya Condet.

* * *

Demikian Kisah PANGERAN CODET - Asal Mula Nama Kampung Condet Dan Kampung Gedong dari daerah Betawi, Jakarta Timur. Pesan moral yang terkandung dalam cerita di atas adalah sifat cinta tanah air. Sifat ini terlihat pada perjuangan warga Condet merebut kembali hak-hak mereka dari para kompeni Belanda.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT TERBARU

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT POPULER

ADHI MEKAR INDONESIA "AMI SCHOOL" DENPASAR BARAT, BALI

 
  • AGATHA NICOLE © 2017 | Modified By YURI | Powered By BLOGGER | KEDAI LOMBOK