Daftar Cerita Legenda Rakyat
Showing posts with label JAWA BARAT - BANTEN. Show all posts
Showing posts with label JAWA BARAT - BANTEN. Show all posts

LEGENDA MASJID TERATE UDIK

0 komentar

Masjid Terate Udik  adalah nama sebuah masjid yang terletak di Kampung Terate Udik, Desa Masigit, Kecamatan Cilegon, Kota Cilegon, Provinsi Banten. Masjid ini termasuk salah satu tempat ibadah umat Islam yang dikeramatkan oleh masyarakat Cilegon dan sekitarnya. Menurut cerita, bangunan masjid ini tidak bisa diabadikan oleh kamera ataupun sejenisnya karena hasilnya tidak pernah jadi atau tidak jelas (blur) atau bahkan hanya hitam saja.

∞∞∞

Ilustrasi Masjid Terate Udik, Banten, Indonesia

Di Kampung Terate Udik, Provinsi Banten, terdapat sebuah mushola kecil yang dibangun oleh penduduk setempat secara bergotong-royong. Rumah ibadah tersebut didirikan di atas tanah wakaf milik Ki Ahmad yang merupakan sesepuh desa sekaligus ulama yang terkenal kaya. Selain untuk tempat ibadah, mushola tersebut kerap digunakan sebagai tempat bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut masyarakat. Ki Ahmad selalu menjadi penengah di antara pihak-pihak yang berselisih.

Tidak lama setelah mushola dibangun, Ki Ahmad wafat. Seumur hidupnya, ulama yang kharismatik itu tidak pernah menikah. Ia hanya meninggalkan harta kekayaan berupa tanah kosong yang terletak di belakang mushola. Tanah kosong itu tidak ada yang mengurusnya sehingga menjadi rebutan oleh dua orang anak angkat Ki Ahmad. Kedua orang tersebut adalah Pak Sidik dan Pak Abu Bakar yang masing-masing mengakui kepemilikan tanah kosong warisan Ki Ahmad itu.

Mengetahui adanya perselisihan di antara kedua pihak tersebut, salah seorang warga yang bernama Pak Rasyid melapor kepada Ustadz Wahid, seorang tokoh agama sekaligus pengurus mushola yang menggantikan Ki Ahmad. Setiba di depan mushola, Pak Ahmad melihat Ustadz Wahid sedang membersihkan lantai mushola.
  • “Assalamu’alaim, Ustadz Wahid!” salam Pak Rasyid.
  • “Wa’alaikumsalam” jawab Ustadz Wahid, 
  • “Eeeh, Pak Rasyid. Ada apa gerangan pagi-pagi begini sudah datang kemari?”
Mendengar pertanyaan itu, Pak Rasyid pun menceritakan peristiwa yang terjadi di rumah tetangganya.
“Begini, Ustadz. Tadi, ketika saya hendak berangkat ke sawah,  tetangga saya Pak Sidik dan Pak Abu Bakar sedang bertengkar. Mereka sedang memperebutkan tanah kosong milik alhmarhum Ki Ahmad yang ada di belakang mushola ini,” jelas Pak Rasyid.
Mendengar penjelasan tersebut, Ustadz Wahid meminta kepada Pak Sidik dan Pak Abu Bakar serta seluruh warga masyarakat untuk segera berkumpul di Balai Desa. Saat semuanya berkumpul, Ustadz Wahid pun memanggil kedua belah pihak yang berselisih untuk maju ke depan.
  • “Pak Sidik dan Pak Abu Bakar, saya ingin kalian untuk berkata sejujur-jujurnya,” ujar Ustadz Wahid.
  • “Baik, Ustadz,” jawab keduanya serentak.
Pak Sidik dan Pak Abu Bakar pun menyampaikan pengakuan masing-masing. Namun, keduanya tetap mengakui bahwa tanah itu milik mereka. Karena keduanya tidak ada yang mau mengalah, akhirnya Ustadz Wahid meminta kepada keduanya agar tanah itu dibagi dua saja
  • “Ah, tidak bisa begitu, Ustadz. Tanah itu jelas-jelas adalah milik saya,” sanggah Pak Sidik.
  • “Hai, Pak Abu Bakar! Kamu jangan sembarangan mengaku seperti itu. Almarhum Ki Ahmad telah mewasiatkan tanah itu kepada saya,” teriak Pak Abu Bakar tidak terima.
Suasana sidang semakin panas. Kedua pihak yang berselisih tetap bersikeras pada pendirian masing-masing. Bahkan, mereka hampir saja berkelahi di hadapan seluruh warga.  Untung Ustadz Wahid yang bijaksana itu dapat menenangkan suasana sehingga perkelahian tersebut dapat dihindarkan. Sampai larut malam, perkara tersebut belum juga selesai. Akhirnya, Ustadz Wahid memutuskan agar perkara tersebut diselesaikan besok pagi di mushola. Kedua belah pihak diminta untuk menyiapkan masing-masing satu saksi.

Keesokan harinya, warga kembali berkumpul di mushola untuk menyaksikan penyelesaian perkara tanah tersebut. Pak Sidik dan Pak Abu Bakar pun datang bersama saksi mereka masing-masing. Saksi dari pihak Pak Sidik bernama Pak Rahmat, sedangkan saksi dari pihak Pak Abu Bakar bernama Pak Randik. Setelah semuanya siap, kedua saksi dari kedua belah pihak tersebut diminta maju ke depan untuk disumpah di hadapan kitab suci Alquran. Saksi yang mendapat giliran pertama untuk disumpah adalah Pak Rahmat.
“Saya bersumpah di depan Alquran, demi Allah bahwa tanah yang ada di belakang mushola ini adalah milik Pak Sidik. Saya telah mendengar dan menyaksikan sendiri saat Ki Ahmad menyampaikan wasiatnya kepada Pak Sidik sebelum beliau meninggal,” ucap Pak Rahmat.
Mendengar sumpah Pak Rahmat itu, Pak Randik pun langsung membantahnya.
“Hai Pak Rahmat, apa bukti dari penyataanmu itu?”
Saksi dari Pak Sidik itu tidak bisa memberikan bukti yang nyata. Sementara itu, Pak Randik sebagai saksi dari Pak Abu Bakar, selain bersumpah di depan Alquran, ia juga dapat menunjukkan bukti tertulis berupa surat wasiat untuk menguatkan sumpahnya di hadapan Ustadz Wahid.
“Maaf, Ustadz. Ini surat wasiat dari Ki Ahmad yang ditujukan kepada Pak Abu Bakar. Surat ini kami dapatkan dari orang yang biasa membersihkan kamar Ki Ahmad. Orang itu menemukannya di bawah kasur tempat tidur beliau sehari setelah beliau meninggal,” ungkap Pak Randik seraya menyerahkan surat wasiat itu kepada Ustadz Wahid.
Dengan saksi dan bukti yang meyakinkan, akhirnya Pak Abu Bakar berhasil memenangkan perkara tanah tersebut. Sidang yang telah berlangsung alot itu pun dianggap selesai. Pak Abu Bakar bersama para pendukungnya pulang ke rumah dengan perasaan gembira. Sementara itu, Pak Sidik dan para pendukungnya meninggalkan mushola dengan perasaan kecewa.

Pada malam harinya, terdengar kabar bahwa Pak Randik yang merupakan saksi Pak Abu Bakar tiba-tiba sakit, terserang penyakit yang sulit disembuhkan. Selang beberapa hari kemudian, saksi Pak Abu Bakar itu pun meninggal dunia. Rupanya, Pak Randik terkena oleh sumpahnya sendiri. Peristiwa itu membuat Pak Abu Bakar ketakutan karena merasa bersalah telah menyuruh Pak Randik untuk bersumpah palsu di hadapan seluruh warga desa. Ia pun akhirnya mengaku bahwa dirinya telah berdusta dan dan membuat surat wasiat palsu. Namun, nasi telah menjadi bubur. Akibat perbuatannya, Pak Abu Bakar pun mendapat ganjaran yang setimpal. 

Pada hari berikutnya, Pak Abu Bakar tewas bersama rumahnya yang habis dilalap api. Untung istri dan anak-anaknya dapat diselamatkan. Penduduk desa tersebut hanya dapat mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Pak Sidik pun merelakan tanah kosong di belakang mushola diwakafkan untuk kepentingan umum. Sejak perstiwa tersebut, tidak pernah lagi terdengar adanya perselisihan perkara tanah di kalangan masyarakat Kampung Terate Udik. Namun, beberapa tahun kemudian, masalah-masalah lain banyak yang bermunculan seperti pencurian dan perampokan.

Suatu malam, penduduk desa itu gempar karerna rumah salah seorang warga yang bernama Bu Fatimah baru saja dirampok. Seluruh perhiasannya dibawa kabur oleh si perampok. Mendengar kabar tersebut, Ustadz Wahid segera ke rumah Bu Fatimah. Setibanya di sana, ternyata sudah banyak warga yang berkumpul. Ustadz pun menenangkan Bu Fatimah yang menangis tersedu-sedu.
“Tenangkanlah hati, Ibu! Saya dan warga berjanji akan menangkap perampok itu,” hibur Ustadz Wahid.
Keesokan harinya, ketika Ustadz Wahid hendak menyelidiki kasus perampokan itu, seseorang dari desa lain datang menemuinya. Orang yang belum dikenalnya itu bernama Pak Adi Kusuma dan istrinya Ibu Asri Kusumadewi Rupanya, Pak Fikar adalah warga baru di desa itu dan bermaksud mengajak Ustadz Wahid untuk menghadiri acara syukuran di rumahnya. Ustadz Wahid bersama beberapa warga lainnya pun mengiyakan undangan itu.

Semua undangan merasa senang karena mereka disuguhi berbagai macam makanan enak dan lezat, kecuali Pak Umar, suami Bu Fatimah, yang tampak gelisah karena ia melihat cincin batunya yang hilang tadi malam sedang dipakai Pak Adi Kusuma. Begitu pula, cincin emas milik istrinya melingkar di jari manis istri Pak Adi Kusuma, Ibu Asri Kusumadewi.

Setelah acara syukuran itu selesai, Pak Umar menemui Ustadz Wahid. Ia kemudian menceritakan semua yang baru saja dilihatnya di rumah Pak Fikar. Namun, Ustadz Wahid tidak menanggapi laporan Pak Umar. Ia beranggapan bahwa perhiasan yang dikenakan Pak Adi Kusuma dan istrinya Ibu Asri Kusumadewi tersebut hanya kebetulan saja sama dengan milik Pak Umar. Pak Umar tetap kukuh menyatakan bahwa perhiasan yang dipakai Pak Adi Kusuma dan istrinya Ibu Asri Kusumadewi itu adalah miliknya karena cincin batu itu adalah warisan dari ayahnya, sedangkan cincin emas itu ia pesan khusus untuk istrinya. Mendengar penjelasan tersebut, akhirnya Ustadz Wahid memutuskan untuk menemui Pak Adi Kusuma dan istrinya Ibu Asri Kusumadewi di rumahnya dan menanyakan mengenai perhiasan yang mereka kenakan.

Oleh karena Pak Adi Kusuma dan istrinya Ibu Asri Kusumadewi tetap mengakui bahwa perhiasan tersebut adalah milik mereka, akhirnya Ustadz Wahid mengajak Pak Fikar untuk bersumpah di mushola pada esok harinya. Dengan disaksikan oleh seluruh warga, Pak Adi Kusuma dan istrinya Ibu Asri Kusumadewi pun menyatakan sumpahnya.
“Saya bersumpah, demi Allah bahwa saya tidak pernah mencuri barang-barang di rumah Pak Umar,” ucap Pak Adi Kusuma dan istrinya Ibu Asri Kusumadewi dengan sungguh-sungguh.
Beberapa hari kemudian, terdengar kabar bahwa Pak Adi Kusuma dan istrinya Ibu Asri Kusumadewi terserang penyakit yang aneh. Seluruh tubuhnya ditumbuhi bisul-bisul yang menjijikkan dan berbau amis. Selain itu, mereka juga terkena penyakit lumpuh. Beberapa hari kemudian, Pak Adi Kusuma dan istrinya Ibu Asri Kusumadewi pun wafat karena termakan sumpah palsunya.

Sejak itu, penduduk Kampung Terate Udik menganggap bahwa mushola tersebut merupakan tempat bersumpah yang keramat. Kabar itu tersebar hingga ke desa-desa lain sehingga setiap warga desa yang sedang menghadapi masalah, mereka akan meminta bantuan Ustadz Wahid untuk menyelesaikan perkara dengan cara bersumpah di mushola itu. Lama-kelamaan, bangunan mushola itu diperbesar menjadi masjid.

Hingga kini, Masjid Terate Udik masih dapat kita saksikan di Kampung Terate Udik, Cilegon, Banten. Ajaibnya, masjid yang keramat ini tidak dapat diabadikan oleh kamera atau pun sejenisnya karena hasilnya tidak pernah jadi.

∞∞∞

Demikian kisah Legenda Masjid Terate Udik  yang Keramat dari Banten. Pesan moral yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bahwa kejahatan pasti akan terungkap walaupun sekecil apapun. Yang lebih penting adalah bahwa hendaknya kita harus pandai-pandai menjaga mulut dan lidah agar tidak digunakan untuk bersumpah palsu. Akibatnya dapat kita lihat sendiri pada Pak Abu Bakar, Pak Randik, dan Pak Fikar. Mereka mendapat balasannya karena telah mengucapkan sumpah palsu.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)




BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA GUNUNG PINANG

0 komentar

Gunung Pinang terletak di Kabupaten Serang, Banten, tepatnya di samping jalur lalu lintas Serang-Cilegon.
Menurut cerita, gunung yang sering menjadi tempat kawasan tujuan wisata  ini merupakan penjelmaan perahu seorang saudagar kaya yang bernama Dampu Awang.

∞∞∞


Di sebuah perkampungan nelayan di daerah pesisir teluk Banten, hiduplah seorang janda tua dengan anak laki-lakinya yang bernama Dampu Awang. Sejak kematian sang Ayah beberapa tahun silam, Dampu Awang harus bekerja keras membantu ibunya mencari kerang di pantai. Sudah bertahun- tahun mereka melakoni pekerjaan itu, namun hidup mereka tetap serba kekurangan. Dompu Awang yang telah berusia remaja itu sudah jenuh dan bosan dengan keadaan tersebut. Ia berpikir bahwa jika ia tetap tinggal di kampungnya, nasib keluarganya tidak akan berubah. Dengan begitu, timbullah keinginannya untuk merantau ke Negeri Malaka.

Pada suatu malam, Dampu Awang menyampaikan niat itu kepada ibunya. Tanpa diduganya, perempuan yang telah melahirkannya itu tidak merestuinya. Walaupun ia telah memberikan berbagai alasan dan rayuan, sang Ibu tetap tidak merestuinya pergi.
  • “Ibu tidak akan mengizinkanmu pergi, Anakku,” cegah ibunya.
  • “Tapi, Bu!” sergah Dampu Awang.
  • “Sudahlah, Dampu! Ibu mengerti perasaanmu bahwa kamu sudah tidak tahan lagi hidup menderita seperti ini. Tapi, jika kamu pergi siapa lagi yang akan menemani Ibu di sini, Anakku!” ujar ibunya.
  • “Bu! Dampu berjanji, kalau sudah berhasil, Dampu akan segera kembali menemani dan membahagiakan Ibu. Kita akan membangun rumah mewah seperti rumah para bangsawan di kampung ini,” bujuk Dampu Awang.
  • “Sudahlah, Dampu! Berhentilah berhayal seperti itu! Ibu sudah lelah mendengar semua bujuk rayumu. Ibu akan merasa bahagia jika kamu tetap berada di samping Ibu,” ujar ibu Dampu seraya merebahkan tubuhnya di atas balai-balai bambu.
Dampu Awang tidak dapat lagi berkata-kata. Ia mengerti perasaan ibunya, meskipun di hatinya tersimpan rasa kecewa. Dengan langkah pelan, ia keluar dari gubuknya lalu duduk bersandar pada pohon nyiur sambil menikmati semilir angin malam pantai teluk Banten. Pandangangnya tajam seolah-olah menembus kegelapan
malam. Pikirannya terbang nun jauh di sana meninggalkan kepenatan hidup dan kekecewaan atas sikap ibunya. Di wajahnya terpancar secercah sinar harapan yang akan menerangi hidupnya.
“Ya, Tuhan! Tolong bukakanlah pintu hati Ibu hamba agar ia mengerti bahwa di Negeri Malaka sana banyak sekali pekerjaan yang akan membuat hamba menjadi kaya raya,” ucap Dampu Awang dengan penuh harapan.
Tanpa disadarinya, sang Ibu sedang memerhatikannya dari balik jendela. Perempuan setengah baya itu tak kuasa membendung air matanya. Ia merasa bersalah karena telah mengecewakan anak semata wayangnya. Malam semakin larut. Janda tua itu kembali merebahkan tubuhnya hingga tertidur lelap.
Tak berapa lama kemudian, Dampu Awang masuk ke dalam gubuk, lalu tidur di samping ibunya. Keesokan paginya, perempuan tua itu menghampiri Dampu Awang yang baru saja terbangun.
  • “Dampu, Anakku!” sapa ibunya dengan lembut.
  • “Ada apa, Bu?” tanya Dampu sambil menatap wajah ibunya.
Dampu melihat ibunya tersenyum. Ada kehangatan cinta yang terpancar dari tatapan mata ibunya.
  • “Dampu, Anakku! Ibu tidak bermaksud melarangmu merantau. Tapi, ketahuilah! Umur Ibu sudah udzur. Ibu khawatir kelak kita takkan bertemu lagi. Ibu tidak memiliki siapa-siapa lagi dunia ini selain dirimu, Anakku!” ujar ibunya dengah penuh rasa haru.
  • “Tenanglah, Bu! Dampu tidak akan lama di perantauan. Setelah berhasil, Dampu akan segera pulang menemani Ibu di sini,” hibur Dampu Awang.
Ibunya kembali tersenyum lembut.
“Baiklah, Anakku! Jika itu sudah menjadi tekadmu, Ibu mengizinkan kamu pergi. Tapi ingat! Kamu harus berjanji cepat kembali jika sudah berhasil,” ujar ibunya.
Betapa bahagia hati Dampu Awang mendapat restu dari ibunya. Tubuhnya terasa mendapat kekuatan yang luar biasa. Darah di tubuhnya yang semula serasa membeku kembali mengalir. Ia tidak mampu lagi menyembunyikan perasaan bahagianya. Air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
  • “Terima kasih, Bu! Dampu berjanji akan segera kembali untuk membahagiakan Ibu,” ucap Dampu Awang seraya memeluk ibunya.
  • “Iya, Anakku! Sekarang persiapkanlah barang-barang yang akan kamu bawa pergi. Besok pagi ada kapal yang akan berangkat ke Negeri Malaka. Pergilah temui Teuku Abu Matsyah pemilik kapal itu! Barangkali saja dia bersedia membawamu pergi berlayar bersamanya,” ujar ibunya.
Setelah menyiapkan bekalnya, Dampu Awang segera menemui Teuku Abu Matsyah di pelabuhan.
“Tuan! Bolehkah saya ikut berlayar bersama Tuan? Tapi maaf Tuan, saya tidak mempunyai uang untuk membayar ongkos kapal. Kalau Tuan berkenan, saya akan membayarnya dengan tenaga,” pinta Dampu.
Melihat ketulusan hati Dampu, Teuku Abu Matsyah pun memenuhi permintaannya. Dengan perasaan gembira, Dampu segera kembali ke rumahnya. Alangkah bahagianya hati ibunya mendengar berita gembira itu.
Keesokan harinya, sebelum Dampu Awang berangkat ke Pelabuhan, ibunya menitipkan kepadanya seekor burung perkutut bernama si Ketut.
  • “Anakku! Bawalah si Ketut pergi bersamamu! Burung ini peliharaan ayahmu dulu ketika masih hidup. Burung ini sangat mahir sebagai pengantar pesan. Kamu harus selalu mengirimi Ibu kabar. Jaga dan rawatlah dia dengan baik seperti kamu menjaga Ibu, ya Nak!” ujar ibunya.
  • “Baik, Bu! Dampu berjanji akan mengirim surat kepada Ibu setiap awal bulan purnama,” jawab Dampu.
Setelah itu, berangkatlah Dampu bersama ibunya ke pelabuhan. Setibanya di pelabuhan, Teuku Abu Matsyah sudah menunggunya. Usai menyalami ibunya, Dampu Awang segera naik ke atas kapal. Tak berapa lama kemudian, ia pun terlihat berdiri di anjungan kapal sambil melambaikan tangan.
  • “Ibu... Dampu berangkat! Jaga diri Ibu baik-baik!” teriak Dampu dari anjungan kapal.
  • “Iya, Dampu! Hati-hati di jalan! Jangan lupa cepat kembali, ya Nak!” jawab janda tua itu.
Dengan diiringi isap tangis ibunya, Dampu Awang meninggalkan pelabuhan Banten menuju Negeri Malaka. Untuk mengganti ongkos kapal, ia ditugaskan oleh Teuku Abu Matsyah membersihkan seluruh galangan kapal. Dampu Awang sangat rajin dan tekun bekerja. Tak heran jika ia mendapat perhatian dari saudagar kaya itu.
  • “Hai, Dampu! Apa yang akan kamu kerjakan di Nengeri Malaka?” tanya Teuku Abu Matsyah.
  • “Belum tahu, Tuan! Saya baru akan mencari pekerjaan setibanya di sana nanti,” jawab Dampu Awang.
  • “Kalau begitu, maukah kamu ikut bekerja denganku?” bujuk saudagar kaya itu.
Tanpa berpikir panjang, Dampu Awang menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Sejak Dampau ikut dengannya, usaha Teuku Abu Matsyah semakin maju dan berkembang, sehingga dalam waktu tidak berapa lama ia mampu membeli sebuah kapal lagi. Karena itu, saudagar itu semakin sayang kepada Dampu hingga bermaksud menikahkan dia dengan putrinya yang bernama Siti Nurhasanah.

Pada mulanya, Dampu Awang menolak tawaran itu, karena merasa dirinya sebagai anak buah tak pantas menikah dengan putri juragannya.
“Maaf Juragan! Saya tidak bermaksud menolak niat baik Juragan. Tapi, apakah saya pantas menjadi pendamping hidup putri Juragan?” kata Dampu Awang dengan merendah.
Teuku Abu Matsyah hanya tersenyum sambil mengelus-elus jenggotnya yang mulai memutih.
“Jangan khawatir, Dampu! Setelah kalian menikah nanti, aku akan mengangkatmu menjadi nahkoda kapal dan mewariskan semua harta kekayaanku kepada kalian,” ujar Teuku Abu Matsyah.
Akhirnya, Dampu Awang dan Siti Nurhasanah menikah dan hidup bahagia. Beberapa bulan setelah mereka menikah, ayah Siti Nurhasanah meninggal dunia. Sejak itu, Dampu dan istrinya mewarisi seluruh harta kekayaan Teuku Abu Matsyah. Ia pun terkenal sebagai saudagar kaya di Negeri Malaka.

Ia hidup dengan penuh kemewahan dan bergelimang harta, sehingga melupakan ibunya yang berada di kampung halaman. Setelah lima tahun di perantauan, tiba-tiba timbul kerinduannya ingin kembali ke tanah kelahirannya di Banten. Pada suatu hari, berangkatlah Dampu Awang bersama istri dan para pengawalnya ke Banten dengan menggunakan kapal besar dan megah. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, tibalah mereka di pelabuhan Banten. Berita tentang kedatangan kapal besar dan megah itu tersebar ke seluruh pelosok negeri Banten. Setiap penduduk ramai membicarakan kemegahan kapal itu.
Mereka bertanya-tanya siapa gerangan pemiliknya. Karena penasaran, para penduduk Banten berbondong-bondong menuju ke pelabahun. Di antara kerumunan orang banyak, tampak seorang perempuan tua dengan wajah sumringah dan pakaian lusuh baru saja tiba. Dia adalah ibu kandung Dampu Awang.
“Wah, jangan-jangan pemilik kapal itu adalah putraku,” ucap ibu Dampu Awang.
Ibu Dampu Awang berusaha menyusup di antara kerumunan orang banyak untuk melihat kapal itu lebih dekat. Ketika mendekat, ia melihat seorang pemuda gagah berdiri di anjungan kapal bersama seorang putri cantik. Mulanya, perempuan tua itu ragu kalau pemuda itu adalah putranya, Dampu Awang. Tapi, setelah melihat ada seekor burung perkutut bertengger di pundak pemuda itu, barulah ia merasa yakin bahwa pemuda itu anaknya yang selama ini dirindukannya.
“Oh Dampu Awang, Anakku! Akhirnya, kamu pulang juga,” ucapnya dengan perasaan bahagia.
Perempuan tua itu kemudian berteriak memanggil anaknya.
“Dampuuu...! Dampu Awang, Anakku! Ini Ibu, Nak!” teriaknya sambil melambai-lambaikan tangan di antara kerumunan orang.
Mendengar teriakan itu, Dampu Awang segera mencari sumber suara teriakan itu. Namun, ketika melihat orang yang berteriak itu adalah seorang nenek yang berwajah lusuh dan berpakaian compang-camping,

ia segera mengalihkan pandanganya. Ia malu mengakui nenek tua itu sebagai ibunya di hadapan istrinya. Melihat sikap suaminya, Siti Nurhasanah menjadi terheran-heran.
  • "Hai, Kanda! Kenapa Kanda memalingkan wajah? Bukankah nenek itu mengaku sebagai ibu Kanda? Benarkah dia Ibu Kanda?” tanya Siti Nurhasanah.
  • “Tidak, Dinda! Perempuan tua itu bukan ibu Kanda!” tampik Dampu Awang. “Ibu Kanda kaya raya dan cantik, tidak seperti nenek yang miskin dan keriput itu!”
  • “Tapi Kanda, nenek itu terus memanggil-manggil nama Kanda,” kata istri Dampu.
  • “Sudahlah, Dinda! Tidak usah hiraukan nenek keriput itu. Dia hanya mengada-ada,” ujar Dampu Awang.
Usai berkata begitu kepada istrinya, Dampu Awang membentak nenek itu dan mengusirnya.
“Hai, perempuan tua! Pergilah dari sini! Aku tidak pernah mempunyai Ibu seperti dirimu,” bentak Dampu Awang.
Perempuan malang itu bagai disambar petir di siang bolong mendengar bentakan itu. Hatinya bagai teriris-iris mendapat perlakuan tidak senonoh dari darah dagingnya sendiri. Ia tertunduk lesu seraya meneteskan air mata. Harapan, kebahagiaan, dan penantiannya selama bertahun-tahun telah lenyap begitu saja. Ia duduk bersimpuh memohon doa kepada Tuhan Yang Mahakuasa dengan penuh khusyuk.
“Oh, Tuhan! Jikalau memang benar pemuda itu bukan putra hamba, biarkanlah ia tetap pergi. Tapi, kalau dia putra hamba, Dampu Awang, berilah ia pelajaran karena telah menyakiti perasaan ibunya sendiri,” pinta ibu Dampu.
Ketika Dampu Awang bersama rombongannya akan meninggalkan pelabuhan Banten, tiba-tiba langit menjadi gelap dan angin tertiup kencang. Petir menyambar-nyambar kemudian diiringi hujan yang sangat deras. Dalam sekejap, dunia serasa kiamat. Langit memuntahkan segala yang dikandungnya.
Bumi bergoncang dengan dahsyatnya. Air laut bergelombang setinggi gunung. Seluruh penduduk berlarian meninggalkan pelabuhan untuk menyelamatkan diri. Sementara itu, Dampu Awang beserta anak buahnya terombang-ambing di lautan. Kapalnya dipermainmainkan oleh gelombang besar. Seluruh penumpang kapal menjadi panik dan ketakutan. Dalam suasana panik seperti itu, tiba-tiba terjadi keajaiban. Si Ketut tiba-tiba dapat berbicara seperti manusia.
“Hai, Dampu Awang! Akuilah... akuilah... akuilah ibumu!” seru si Ketut.
Dampu Awang tidak menghiraukan seruan si Ketut. Ia tetap tidak mau mengakui ibunya.
  • “Tidak! Dia bukan ibuku! Dia bukan ibuku!” sergah Dampu Awang.
  • “Akuilah.... akuilah... akuilah ibumu, Dampu Awang!” si Ketut kembali berseru.
Berulang kali si Ketut berseru kepadanya, Dampu Awang tetap saja menyangkal. Tanpa diduganya, tiba-tiba angin puyuh datang dengan meliuk-liuk di atas laut menuju ke arah kapalnya. Tak ayal lagi, kapalnya pun terseret masuk ke dalam pusaran angin puyuh, lalu terbang berputar-putar di udara. Dalam keadaan panik, Dampu Awang berteriak kencang.
“lbuuu...! Ibuuu... tolong aku! Ini anakmu, Dampu Awang!”
Namun apa hendak dibuat. Nasi telah menjadi bubur. Tuhan telah murkah kepadanya. Kapalnya terus berputar-putar di udara dipermainkan angin puyuh. Lama-kelamaan, kapal dan seluruh isinya terlempar jauh ke arah selatan dan jatuh tertelengkup. Konon, perahu itu kemudian menjelma menjadi sebuah gunung yang kini dikenal dengan nama Gunung Pinang.

∞∞∞

Demikianlah kisah Legenda Gunung Pinang dari Provinsi Banten. Pelajaran yang terkandung dari kisah ini terlihat pada sikap dan perilaku Dampu Awang, yaitu ia pemuda yang rajin dan tekun bekerja serta memiliki tekad kuat untuk maju. Ia berani meninggalkan kampung halamannya untuk memperbaiki nasib keluarganya. Alhasil, ia menjadi orang yang kaya raya dan memperistri seorang gadis cantik nan rupawan.
Namun sayang, harta benda dan istri cantik yang dimilikinya telah membutakan mata hati Dampu Awang. Ia tidak mau mengakui ibu kandungnya di hadapan istrinya karena malu mempunyai seorang ibu yang miskin dan tua. Akibatnya, ia dan kapalnya terseret angin puyuh hingga terlempar jauh dan akhirnya menjadi gunung. Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwa harta kekayaan, pangkat, dan wanita cantik dapat membuat seseorang menjadi anak durhaka kepada orang tua. Padahal, durhaka kepada orang tua merupakan salah satu dosa besar yang akan ditanggung sendiri oleh si anak. 
Kisah legenda ini sudah dibuat dalam bentuk FTV (Film Television) oleh stasiun TV MNC dan mendapat sambutan yang baik dari pemirsa televisi Indonesia.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA BATU KUWUNG

0 komentar

Batu Kuwung adalah sebuah obyek wisata pemandian air panas yang terletak sekitar 32 km arah selatan Serang, Provinsi Banten, Indonesia. Batu kuwung berarti batu cekung, yaitu sebuah batu berbentuk cekung yang dapat mengeluarkan air panas. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, keberadaan sumber mata air panas ini disebabkan oleh sebuah peristiwa ajaib yang pernah terjadi di daerah itu.

∞∞∞


Pada masa pemerintahan Sultan Haji (tahun 1683-1687 M), hiduplah seorang saudagar yang tinggal di sebuah desa di daerah Banten. Ia sangat dekat dengan sang Sultan. Karena kedekatannya tersebut, ia mendapat hak monopoli perdagangan beras dan lada untuk daerah Lampung. Tak heran, jika usahanya menjadi maju pesat, sehingga dalam waktu singkat ia menjadi saudagar kaya yang disegani. Hampir semua tanah pertanian yang ada di desa-desa sekitar tempat tinggalnya menjadi miliknya. Ia memiliki tanah itu dengan cara memeras warga, yaitu memberi hutang kepada mereka dengan bunga yang tinggi, sehingga mereka kesulitan untuk membayarnya. Para petani pun terpaksa menyerahkan tanah-tanah pertanian mereka untuk menebus hutang kepada sang Saudagar.

Penderitaan para warga pun semakin menjadi-jadi ketika saudagar kaya itu diangkat menjadi kepala desa di daerah itu. Ia senantiasa menyalahkangunakan kekuasaannya dengan cara memungut pajak lebih tinggi dari yang seharusnya. Dengan kekuasaan dan kekayaannya, ia menjadi sombong dan sering bertindak sewenang-wenang terhadap warga di sekitarnya.

Selain itu, saudagar kaya itu sangat kikir. Ia tidak mau menolong jika ada warga yang membutuhkan pertolongan. Bahkan, saking kikirnya, ia tidak mau menikah seumur hidup. Baginya, menikah dan memiliki anak adalah suatu pemborosan. Ia lebih senang hidup bermewah-mewah dan berfoya-foya di atas penderitaan warga di sekitarnya. Tak heran, jika para warga menjadi benci kepadanya. Menyadari hal itu, sang Saudagar pun menyewa beberapa orang pengawal pribadi untuk menjaga harta kekayaan dan keselamatan dirinya, sehingga tak seorang warga pun yang berani untuk mengusiknya.

Pada suatu hari, berita tentang keangkuhan dan kesewenang-wenangan saudagar kaya itu sampai ke telinga seorang sakti mandraguna. Orang sakti itu pun bermaksud untuk menyadarkan sang Saudagar yang sombong dan kikir itu. Suatu pagi, ia mendatangi rumahnya dengan menyamar sebagai pengemis dan berkaki pincang.
“Ampun, Tuan! Sudilah kiranya Tuan memberi Hamba makanan dan pakaian. Sudah dua hari hamba belum makan,” iba pengemis itu sambil menunduk di depan sang Saudagar.
Si pengemis bukannya mendapat makanan dan pakaian dari sang Saudagar, melainkan caci-makian dan pelakuan kasar.
“Hai, dasar pemalas! Enak saja kau meminta-minta kepadaku!” bentak saudagar kaya itu. Pengawal! Usir pengemis hina ini dari sini!” serunya seraya mendorong pengemis itu.
Tak ayal lagi, pengemis itu pun jatuh tersungkur ke tanah. Belum sempat ia berdiri, dua orang pengawal segera menyeret dan mengusirnya. Si Pengemis yang malang itu pun murkah mendapat perlakuan kasar itu. Sebelum meninggalkan halaman rumah yang besar dan mewah itu, ia berpesan kepada sang Saudagar.
“Hai, Saudagar kaya yang sombong dan kikir! Bersiap-siaplah untuk menerima balasan yang setimpal. Kamu akan merasakan betapa pedihnya menjadi orang miskin,” ujar pengemis itu.
Begitu selesai berpesan, si Pengemis itu tiba-tiba menghilang. Alangkah terkejutnya sang Saudagar dan kedua pengawalnya menyaksikan peristiwa ajaib tersebut. Meskipun ada rasa takut di dalam hatinya setelah melihat peristiwa ajaib itu, ia berusaha untuk menepisnya.
“Ah, ada-ada saja pengemis itu. Aku takkan mungkin menjadi miskin, karena hartaku sudah sangat melimpah,” ucap sang Saudagar dengan angkuhnya.
Keesokan harinya, betapa terkejutnya sang Saudagar kaya itu ketika bangun tidur, kedua kakinya tidak bisa ia gerakkan. Ia berkali-kali berusaha untuk menggerakkannnya, tapi tetap saja tidak bisa. Ia pun panik dan berteriak histeris memanggil pengawal pribadinya.
“Pengawal! Cepat kemari tolong aku!” teriaknya dengan suara keras.
Mendengar teriakan itu, dua orang pengawalnya pun segera datang.
  • “Apa yang terjadi dengan Tuan?” tanya seorang pengawalnya.
  • “Entahlah! Tiba-tiba kakiku tidak dapat kugerakkan,” jawab sang Saudagar sambil memegang kedua kakinya.
Kedua pengawalnya berusaha untuk membantu menggerakkan kakinya, tapi tetap saja tidak bisa. Rupanya, kedua kaki saudagar kaya itu lumpuh. Dengan panik, ia segera memerintahkan seluruh pengawalnya untuk mencari tabib. Pada hari itu juga, seluruh tabib sakti dari berbagai pelosok negeri pun berdatangan untuk mengobati kedua kakinya, namun tak seorang pun yang berhasil.

Dalam keadaan yang semakin panik, sang Suadagar berpesan kepada para pengawalnya untuk mengadakan sayembara.
“Pengawal! Umumkan kepada seluruh warga bahwa siapa pun yang mampu menyembuhkan aku dari kelumpuhan ini, dia akan aku berikan setengah dari harta kekayaanku,” ujar sang Saudagar.
Para pengawal setianya pun segera memasang pengumuman di tempat-tempat keramaian seperti di pasar, warung-warung kopi, maupun di pinggir-pinggir jalan ramai. Dalam waktu singkat, seluruh warga desa setempat dan warga desa-desa sekitarnya telah mengetahui perihal pengumuman tersebut, tak terkecuali pengemis itu. Mendengar kabar itu, sang Pengemis pun segera mendaftar untuk menjadi peserta sayembara.

Pada hari yang telah ditentukan, berkumpullah para peserta sayembara dari berbagai kalangan, termasuk si Pengemis itu, di halaman rumah sang Saudagar. Satu per satu para peserta dipanggil untuk mengobati penyakit sang Saudagar. Meskipun mereka telah mengeluarkan segala kemampuan dan kesaktian masing-masing, namun tak seorang pun yang menyembuhkan penyakit sang Saudagar.

Bahkan, penyakitnya justru semakin parah, sehingga ia bertambah panik. Kini, tinggal si Pengemis itu yang menjadi harapan satu-satunya.
“Wahai, Pengemis! Tolonglah aku! Hanya kamulah harapanku satu-satunya yang dapat menyembuhkan penyakitku ini,” iba sang Saudagar.
Pengemis itu tersenyum sambil mengamati kedua kaki sang Saudagar.
“Begini, Tuan! Aku tahu penyebab kelumpuhanmu. Semua ini terjadi karena sifatmu yang kikir dan sombong,” ujar si Pengemis.
Betapa terkejutnya sang Saudagar mendengar jawaban si Pengemis. Ia seakan-akan tidak percaya akan hal itu.
  • “Jika benar yang kamu katakan itu, bagaimana cara menyembuhkannya?” tanya saudagar kaya itu penasaran.
  • “Jika ingin sembuh dari kelumpuhan ini, Tuan harus memenuhi tiga syarat,” ujar si Pengemis.
  • “Apapun syaratnya, aku berjanji akan memenuhinya. Asalkan penyakitku dapat dsembuhkan,” jawab sang Saudagar.
Mendengar jawaban itu, si Pengemis pun menyebutkan ketiga persyaratan yang harus dipenuhi oleh sang Saudagar, yaitu; 
  1. Pertama, sang Saudagar harus merubah sifat sombong dan kikirnya;
  2. Kedua, ia harus pergi ke kaki Gunung Karang untuk bertapa di atas sebuah Batu Cekung selama tujuh hari tujuh malam, tanpa makan dan minum;
  3. Ketiga, ia juga harus berjanji untuk memberikan setengah harta kekakayaannya kepada warga miskin setelah ia sembuh dari kelumpuhannya. Sang Saudagar pun bersedia untuk memenuhi persyaratan tersebut.
Sebelum ia berangkat ke Kunung Karang, si Pengemis berpesan kepadanya agar tetap tidak terpengaruh terhadap segala rintangan dan godaan yang dapat membatalkan pertapaannya. Usai berpesan demikian, pengemis itu tiba-tiba lenyap dari pandangan mata. Saudagar itu pun menyadari bahwa pengemis itu bukanlah orang sembarangan.

Setelah itu, berangkatlah ia ke Gunung Karang dengan ditandu oleh empat orang pengawal pribadinya. Mereka berjalan menelusuri jalan-jalan setapak yang dikelilingi oleh semak belukar dan pepohonan rindang. Setelah dua hari dua malam berjalan, akhirnya mereka pun tiba di kaki Gunung Karang. Di tempat itu terlihatlah sebuah batu yang cukup besar dan berbentuk cekung.
“Pengawal! Bawa aku naik ke atas batu itu!” seru sang Saudagar.
Tanpa disadarinya, ternyata keempat pengawalnya telah jatuh pingsan saat tiba di tempat itu, karena kelelahan setelah melakukan perjalanan jauh. Akhirnya, dengan susah payah, saudagar itu mengesot di tanah untuk mencapai batu cekung itu dan naik duduk di atasnya.

Ketika hari mulai gelap, sang Saudagar pun segera memulai pertapaannya. Setelah tujuh hari tujuh malam ia bertapa dengan melalui berbagai rintangan dan godaan, seperti menahan lapar dan haus, serta gangguan dari binatang-binatang buas dan makhluk-makhluk halus, kejaiban pun terjadi. Tiba-tiba ia melihat ada air panas menyembur keluar dari sela-sela Batu Cekung tempatnya duduk.  Dalam waktu singkat, tempat itu tergenang air, sehingga membentuk sebuah kolam kecil. Melihat peristiwa ajaib itu, sang Saudagar pun mengakhiri pertapaannya dan segera mandi di kalom itu. Betapa terkejutnya ia ketika mencebur ke dalam kolam yang berisi air panas itu. Tiba-tiba ia merasakan darahnya mengalir di kedua kakinya, dan beberapa saat kemudian kedua kakinya dapat digerakkan kembali.
“Oh, terima kasih Tuhan! Engkau telah menyembuhkan kaki Hamba,” saudagar itu mengucap syukur.
Dengan perasaan senang dan gembira, sang Saudagar bersama para pengawalnya segera kembali ke desa. Setibanya di desa, ia pun segera melaksanakan janjinya, yaitu menyerahkan sebagian harta kekayaannya kepada warga miskin di sekitarnya. Ia membagi-bagikan tanah pertaniannya kepada petani miskin untuk digarap.

Setelah itu, ia menikahi seorang gadis cantik dari keluarga miskin dan kembali menjalankan tugas-tugasnya sebagai Kepala Desa dengan penuh tanggung jawab. Sejak itu, ia dikenal sebagai orang kaya yang dermawan dan Kepala Desa yang arif dan bijaksana, sehingga semua warganya menjadi senang kepadanya.

Kepada setiap orang yang bertamu ke rumahnya, sang Saudagar menceritakan perihal keajaiban sumber air panas Batu Cekung di kaki Gunung Karang yang telah menyembuhkan penyakit lumpuhnya. Lambat laun cerita dari mulut ke mulut itu pun tersebar hingga ke penjuru desa, sehingga para warga pun berbondong-bondong mendatangi tempat itu untuk mencoba kemujaraban air panas itu. Terbukti, banyak warga yang telah sembuh dari penyakitnya setelah mandi di tempat itu. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, air panas Batu Cekung tidak hanya menyembuhkan penyakit lumpuh, tetapi juga berbagai macam penyakit seperti reumatik, polio, dan pegal-pegal, karena mengandung kadar yodium dan kalsium.

∞∞∞

Demikian kisah LEGENDA BATU KUWUNG dari daerah Banten, Indonesia. Kini, sumber mata air panas Batu Kuwung menjadi salah salah obyek wisata menarik di daerah Banten. Oleh pemerintah setempat, obyek wisata yang memiliki luas sekitar 7,8 hektar ini diharapkan menjadi salah satu ikon pariwisata air panas di Provinsi Banten.

Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang tidak pandai mensyukuri nikmat Tuhan, maka harta, pangkat, dan jabatannya akan membawa  kebinasaan kepada dirinya sendiri, seperti yang dialami oleh sang Saudagar. Karena kegemarannya menumpuk-numpuk harta dan hidup berfoya-foya, serta menyalahgunakan jabatannya untuk menindas dan berbuat dhalim kepada warga, akhirnya ia dibenci oleh semua orang dan dimurkahi oleh Tuhan. Akibatnya, ia pun terkena penyakit lumpuh, meskipun pada akhirnya sembuh dari kelumpuhan karena telah bertobat.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH SULTAN MAULANA HASANUDDIN

1 komentar

MAULANA HASANUDDIN merupakan seorang pendiri Kesultanan Banten. Ia juga bergelar PANGERAN SABAKINGKIN dan berkuasa di Banten dalam rentang waktu 1552 - 1570.
SULTAN MAULANA HASANUDDIN berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Banten. Ia mendirikan Kesultanan Banten sekaligus menjadi penguasa pertama di kerajaan Islam tersebut.
BERDASARKAN SEJARAH BANTEN, MAULANA HASANUDDIN MERUPAKAN SALAH SEORANG PUTERA DARI SUNAN GUNUNG JATI.
Bersama Kerajaan Demak, Ia turut serta dalam penaklukan Pelabuhan Kelapa sekitar tahun 1527 yang waktu itu masih merupakan pelabuhan utama dari Kerajaan Sunda. Kemudian melanjutkan perluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada di Lampung. Ia mendirikan benteng pertahanan yang dinamakan Surosowan dan kemudian menjadi pusat pemerintahan, setelah Banten menjadi kerajaan sendiri.

∞∞∞


Seorang tokoh penyebar agama Islam di Banten bernama HASANUDDIN dengan gelar PANGERAN SABAKINGKIN atau SEDA KINKIN. Gelar tersebut pemberian dari kakeknya, PRABU SURASOWAN, yang menjabat sebagai Bupati Banten. Hasanuddin sendiri merupakan putra kedua dari pasangan NYI KAWUNG ANTEN (putri Prabu Surasowan) dengan SYEKH SYARIF HIDAYATULLAH ATAU SUNAN GUNUNG JATI, salah satu dari Sembilan Wali (walisongo). Dimana Nyi Kawung Anten adalah selir dari Sunan Gunung Jati yang merupakan raja dari kesultanan Cirebon.

Ketika Prabu Surasowan wafat, kedudukannya sebagai Bupati Banten digantikan oleh putranya bernama ARYA SURAJAYA atau Prabu Pucuk Umum. Pusat pemerintahannya berkedudukan di Banten Girang (Banten Hulu), yang masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Ketika itu, Prabu Pucuk Umum masih menganut agama resmi Kerajaan Pajajaran yaitu agama Hindu.

Pada masa pemerintahan Prabu Pucuk Umum, Syekh Syarif Hidayatullah harus kembali ke Cirebon untuk menggantikan Pangeran Cakrabuana yang telah wafat sebagai Bupati Cirebon. Sementara itu, Pangeran Hasanuddin lebih memilih menjadi guru agama Islam dan mendirikan pesantren di Banten. Sejak itulah, ia dikenal sebagai Syekh Maulana Hasanuddin. Ketenarannya pun telah melampaui kharisma pamannya, Prabu Pucuk Umum, sehingga hubungan mereka menjadi tidak harmonis.

Meskipun menetap di Banten, Syekh Maualana Hasanuddin sering mengunjungi sang Ayah di Cirebon untuk bersilaturrahmi dan meminta petunjuk. Suatu ketika, ia mendapat tugas untuk melanjutkan tugas sang Ayah menyebarkan Islam di daerah Banten.
  • “Putraku, Hasanuddin! Kini Engkau sudah dewasa. Pengetahuan agamamu pun sudah cukup mumpuni. Saatnya pengetahuan itu kau sebarkan kepada seluruh rakyat Banten,” ujar Syekh Syarif Hidayatullah.
  • “Baik, Ayah,” jawab Pangeran Hasanuddin seraya berpamitan kembali ke Banten.
Setiba di Banten, Syekh Maulana Hasanuddin melanjutkan misi dakwah ayahnya. Bersama para santrinya, ia berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya, mulai dari Gunung Pulosari Gunung Karang atau Gunung Lor, hingga ke Pulau Panaitan di Ujung Kulon.

Dalam upaya penyebaran Islam ke seluruh daerah Banten, Syekh Maulana Hasanuddin tidak jarang mendapat hambatan. Salah satunya datang dari Prabu Pucuk Umum yang bersikukuh ingin mempertahankan ajaran SUNDA WIWITAN (HINDU) sebagai agama resmi Kerajaan Pajajaran. Di lain pihak, Syekh Maulana Hasanuddin menginginkan kegiatan dakwah Islam di Banten dapat berjalan lancar.
Maka, Prabu Pucuk Umum menantang Syekh Maulana Hasanuddin untuk berperang, namun bukan duel di antara keduanya, melainkan beradu ayam jago. Hal ini dilakkukan demi menghindari jatuhnya banyak korban jiwa dari kedua belah pihak.
  • “Wahai, Mualana Hasanuddin. Jika kamu ingin menyebarkan Islam di daerah Banten, kalahkan dulu ayam jagoku! Jika kamu berhasil memenangkan pertarungan ini, jabatanku sebagai Bupati Banten Girang akan kuserahkan kepadamu. Tapi ingat, jika kamu yang kalah, maka kamu harus menghentikan dakwahmu itu,” kata Prabu Pucuk Umum.
  • “Baiklah, kalau itu yang Prabu inginkan. Hamba menerima tantangan itu,” jawab Maulana Hasanuddin.
Tempat adu kesaktian ayam jago itu akan dilaksanakan di lereng Gunung Karang karena dianggap sebagai tempat yang netral. Pada hari yang telah ditentukan, kedua pihak pun menuju lereng Gunung Karang. Prabu Pucuk Umum dan Maulana Hasanuddin tidak hanya membawa ayam jago, tetapi juga membawa pasukan bersenjata untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
Selain itu, Prabu Pucuk Umum tampak membawa golok yang terselip di pinggang dan tombak di genggamannya. Syekh Maulana Hasanuddin hanya membawa sebilah keris pusaka warisan Wali Songo.

Setiba di arena pertarungan, Prabu Pucuk Umum mengambil tempat di tepi utara arena dengan mengenakan pakaian hitam-hitam, rambut gondrong sampai leher, dan mengenakan ikat kepala. Sementara itu, Syekh Maulana Hasanuddin tampak berdiri di sisi selatan arena dengan mengenakan jubah dan sorban putih di kepala. Sebelum pertarungan dimulai, kedua ayam jago dibawa ke tengah arena. Kedua ayam jago tersebut masih berada di dalam kandang anyaman bambu. Ayam jago milik Prabu Pucuk Umum telah diberi ajian otot kawat tulang besi dan di kedua tajinya dipasangi keris berbisa. Sementara ayam milik Maulana Hasanuddin tidak dipasangi senjata apapun, tapi tubuhnya kebal terhadap senjata tajam. Ayam itu telah dimandikan dengan air sumur Masjid Agung Banten. Pada saat ayam itu dimandikan, dibacakan pula ayat-ayat suci Alquran.

Konon, ayam jago milik Maulana Hasanuddin adalah penjelmaan salah seorang pengawal sekaligus penasehatnya yang bernama Syekh Muhammad Saleh. Ia adalah murid Sunan Ampel dan tinggal di Gunung Santri di Bojonegara, Serang. Karena ketinggian ilmunya dan atas kehendak Allah, ia mengubah dirinya menjadi ayam jago.

Di pinggir arena, kedua belah pihak tampak tegang. Syekh Maulana Hasanuddin bersama rombongannya yang terdiri dari para ustadz dan santri larut dalam doa memohon pertolongan dari Allah. Sementara itu, pihak Prabu Pucuk Umum yang terdiri dari ratusan ajar (pendeta) dan punggawa (panglima) juga terlihat komat-kamit membaca mantra. Dalam suasana tegang, salah seorang Punggawa yang mewakili kedua belah pihak masuk ke tengah arena untuk membacakan pengumuman:
  • “Yang Mulia Syekh Maulana Hasanuddin dan Prabu Pucuk Umum, perkenankanlah kami membacakan pengumuman sebagai berikut:
  • PERTAMA, sebagaimana yang telah disepakati, bahwa apabila Prabu Pucuk Umum kalah, maka pihak Maulauna Hasanuddin akan diberi kebebasan untuk menyebarkan Islam di Banten. Sebaliknya, apabila Prabu Pucuk Umum yang menang, maka Maulana Hasanuddin harus menghentikan kegiatan dakwahnya di Banten Tengah dan Selatan.
  • KEDUA, pihak yang kalah harus menunjukkan tanda pengakuan dengan menyerahkan senjata kepada pihak yang menang.
  • Ketika, kepada yang hadir agar dapat menahan diri dan menjaga ketertiban dengan tidak memasuki arena selama pertandingan berlangsung.
  • Demikian pengumuman ini kami sampaikan.”
Begitu pengumaman selesai dibacakan, gong pun dibunyikan sebagai tanda pertandingan akan dimulai.

Kedua ayam jago segera dikeluarkan dari sangkarnya masing-masing. Suasana yang tadinya mencekam berubah menjadi ramai. Riuh rendah suara penonton pun membahana memberi semangat kepada kedua ayam jago yang akan bertarung. Di tengah gelanggang, kedua ayam jago saling mendekat. Sesekali keduanya silih berganti berkokok dengan suara menantang. Pada saat berhadap-hadapan dengan jarak sekitar dua meter, keduanya saling menggertak dengan posisi miring sambil berputar-putar membentuk lingkaran. Mata keduanya saling menatap sangat tajam seolah-olah menyimpan dendam.
Selang beberapa saat kemudian, ayam jago Pujuk Umum berhenti lalu mundur setengah meter untuk mengambil ancang-ancang. Dengan kekuatan penuh, ia bergerak maju menyerang sambil mengerahkan tajinya ke arah dada lawannya. Ayam jago Maulana Hasanudian pun menyambut serangan itu. Tak ayal, saat benturan fisik terjadi, keduanya pun terpental ke belakang. Tubuh ayam jago Maulana Hasanuddin tidak mengalami luka sedikit pun.

Pertarungan semakin seru. Kedua ayam jago itu kembali berhadap-hadapan. Ayam jago Pucuk Umum kali ini tampak lebih beringas. Tatapan matanya semakin tajam dan memerah. Sementara ayam jago Maulana Hasanuddin tetap berusaha tenang setelah mendapat serangan pertama. Pertarungan semakin seru, sorak sorai penonton kembali bergemah menyemangati jagonya masing-masing.
“Hidup Prabu Pucuk Umum...! Hidup Syekh Maulana Hasanuddin..!”
Ketika kedua ayam jago itu mulai bertarung lagi, suasana pun kembali mencekam. Dengan gerakan liar, ayam jago Pucuk Umum menyerang lagi dan bermaksud merobek dada musuhnya. Mendapat serangan kedua itu, ayam jago Maulana Hasanuddin berkelit ke kanan dan ke kiri untuk menghindari taji keris berbisa itu. Jago Pucuk Umum pun mulai kehilangan kesabaran. Ia semakin kalap dan menyerang secara membabi buta. Tanpa diduga, tiba-tiba ayam jago Maulana Hasanuddin terbang tinggi ke angkasa. Jago Pucuk Umum pun menyusulnya sehingga terjadilah pertarungan sengit di udara. Semua pandangan penonton tertuju pada kedua ayam jago yang berada di udara.
Tiba-tiba ayam jago Pucuk Umum jatuh terkulai di tanah dan meregang nyawa. Rupanya ayam jago itu terkena tendangan keras ayam jago Maulana Hasanuddin. Para pendudung Pucuk Umum pun menjadi bungkam, sedangkan pendukung Maulana Hasanuddin melompat kegirangan sambil meneriakkan:
“Allahu Akbar! Hidup Maulana Hasanuddin! Hidup Syariat Islam!”
Akhirnya, Syekh Maulana Hasanuddin memenangkan pertandingan adu ayam itu. Prabu Pucuk Umum pun mengaku kalah. Ia kemudian mendekati Maulana Hasanuddin untuk memberi ucapan selamat seraya menyerahkan golok dan tombaknya sebagai tanda pengakuan atas kekalahannya.
Penyerahan kedua senjata pusaka juga berarti penyerahan kekuasaannya kepada Maulana Hasanuddin atas Banten Girang.
“Selamat, Maulana Hasanuddin! Sesuai dengan kesepakatan kita, maka kini engkau bebas melakukan dakwah Islam sekaligus menjadi penguasa di Banten Girang,” ujar Prabu Pucuk Umum.
Setelah itu, Prabu Pucuk Umum berpamitan. Ia bersama beberapa pengikutnya kemudian mengungsi ke Banten Selatan, tepatnya di Ujung Kulon atau ujung barat Pulau Jawa.

Mereka bermukim di hulu Sungai Ciujung, di sekitar wilayah Gunung Kendeng. Atas perintah Prabu Pucuk Umum, para pengikutnya diharapkan untuk menjaga dan mengelola kawasan yang berhutan lebat itu. Konon, merekalah cikal bakal orang Kanekes yang kini dikenal sebagai suku Baduy.

Sedangkan para pengikut Prabu Pucuk Umum yang terdiri dari pendeta dan punggawa Kerajaan Pajajaran menyatakan masuk Islam di hadapan Syekh Maulana Hasanuddin. Dengan demikian, semakin muluslah jalan bagi Syekh Maulana Hasanuddin dalam menyebarkan dakwah Islam di Banten.
Atas keberhasilan tersebut, ia kemudian diangkat oleh Sultan Demak sebagai Bupati Kadipaten Banten. Pusat pemerintahan semula di Banten Girang dipindahkan ke Banten Lor (Surosowan) yang terletak di pesisir utara Pulau Jawa.
Selanjutnya, karena keberhasilannya memimpin daerah itu dengan membawa kemajuan yang pesat di berbagai bidang, Kadipaten Banten kemudian diubah menjadi negara bagian Demak atau Kesultanan Banten dengan tetap mempertahankan Maulana Hasanuddin sebagai sultan pertama.

∞∞∞

Demikian KISAH SULTAN MAULANA HASANUDDIN dari daerah Banten. Kisah ini adalah sebuah cerita rakyat, bukan cerita yang berdasarkan fakta sejarah. Namun, di balik cerita ini tersimpan pesan-pesan moral yang dapat dipetik, salah satunya adalah bahwa para ulama dahulu menyebarkan agama Islam tidak selalu dilakukan dengan perang yang melibatkan kontak fisik.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH LEGENDA TANJUNG LESUNG

0 komentar

Di daerah Pandeglang, Provinsi Banten ada sebuah kampung yang bernama kampung TANJUNG LESUNG. Sesuai namanya tanjung, kampung ini bergeografis daratan yang menjorok ke laut dengan pantai-pantai yang berhamparan pasir putih yang indah, maka tak heran kampung Tanjung Lesung ini menjadi salah satu daerah tujuan wisata baik wisatawan domestik maupun internasional. Menurut cerita, kampung ini dinamakan Tanjung Lesung karena sebuah peristiwa yang terjadi di daerah itu pada masa silam.

∞∞∞


Di pesisir Laut Selatan Pulau Jawa, ada seorang pengembara bernama Raden Budog. Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Dalam pengembaraannya, ia selalu ditemani oleh seekor anjing dan kuda kesayangannya. Suatu siang, seusai mandi di pantai, Raden Budog beristirahat di bawah sebuah pohon ketapang yang rindang. Buaian angin pantai yang sejuk membuat pemuda itu begitu cepat terlelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi mengembara ke utara dan bertemu dengan seorang gadis cantik jelita. Kecantikan gadis itu membuat hatinya terpesona. Ia melihat gadis itu tersenyum manis seraya mengulurkan tangannya. Namun, saat ia hendak menyambut uluran tangan gadis itu tiba-tiba sebuah ranting kering jatuh mengenai dahinya. Ia pun terkejut dan langsung terbangun dari tidurnya. Raden Budog membanting ranting itu keras-keras karena merasa geram tidak bisa melanjutkan mimpi indahnya.

Sejak peristiwa itu, hati Raden Budog tidak tenang karena senyum manis gadis itu selalu terbayang di pelupuk matanya. Walaupun hanya mimpi, namun ia merasa bahwa pertemuannya dengan gadis seperti kenyataan. Oleh karena penasaran, ia pun memutuskan pergi mengembara ke utara untuk mencari gadis impiannya. Setelah menyiapkan perbekalan secukupnya, Raden Budog memacu kuda kesayangannya menuju ke arah utara, sementara anjingnya berjalan di depan sambil mengendus-endus mencari jalan bagi tuannya.

Setelah berhari-hari berjalan menapaki jalan-jalan terjal, tibalah Raden Budog di sebuah tempat tinggi yang dikenal bernama Tali Alas atau yang kini disebut Pilar. Dari tempat itulah, Raden Budog dapat melihat pemandangan samudera biru yang membentang luas dan pantai yang indah. Sejenak, ia beristirahat di tempat itu sambil menikmati bekalnya yang masih tersisa. Sementara itu, kudanya dibiarkan mencari rumput segar dan anjingnya asyik berburu burung puyuh yang banyak berkeliaran di antara semak-semak.

Setelah dirasa cukup beristirahat, Raden Budog melanjutkan perjalanannya menuju ke pantai, yakni yang dikenal dengan sebutan Pantai Cawar. Setiba di pantai itu, Raden Budog turun dari kudanya kemudian berlari menuju pantai dan terjun ke laut.
“Waaah, sejuk sekali air pantai ini!” ujar Raden Budog sambil membasuh mukanya dengan air laut.
Sejuknya air di Pantai Cawar benar-benar menghilangkan rasa lelah Raden Budog. Setelah badannya kembali segar, pemuda itu pergi ke muara sungai yang ada di sekitar pantai untuk membasuh tubuhnya dengar air tawar. Ia lalu menghampiri kuda dan anjingnya yang duduk di tepi pantai dengan maksud hendak melanjutkan pengembaraan. Tidak seperti biasanya, ketika melihat tuan mereka, kedua binatang tersebut segera menyapa dengan ringkikan atau gonggongannya. Namun, kali ini mereka tidak bergerak sedikit pun seolah tidak perduli ajakan tuan mereka. Raden Budog pun merasa heran melihat perilaku kedua hewan sahabatnya itu.
“Ayo cepat berdiri, kita lanjutkan perjalanan!” seru Raden Budog.
Anjing dan kudanya itu tetap saja tidak bergerak. Rupanya, kedua hewan tersebut sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang sehingga menggerakkan badan pun sulit mereka lakukan.
“Baiklah, jika kalian tidak mau menuruti perintahku dan tetap diam seperti karang, akan kutinggalkan kalian di sini,” ucap Raden Budog dengan kesal.
Ucapan Raden Bodug itu rupanya menjadi kenyataan. Kuda dan anjingnya tiba-tiba menjelma menjadi batu karang. Akhirnya, Raden Budog terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki seorang diri. Tekadnya tetap membara. Yang ada dalam pikiran Raden Budog hanyalah sang gadis pujaan yang ditemuinya dalam mimpi itu.

Raden Budog terus berjalan tanpa mengenal lelah. Ia juga tidak menghiraukan pakaiannya yang lusuh dan badannya kotor berdebu. Ketika tiba di sebuah sungai, ia terpaksa menghentikan perjalanannya karena sungai itu sedang banjir besar.
“Ah, lebih baik aku beristirahat dulu di sini sambil menunggu banjir itu surut,” gumam Raden Bugog seraya merebahkan tubuhnya di atas sebuah batu besar yang ada di tepi sungai.
Baru saja Raden Budog merebahkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar bunyi lesung dari seberang sungai. Ia pun terperanjat dan hatinya berdebar kencang.
“Aku yakin, di seberang sungai ini terdapat kampung, tempat tinggal gadis itu,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Raden Budog tidak sabar lagi menunggu banjir itu surut karena ingin segera bertemu dengan gadis pujaannya. Akhirnya, ia terpaksa menyeberangi sungai itu walaupun banjir belum surut. Dengan segenap tenaga yang dimiliki, ia pun berhasil menyeberangi sungai itu. Saat tiba di pintu masuk kampung tersebut, Raden Budog memutuskan untuk beristirahat sejenak guna memulihkan tenaganya sambil mengamati keadaan sekitar.

Beberapa saat kemudian, alunan bunyi lesung yang merdu dari dalam kampung itu kembali terdengar. Hati Raden Budog semakin berdebar kencang karena merasa gadis itu semakin dekat di hatinya. Ia pun segera berdiri dan melangkah menuju ke sumber bunyi lesung tersebut. Semakin jauh ia masuk ke dalam perkampungan, bunyi lesung semakin keras terdengar. Begitu ia tiba di depan sebuah rumah, tampaklah gadis-gadis kampung sedang asyik bermain lesung atau ngagondang. Kebiasaan bermain lesung tersebut sudah merupakan tradisi penduduk kampung itu saat akan menanam padi. Namun, tradisi itu tidak mereka lakukan jika bertepatan hari Jumat, karena hari Jumat dianggap sebagai hari keramat.

Sementara itu, Raden Budog terpesona menyaksikan tangan gadis-gadis tersebut yang begitu lincah dan terampil mengayunkan dan menumbukkan alu ke dalam lesung secara bergantian. Alangkah terpesonanya lagi saat ia melihat seorang gadis yang cantik jelita sedang mengayunkan tangannya sekaligus memberi aba-aba pada gadis-gadis lain. Rupanya, gadis yang bernama Sri Poh Haci itu adalah pemimpin dari kelompok gadis-gadis yang bermain ngagondang.
“Itulah gadis yang pernah hadir dalam mimpiku,” Raden Budog membatin.
Betapa senangnya hati Raden Budog karena gadis yang selama ini ia cari kini ada di depan matanya. Ia pun terus memandang gadis itu tanpa berkedip sedikit pun. Sementara itu, Sri Poh Haci yang merasa ada yang memperhatikan segera memberikan isyarat kepada teman-temannya agar menghentikan permainan ngagondang. Gadis-gadis itu pun berhenti memainkan alu di tangannya seraya bergegas pulang ke rumah masing-masing, termasuk Sri Poh Haci. Setiba di rumahnya, Sri Poh Haci disambut oleh ibunya.
  • “Kenapa permainan lesungnya hanya sebentar, anakku?” tanya ibu Sri Poh Haci yang biasa dipanggil Nyi Siti.
  • “Tadi ada seorang pemuda tampan yang belum pernah aku lihat. Dia memperhatikanku terus saat bermain ngadondang. Aku kan jadi malu, Bu,” jelas Sri Poh Haci.
Baru saja mereka membicarakan pemuda asing itu, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu dan disusul suara seorang laki-laki.
  • “Sampurasun..., permisi...”
  • “Rampes...,” jawab ibu Sir Poh Haci seraya menuju ke ruang depan untuk membukakan pintu.
Begitu Nyi Siti membuka pintu, tampaklah seorang pemuda tampan dan gagah perkasa sedang berdiri di depan pintu.
“Maaf kalau kedatangan saya mengganggu. Bolehkah saya menginap di rumah ibu?” pinta pemuda itu yang tak lain adalah Raden Budog.
Betapa terkejut Nyi Siti mendengar permintaan pemuda yang tidak dikenalnya itu.
  • “Maaf, kisanak ini siapa dan berasal dari mana? Mengapa kisanak ingin menginap di rumah saya? Kami belum mengenal kisanak,” tanya Nyi Siti curiga. Raden Budog pun lantas memperkenalkan diri.
  • “Nama saya Raden Budog, Bu. Saya seorang pengembara dan kebetulan mampir di kampung ini. Jika diperkankan, izinkanlah saya untuk menginap di rumah ibu,” pinta Raden Budog kembali.
  • “Maaf, Raden. Penghuni rumah ini hanya saya dan anak gadis saya. Saya tidak berani menerima tamu laki-laki, apalagi jika menginap,” jawab Nyi Siti tegas seraya menutup pintu.
Rupanya, Nyi Siti tidak senang dengan sikap Raden Budog yang dianggap terlalu lancang ingin menginap di rumahnya. Sementara itu, Raden Budog merasa kesal karena permintaannya ditolak oleh perempuan paruh baya itu. Karena hari sudah mulai gelap, ia pun memutuskan untuk beristirahat di bale-bale bambu yang berada di dekat rumah Nyi Siti.
“Ah, sebaiknya aku tidur di sini saja,” gumam Raden Budog seraya merebahkan tubuhnya di atas bale-bale bambu itu.
Pemuda pengembara itu pun tertidur pulas. Dalam tidurnya, ia bermimpi diizinkan menginap di rumah itu. Namun, bukan Nyi Siti yang mengizinkannya, melainkan Sri Poh Haci. Di tengah-tengah menikmati mimpi indahnya, tiba-tiba hidungnya merasakan wangi kopi yang menyegarkan. Begitu ia membuka matanya, tampak matahari sudah muncul di ufuk timur dan seorang gadis cantik berdiri di sampingnya.
  • “Silakan diminum kopinya, Raden!” kata gadis itu.
  • “Hai, nama kamu siapa? Dan dari mana kamu tahu namaku?” tanya Raden Budog pura-pura tidak tahu bahwa gadis itu pastilah anak Nyi Siti.
  • “Namaku Sir Poh Haci, anak Nyi Siti,” jawab sang gadis memperkenalkan diri.
Rupanya, diam-diam Sri Poh Haci pun jatuh hati kepada Raden Budog yang tampan itu. Setelah beberapa hari tinggal di kampung tersebut, Raden Budog berhasil menjalin kasih dengan Sri Poh Haci dan mereka pun bersepakat untuk menikah. Sebenarnya, Nyi Siti tidak setuju jika anaknya menikah dengan pemuda yang tidak diketahui asal-usulnya. Apalagi, ia tahu bahwa pemuda itu keras kepala. Namun, karena tidak ingin mengecewakan hati anaknya, ia pun terpaksa merestui pernikahan mereka.

Setelah menikah dengan Sri Poh Haci, Raden Budog pun menetap di kampung itu. Setiap kali istrinya bermain lesung bersama gadis-gadis kampung, ia selalu datang menyaksikannya karena senang mendengar nada lesung itu dan sesekali belajar memainkan lesung. Semakin lama, Raden Budog semakin senang bermain lesung sehingga terkadang lupa waktu. Saking senangnya, ia tetap bermain lesung walaupun pada hari Jumat. Padahal, istrinya sudah memberi tahu sebelumnya bahwa bermain lesung pada Jumat sangat dipantangkan.

Berkali-kali para tetua kampung memperingatkan akan hal itu, namun Raden Budog yang keras kepala itu tidak menghiraukannya dan tetap bermain lesung di hari Jumat. Perilaku Raden Budog semakin menjadi-jadi, ia terus menabuh lesung sambil melompat-lompat kegirangan ke sana ke mari seperti seekor lutung (kera hitam berekor panjang).
“Lihat... lihat! Ada lutung bermain lesung!” teriak para warga.
Rupanya, Raden Budog tidak menyadari jika dirinya telah menjadi seekor lutung. Alangkah terkejutnya ia setelah melihat tangan dan kakinya telah penuh dengan bulu-bulu. Setelah meraba wajahnya dan merasa penuh dengan bulu, ia pun langsung lari terbirit-birit masuk ke dalam hutan di pinggir kampung tersebut. Sejak itu, Raden Budog menjadi lutung dan tidak pernah lagi kembali ke wujud aslinya sebagai manusia.

Sementara itu, Sri Poh Haci merasa sangat malu atas peristiwa tersebut. Oleh karena tidak kuat menanggung malu, ia pun pergi dari kampung halamannya secara diam-diam dan hilang entah ke mana. Menurut cerita, Sri Poh Haci telah menjelma menjadi Dewi Padi. Untuk mengenang kemahiran Sri Poh Haci bermain lesung, penduduk setempat menyebut kampung itu dengan nama Kampung Lesung. Karena berlokasi di sebuah tanjung, maka kampung itu diberi nama Tanjung Lesung.

∞∞∞




Demikian KISAH LEGENDA TANJUNG LESUNG dari daerah Banten. Pesan moral yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bahwa orang yang keras kepala seperti Raden Budog akan menanggung akibat dari sifat itu. Karena sifat keras kepalanya dan tidak mau mendengar nasehat para tetua kampung untuk berhenti bermain lesung pada hari Jumat yang dikeramatkan, akibatnya Raden Budog pun menjelma menjadi seekor lutung.   (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT TERBARU

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT POPULER

ADHI MEKAR INDONESIA "AMI SCHOOL" DENPASAR BARAT, BALI

 
  • AGATHA NICOLE © 2017 | Modified By YURI | Powered By BLOGGER | KEDAI LOMBOK