Daftar Cerita Legenda Rakyat
Showing posts with label NUSA TENGGARA TIMUR. Show all posts
Showing posts with label NUSA TENGGARA TIMUR. Show all posts

LEGENDA BUKIT FAFINESU - BUKIT BABI GEMUK

0 komentar

Bukit Fafinesu terletak di sebelah utara Kota Kefamenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.  Dulunya, bukit ini belum mempunyai nama. Namun, setelah terjadi peristiwa ajaib dan mengharukan di bukit itu, maka dinamakanlah Bukit Fafinesu yang artinya Bukit Babi Gemuk.
∞∞∞


Alkisah, di pedalaman Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, ada tiga orang anak yatim piatu. Mereka adalah Saku dan dua orang adiknya Abatan dan Seko. Ayah mereka meninggal dunia karena terguling ke jurang ketika sedang berburu babi hutan beberapa tahun yang lalu. Selang tujuh bulan kemudian, ibu mereka menyusul sang Ayah karena kehabisan darah ketika sedang melahirkan si Bungsu. Untungnya, nenek mereka masih hidup sehingga ada yang merawat Seko. Namun, ketika Seko berumur Tujuh tahun, sang Nenek pun meninggal dunia karena dimakan usia.

Sejak itulah, ketiga anak yatim tersebut harus menghidupi diri mereka. Meskipun masih ada keluarga ibunya yang bersedia memelihara si Bungsu, namun lantaran memiliki rasa tanggung jawab, si Sulung mengambil alih peran orang tuanya untuk merawat dan mendidik kedua adiknya. Mereka ingin belajar hidup mandiri tanpa harus bergantung kepada orang lain.

Waktu terus berjalan. Abatan tumbuh menjadi remaja yang rajin dan cerdas. Tanpa disuruh oleh kakaknya, ia rajin menanam jagung dan ketela di ladang. Ia juga rajin mencari kayu bakar dan memasak untuk kakak dan adiknya. Si Bungsu pun kini telah berumur lima tahun dan menjadi anak yang penurut. Ia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sungguh bahagia hati Saku melihat kedua adiknya tumbuh menjadi orang yang baik. Walaupun hidup miskin, mereka senantiasa rukun dan bahagia.

Suatu malam yang sunyi, si Bungsu tidak bisa memejamkan matanya. Tiba-tiba hatinya diselimuti kerinduan yang mendalam terhadap kedua orang tuanya. Sejak bayi, ia tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ia pun bertanya kepada kakak sulungnya tentang keberadaan kedua orang tua mereka.
  • “Kaka Saku, ke manakah ayah dan ibu pergi? Kapan mereka akan pulang? Adik sangat merindukan mereka.”
Wajar memang jika si Bungsu bertanya demikian karena kedua kakaknya tidak pernah menceritakan mengenai keberadaan kedua orang tuanya. Mereka tidak ingin melihat si Bungsu menjadi sedih lantaran mengetahui keberadaan kedua orang tua mereka. Untuk itulah, Saku pun berusaha menghibur adiknya.
  • “Ayah dan ibu sedang pergi jauh, Adikku! Sebentar lagi mereka pulang membawa daging rusa yang lezat dan anak-anak babi,” kata Saku seraya mendongeng hingga si Bungsu tertidur pulas.
Setelah itu, giliran Saku yang tidak bisa memejamkan mata. Ia sedih melihat adik bungsunya. Malam itu, langit di angkasa tampak cerah. Rembulan bersinar terang dan bintang-bintang pun berkelap-kelip. Saku mengambil serulingnya lalu berjalan menuju ke sebuah bukit tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Suara-suara binatang malam mengiringi perjalanannya hingga tiba di puncak bukit. Di atas bukit itu, Saku berdiri sambil memandang langit.
  • “Ayah, Ibu! Kami sangat merindukan kalian. Mengapa begitu cepat kalian meninggalkan kami,” keluh Saku sambil mendesah.
Tak terasa air matanya keluar dari kedua kelopak matanya dan mengalir membasahi kedua pipinya. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kemudian meniup serulingnya dan menyanyikan lagu kesukaannya.

Ama ma aim honi
Kios man ho an honi
Nem nek han a amnaut
Masi ho mu lo’o
Au fe toit nek amanekat
Masi hom naoben me au toit
Ha ho mumaof kau ma hanik kau
--------------------------------------------------------------------------
Ayah dan Ibu
Lihatlah anakmu yang datang
Membawa setumpuk kerinduan
Walau kamu jauh
Aku butuh sentuhan kasihmu
Walau kalian telah tiada, aku minta
Supaya Ayah dan Ibu melindungi dan memberi rezeki

Saku menyanyikan lagu itu dengan penuh penghayatan. Tanpa sepengetahuannya, ternyata ayah dan ibunya mendengar lagu yang indah itu. Roh kedua orang tuanya pun turun dari langit menuju ke bukit itu. Melalui angin malam, roh sang Ayah berkata kepada Saku.
  • “Anakku, ayah dan ibumu mendengarkanmu. Kami mencintaimu. Meskipun kita berada di dunia yang berbeda, kita tetap dekat.”
Seketika itu, Saku jadi terperangah. Ia tidak tahu dari mana datangnya suara itu. Namun ia tahu kalau itu suara ayahnya. Selang beberapa saat kemudian, suara itu terdengar lagi.
  • “Anakku, besok malam sebelum ayam berkokok, ajaklah adik-adikmu menemui ayah dan ibu kalian di tempat ini. Jangan lupa membawa seekor ayam jantan merah untuk dijadikan korban!” pesan suara gaib itu.
Setelah suara itu lenyap, Saku bergegas kembali ke rumahnya dan tidur. Keesokan harinya, ia pun menceritakan kejadian yang dialaminya semalam kepada adik-adiknya. Betapa gembiranya hati si Bungsu mendengar cerita itu. Ia tidak sabar lagi ingin bertemu dengan kedua orangtuanya yang selama ini dirindukannya.

Pada saat tengah malam, Saku bersama kedua adiknya berangkat ke puncak bukit. Tidak lupa pula mereka membawa seekor ayam jantan merah pesanan kedua orangtua mereka. Tak berapa lama setelah mereka tiba di bukit itu, tiba-tiba angin bertiup sangat kencang. Pepohonan meliuk-liuk dan dedaunan rontok pun beterbangan sehingga menimbulkan suara menderu-deru. Rambut dan pakaian ketiga anak itu melambai-lambai seolah-olah hendak diterbangkan angin. Begitu tiupan angin berhenti, tiba-tiba dua sosok bayangan berdiri di hadapan mereka.
  • “Ayah, Ibu!” seru Saku saat melihat bayangan itu.
Mengerti kedua bayangan itu adalah orangtuanya, si Bungsu segera mendekat ke salah satu bayangan itu dan memeluknya erat-erat.
  • “Ibu, saya sangat merindukanmu,” kata si Bungsu.
  • ‘Iya, Anakku! Kami juga sangat merindukan kalian. Ibu tidak pernah melupakanmu,” jawab sang Ibu.
Suasana di puncak bukit itu menjadi hening. Pertemuan seluruh anggota keluarga kecil itu membawa perasaan haru di hati mereka. Setelah mereka selesai melepaskan kerinduan, sang Ayah mengajak istri dan ketiga anaknya untuk ke dasar jurang.
  • “Sekarang marilah kita turun ke jurang. Di sana kita akan mengorbankan ayam jantan merah yang kalian bawa dan kemudian mengambil dua ekor babi,” ujar sang Ayah.
Setibanya di dasar jurang, Seko segera menyembelih ayam jantan itu. Tatkala darah ayam itu menyentuh bumi, tiba-tiba dua ekor babi gemuk muncul di tengah-tengah mereka. Betapa senangnya ketiga anak itu. Mereka segera mendekati kedua babi itu dan mengelus-elusnya.
  • “Terima kasih, Ayah, Ibu,” ucap ketiga anak itu serentak.
  • “Dengarlah wahai, anak-anakku! Peliharalah kedua babi itu baik-baik sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang telah mempertemukan kita di tempat ini,” ujar sang Ayah.
Selang beberapa setelah sang Ayah berpesan, ayam jantan mulai berkokok. Cahaya kemerahan-merahan mulai tampak di ufuk timur pertanda pagi menjelang. Angin pun kembali berbertiup kencang.

Pada saat yang bersamaan, bayangan kedua orang tua mereka tiba-tiba lenyap. Saku dan kedua adiknya segera menggiring kedua babi itu pulang ke gubuknya dengan perasaan gembira untuk dipelihara. Sejak itu, ketiga anak yatim piatu itu dan keturunannya menjadikan babi sebagai salah satu hewan peliharaan.

Untuk mengenang peristiwa tersebut ketiga anak yatim tersebut menamai bukit itu dengan nama Bukit Fafinesu, yang berarti bukit babi gemuk. Hingga saat ini, Bukit Fafinesu masih ada di sebelah utara Kota Kefamenanu, Kabupaten Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
*****
Demikianlah kisah Legenda Bukit Fafinesu dari daerah Nusa Tenggara Timur. Legenda yang menceritakan asal-mula nama Bukit Fafinesu ini masih dipercayai oleh masyarakat pendukungnya. Adapun pelajaran yang dapat dipetik dari cerita ini adalah bahwa dalam persaudaraan, sebagai anak sulung seperti Saku semestinya memiliki rasa tanggungjawab mengasuh adik-adiknya apalagi jika kedua orang tua telah tiada. Sifat tanggungjawab Saku tampak ketika ia memutuskan untuk merawat dan mendidik sendiri adik-adiknya tanpa harus bergantung kepada orang lain.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH SURI IKUN DAN DUA BURUNG

0 komentar

Suri Ikun seorang anak lelaki berbadan kurus yang tinggal bersama kedua orangtua dan tiga belas orang saudaranya di sebuah kampung di daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pada suatu hari, Suri Ikun ditangkap oleh hantu dan disekap dalam sebuah gua.
∞∞∞


Alkisah, di sebuah kampung di daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia, ada sebuah keluarga petani yang mempunyai empat belas orang anak. Tujuh orang lelaki dan tujuh orang perempuan. Anak lelakinya yang paling muda bernama Suri Ikun. Ia seorang pemberani dan suka menolong. Berbeda dengan keenam kakak lelakinya, selain pendengki mereka juga penakut. Mendengar dengusan babi hutan saja mereka lari tunggang-langgang.

Untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan keempat belas anaknya, sang Suami sebagai kepala keluarga menanam umbi-umbian dan sayur-sayuran di kebunnya. Meskipun kebunnya cukup luas, hasilnya terkadang tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya, karena tanamannya sering dirusak oleh kawanan babi hutan.

Pada suatu malam, sang Suami mengajak istri dan ketujuh anak lelakinya bermusyawarah untuk mengatasi permasalahan tersebut.
  • “Wahai, Anak-anakku! Tentu kalian semua tahu bahwa kita hidup dari hasil berkebun. Untuk itu kita harus menjaga semua tanaman yang ada di kebun,” ungkap sang Ayah.
  • “Apa yang harus kami lakukan, Ayah”“ tanya si Sulung.
  • “Begini, Anakku! Ayah akan menugaskan kalian secara bergiliran meronda di kebun untuk mengusir babi hutan,” kata sang Ayah.
Mendengar perkataan itu, ketujuh orang lelaki bersaudara tersebut terkejut.
  • “Aduh, adakah cara lain yang dapat kami lakukan selain meronda, Ayah”“ keluh si Sulung.
  • “Apa maksudmu, Anakku!” tanya sang Ayah.
  • “Maaf, Ayah! Saya sangat takut pada babi hutan,” jawab si Sulung.
  • “Iya, Ayah! Kami juga takut,” sambung lima orang anaknya yang lain serentak.
Sang Ayah menjadi bingung mendengar keluhan keenam anaknya tersebut. Sejenak, ia berpikir untuk mencari cara lain untuk mengusir babi hutan dari kebunnya. Suasana musyawarah keluarga pun menjadi hening. Dalam suasana hening itu, tiba-tiba Suri Ikun angkat bicara.
  • “Maaf, Ayah! Jika Ayah mengizinkan, biarlah saya sendiri yang meronda di kebun,” pinta Suri Ikun.
  • “Benarkah kamu sanggup meronda seorang diri, Anakku”“ tanya sang Ayah.
  • “Benar, Ayah! Saya akan menangkap babi-babi hutan itu dengan panahku,” jawab Suri Ikun dengan penuh semangat.
Alangkah senangnya hati keenam kakak lelaki Suri Ikun, karena mereka terbebas dari sebuah tugas yang sangat berat.

Keesokan harinya, setelah mempersiapkan busur dan anak panahnya, berangkatlah Suri Ikun ke kebun seorang diri untuk meronda. Sesampainya di kebun, ia langsung berkeliling melihat keadaan kalau-kalau ada kawanan babi hutan yang sedang merusak tanamannya. Setelah beberapa saat berkeliling dan tidak menemukan seekor babi hutan pun, Suri Ikun beristirahat di bawah sebuah pohon besar.

Ketika sedang asyik duduk bersandar sambil menikmati tiupan angin sepoi-sepoi, tiba-tiba tiga ekor babi hutan sedang melintas tidak jauh dari depannya. Ia pun segera bersembunyi di balik pohon tempatnya bersandar seraya menyiapkan anak panahnya. Pada saat ketiga kawanan babi hutan itu akan memakan tanamannya, ia pun segera menarik anak panahnya dari busurnya dan melepaskannya ke arah babi yang paling besar.
  • “Siuuut.... deg...!!!”
Anak panahnya tepat mengenai lambung kanan babi itu dan langsung terkapar di tanah. Sementara dua babi hutan lainnya langsung melarikan diri ke balik semak belukar. Suri Ikun segera menghampiri babi hutan yang sudah tidak bergerak itu.
  • “Wah besar sekali babi hutan ini. Pasti dagingnya sangat lezat,” gumam Suri Ikun.
Dengan perasaan senang dan gembira, Suri Ikun pun segera membawa pulang babi hutan itu ke rumahnya. Oleh karena babi hutan itu sangat berat, sampai-sampai ia harus beberapa kali berhenti beristirahat dalam perjalanan. Sesampainya di rumah, ia pun disambut gembira oleh kedua orangtua dan saudara-saudaranya yang sudah lama menunggu.
  • “Wah, kamu hebat sekali, Suri Ikun!” ucap si Sulung memuji.
Kemudian mereka pun segera memotong-motong dan memasak daging babi hutan itu. Setelah matang, si Sulung bertugas membagi-bagikan daging babi tersebut kepada saudara-saudaranya. Oleh karena sifatnya yang dengki, ia hanya memberi Suri Ikun bagian kepala babi itu, yang sudah tentu tidak banyak dagingnya. Begitulah seterusnya, setiap kali membawa seekor babi hutan hasil buruannya, Suri Ikun selalu saja mendapat bagian kepala. Meski demikian, Suri Ikun tetap merasa senang, karena hasil keringatnya dapat dinikmati oleh seluruh keluarganya.

Pada suatu sore, ayah mereka baru saja pulang dari mencari kayu bakar di sebuah hutan lebat yang letaknya cukup jauh.
  • “Anak-anakku! Maukah kalian membantu, Ayah!”
  • “Apa yang dapat kami bantu, Ayah”“ tanya si Sulung penasaran.
  • “Gerinda Ayah tertinggal di tengah hutan. Maukah kalian pergi mengambilnya”“ pinta sang Ayah.
Akhirnya, si Sulung pun mengajak keenam saudara lelakinya pergi ke hutan lebat itu. Pada saat sampai di hutan, hari sudah mulai gelap. Menurut cerita, hutan tersebut dihuni oleh para hantu rimba yang terkenal jahat. Suri Ikun berjalan mengikuti kakaknya menyusuri hutan lebat itu sambil menggendong busur dan anak panahnya. Oleh karena gelapnya malam, Suri Ikun tidak menyadari jika keenam saudaranya mengambil jalan lain yang menuju ke rumah. Sementara ia terus berjalan menyusuri hutan. Semakin lama ia pun semakin jauh masuk ke tengah hutan. Setelah menyadari ia ditinggal sendirian, ia pun berteriak-teriak memanggil keenam kakaknya.
  • “Kakak... di mana kalian”
Berkali-kali Suri Ikun memanggil nama keenam kakaknya, tetapi tetap tidak mendapat jawaban. Namun, beberapa saat berselang, tiba-tiba terdengar suara aneh menegurnya.
  • “Hei, Anak Manusia! Kini kamu tinggal sendirian. Tidak seorang pun yang bisa menolongmu, karena saudara-saudaramu telah meninggalkanmu.”
  • “Kamu siapa” Tampakkanlah wujudmu!” seru Suri Ikun sambil menyiapkan anak panah dan busurnya.
  • “Ha... ha... ha...!!! terdengar suara itu tertawa berbahak-bahak.
  • “Ketahuilah, Anak Manusia! Kami adalah hantu rimba penghuni hutan ini,” ujar suara itu.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba beberapa sosok bertubuh besar dan berwajah seram berdiri di sekelilingnya. Baru saja Suri Ikun hendak menarik anak panahnya, para hantu tersebut segera menangkapnya. Namun, mereka tidak langsung memakannya, karena ia masih terlalu kurus.
  • “Sebaiknya kita kurung dulu anak manusia ini,” ujar pemimpin hantu rimba itu.
Akhirnya Suri Ikun dikurung di dalam sebuah gua. Setiap hari ia diberi makan secara teratur agar menjadi gemuk. Untungnya ada celah sehingga sinar matahari dapat memancar masuk ke dalam gua. Dari celah itu ia bisa melihat keluar.

Pada suatu hari, Suri Ikun melihat dua ekor anak burung di celah gua yang kepalaran. Oleh karena merasa iba, ia pun memberIkun sebagian makanannya kepada kedua anak burung itu.
  • “Waaah, kasihan sekali anak burung ini ditinggal induknya,” iba Suri Ikun seraya menyuapi kedua anak burung itu.
Begitulah seterusnya, setiap melihat kedua anak burung itu kelaparan, Suri Ikun senantiasa
membagikan makanan kepada mereka. Beberapa bulan kemudian, kedua burung itu pun tumbuh menjadi besar dan kuat. Ajaibnya, kedua burung itu dapat berbicara seperti manusia.
  • “Terima kasih Tuan karena telah menolong kami,” ucap seekor burung.
  • “Ampun, Tuan! Jika kami boleh tahu, Tuan siapa dan kenapa dikurung dalam gua ini”“ tanya seekor burung yang satunya lagi.
  • “Saya Suri Ikun, Sobat!” jawab Suri Ikun.
Setelah itu, Suri Ikun pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya sampai ia bisa berada di dalam gua itu.
  • “Baiklah, Tuan! Kami akan membebaskan Tuan dari gua ini,” kata seekor burung.
Alangkah senangnya hati Suri Ikun mendengar perkataan burung itu. Namun, hatinya masih diselimuti oleh rasa bimbang.
  • “Wahai, Sobat! Bukankah hantu rimba itu berjumlah banyak dan sangat kuat” Bagaimana cara kalian menolongku”“ tanya Suri Ikun ingin tahu.
  • “Tenang, Tuan! Kami pasti bisa mengalahkan mereka,” ujar seekor burung.
  • “Begini, Tuan! Kami akan menyerang dan mencakar-cakar seluruh tubuh hantu-hantu itu,” jelas seekor burung yang satunya.
Mendengar penjelasan itu, Suri Ikun terdiam sejenak. Ia pun berpikir mencari cara agar bisa membantu kedua burung itu mengalahkan hantu-hantu tersebut.
  • “Baiklah kalau begitu! Aku akan membantu kalian dengan senjataku ini,” kata Suri Ikun sambil menunjukkan panahnya.
Keesokan harinya, hantu-hantu tersebut datang mengantarkan makanan untuk Suri Ikun. Pada saat mereka membuka pintu gua, dengan secepat kilat kedua burung itu langsung menyerang dan mencakar-cakar seluruh tubuh mereka. Suri Ikun pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera meluncurkan anak panahnya ke arah hantu-hantu tersebut. Maka tak ayal lagi, para hantu itu pun terluka dan langsung kabur melarikan diri.

Setelah itu, kedua burung tersebut segera membawa terbang Suri Ikun menuju ke puncak sebuah bukit yang tinggi. Sesampainya di sana, dengan kekuatan gaibnya, kedua burung tersebut menciptakan sebuah istana megah untuk Suri Ikun lengkap dengan pengawal dan dayang-dayangnya. Di sanalah untuk selanjutnya Suri Ikun tinggal dan hidup berbahagia.

Sementara itu, nun jauh di kampung, keluarga Suri Ikun hidup menderita. Sejak kepergian Suri Ikun seluruh tanaman ayahnya habis dimakan dan dirusak kawanan babi hutan. Sebab, tidak seorang pun saudara lelakinya yang berani mengusir kawanan babi hutan tersebut dari kebun mereka.

*****

Demikianlah Kisah Suri Ikun Dan Dua Burung dari daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kisah ini termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik, yaitu keutamaan sifat saling tolong menolong terhadap sesama makhluk dan akibat buruk dari sikap penakut.
PERTAMA, keutamaan sifat saling tolong-menolong. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Suri Ikun dan dua ekor burung. Suri Ikun menolong kedua ekor burung tersebut dengan memberinya makan, sedangkan kedua ekor burung tersebut menyelamatkan Suri Ikun dari ancaman para hantu rimba.Sifat ini sangatlah dianjurkan, karena dapat menimbulkan rasa saling menghormati dan mengasihi serta saling menyayangi antara sesama makhluk, sehingga terbina kehidupan yang aman, damai, sejahtera dan harmonis.
KEDUA, akibat buruk dari sifat penakut. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku keenam saudara lelaki Suri Ikun yang tidak berani meronda di kebun ayahnya, karena takut kepada babi hutan. Akibatnya, mereka pun hidup melarat, karena seluruh tanaman di kebun ayahnya dirusak dan dimakan babi hutan.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH SKOLONG DAN CUE

0 komentar

Skolong adalah seorang anak laki-laki tampan yang telah dijodohkan dengan saudara sepupunya yang masih berada dalam kandungan. Namun, ketika saudara sepupunya telah lahir dan beranjak dewasa, Skolong menolak untuk menikahinya. Sebaliknya, saudara sepupu Skolong yang bernama Cue itu terus membujuk dan mengejar-ngejarnya agar mau menikah dengannya.
∞∞∞


Alkisah, di Kampung Manggarai, di daerah Nusa Tenggara Timur, ada seorang laki-laki tampan yang bernama Skolong Rebo Todo. Orang-orang di sekitarnya memanggilnya Skolong. Selain tampan, ia juga anak yang rajin. Setiap hari ia selalu membantu kedua orang tuanya bekerja di ladang. Bagi masyarakat setempat, para orang tua memiliki kebiasaan menjodohkan anak-anak mereka dari keluarga terdekat. Begitu pula yang terjadi dalam keluarga Skolong. Kedua orang tuanya berencana akan menjodohkannya dengan anak bibinya, meskipun anak bibinya itu masih dalam kandungan atau belum lahir.

Pada suatu hari, Skolong disuruh oleh kedua orang tuanya untuk tinggal di rumah bibinya yang sedang hamil tua.
  • “Skolong, Anakku! Pergilah ke rumah bibimu dan tinggallah di sana! Saat ini bibimu sedang hamil tua. Kelak jika bibimu melahirkan seorang anak perempuan, kamu boleh menikahi putrinya. Aku dan ibumu bersama bibimu telah sepakat untuk menjodohkan kalian,” ujar ayah Skolong.
Skolong pun menuruti permintaan ayahnya. Setelah berpamitan, berangkatlah ia ke rumah bibinya. Setibanya di sana, ia pun disambut baik oleh paman dan bibinya. Sejak kehadirannya di rumah itu, segala pekerjaan paman dan bibinya menjadi ringan. Skolong sangat rajin membantu bibinya mencari kayu bakar di hutan dan membantu pamannya bekerja di ladang. Tak heran, jika paman dan bibinya sangat sayang kepadanya. Bibinya sangat berharap bayi yang ada di dalam kandungannya adalah anak perempuan, sehingga ia dapat menikahkannya dengan Skolong.

Tak terasa, sudah sebulan lebih Skolong tinggal di rumah bibinya. Usia kandungan bibinya pun memasuki bulan kesembilan. Skolong berharap bibinya melahirkan seorang putri yang cantik. Beberapa minggu kemudian, bibinya pun melahirkan seorang bayi. Namun, bayi yang dilahirkan bukanlah seorang putri yang cantik, melainkan sebuah Cue (ubi hutan yang berbulu), yaitu sejenis tanaman umbi-umbian yang sering tumbuh liar di tengah hutan. Anehnya, bayi yang berwujud cue itu bisa menangis layaknya bayi manusia.

Paman dan bibinya merasa sangat sedih atas nasib yang menimpa bayi mereka. Meski demikian, mereka tetap menerima Cue sebagai anak. Mereka akan merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Lain halnya dengan Skolong, ia sangat kecewa atas kejadian itu. Kini harapannya untuk memperistri putri bibinya telah pupus. Namun, ia tidak ingin mengecewakan hati paman dan bibinya. Ia memutuskan untuk membantu mereka merawat dan membesarkan Cue. Setelah Cue dewasa, barulah ia akan memohon diri untuk kembali ke rumah orang tuanya.

Waktu terus berjalan. Cue pun tumbuh menjadi besar dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bulu yang panjang. Meski demikian, ia dapat berbicara dan berjalan dengan cara menggulingkan tubuhnya. Kondisi Cue tersebut semakin membuat Skolong tidak mau menikahinya.

Pada suatu hari, Skolong berpamitan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Paman dan bibinya berusaha untuk mencegahnya. Mereka berharap agar Skolong bersedia menikah dengan Cue. Namun, Skolong tetap menolak.
  • “Maafkan saya, Paman, Bibi! Saya belum dapat menerima Cue menjadi istri saya. Saya harus kembali ke rumah orang tua saya,” ucap Skolong seraya memohon diri.
Ketika Skolong akan meninggalkan halaman rumah bibinya, tiba-tiba Cue menghadangnya.
  • “Kakak! Adik mau ikut bersama Kakak,” rengek Cue.
  • “Kamu jangan ikut, Adik! Kamu di sini saja menemani ayah dan ibumu! Mereka sangat menyayangimu,” ujar Skolong.
  • “Tidak, Kakak! Adik tetap akan ikut bersama Kakak. Adik mencintai Kakak,” kata Cue dengan tegas.
Berkali-kali Skolong membujuknya, dan bahkan mengancam akan membunuhnya, namun Cue tetap bersikeras ingin ikut bersamanya. Lama-kelamaan, Skolong pun semakin kesal.
  • "Hai, makhluk aneh! Ibuku tidak suka padamu karena kamu sebuah cue. Bentuk badanmu jelek sekali, tidak berkaki dan tidak bertangan. Bagaimana kamu bisa membantu ibuku? Lagi pula, badanmu kotor dan penuh dengan bulu," hardik Skolong.
Usai menghardik Cue, Skolong pun melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah orang tuanya. Cue pun membuntutinya. Di tengah perjalanan, Cue terkadang mendahuluinya tanpa sepengetahuannya. Ia mengira Cue masih berada di belakangnya. Ketika akan melewati sebuah kampung, Skolong bertemu dengan sebuah rombongan manusia yang berjalan dari arah berlawanan. Rombongan tersebut dipimpin oleh seorang gadis yang cantik jelita, yang tak lain adalah Cue yang menjelma menjadi manusia, namun Skolong tidak mengetahui hal itu. Ia memerintahkan ketua rombongan itu agar membunuh sebuah cue yang sedang mengikutinya.
  • “Wahai, Tuan-tuan! Ada sebuah cue besar yang mengikuti saya. Jika Tuan-tuan melihatnya, bunuh saja atau lemparkan cue itu ke jurang!” pinta Skolong kepada rombongan tersebut.
Pemimpin rombongan itu hanya tersenyum sambil meliriknya. Begitu rombongan tersebut berlalu, tiba-tiba Skolong mendengar seorang gadis sedang menegurnya.
  • “Wahai, Skolong yang tampan! Di antara rombongan itu, ada seorang gadis cantik melirikmu. Ia begitu mencintamu dan sangat merindukan belaianmu,” demikian suara gadis itu.
Skolong tersentak kaget mendengar suara itu. Ia pun menghentikan langkahnya, lalu terdiam sejenak. Ia mengira suara itu adalah suara si Cue. Namun, ketika menoleh ke belakang, ia tidak melihat Cue.

Akhirnya, ia pun melanjutkan perjalanannya. Tak berapa lama kemudian, Cue pun kembali muncul dan berguling di belakangnya. Skolong pun tetap membiarkan makhluk aneh itu membuntutinya. Ketika Skolong tiba di kampungnya, kedua orang tua dan para warga menyambutnya dengan meriah. Mereka mengira Skolong datang bersama istrinya. Namun, mereka tidak melihat seorang wanita berjalan dengan Skolong. Mereka hanya melihat sebuah cue yang berguling-guling mengikutinya.
  • “Hai, Skolong! Benda apa yang sedang mengikutimu itu?” tanya ayah Skolong.
Skolong pun menceritakan semua siapa sebenarnya si Cue kepada kedua orang tuanya dan seluruh penduduk. Mendengar cerita itu, kedua orang tua Skolong pun mengerti bahwa Cue adalah kemenakan mereka. Mereka turut bersedih atas kejadian yang menimpa Cue yang dilahirkan dalam kondisi demikian. Mereka pun memutuskan menerima kehadiran Cue di rumah itu dengan senang hati. Sejak itu, Cue tinggal di rumah orang tua Skolong.

Pada suatu hari, di kampung itu diadakan Pesta Wagal, yaitu sebuah pesta adat dalam tata cara perkawinan orang Manggarai. Pesta itu akan dilangsungkan selama dua hari. Dalam pesta itu diadakan pula Perlombaan Caci, sebuah permainan khas orang Manggarai yang pesertanya terdiri kaum laki-laki. Perlombaan tersebut biasanya diiringi oleh pukulan gendang oleh kaum ibu-ibu, serta tarian khas Manggarai oleh para gadis.

Mengetahui adanya pesta wagal dan perlombaan caci itu, Cue pun segera menyiapkan rombongannya. Ia bersama rombongannya pergi ke sebuah pancuran air, tempat para penduduk mengambil air. Di pancuran air itu, Cue menanggalkan dan menyembunyikan kulitnya di bawah batu lempeng. Seketika itu pula, ia pun berubah menjelma menjadi seorang gadis yang cantik jelita. Kemudian ia bersama rombongannya yang juga telah berubah menjadi manusia segera menuju ke tempat pesta itu berlangsung. Setibanya mereka di sana, para warga yang hadir, termasuk Skolong, sangat heran melihat kedatangan mereka.
  • “Hei, sepertinya aku mengenal mereka. Bukankah mereka yang bertemu denganku beberapa hari yang lalu?” gumam Skolong tersentak kaget.
Setelah mengamati pemimpin rombongan itu, maka Skolong pun semakin yakin bahwa ia pernah bertemu dengan mereka di tengah jalan. Ia mengenal wajah gadis cantik yang memimpin rombongan itu.

Setelah mempertunjukkan tariannya, rombongan tersebut segera meninggalkan pesta. Skolong dan beberapa warga lainnya berusaha mengikuti rombongan tersebut, namun mereka kehilangan jejak. Rombongan tersebut tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Pada malam harinya, Skolong bermimpi didatangi seorang kakek. Kakek itu berpesan kepadanya agar pergi ke pancuran air untuk mengambil kulit cue yang disimpan di bawah batu lempeng. Keesokan harinya, saat rombongan Cue sedang berada di tempat pesta, Skolong segera mengambil kulit Cue itu lalu membawanya ke tempat pesta gawal. 

Saat ia tiba di pesta itu, Cue yang telah berubah menjadi gadis cantik itu sedang menari dengan gemulai. Tanpa berpikir panjang, Skolong segera meletakkan kulit cue itu di atas api. Seketika itu pula, Cue yang sedang asyik menari tiba-tiba pingsan. Skolong pun segera menolongnya dengan mencelupkan kulit cue yang terkena asap api, lalu membalutkan di kepala Cue. Beberapa saat kemudian, gadis itu pun sadar. Betapa senang hati gadis itu saat ia menyadari dirinya berada di pangkuan Skolong yang sangat dicintainya.
  • “Siapa sebenarnya kamu ini, hai gadis cantik?” tanya Skolong.
  • “Maaf, Kakak! Saya adalah Cue anak bibimu,” jawab Cue dengan nada pelan.
Betapa terkejutnya Skolong mendengar jawaban itu. Ia baru menyadari bahwa cue yang dilahirkan bibinya beberapa tahun yang lalu ternyata seorang gadis cantik. Dengan perasaan malu, ia pun segera meminta maaf kepada Cue. Ia sangat menyesal, karena telah menghina dan mempelakukannya dengan kasar. Namun, Cue adalah seorang gadis pemaaf dan tidak pendendam. Ia pun memaafkan semua kesalahan Skolong. Akhirnya, mereka pun menikah dan hidup bahagia.

*****

Demikianlah Kisah Skolong Dan Cue dari daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah bahwa antara sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa hendaknya saling menghormati dan saling menghargai. Bagaimanapun bentuk dan rupa seseorang, hendaknya kita selalu berprasangka baik terhadap mereka. Sebab, di balik keburukan itu tersimpan sebuah kebaikan. Pelajaran lain yang dapat dijadikan suri teladan dalam kehidupan sehari-hari adalah sifat Cue. Meskipun dihina dan dipandang rendah oleh Skolong, ia tidak pernah merasa dendam dan mau memaafkan Skolong.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

KISAH LONA KAKA DAN LONA RARA

0 komentar

Lona Kaka dan Lona Rara adalah dua orang kakak-beradik yang tinggal di Desa Bukambero, Kodi, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Di mana pun pergi, kedua kakak-beradik tersebut senantiasa selalu bersama dan saling membantu. Pada suatu hari, sang Adik, Lona Rara, sangat marah kepada kakaknya, sehingga berniat untuk menghilangkan nyawanya.
∞∞∞


Alkisah, di Desa Bukambero, Kodi, Sumba Barat, hiduplah sepasang suami-istri bersama dua orang anak gadisnya. Yang sulung bernama Lona Kaka, sedangkan si bungsu bernama Lona Rara. Kedua kakak-beradik tersebut senantiasa mendapat perlakuan yang sama dari orang tua mereka. Namun, Lona Kaka selalu iri hati jika Lona Rara meraih sebuah keberhasilan. Ia pun selalu berusaha untuk mencelakai adiknya itu jika memperoleh keberhasilan.

Pada suatu hari, ketika Lona Rara mendapat hadiah dendeng istimewa dari orang tua mereka karena berhasil memenangkan lomba menumbuk padi, Lona Kaka bermaksud untuk merampas dendeng itu dari tangan adiknya. Untuk itu, ia membujuk adiknya agar mau menemaninya mengambil air di sungai. Ia pun menyuruh adiknya untuk berjalan di depannya. Dengan begitu, ia akan lebih mudah mengambil dendeng itu tanpa sepengetahuan adiknya.
  • “Adikku! Maukah kamu menemani Kakak mengambil air di sungai?” bujuk Lona Kaka.
  • “Baiklah, Kak!” jawab Lona Rara menuruti bujukan kakaknya.
Keduanya pun berjalan menuju ke sungai sambil memikul dua buah wadah air yang terbuat dari bambu. Lona Rara berjalan di depan, sedangkan Lona Kakak mengikutinya dari belakang. Tanpa curiga sedikit pun, Lona Rara menyimpan dendengnya di wadah airnya yang belakang. Beberapa kali Lona Kaka berusaha untuk mengambil dendeng itu, namun tidak berhasil karena selalu ketahuan Lona Rara.

Meski begitu, Lona Kaka tidak kehabisan akal. Setibanya di sungai, ia segera turun ke sungai mendahului adiknya untuk mengambil air. Setelah mengisi wadah airnya hingga penuh, ia kembali naik ke darat dan menyandarkan wadah airnya pada sebuah batang pohon.
  • “Adikku, Kakak sudah selesai. Kini giliranmu untuk mengisi wadah airmu. Sini Kakak bantu membawakan dendengmu agar kamu dapat mengambil air dengan leluasa!” ujar Lona Kaka.
Lona Rara pun menyambut baik tawaran kakaknya. Setelah menitipkan dendeng miliknya kepada Lona Kaka, ia segera turun ke sungai untuk mengambil air. Namun, baru mengisi setengah wadah airnya, tiba-tiba ia mendengar kakaknya berteriak.
  • “Rara...! Rara..! Dendengmu dicuri dan dibawa lari anjing!” teriak Lona Kaka seraya mengejar anjing itu.
Rupanya, Lona Kaka sengaja memberikan dendeng milik adiknya ke anjing itu, lalu berpura-pura mengejarnya. Lona Rara yang mendengar teriakan kakaknya segera naik ke darat dan membiarkan tempat airnya tergeletak di pinggir sungai. Melihat kakaknya mengejar anjing itu, ia pun turut mengejar hingga ke tengah hutan. Tanpa disadarinya, ternyata kakaknya telah pergi meninggalkannya.

Sementara ia terus menyusuri hutan lebat itu hingga hari menjelang malam, namun ia tidak menemukan anjing yang membawa dendengnya. Saat akan kembali ke rumahnya, ia tersesat. Ia berjalan menyusuri hutan itu mengikuti ke mana arah kakinya melangkah hingga akhirnya menemukan sebuah sungai dan memutuskan untuk beristirahat. Ia duduk di atas sebuah batu besar di tepi sungai sambil bernyanyi mengungkapkan kekesalannya terhadap tindakan kakaknya.

Ou kagu pama nowo ragu
Pai balimu lolokingga negh e
Mu gaiga zauwa kako kania
Ou Gela wuamaroto padua p ogawa atenggu
Gaika ku bali wainya
------------------------------------------------------------------------------
O u kakakku yang kucinta
Mengapa kau membuat a ku begini
Membiarkan aku jalan sendiri
Ou Gela Wuamaroto berilah a ku kedamaian
Tuntunlah aku kembali ke rumah

Usai bernyanyi, Lona Rara membuka pakaiannya yang sudah kotor lalu mencucinya dan mandi. Saat sedang asyik mandi, tiba-tiba ia melihat sebatang pohon jeruk yang berbuah lebat tumbuh di tepi sungai. Setelah melihat di sekelilingnya dan tidak melihat adanya orang lain di sekitar itu, ia segera memetik satu buah jeruk untuk dijadikan pewangi tubuh.

Betapa terkejutnya ia ketika membelah buah jeruk itu, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan dan gagah di hadapannya. Ia pun langsung menjerit karena ia masih dalam keadaan tanpa busana. Ia sangat malu, karena pemuda itu telah melihat bagian tubuhnya yang selama ini ditutupinya.
Menyadari hal itu, dengan kesaktiannya, pemuda tampan itu segera memberikan sebuah kain tenun Sumba yang indah kepada Lona Rara. Lona Rara pun segera memakai kain tenun itu untuk menutupi tubuhnya.
  • “Hai, pemuda tampan! Kenapa engkau tiba-tiba muncul dari dalam buah jeruk itu?” tanya Lona Rara dengan malu-malu.
  • “Maaf, Putri! Bukankah Putri sendiri yang meminta bantuan kepadaku?” jawab pemuda itu sambil menunduk untuk memberi hormat di hadapan Lona Rara.
  • “Siapa sebenarnya engkau ini?” Lona Rara kembali bertanya.
  • “Saya adalah Gela Wuamaroto seperti yang Putri dendangkan dalam lagu itu. Saya datang untuk mengantar Putri pulang ke rumah dan memberikan ketenteraman kepada Putri,” ujar pemuda tampan yang mengaku bernama Gela Wuamaroto.
Hati Lona Rara menjadi senang bercampur heran, karena tidak menyangka nyanyiannya telah menjadi kenyataan. Hari pun sudah mulai gelap. Gela Wuamaroto mengajak Lona Rara mencari tempat beristirahat. Setelah menemukan sebuah gua yang cukup luas, Gela Wuamaroto segera membuat api unggun dan menangkap seekor ayam hutan untuk makan malam. Usai makan, mereka pun langsung tertidur pulas.

Keesokan harinya, Lona Rara sangat terkejut, karena didekatnya telah tersedia ayam panggang.
  • “Hai, kenapa masih ada ayam panggang di sini? Bukankah ayam panggang yang tadi malam sudah habis?” gumam Lona Rara.
Melihat Lona Rara terbangun, Gela Wuamaroto yang sedang berdiri di depan pintu gua segera menghampirinya.
  • “Maaf Putri! Saya yang menyediakan ayam panggang itu untuk sarapan kita berdua,” ujar Gela Wuamaroto sambil tersenyum.
Lona Rara dan Gela Wuamaroto pun segera menyantap ayam panggang itu. Setelah itu, mereka saling berkenalan, saling jatuh cinta, dan akhirnya mereka pun menikah. Karena asyik dimabuk cinta, Lona Rara menjadi lupa untuk kembali ke rumahnya. Demikian pula, Gela Wuamaroto, ia lupa untuk mengantar pulang Lona Rara. Sepasang pengantin baru itu keasyikan menikmati hari-hari yang indah bersama di tengah hutan tersebut, sehingga tak terasa sudah satu bulan mereka hidup bersama.

Suatu hari, Lona Rara tiba-tiba teringat kepada keluarganya. Ada kerinduan di hatinya ingin segera pulang dan bertemu dengan mereka.
  • “Kanda! Kapan Kanda akan mengantar Dinda menemui keluarga Dinda?” tanya Lona Rara.
  • “Besok, Dinda,” jawab Gela Wuamaroto.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Lona Rara dan suaminya bersiap-siap pulang ke rumahnya. Sebelum berangkat, Gela Wuamaroto memberikan pakaian tenun Sumba yang sangat indah kepada Lona Rara untuk dihadiahkan kepada keluarganya. 

Setelah menempuh perjalanan selama setengah hari, sampailah mereka di Desa Bukambaro. Saat Lona Rara memasuki desa, seluruh warga terheran-heran melihat kedatangannya. Apalagi ia datang bersama dengan seorang pemuda yang gagah dan tampan. Sambil tersenyum-senyum, Lona Rara berjalan di samping suaminya menuju ke rumahnya. Saat tiba di halaman rumah, ia melihat rumahnya tampak sepi dan pintu rumahnya tertutup rapat.
  • “Ayah...Ibu...! Rara pulang!” teriak Lona Rara dengan perasaan gembira.
Berkali-kali Lona Rara berteriak, namun tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian, barulah pintu rumahnya terbuka pelan-pelan. Saat pintu terbuka, tampaklah kakaknya, Lona Kaka, sedang membuka pintu dan berdiri di depan pintu dengan wajah memerah. Ia seakan tidak percaya bahwa adiknya masih hidup. Ia pun langsung memeluk Lona Rara.
  • “Maafkan aku, Adikku! Kakak telah meninggalkanmu seorang diri di tengah hutan,” ucap Lona Kaka.
  • “Sudahlah, Kak! Yang penting Adik selamat dan bisa kembali berkumpul bersama kalian,” bujuk Lona Rara.
  • “O iya, Kak! Ayah, Ibu ke mana? Kenapa mereka tidak kelihatan?” tanya Lona Rara heran.
Mendengar pertanyaan itu, Lona Kaka kembali memeluk adiknya dengan erat sambil meneteskan air mata.
  • “Adikku! Ayah dan Ibu sudah tiada. Mereka telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya,” jawab Lona Kaka dengan sedih.
  • “Apa yang terjadi dengan Ayah dan Ibu, Kak?” desak Lona Rara.
Lona Kaka pun menceritakan musibah yang telah menimpa kedua orang tua mereka.
  • “Sebulan yang lalu, Ayah dan Ibu mendapat celaka saat mencari Adik di tengah hutan. Seorang warga menemukan mereka di tengah hutan dalam keadaan terluka parah dan tidak bernyawa lagi akibat digigit binatang buas,” jelas Lona Kaka.
Mendengar keterangan itu, Lona Rara pun tidak sanggup menahan air mata. Ia menangis tersedu-sedu meratapi kepergian Ayah dan Ibu yang sangat dicintainya. Sejenak, suasana di depan rumah yang sederhana itu pun tiba-tiba menjadi hening. Beberapa saat kemudian, Lona Rara meminta kepada kakaknya agar mengantarnya ke tempat pemakaman kedua orang tua mereka. Sesampainya di depan kuburan kedua orang yang dicintainya itu, Lona Rara kembali menangis tersedu-sedu menyesali semua peristiwa yang telah terjadi.
  • “Sudahlah, Dinda! Semuanya sudah diatur oleh Yang Mahakuasa. Ayo kita kembali ke rumah!” bujuk Gela Wuamaroto.
Lona Rara bersama suami dan kakaknya pun kembali ke rumah. Beberapa hari kemudian, setelah kesedihannya hilang, Lona Rara menceritakan semua peristiwa yang dialaminya ketika tersesat di hutan kepada kakaknya. Mendengar cerita itu, timbullah keinginan Lona Kaka untuk pergi ke tempat di mana adiknya bertemu dengan Gela Wuamarota, dengan harapan dirinya pun akan bernasib sama seperti adiknya.

Keesokan harinya, secara diam-diam, Lona Kaka pergi sendirian ke tempat itu. Sebelum mandi, ia memetik satu buah jeruk yang sudah menguning. Begitu ia membelah jeruk itu, bukannya pemuda tampan yang muncul, melainkan seorang lelaki tua berjenggot putih. Ia pun langsung menjerit ketakutan dan berlari meninggalkan tempat itu. Dalam hatinya tersimpan rasa penyesalan yang begitu mendalam karena tidak memetik buah jeruk yang masih muda.

Sesampainya di rumah, Lona Kaka langsung duduk termenung di samping rumahnya. Dalam ketermenungannya, tiba-tiba muncul dalam pikirannya ingin merebut suami adiknya. Ia tinggal menunggu waktu yang paling tepat untuk menjalankan niat busuknya itu.

Pada suatu malam, Gela Wuamaroto meminta izin kepada Lona Rara untuk pergi berdagang bersama beberapa warga desa lainnya ke negeri seberang.
  • “Dinda! Kanda ingin berdagang ke negeri seberang. Barangkali Kanda harus pergi dalam waktu yang cukup lama. Apakah Dinda bersedia mengizinkan Kanda?” bujuk Gela Wuamaroto.
  • “Baiklah, Kanda! Dinda mengizinkan. Tapi jangan lupa mampir ke rumah paman untuk memberinya oleh-oleh ketika kembali nanti,” ujar Lona Rara tersenyum.
  • “Baiklah, Dinda!” jawab Gela Wuamaroto sambil menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.
Keesokan harinya, berangkatlah Gela Wuamaroto ke negeri seberang bersama beberapa warga desa lainnya. Seminggu setelah kepergian Gela Wuamaroto, Lona Kaka pun mulai menyusun siasat untuk menghilangkan nyawa Lona Rara agar dapat merebut suaminya.

Pada suatu hari, ia mengajak adiknya tu mencari kayu bakar di hutan. Setelah berjalan cukup jauh ke tengah hutan, sampailah mereka pada sebuah jurang yang cukup dalam.
  • “Adikku! Kita beristirahat di sini dulu. Kakak capek berjalan jauh,” ujar Lona Kaka.
Lona Kaka dan adiknya pun beristirahat tidak di dekat jurang itu. Setelah rasa lelah mereka hilang, Lona Kaka memanjat sebuah pohon yang rantingnya telah kering di tepi jurang yang terjal. Saat berada di atas pohon, ia meminta kepada adiknya untuk membawakannya parang yang sengaja ditinggalkan di dekat adiknya.
  • “Aduh, Adikku! Kakak lupa membawa parang. Tolong ambilkan parang yang ada di dekatmu itu!” seru Lona Kaka dari atas pohon.
Tanpa curiga sedikit pun, Lona Rara ikut memanjat pohon untuk memberikan parang itu kepada kakaknya. Sesampainya di atas pohon, ia menyerahkan parang itu kepada kakaknya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya berpegangan pada sebuah ranting yang kering. Begitu mengambil parang itu dari tangan kiri adiknya, pada saat yang bersamaan, Lona Kaka juga menginjak ranting tempat Lona Rara berpegangan hingga patah. Tak ayal lagi, Lona Rara pun terjatuh dari atas pohon dan terguling-guling hingga ke dasar jurang.
Melihat kejadian itu, Lona Kaka bukannya menolong adiknya, melainkan tersenyum sinis.
  • “Rasakanlah itu, Rara! Gela Wuamaroto akan menjadi milikku!” seru Lona Kaka.
Dengan perasaan puas dan gembira, Lona Kaka turun dari pohon itu dan kemudian pulang ke rumahnya. Sesampainya di desa, ia berpura-pura sedih meratapi nasib adiknya. Seluruh warga pun turut berduka cita mendengar berita duka tersebut.

Namun, Lona Kaka tidak mengira jika ternyata adiknya masih hidup. Rupanya, ketika Lona Rara terjatuh ke jurang itu, tubuhnya tersangkut pada tanaman yang menjalar di tebing. Berkat usahanya memanjat tebing yang curam itu, ia berhasil sampai ke puncak tebing dan selamat. Sesampainya di atas, Lona Rara pun berteriak-teriak memanggil kakaknya.
  • “Kakak! Kamu di mana?” teriaknya.
Beberapa kali Lona Rara berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari kakaknya. Ia pun menyadari bahwa ternyata kakaknya telah berniat jahat kepadanya. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk langsung ke rumah pamannya. Setelah dua hari menempuh perjalanan, sampailah ia di rumah pamannya. Ia pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya dan rencana jahat sang Kakak kepada pamannya.
Beberapa hari kemudian, Gela Wuamaroto pun kembali dari rantauannya untuk membawakan oleh-oleh kepada pamannya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat istrinya berada di tempat itu.
  • “Hai, Dinda! Kenapa Dinda ada di sini?” tanya Gela Wuamaroto dengan heran.
Melihat suaminya datang, Lona Rara pun langsung memeluknya dengan erat. Kemudian ia menceritakan semua peristiwa yang telah dialaminya hingga ia bisa berada di rumah pamannya. Mendengar cerita istrinya, Gela Wuamaroto pun bercerita bahwa selama ini Lona Kaka selalu merayunya.
  • “Ketahuilah, Dinda! Andai kata iman Kanda lemah, tentu Kanda telah jatuh dipelukan kakak Dinda. Selama ini dia sering merayu Kanda saat Dinda tidak berada di rumah. Itulah sebabnya, Kanda memutuskan untuk pergi merantau agar Kanda terhindar dari rayuan manisnya,” ungkap Gela Wuamaroto.
Mendengar pengakuan suaminya, Lona Rara pun naik pitam. Ia sangat marah terhadap sikap dan perbuatan kakaknya.
  • “Huh, Dinda harus membalas perbuatan Kak Lona Kaka!” seru Lona Rara dengan geramnya.
Gela Wuamaroto pun sejenak. Ia mencoba untuk memahami perasaan istrinya. Setelah itu, ia mencoba untuk membujuknya agar mengurungkan niatnya membalas dendam.
  • “Maaf, Dinda! Kanda tidak bisa berkata apa-apa. Lona Kaka adalah kakak Dinda satu-satunya. Perbuatannya memang jahat, tapi apakah kita juga harus meniru perbuatan jahatnya itu?” bujuk Gela Wuamaroto.
  • “Tidak, Kanda! Sejak dulu Kak Lona Kaka selalu iri dan dengki terhadap Dinda. Dia sudah berkali-kali berusaha ingin mencelakai Dinda. Jika hal ini dibiarkan terus, suatu saat dia akan membunuh Dinda,” ujar Lona Rara.
Mendengar keteguhan tekad istrinya, Gela Wuamaroto pun tak sanggup berbuat apa-apa. Akhirnya, pada malam harinya, Lona Rara dan suaminya segera menyusun siasat untuk membalaskan dendamnya kepada Lona Kaka. Mereka memesan dua buah peti yang berukir sangat indah. Peti yang satu akan mereka isi dengan perhiasan emas dan berlian, sedangkan untuk peti yang satunya Lona Rara akan masuk ke dalamnya sambil membawa sebuah pisau yang runcing dan tajam.

Keesokan harinya, berangkatlah Gela Wuamaroto ke kampung untuk menemui Lona Kaka. Ia berangkat dengan menunggang kuda dan membawa serta seekor kuda beban yang mengangkut kedua peti yang berisi perhiasan dan berisi Lona Rara tersebut. Sesampainya di kampung halaman istrinya, Gela Wuamaroto segera menuju ke rumah istrinya. Lona Kaka yang sedang asyik menenun segera bangkit untuk menyambut kedatangan Gela Wuamaroto.
  • “Maafkan aku, Gela Wuamaroto! Aku tidak dapat menjaga Adik Lona Rara,” kata Lona Kakak sambil berpura-pura menangis.
  • “Apa yang terjadi dengannya, Kakak Ipar?” Gela Wuamaroto pun berpura-pura bertanya.
  • “Lona Rara meninggal dunia, karena dimakan buaya saat kami sedang mandi di sungai,” jawab Lona Kaka dengan muka sedih.
Mendengar keterangan itu, Gela Wuamaroto berpura-pura terkejut dan terlihat murung. Ia kemudian turun dari kudanya dan menambatkan kedua kudanya pada batang pohon di depan rumah. Ketika ia menurunkan kedua peti itu dari kudanya, Lona Kaka menghampirinya.
  • “Apa isi peti itu, Gela?” tanya Lona Kaka ingin tahu.
Dengan wajah murung, Gela Wuamaroto menyuruh Lona Kaka untuk membuka salah satu dari kedua peti itu. Ketika Lona Kaka membuka peti itu, matanya langsung terbelalat melihat isi peti yang terdiri dari berbagai macam perhiasan emas dan berlian. Setelah Lona Kaka melihat isi peti itu, Gela Wuamaroto menyuruhnya untuk membuka peti yang satunya.
  • “Kakak Ipar! Buka dan ambillah semua isi peti yang satu itu! Aku hadiahkan untukmu,” ujar Gela Wuamaroto.
Dengan perasaan senang dan gembira, Lona Kaka pun segera membuka peti yang masih tertutup rapat itu. Begitu peti itu terbuka, tiba-tiba Lona Rara meloncat keluar dan menikamkan pisaunya berkali-kali ke arah dada kakaknya.
  • “Terimalah pembalasanku ini, Kak!” teriak Lona Rara.
Tak ayal lagi, Lona Kaka pun tewas seketika dengan bersimbah darah. Melihat kakaknya terkapar di tanah dalam keadaan tidak bernyawa, Lona Rara pun berteriak histeris. Ia sangat menyesal atas apa yang baru saja dilakukannya. Namun, apalah guna menyesal kemudian. Nasi sudah menjadi bubur. Nyawa kakaknya tidak dapat ditolong lagi.

*****

Demikianlah Kisah Lona Kaka Dan Lona Rara dari daerah Nusantara Tenggara Timur. Kisah ini termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik, yaitu: akibat buruk dari sifat suka iri hati dan pendendam. Sifat iri hati ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Lona Kaka, sedangkan sifat pendendam terlihat pada perilaku Lona Rara. Dalam kehidupan orang Melayu, kedua sifat tersebut harus dijauhi karena dapat mengakibatkan terjadinya perselisihan, perpecahan, dan bahkan pembunuhan antarsesama saudara.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT TERBARU

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT POPULER

ADHI MEKAR INDONESIA "AMI SCHOOL" DENPASAR BARAT, BALI

 
  • AGATHA NICOLE © 2017 | Modified By YURI | Powered By BLOGGER | KEDAI LOMBOK