Daftar Cerita Legenda Rakyat
Showing posts with label KALIMANTAN TIMUR. Show all posts
Showing posts with label KALIMANTAN TIMUR. Show all posts

LEGENDA IKAN PESUT SUNGAI MAHAKAM

0 komentar

Ikan Pesut Mahakam (Latin:Orcaella brevirostris) adalah sejenis hewan mamalia yang sering disebut lumba-lumba air tawar yang hampir punah karena berdasarkan data tahun 2007, populasi hewan tinggal 50 ekor saja dan menempati urutan tertinggi satwa Indonesia yang terancam punah. Secara taksonomi, pesut mahakam adalah subspesies dari pesut (Irrawaddy dolphin). Tidak seperti mamalia air lain yakni lumba-lumba dan ikan paus yang hidup di laut, pesut mahakam hidup di sungai-sungai daerah tropis.
Populasi satwa langka yang dilindungi undang-undang ini hanya terdapat pada tiga lokasi di dunia yakni Sungai Mahakam, Sungai Mekong, dan Sungai Irawady. 
Pesut ini ditemukan di banyak muara-muara sungai di Kalimantan, tetapi sekarang pesut menjadi satwa langka. Selain di Sungai Mahakam, pesut ditemukan pula ratusan kilometer dari lautan, yakni di wilayah Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Habitat hewan pemangsa ikan dan udang air tawar ini dapat dijumpai pula di perairan Danau Jempang (15.000 ha), Danau Semayang (13.000 ha), dan Danau Melintang (11.000 ha). Pesut mempunyai kepala berbentuk bulat (seperti umbi) dengan kedua matanya yang kecil (mungkin merupakan adaptasi terhadap air yang berlumpur). Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat dibagian bawah - tidak ada pola khas. Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar; tidak ada paruh. Sirip dada lebar membundar. Pesut bergerak dalam kawanan kecil. Walaupun pandangannya tidak begitu tajam dan kenyataan bahwa pesut hidup dalam air yang mengandung lumpur, namun pesut merupakan 'pakar' dalam mendeteksi dan menghindari rintanganrintangan. Barangkali mereka menggunakan ultrasonik untuk melakukan lokasi gema seperti yang dilakukan oleh kerabatnya di laut. Populasi hewan ini terus menyusut akibat habitatnya terganggu, terutama makin sibuknya lalu lintas perairan Sungai Mahakam, serta tingginya tingkat erosi dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya. Kelestarian Pesut Mahakam juga diperkirakan terancam akibat terbatasnya bahan makanan berupa udang dan ikan, karena harus bersaing dengan para nelayan di sepanjang Sungai Mahakam.
Menurut kisah yang melegenda dikalangan masyarakat Kalimantan Timur disepanjang sungai mahakam , ikan pesut tersebut merupakan penjelamaan dua anak kecil kakak-beradik.

∞∞∞


Alkisah, di sebuah dusun di Rantau Mahakam, Kalimantan Timur, hiduplah sebuah keluarga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, serta seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Keluarga tersebut senantiasa hidup rukun dan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Sang Ayah seorang kepala rumah tangga yang arif dan bijaksana, sedangkan sang Ibu sangat terampil dan cekatan dalam mengatur urusan rumah tangga. Kebutuhan hidup mereka dapat tercukupi dari hasil menanam berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran di kebun.

Pada suatu hari, sang Istri terserang sebuah penyakit aneh. Sudah banyak tabib yang telah
mengobatinya, namun penyakitnya tak kunjung sembuh hingga akhirnya ia meninggal dunia. Sejak itu, kehidupan keluarga tersebut menjadi berantakan dan tak terurus lagi. Sang Ayah dan kedua putra dan putrinya terus terlarut dalam kesedihan. Sang Ayah menjadi pemurung dan suka bermalas-malasan, sedangkan kedua anaknya kelihatan bingung, tak tahu apa yang harus mereka lakukan. 

Melihat kondisi tersebut, para sesepuh dusun berusaha untuk membujuk mereka agar tidak larut dalam kesedihan dan sang Ayah kembali mencari nafkah seperti biasanya.
“Sudahlah, Pak! Hilangkanlah kesedihanmu itu dan kembalilah bekerja seperti biasanya! Lihatlah kedua anakmu itu, mereka semakin kurus karena kurang makan!” ujar seorang sesepuh dusun kepada sang Ayah.
Rupanya, nasehat-nasehat tersebut tidak pernah ia hiraukan. Keadaan tersebut berlangsung hingga satu musim, yaitu sejak musim tanam hingga musim panen. Seperti biasanya, setiap musim panen tiba, penduduk dusun tersebut mengadakan pesta adat yang diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian selama tujuh hari tujuh malam.

Kemeriahan pesta ternyata belum mampu menghibur hati keluarga tersebut, terutama sang Ayah. Tapi, begitu mendengar kabar bahwa dalam pertunjukan seni tersebut ada seorang gadis cantik yang pandai dan gemulai menari, hati sang Ayah langsung tergerak ingin menyaksikan pertunjukan tersebut. Dengan penuh semangat, ia berjalan mendekati tempat pertunjukan di mana gadis itu akan menari. Ia sengaja berdiri paling depan agar dapat menyaksikan tarian serta wajah gadis itu dengan jelas.

Beberapa saat kemudian, pertunjukan pun dimulai. Perlahan-lahan gadis cantik itu memasuki panggung seraya memainkan tariannya. Gerakan tubuhnya yang lemah lembut dan gemulai benar-benar mengundang decak kagum para penonton. Lain halnya dengan sang Ayah, ia hanya sesekali tersenyum. Pandangan matanya senantiasa tertuju kepada wajah cantik gadis itu tanpa bergeming sedikit pun.

Suatu saat, tiba-tiba pandangan gadis itu tertuju kepadanya sambil melemparkan senyum manisnya. Pada saat itulah, jantung sang Ayah berdetak kencang. Rupanya, ia jatuh hagi kepada gadis itu, begitu pula sebaliknya.

Usai pertunjukan, para penonton membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Sementara sang Ayah tidak beranjak dari tempatnya berdiri, karena ingin bertemu dengan gadis cantik itu. Tak berapa lama kemudian, gadis itu turun dari panggung dan menghampirinya. Setelah berkenalan, mereka pun mengungkapkan perasaan masing-masing dan bersepakat untuk menikah.
  • “Abang sudah mempunyai dua orang anak. Apakah Adik bersedia untuk membantu Abang merawat mereka?” pinta sang Ayah kepada gadis penari itu.
  • “Tentu saja, Bang! Adik berjanji akan menyayangi mereka sama seperti anak kandung Adik sendiri,” jawab gadis itu.
Setelah mendapat restu dari para sesepuh kampung, akhirnya mereka pun menikah. Pernikahan mereka dilangsungkan sepekan setelah pesta adat tersebut. Setelah menikah dengan gadis itu, sang Ayah tidak pernah lagi murung dan bermalas-malasan, dan begitu pula kedua anaknya. Keluarga itu telah menemukan kembali suasana kedamaian yang pernah dulu mereka rasakan. 

Sang Ayah kembali rajin bekerja di kebun dengan dibantu oleh anak laki-lakinya. Sedangkan istri barunya sibuk menyiapkan makanan di rumah dengan dibantu oleh anak perempuannya. Namun, baru beberapa bulan saja keharmonisan itu berlangsung, keluarga itu kembali diguncang prahara. Sang Ibu tiri ternyata mengingkari janjinya untuk menyayangi kedua anak tirinya. Sifat dan perilakunya tiba-tiba menjadi benci kepada mereka. Ia sering memberi mereka sisa-sisa nasi. Sang Ayah yang mengetahui perilaku istrinya tersebut tidak dapat berbuat apa-apa karena ia sangat mencintainya. Sejak itu, segala urusan rumah tangga ditangani oleh sang Ibu tiri. Setiap hari ia menyuruh kedua anak tirinya mencari kayu bakar di hutan, bahkan ia sering menyuruh mereka untuk mengerjakan hal-hal di luar kemampuan mereka.

Pada suatu hari, sang Ibu menyuruh kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan dengan jumlah cukup banyak.
  • “Hai, pemalas! Carilah kayu bakar ke hutan! Kalian harus mengumpulkan kayu bakar yang jumlahnya tiga kali lipat dari yang kalian peroleh kemarin. Ingat, jika kalian pulang sebelum mengumpulkan kayu sebanyak itu, maka kalian tidak akan mendapat makan hari ini!” ancam sang Ibu Tiri.
  • “Maaf, Bu! Untuk apa kayu bakar sebanyak itu? Bukankah kayu bakar masih banyak? Kalau kayunya mau habis barulah kami mencarinya lagi,” tawar si anak laki-laki.
  • “Dasar anak pemalas! Rupanya, kalian sudah mulai berani membantah Ibu ya? Awas nanti saya laporkan kepada ayah kalian, bahwa kalian pemalas!” sang Ibu kembali mengancam kedua anak tirinya. 
Tanpa berkata apa-apa, si anak perempuan segera menarik tangan kakaknya. Ia menyadari bahwa ayah mereka telah dipengaruhi oleh sang Ibu Tiri. 
“Sudahlah, Bang! Kita turuti saja perintah Ibu! Tidak ada gunanya kita membantah, karena kita tetap akan dipersalahkan,” ujar si anak perempuan dengan suara pelan.
Setelah menyiapkan beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka ke hutan untuk mencari kayu bakar. Setibanya di hutan, mereka segera mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya tanpa mengenal lelah. Namun, hingga hari menjelang sore, mereka belum mengumpulkan kayu bakar sebanyak yang diminta ibu tiri mereka. Karena takut dimarahi, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di tengah hutan. Mereka tidur di dalam sebuah gubuk reot untuk berlindung dari cuaca dingin. 

Kedua orang kakak-beradik itu baru dapat memejamkan mata ketika malam telah larut, karena perut mereka dibelit rasa lapar. Keesokan harinya, kedua anak itu kembali mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Namun, ketika hari menjelang siang, kedua anak itu tiba-tiba tergeletak di tanah, karena tidak kuat lagi menahan rasa lapar. Untungnya, ada seorang kakek yang sedang melintas di tempat itu dan segera menolong mereka. Kakek itu mengangkat mereka ke bawah sebuah pohon yang rindang seraya mengipas-ngipas mereka. Beberapa saat kemudian, kedua anak malang itu pun tersadar.
  • “Kita di mana? Kenapa berada di tempat ini?” tanya sang Kakak kepada adiknya.
  • “Kakek siapa?” tanyanya lagi ketika melihat seorang tua yang tak dikenalnya sedang duduk di samping mereka.
  • “Tenang, Cucuku! Kakek yang telah membawa kalian ke tempat ini. Kakek menemukan kalian sedang tergeletak tidak sadarkan diri di tengah hutan ini. Kalian siapa dan apa yang kalian lakukan di tempat ini?” tanya kakek itu.
Kedua anak malang itu pun menceritkan semua peristiwa yang mereka alami hingga mereka jatuh pingsan di tengah hutan. Karena iba setelah mendengar cerita mereka, kakek itu menyuruh mereka pergi ke sebuah tempat di mana terdapat banyak buah-buahan.

Setelah berterima kasih, kedua anak tersebut segera menuju ke arah rimbunan pohon. Betapa senangnya hati mereka ketika tiba di tempat yang dimaksud. Mereka mendapati beraneka jenis pohon yang sedang berbuah. Ada pohon durian, nangka, cempedak, mangga, dan pepaya. Melihat banyak buah-buahan yang telah masak berserakan di bawah pohon itu, kedua anak itu segera memakannya dengan sepuas-puasnya hingga kenyang. Badan mereka pun kembali segar. Setelah itu, mereka kembali mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya dengan penuh semangat. Sebelum senja tiba, mereka telah berhasil mengumpulkan kayu sebanyak yang diminta ibu tiri mereka. Kayu-kayu tersebut mereka angkut sedikit demi sedikit pulang ke rumah. 

Setelah menyusun kayu-kayu di kolong rumah, mereka segera naik ke rumah ingin melapor kepada sang Ibu tiri. Betapa terkejutnya mereka ketika mendapati seluruh isi rumah telah kosong.
“Adikku! Ayah dan Ibu telah pergi meninggalkan kita! Lihatlah semua harta benda di rumah ini telah mereka bawa serta!” seru si anak laki-laki.
Menyadari hal itu, si anak perempuan menjadi sedih dan menangis dengan sekeras-kerasnya. Ia sedih karena ia tahu bahwa ibu tirinya telah memengaruhi ayah mereka untuk pergi dari rumah. Tak berapa lama kemudian, para tetangganya pun berdatangan untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi.
“Hai, kenapa adikmu menangis?” tanya seorang warga.
Si anak laki-laki pun menceritakan semua peristiwa yang mereka alami hingga ayah dan ibu tiri mereka pergi secara diam-diam. Mereka juga memberitahu kepada warga bahwa mereka bersikeras untuk pergi mencari orang tua mereka.

Keesokan harinya, kedua anak malang itu berangkat mencari orang tua mereka. Beberapa tentangga yang iba memberi mereka bekal makanan di perjalanan. Sudah dua hari kedua anak itu berjalan menyusuri hutan dan menyeberangi sungai, namun belum juga menemukan kedua orang tua mereka.

Pada hari ketiga, tibalah mereka di tepi Sungai Mahakam. Mereka melihat asap api mengepul di sebuah pondok yang terletak di tepi sungai. Setibanya di sana, mereka mendapati seorang kakek sedang duduk-duduk di depan pondok.
  • “Maaf, Kek! Boleh kami bertanya kepada Kakek,” sapa si anak laki-laki sambil memberi hormat kepada penghuni gubuk reot itu.
  • “Apa yang bisa kubantu, cucuku?” tanya kakek itu.
  • “Maaf, Kek! Kami sedang mencari kedua orang tua kami. Apakah Kakek pernah melihat seorang laki-laki setengah bayah dan seorang perempuan yang masih muda lewat di sini?"
Setelah terdiam sebentar sambil mengingat-ingat, kakek itu pun memberitahukan kepada mereka bahwa beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-istri yang lewat di tempat itu sambil membawa barang yang banyak. Bahkan, mereka sempat mampir di gubuk sang Kakek untuk meminta air minum, karena kehausan.

Kedua anak itu pun yakin bahwa kedua orang yang diceritakan sang Kakek tesebut adalah orang tua mereka.
  • “Tidak salah lagi, mereka adalah orang tua kami, Kek!” seru kedua anak itu serentak.
  • “Apakah Kakek tahu ke mana tujuan mereka?” tanya si anak laki-laki.
  • “Kalau tidak salah, waktu itu mereka berkata akan menetap di seberang sungai sana,” jelas kakek itu.
Mendengar penjelasan itu, kedua anak itu segera menuju ke seberang sungai dengan menggunakan perahu milik kakek itu. Setibanya di seberang sungai, mereka menemukan sebuah pondok kecil yang masih baru tidak jauh dari sungai. Dari dalam pondok itu, asap api tampak mengepul.
  • “Aku yakin, Ayah dan Ibu pasti ada di dalam pondok itu!” seru sang Kakak.
  • “Kakak benar! Lihatlah baju yang di jemur di samping pondok itu. Bukankah itu baju Ayah yang dulu pernah Adik jahit?” kata sang Adik.
Tanpa ragu lagi, kedua anak itu segera menghampiri pondok itu.
“Ayah...! Ibu...! Kami datang!” seru sang Kakak.
Berkali-kali mereka berteriak memanggil, namun tidak mendapat jawaban. Akhirnya mereka memberanikan diri memasuki pondok itu. Alangkah senangnya hati mereka karena ternyata barang-barang yang terdapat di dalam pondok itu adalah milik ayah mereka.

Melihat asap masih mengepul di dapur, sang Kakak segera memeriksanya, karena mengira kedua orang tua mereka sedang memasak di dapur.
Namun, ketika masuk ke dapur, ia hanya mendapati sebuah panci berisi nasi yang sudah menjadi bubur di atas api. Sepertinya, orang tua mereka terburu-buru saat akan meninggalkan pondok, sehingga lupa mengangkat panci tersebut. Karena kelaparan, sang Kakak langsung melahap nasi bubur yang masih panas tersebut. Tak lama kemudian, adiknya pun menyusul dan ikut melahap nasi bubur tersebut hingga habis.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba kedua anak itu merasakan sesuatu yang aneh. Suhu badan mereka tiba-tiba meningkat dan rasanya panas sekali bagaikan terbakar api. Dengan panik, kedua anak itu berlari ke sana kemari mencari air untuk menyiram tubuh mereka. Semua air tempayan di pondok itu telah habis mereka gunakan, namun suhu badan justru semakin tinggi. 

Mereka pun segera berlari menuju ke sungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di pinggir jalan mereka peluk untuk mendinginkan badan mereka. Namun, pohon-pohon pisang tersebut justru menjadi layu. Begitu tiba di tepi sungai, mereka langsung terjun ke dalam air. Tak berapa lama kemudian, kedua anak itu menjelma menjadi dua ekor ikan yang kepalanya menyerupai kepala manusia.

Sementara itu, ayah dan ibu tiri kedua anak itu baru saja pulang dari ladang. Betapa terkejutnya sang Ayah ketika masuk ke dalam pondoknya, ia menemukan sebuah bungkusan dan dua buah mandau milik anaknya. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas turun dari pondok untuk mencari kedua anaknya dengan mengikuti jalan menuju sungai. 

Setibanya di tepi sungai, ia melihat dua ekor ikan yang bergerak ke sana kemari di tengah sungai sambil sekali-sekali muncul di permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Ketika ia akan memberitahukan hal itu kepada istrinya, ternyata sang Istri telah menghilang secara gaib. 

Akhirnya, lelaki setengah baya itu pun sadar bahwa istri barunya itu bukanlah manusia biasa. Sang Istri memang tidak pernah menceritakan asal usulnya. Sang Ayah pun sangat menyesal karena telah menelantarkan kedua anaknya, sehingga berubah menjadi ikan.

Mendengar kabar tersebut, penduduk di sekitarnya berbondong-bondong ke tepi Sungai Mahakam untuk menyaksikan kedua ekor ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia tersebut. Mereka memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut sangat panas dan dapat mematikan ikan-ikan kecil di sekitarnya.

*****



Demikianlah kisah LEGENDA IKAN PESUT SUNGAI MAHAKAM dari Kalimantan Timur. Oleh masyarakat Kutai, ikan penjelmaan kedua anak tersebut mereka namai ikan Pasut atau Pesut, sedangkan masyarakat di pedalaman Mahakam menamainya ikan Bawoi. Pesan moral yang terdapat dalam cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat orang tua yang suka menelantarkan anak-anaknya. Hal ini digambarkan oleh sikap dan perilaku sang Ayah yang telah pergi meninggalkan kedua anaknya, karena lebih memilih istri barunya. Akibatnya, kedua anaknya terlantar dan berubah menjadi ikan Pesut. Dari sini dapat petik sebuah pelajaran bahwa berubahnya kedua anak tersebut menjadi seekor ikan adalah akibat kelalaian sang Ayah dalam melindungi dan menjaga mereka. Dalam kehidupan sebagai orang tua yang berlaku seperti ini disebut tidak tahu diri, tak bertanggungjawab, dan tak beradat, sehingga kelak di akhirat akan menanggung akibat kelalaiannya.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA ASAL USUL RAJA RAJA SUKU TUNJUNG

0 komentar

Suku Tunjung merupakan satu dari 28 anak suku Dayak yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Mereka sebagian besar mendiami tepian Sungai Mahakam dan Sungai Bengkalang. Pada zaman dahulu, suku ini dipimpin oleh raja secara turun temurun.

∞∞∞


Di daerah Kalimantan Timur, ada dua orang bersaudara yang bernama Gah Bogan dan Suma. Gah Bogan tinggal di Negeri Linggang yang terletak tidak jauh dari Sungai Bengkalang. Sementara itu, Suma menetap di Negeri Londong, sebelah kanan mudik Sungai Mahakam.

Suatu hari, istri Gah Bogan yang bernama Gah Bongek melahirkan anak kembar delapan. Karena alasan tidak sanggup menghidupi kedelapan anak tersebut sehingga pasangan suami istri itu memutuskan untuk membuang anak-anak mereka ke Sungai Mahakam (?).

Beberapa tahun kemudian, Gah Bongek kembali melahirkan anak kembar delapan. Keduanya pun bersepakat membuang kedelapan anak mereka ke tengah hutan. Ketika istri Gah Bogan kembali melahirkan yang ketiga kalinya dan mendapatkan anak kembar delapan lagi, akhirnya mereka pun memutuskan untuk merawat dan membesarkan kedelapan anak tersebut. Kedelapan anak itu mereka beri nama Sangkariak Igas, Sangkariak Laca, Sangkariak Lani, Sangkariak Inggih, Sangkariak Injung, Sangkariak Kebon, Sangkariak Lanan, dan yang paling bungsu adalah Sangkariak Daka.

Waktu terus berjalan. Kedelapan bersaudara itu tumbuh dewasa dan mereka mendirikan permukiman di pinggiran Sungai Bengkalang. Sehari-hari mereka mencari ikan di sungai untuk memenuhi kebutuhan mereka. Suatu hari, saat mereka sedang makan bersama, tiba-tiba terdengar suara gaib dari langit.
  • “Jo jo sambut disambut mati, tidak sambut mati,” demikian kata suara itu.
  • “Ulur mati habis, tidak terulur mati lumus,” sahut Sangkariak Kebon menjawab suara itu.
Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba sebuah kelengkang (sejenis keranjang) yang teulur dengan tali seolah-olah turun dari langit. Ternyata kelengkang itu berisi seorang bayi laki-laki tampan yang menggenggam sebutir telur di tangan kanannya. Alangkah senangnya hati mereka mendapat hadiah tersebut dari Ape Bongan Tana (Tuhan Yang Mahakuasa).

Oleh Sangkariak Igas, bayi itu diberi nama Aji Julur Dijangkat. Telur yang ada digenggaman bayi itu mereka simpan dengan baik. Beberapa hari kemudian, telur itu pun menetas menjadi seekor ayam jantan dan diberi nama Jong Perak Kemudi Besi. Dengan penuh kasih sayang, kedelapan bersaudara tersebut merawat dan membesarkan bayi dan ayam jantan itu hingga dewasa.

Sementara itu, istri Suma juga melahirkan delapan orang anak, enam laki-laki dan dua perempuan. Mereka adalah Kemunduk Bengkong, Kemunduk Kandangan, Kemunduk Murung, Kemunduk Jumai, Kemunduk Jangkak, Kemunduk Mandar, Kemunduk Bulan, dan Kemunduk Beran. 

Kini, kedelapan putra-putri Suma tersebut juga sudah beranjak dewasa. Sehari-hari mereka mencari kayu bakar di hutan dan menangkap ikan di Sungai Mahakam.

Suatu hari, kedelapan bersaudara itu baru saja pulang dari hutan mencari kayu bakar. Hari itu, mereka tidak hanya membawa kayu bakar, tetapi juga bambu petung untuk digunakan sebagai lantai rumah. Ketika mereka sedang asyik melepas lelah di depan rumah, tiba-tiba terdengar suara letusan keras disusul suara tangis seorang bayi beberapa saat setelahnya. Kedelapan bersaudara itu pun langsung terperanjat dari tempatnya.
  • “Hai, suara apa itu?” tanya Kemunduk Kandangan.
  • “Sepertinya suara letusan itu berasal dari tumpukan kayu bakar yang kita bawa tadi,” sahut Kemunduk Mandar.
  • “Kalau begitu, ayo kita periksa!” seru Kemunduk Bengkong.
Setelah memeriksa sumber suara letusan tersebut, ternyata bambu petung yang dibawa oleh Kemunduk Bengkong tadi meledak dan mengeluarkan seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik rupawan. Bayi itu tergeletak di atas puing-puing bambu petung yang meledak tadi.
  • “Hai, lihat!” seru Kemunduk Jangkak, 
  • “Di tangan bayi itu tergenggam sebutir telur ayam.”
Kemunduk Bengkong pun segera mengambil telur ayam itu lalu menggendong sang bayi. Oleh kedelapan bersaudara tersebut, bayi itu diberi nama Muk Bandar Bulan yang artinya “Putri Menerangi Negeri”. 

Sementara itu, telur ayam itu mereka letakkan di tempat yang aman. Tak berapa lama kemudian, telur itu menetas menjadi seekor anak ayam betina. Sama halnya kedelapan anak Goh Bogan, Kemunduk Bengkong berserta saudara-saudaranya merawat dan membesarkan bayi dan anak ayam tersebut hingga dewasa. Putri Muk Bundar Bulan tumbuh menjadi seorang gadis yang cerdas dan bijaksana. Tak mengherankan jika ia diangkat menjadi ratu di sebuah negeri yang bernama Tanah Tunjung. 

Sejak itu, Ratu Negeri Tunjung itu kerap melakukan kunjungan ke negeri-negeri tetangga, termasuk Negeri Linggang. Suatu hari, Ratu Muk Bundar Bulan mendengar kabar bahwa di Negeri Linggang ada seekor ayam jantan yang berbulu putih, berjambul, dan berjambing. Ayam jantan itu tak lain adalah si Jong Perak Kemudi Besi milik Aji Julur Dijangkat. Sang ratu sangat tertarik ingin membeli ayam jantan itu untuk dijadikan sebagai pasangan ayam betinanya. Ia pun mengajak Kemunduk Bengkong bersaudara untuk mengunjungi negeri itu.

Keesokan hari, Ratu Muk Bundar Bulan beserta rombongannya berangkat menuju ke Negeri Linggang dengan menggunakan sepuluh perahu. Rupanya, pada saat yang bersamaan, Aji Julur Dijangkat beserta Sangkariak Igas bersaudara juga sedang melakukan perjalanan menuju ke Negeri Londong dengan membawa sepuluh perahu. Akhirnya, kedua rombongan tersebut bertemu di ujung Rantai Genoli dan mereka pun bersepakat untuk berhenti di Negeri Rantau Batu Gonali.

Saat kedua rombongan saling berhadapan, kedua ayam yang ada pada masing-masing rombongan itu saling menyahut. Hal itu pertanda bahwa kedua ayam tersebut saling menyukai. Tidak hanya itu, kedua pemilik ayam tersebut, yaitu Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan ternyata juga saling jatuh hati.
  • “Kakanda bernama Sanghiyang Geragas Pati, anak Raja Sanghiyang Nata Dewi Kencana Peri dari Negeri Bukit Karangan Sari,” kata Muk Bandar Bulan kepada Aji Julur Dijangkat.
  • “Nama Adinda pastilah Putri Ringsa Bunga, anak Sanghiyang Naga Salik dengan Bunda Dewi Randayan Bunga dari Negeri Gunung Asmara Cinta,” sahut Aji Julur Dijangkat.
Rupanya, pemuda tampan dan gadis cantik jelita yang berasal dari Negeri Kahyangan itu ternyata sudah saling mengenal satu sama lain. Oleh karena merasa cocok dan sudah saling mengenal asal-usul masing-masing, akhirnya Aji Julur Dijingkat dan Muk Bandar Bulan menikah dan setelah itu mereka menetap di Negeri Rantau Batu Gonali. Seluruh penduduk Negeri Linggang dan Negeri Londong pun pindah dan ikut menetap di negeri itu.

Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar kemudian membuat rumah panjang yang terbuat dari kayu benggeris. Rumah panjang itu diberi nama Lamin. Hingga kini, rumah ini menjadi rumah tradisional khas Suku Dayak Tunjung di Kalimantan Timur. Sebagai bukti bahwa mereka berasal dari Kahyangan, masing-masing membawa dua biji pinang sendawar. Dua buah biji pinang milik Aji Julur Dijangkat mereka simpan untuk dimakan bersama, sedangkan dua buah biji pinang milik Muk Bandar Bulan mereka tanam di halaman rumah. 

Sejak itulah, negeri Rantau Batu Gonali berganti nama menjadi negeri Pinang Sendawar. Setelah beberapa tahun kemudian, Aji Julur Dijangkat dan Muk Bandar Bulan dikaruniai empat orang anak laki-laki. Mereka adalah Sualis Guna, Nara Gama, Jeliban Bona, dan Puncan Karna. Dalam asuhan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang, mereka pun tumbuh dewasa. 

Suatu hari, sang ayah memanggil mereka untuk menghadap.
“Dengarkanlah, wahai putra-putraku! Kini ayah sudah tua. Sudah saatnya Ayah menunjuk salah satu di antara kalian untuk menggantikan kedudukan Ayah sebagai pemimpin negeri ini,” ungkap Aji Julur Dijingkat di hadapan putra-putranya dan disaksikan oleh sang istri.
Kemududuk Bengkong dan adik-adiknya saling menatap satu sama lain. Masing-masing berharap dirinyalah yang akan ditunjuk oleh sang ayah. Namun, Aji Julur Dijangkat adalah raja yang adil dan bijaksana.
  • “Ayah tidak akan menunjuk langsung salah seorang di antara kalian. Ayah pikir bahwa akan lebih adil jika diadakan lomba menyeberangi sungai sambil membawa gong sebanyak tujuh kali pulang pergi. Siapa pun di antara kalian yang memenangi lomba tersebut maka dialah yang berhak menggantikan Ayah,” ujar sang ayah, 
  • “Apakah kalian setuju dengan cara ini?”
Sualas Guna dan adik-adiknya pun setuju. Pada hari yang telah ditentukan, perlombaan menyeberangi sungai antara keempat bersaudara tersebut siap dimulai. 

Seluruh rakyat pun berondong-bondong untuk menyaksikan perlombaan tersebut. Setelah gong berbunyi pertanda lomba telah dimulai, para peserta lomba pun mulai mengeluarkan kemampuan masing-masing. Sualas Guna yang mendapat giliran pertama ternyata gagal pada saat memasuki putaran keenam. Demikian pula, Nara Gama dan Jeliban Bona yang mendapat giliran kedua dan ketiga juga gagal yaitu masing-masing pada putaran keempat dan kelima.

Sebagai peserta terakhir, Puncan Karna yang telah mempelajari kesalahan-kesalahan kakak-kakaknya dan ditambah dengan kekuatannya yang luar biasa akhirnya dapat memenangkan lomba itu. Meskipun dinyatakan sebagai pemenang, putra bungsu Aji Julur Dijangkat itu tidak jadi diangkat menjadi Raja Pinang Sendawar karena ia harus pergi ke Kutai Kartanegara atas kehendak Dewata melalui mimpi sang Ayah.

Pada malam sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Puncan Karna mendapat pesan dari Sanghyang Naga Salik atau neneknya melalui mimpi bahwa Raja Negeri Kutai yang bernama Maharaja Sultan mempunyai enam orang anak. Dua di antaranya adalah putri yaitu Aji Dewa Putri dan Aji Ratu Putri.

Menurut sang nenek, Aji Ratu Putri itulah yang akan menjadi jodohnya. Keesokan hari, berangkatlah Puncan Karna ke Negeri Kutai disertai oleh beberapa orang pengawal.
Setiba di istana Kutai, pemuda tampan dan perkasa itu langsung menikahi Aji Ratu Putri dan mereka pun hidup berbahagia. Selang beberapa tahun kemudian, pasang suami istri itu dikaruniai beberapa putra yang secara turun-temurun menjadi Raja-raja Tunjung. 

*****

Demikianlah kisah Legenda Asal Usul Raja Raja Suku Tunjung dari Kalimantan Timur. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah pentingnya keutamaan sifat adil sebagaimana yang dimiliki oleh Aji Julur Dijangkat. Untuk menunjuk salah satu putranya yang akan menggantikan dirinya sebagai raja, ia mengadakan lomba menyeberangi sungai dan pemenangnyalah yang berhak atas kedudukan tersebut. Dengan demikian, maka tidak akan ada kecemburuan di antara putra-putranya.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA ASAL USUL ORANG BASAP

0 komentar

Orang Basap adalah salah satu rumpun suku Dayak di Kalimantan Timur yang tinggal di wilayah Bontang dan Sangkulirang. Menurut cerita, Orang Basap merupakan keturunan orang-orang China yang kawin dengan suku Dayak Punan. Meskipun Orang Basap pada umumnya tidak berkulit kuning, tetapi mata mereka tetap sipit seperti orang Tiongkok.

∞∞∞


Dahulu, di Tepian Batu atau Kutai Lama, Kalimantan Timur, berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Kutai Kartanegara. Kerajaan itu didirikan oleh Maharaja Aji Batara Agung Dewa Sakti yang memerintah dari tahun 1300-1325 Masehi. Konon, sang Maharaja gemar bermain sabung ayam. Ia mempunyai seekor ayam jantan yang sakti bernama Ujung Perak Kemudi Besi. Ayam itu selalu menang dalam setiap pertarungan. Namanya pun sudah terkenal hingga ke luar negeri karena ayam jago itu telah mengalahkan ayam jago milik raja-raja dari Jawa, Brunei, dan lainnya.

Kabar tentang kesaktian Ujung Perak Kemudi Besi tersebar hingga ke Negeri Tiongkok. Mendengar kabar tersebut, Pangeran Tiongkok pun bermaksud untuk menjajal kesaktian ayam jago milik sang Maharaja itu. Dengan diiringi ratusan awak kapal dan pasukan, pangeran itu bertolak menuju Kutai dengan menggunakan sebuah kapal besar. Sang Pangeran juga membawa 15 ekor ayam jago miliknya yang paling unggul.

Dalam perjalanan menuju Kutai, rombongan Pangeran Tiongkok mampir mengunjungi beberapa negeri seperti Campa, Brunei, Sumatra, dan Jawa. Di setiap negeri yang disinggahinya, sang Pangeran selalu menyempatkan diri mengadu salah satu ayam jagonya, dan ayam itu selalu menang.
“Ayam jagoku pasti akan mampu mengalahkan ayam jago milik Raja Kutai,” sang Pangeran Tiongkok percaya diri.
Beberapa hari kemudian, rombongan Pangeran Tiongkok akhirnya tiba di Kutai. Sang Pangeran pun langsung menghadap Maharaja Aji Batara Agung Dewa Sakti dan mengutarakan maksud kedatangannya.
  • “Hamba datang dari negeri Tiongkok. Hamba menghadap ke mari untuk mengadu ayam jago hamba dengan ayam jago milik Baginda yang terkenal sakti itu,” kata Pangeran Tiongkok.
  • “Wah, Pangeran jauh-jauh dari Tiongkok hanya untuk mengadu ayam?” tanya Maharaja Kutai dengan santai.
  • “Benar, Baginda. Hamba membawa 15 ayam jago hamba untuk diadu dengan ayam jago Baginda,” jawab sang Pangeran.
Maharaja Kutai Kartanegara terdiam sejenak sambil mengelus-elus jenggotnya. Semula ia ragu karena Pangeran Tiongkok itu membawa 15 ayam jago. Tentu saja ayam jagonya akan kewalahan menghadapi semua ayam jago tersebut. Namun karena yakin dengan kesaktian Ujung Perak Kemudi Besi, ia pun menerima tantangan Pangeran Tiongkok itu.
  • “Baiklah, Pangeran. Aku terima tantanganmu. Lalu, bagaimana dengan aturan dan taruhannya?” tanya Maharaja Kutai.
  • “Maaf, Baginda. Ayam jago hamba akan diadu dengan ayam jago Baginda setiap hari. Taruhan setiap ekor ayam hamba adalah 100 bungkal emas sebesar lutut dan sebutir berlian sebesar telur merpati,” jawab Pangeran Tiongkok.
  • “Baiklah, aku setuju dengan tawaran itu. Pertarungan ini akan kita mulai besok,” ujar Maharaja Kutai Kartanegara.
Maharaja Kutai Kartanegara segera memerintahkan para prajuritnya untuk menyiapkan gelanggang sabung ayam di depan istana. Keesokan harinya, banyak rakyat Kutai dan yang datang untuk menyaksikan jalannya pertarungan itu. Para prajurit istana pun tidak mau ketinggalan ingin menonton acara yang bakal berlangsung seru itu. Maharaja Kutai sudah terlihat duduk di singgasananya dengan didampingi oleh permaisuri tercinta. 

Sementara itu, di sisi lain gelanggang, Pangeran Tiongkok dengan para pengawalnya juga sudah bersiap-siap. Setelah semua persiapan selesai, gong pun dibunyikan pertanda dimulainya pertandingan. Kedua belah pihak segera melepaskan ayam jago masing-masing ke arena. Kedua ayam jago itu pun berkokok bersahut-sahutan seraya mengambil ancang-ancang untuk saling menyerang. Suasana penonton yang semula riuh rendah tiba-tiba menjadi hening.
Sesaat kemudian, kedua ayam jago itu mulai bertarung. Ayam jago Pangeran Tiongkok mulai menyerang dengan beringas. Namun, dengan gesit, ayam jago Maharaja Kutai berkelit menghindari serangan.

Ayam jago Pangeran Tiongkok terus menyerang bertubi-tubi. Ujung Perak Kemudi Besi milik Maharaja Kutai pun selalu bisa menghindar. Lama-kelamaan, ayam jago Pangeran Tiongkok kehabisan tenaga. Kesempatan itu tidak disiakan-siakan oleh ayam jago Maharaja Kutai. Dengan sekali serang, ayam jago Pangeran Tiongkok pun tewas terkena taji. Sorak-sorai penonton pun kembali bergumuruh.
“Hidup Ujung Perak Kemudi Besi! Hidup Maharaja Kutai!” demikian teriakan penonton memberi semangat.
Ayam jago Pangeran Tiongkok yang pertama telah tewas. Pertarungan akan dilanjutkan pada esok harinya di mana Ujung Perak Besi akan menghadapi ayam jago yang kedua milik Pangeran Tiongkok. Pertarungan pada hari kedua itu juga dimenangkan oleh ayam jago Raja Kutai. Demikian seterusnya hingga hari ke14. Ayam jago milik Pangeran Tiongkok pun tinggal satu yang tersisa.

Selain itu, sang Pangeran juga telah kehabisan taruhan. Kini, Maharaja Kutai yang berbalik menantang pangeran dari Tiongkok itu.
  • “Bagaimana Pangeran, apakah pertarungan ini akan kita lanjutkan?” tanya Maharaja Kutai.
  • “Iya, Baginda. Hamba akan mempertaruhkan kapal hamba dan seluruh isinya. Tapi, hamba minta Baginda juga mau mempertaruhkan kerajaan Baginda beserta isinya,” pinta Pangeran Tiongkok.
Mendengar permintaan itu, Raja Kutai terhenyak. Rakyat pun ikut tercengang dan cemas. Maharaja Kutai masih diam. Pikirannya diselimuti perasaan bimbang. Baginya, taruhan itu terlalu besar. Tapi, jika tidak menerima tawaran itu, ia akan merasa malu. Di tengah-tengah kebimbangannya, tiba-tiba Ujung Perak Kemudi Besi berkokok dengan suara nyaring sambil mengepak-epakan kedua sayapnya. Hal itu seolah-olah memberi isyarat kepada tuannya agar menerima tawaran itu. Raja Kutai pun memahami keinginan ayam jagoannya.
  • “Baiklah, Pangeran. Aku terima tawaranmu,” jawab Raja Kutai dengan penuh keyakinan, 
  • “Tapi, ingat! Pangeran jangan mengingkari janji. Jika salah satu dari kita mengingkari janji, ia akan mendapat hukuman dari Sang Hyang Dewata.”
Pangeran Tiongkok menyetujui perjanjian itu. Akhirnya, pertarungan itu pun dimulai. Ayam jago kedua belah pihak segera dilepaskan ke arena. Pertarungan kali ini semakin sengit karena ayam jago yang akan dihadapi Ujung Perak Kemudi Besi merupakan ayam paling tangguh milik Pangeran Tiongkok. Seluruh penduduk Kutai pun semakin cemas.

Saat pertarungan dimulai, kedua ayam jago tersebut silih berganti menyerang. Pertarungan itu sudah berlangsung beberapa waktu, namun belum dapat dipastikan jago mana yang akan menang. Kesaktian keduanya masih tampak seimbang. Begitu matahari mulai tenggelam, ayam jago Pangeran Tiongkok sudah kelelahan. Sebaliknya, ayam si Ujung Perak justru semakin tangkas. Sepakannya semakin kuat dan patukannya pun bertambah kuat. Tidak berapa kemudian, ayam jago Pangeran Tiongkok pun tewas. Melihat hal itu, seluruh rakyat Kutai bersorak gembira meryakan kemenangan Ujung Perak Kemudi Besi.

Maharaja Kutai segera memerintahkan para prajuritnya untuk mengambil semua layar dan dayung yang ada di kapal agar Pangeran Tiongkok dan pasukannya tidak melarikan diri. Namun, Maharaja Kutai masih berbelas kasihan;
  • “Khusus malam ini, aku izinkan Pangeran dan seluruh prajurit Pangeran tidur di kapal itu,” ujar Raja Kutai.
  • “Terima kasih, Baginda,” jawab Pangeran Tiongkok.
Pangeran Tiongkok dan rombongannya pun kembali kapal yang sudah menjadi milik Raja Kutai. Ketika hari sudah larut, lampu-lampu di kapal itu dimatikan. Pangeran Tiongkok dan anak buahnya bukannya beristirahat, melainkan mengadakan rapat secara diam-diam. Rupanya, mereka sedang merencanakan siasat untuk bisa melarikan diri.
“Bagaimana caranya kita melarikan diri, Pangeran? Bukankah layar dan dayung kita sudah dirampas oleh Raja Kutai?” tanya salah seorang prajurit dengan bingung.
Sejenak, Pangeran Tiongkok terdiam. Ia pun kebingunan mencari jalan keluar. Di tengah kebimbangan itu, tiba-tiba juru masak angkat bicara.
  • “Maaf, Pangeran. Bolehkah hamba usul?” pinta juru masak itu.
  • “Apakah itu? Cepat katakan!” desak sang Pangeran.
  • “Bukankah kita masih mempunyai layar yang sudah robek di gudang? Bagaimana kalau layar itu kita jahit saja?” usul juru masak.
Sang Pangeran pun langsung menerima usulan itu. Ia kemudian memerintahkan para prajuritnya untuk menjahit layar itu di sebuah bukit. Ia juga memerintahkan prajuritnya untuk membuat sejumlah dayung di bukit tersebut. 
Keesokan harinya, mereka pun selesai menjahit bagian layar yang robek. Konon, bukit itu kemudian dinamakan Gunung jahitan Layar. Demikian pula dayung yang mereka buat juga sudah selesai.

Pada malam harinya, Pangeran Tiongkok pun bertolak meninggalkan pelabuhan Kutai dengan kapal itu. Prajurit Maharaja Kutai yang mengetahui hal itu segera melapor.
  • “Ampun, Baginda. Pangeran Tiongkok mengkhianati kita. Ia bersama pasukannya membawa dengan kapal,” lapor salah seorang prajurit, 
  • “Kita harus segera mengejarnya sebelum mereka pergi jauh.”
  • “Kalian tidak perlu mengejarnya. Pangeran itu telah mengingkari janjinya. Lihat saja nanti, mereka akan mendapat musibah di tengah laut,” ujar Maharaja Kutai.
Usai berkata demikian, Raja Kutai Kartanegara kemudian berucap sumpah.
“Keringlah laut yang mengelilingi wangkang! Biarlah seumur hidup rombongan Pangeran Tiongkok berada di tempat itu!”
Sementara itu, rombongan Pangeran Tiongkok telah memasuki Teluk Sankulirang. Tanpa diduga, tiba-tiba angin puting beliung datang mendekat ke arah kapal yang mereka tumpangi. Air laut yang ada di sekitarnya pun tersedot ke atas. Pangeran Tiongkok dan prajuritnya pun mulai panik. Mereka segera menurungkan jangkar agar tidak ikut tersedot oleh pusaran angin puting beliung. 

Hingga saat ini, tempat anak buah Pangeran Tiongkok menurungkan jangkar itu diberi nama Kampung Jangkar. Angin puting beliung terus menyedot air laut hingga laut menjadi kering. Rombongan Pangeran Tiongkok pun segera turun dari kapal. Selang beberapa saat kemudian, kapal itu tiba-tiba berubah menjadi batu.

Menurut cerita, Pangeran Tiongkok dan prajuritnya tinggal di sekitar tempat itu. Mereka kemudian berbaur dengan penduduk setempat, yakni orang-orang suku Dayak Punan hingga terjadi perkawinan.

Keturunan orang-orang Tiongkok dan suku Dayak Punan itu kemudian dikenal sebagai Orang Basap.

*****

Demikianlah kisah Legenda Asal Usul Orang Basap dari Kalimantan Timur. Pesan moral yang dapat kita petik dari kisah ini adalah bahwa orang yang suka mengingkari janji seperti Pangeran Tiongkok akan mendapat balasan yang setimpal.

Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA ASAL MULA UPACARA ERAU

0 komentar

Tenggarong adalah ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Indonesia. Pada mulanya, kota Tenggarong merupakan ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara bernama Tepian Pandan. Namun, oleh Sultan Kutai, Aji Muhammad Muslihuddin (Aji Imbut), nama Tepian Pandan diubah menjadi Tangga Arung yang berarti rumah raja. Kemudian dalam perkembangannya, Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong sampai saat ini. Di daerah ini telah berkembang sebuah cerita legenda yang sangat populer yaitu Asal- Mula Upacara  Erau.
Kisah legenda ini mengambil latar belakang cerita di masa Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Marta Dipura (abad ke-13 M.) yang berdiri di Tepian Batu atau Kutai Lama. Cerita legenda ini terpusat pada kisah seorang laki-laki bernama Aji  Batara Agung Dewa Sakti, seorang dari keturunan Dewa yang memiliki wajah sangat tampan, sehat dan cerdas. Ia tumbuh dan berkembang di lingkungan suku Tenggarong Kutai. Sebagai keturunan Dewa, ia tidak boleh diperlakukan seperti halnya seorang anak manusia biasa. Oleh karena itu, sejak kecil ia dirawat dan dibesarkan dengan baik dan hati-hati oleh keluarga Petinggi Dusun Jaitan Layar. Pada waktu-waktu tertentu, keluarga Petinggi Dusun Jaitan Layar harus mengadakan upacara adat untuk Aji Batara Dewa Sakti yang dikenal dengan Upacara  Erau, Erau berasal bahasa Kutai eroh yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita.
Dalam pengertian yang paling sederhana, Upacara Erau atau eroh adalah pesta yang diselenggerakan oleh sekelompok orang dengan berbagai kegiatan yang mempunyai maksud dan mengandung makna, baik bersifat sakral, ritual maupun hiburan.

∞∞∞


Alkisah, di lereng sebuah gunung di daerah Kalimantan Timur terdapat sebuah dusun bernama Jaitan Layar. Di dusun itu tinggal seorang Petinggi bersama istrinya. Meski sudah menikah puluhan tahun, mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Namun demikian, suami-istri itu tak pernah putus asa. Mereka senantiasa pergi bertapa, menjauhi kerabat dan rakyatnya untuk memohon pada Dewata agar diberi keturunan.

Pada suatu malam, ketika mereka sedang tertidur nyenyak, tiba-tiba dikejutkan oleh suara gemuruh di halaman rumahnya. Malam yang semula gelap gulita tiba-tiba berubah menjadi terang benderang, kejadian itu membuat mereka sangat heran. 
“Pak, coba lihat apa yang terjadi di luar,” kata sang istri.
Dengan memberanikan diri Petinggi Dusun Jaitan Layar keluar dari rumahnya. Ia sangat terkejut melihat sebuah Batu Raga Mas berada di halaman rumahnya. Di dalamnya terbaring seorang bayi laki-laki yang masih merah berselimutkan kain berwarna emas.

Tangan kanan bayi itu menggenggam sebutir telur ayam dan tangan kirinya memegang sebilah keris emas. Petinggi Dusun itu semakin terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya berdiri tujuh dewa. Satu dari tujuh dewa itu berkata,
“Berterima kasihlah kamu, karena doamu telah dikabulkan oleh para Dewa.”
Kemudian Dewa itu berpesan kepada Petinggi Jaitan Layar,
“Ketahuilah bayi ini keturunan para Dewa di Kahyangan. Oleh karena itu kamu tidak boleh menyia-nyiakannya. Cara merawatnya berbeda dengan merawat anak manusia. Bayi ini tidak boleh diletakkan sembarangan di atas tikar, akan tetapi selama empat puluh hari empat puluh malam harus dipangku secara bergantian oleh kaum kerabat sang Petinggi. Jika kamu ingin memandikan bayi ini, jangan menggunakan air biasa, tetapi harus dengan air yang diberi bunga-bungaan.”
Dewa itu juga berpesan kepada sang Petinggi, 
“Jika bayi ini sudah besar tidak boleh menginjak tanah sebelum diadakan Upacara Erau. Pada upacara Tijak Tanah (Menginjak Tanah), kaki anak ini harus diinjakkan pada kepala manusia yang masih hidup dan kepala manusia yang sudah mati. Selain itu, kaki anak ini juga harus diinjakkan pada kepala kerbau yang masih hidup dan kepala kerbau yang sudah mati. Begitu pula jika anakmu hendak mandi di sungai untuk pertama kali, hendaknya kau harus mengadakan Upacara Erau Mandi ke Tepian sebagaimana pada upacara Tijak Tanah.”
Bukan main senangnya Petinggi Jaitan Layar mendapatkan anak keturunan para Dewa. 
“Terima kasih Dewa. Semua perintah Dewa akan hamba laksanakan,” kata sang Petinggi sambil menyembah.
Saat itu pula, tiba-tiba ketujuh Dewa tersebut menghilang dari hadapan sang Petinggi. Bayi itu pun segera dibawa oleh sang Petinggi masuk ke dalam rumah. Lalu, sang Petinggi menceritakan kejadian yang baru saja ia alami kepada istrinya. Bukan main senangnya istri sang Petinggi mendengar cerita suaminya, apalagi setelah ia melihat bayi itu. Ia bagaikan bulan purnama, wajahnya tampan tiada banding, tubuhnya sehat dan segar, siapa pun memandangnya akan bangkit kasih sayang terhadapnya.

Beberapa saat kemudian bayi itu tiba-tiba menangis. Sepertinya bayi itu sedang kelaparan. Sang Petinggi pun menjadi bingung, karena payudara istrinya tidak dapat mengeluarkan air susu. Apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang perempuan tua seperti istrinya untuk menyusui seorang anak.

Akhirnya, sang Petinggi membakar dupa dan setanggi. Lalu, sambil menghambur beras kuning, ia memanjatkan doa kepada para Dewa agar memberikan karunia kepada istrinya berupa air susu yang harum baunya. Tak lama setelah berdoa, terdengarlah suara dari Kahyangan, 
“Hai Nyai Jaitan Layar, usap-usaplah payudaramu dengan tangan berulang-ulang sampai terpancar air susu darinya”.
Mendengar perintah itu, istri Petinggi Jaitan Layar segera mengusap-usap payudaranya sebelah kanan sebanyak tiga kali. Tiba-tiba, mencuratlah dengan derasnya air susu dari payudaranya yang sangat harum baunya seperti bau ambar dan kasturi. Bayi itupun mulai menyusu pada istri Petinggi. Kedua suami-istri itu sangat bahagia melihat bayi keturunan Dewa itu telah mendapatkan air susu.

Setiap hari, sang Petinggi dan istrinya merawat anak mereka dengan baik. Sesuai perintah Dewa, mereka senantiasa memandikan bayi itu dengan air yang diberi bunga-bungaan. Tiga hari tiga malam kemudian, putuslah tali pusar bayi itu. Seluruh penduduk dusun Jaitan Layar bergembira. Mereka merayakannya dengan menembakkan Meriam Sapu Jagat sebanyak tujuh kali. Empat puluh hari empat puluh malam bayi itu dipangku penduduk secara bergantian dan berhati-hati. Sesuai petunjuk Dewa dalam mimpi Petinggi, bayi laki-laki itu diberi nama Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Waktu terus berlalu. Kini Aji Batara Agung Dewa Sakti telah berumur lima tahun. Anak seusia Aji tentu sangat ingin bermain di luar rumah bersama teman-teman sebayanya. Ia juga ingin mandi di sungai seperti anak-anak lain. Ia sudah sangat bosan dan jenuh dikurung di dalam rumah.

Sang Petinggi teringat dengan pesan Dewa ketika menerima anak itu. Maka ia dan istrinya bersama seluruh penduduk Dusun Jaitan Layar mempersiapkan Upacara Erau. Dalam pesta Upacara Erau itu digelar upacara Tijak Tanah dan Mandi ke Tepian. Upacara Upacara Erau berlangsung sangat meriah selama empat puluh hari empat puluh malam. Sesuai petunjuk Dewa, Petinggi menyembeli bermacam-macam binatang dan beberapa orang untuk diinjak kepalanya oleh Aji Batara Agung pada upacara Tijak Tanah.

Dalam upacara Tijak Tanah dan Mandi ke Tepian, Aji Batara Agung diarak dan kemudian kakinya dipijakkan pada kepala-kepala binatang dan manusia yang telah diselimuti kain kuning. Kemudian Aji Batara Agung diselimuti dengan kain kuning, lalu diarak ke tepian sungai. Di tepi sungai, Aji Batara Agung dimandikan, kakinya dipijakkan pada besi dan batu. Semua penduduk Jaitan Layar kemudian turut mandi, baik wanita maupun pria, baik orang tua maupun orang muda. Setelah selesai upacara mandi, maka khalayak mengarak kembali Aji Batara Agung ke rumah orang tuanya, lalu memberinya pakaian kebesaran. Setelah itu mereka mengarak kembali Aji Batara Agung ke halaman dengan dilindungi payung agung, diiringi dengan lagu gamelan Gajah Perwata dan bunyi meriam Sapu Jagat.

Sesaat kemudian, tiba-tiba dentuman suara guntur yang sangat dahsyat menggoncang bumi disertai dengan hujan panas turun merintik. Kejadian itu tidak berlangsung lama. Cahaya cerah kembali menerangi alam, awan di langit bergulung-gulung seakan-akan memayungi penduduk yang sedang mengadakan upacara di bumi. Penduduk Jaitan Layar kemudian menghamparkan permadani dan kasur agung, lalu membaringkan Aji Batara Agung di atasnya. Gigi Aji Batara Agung pun diasah kemudian diberi makan sirih.

Selesai upacara tersebut, pesta Upacara Erau pun dimulai. Berbagai makanan dan minuman disediakan untuk penduduk. Bermacam-macam permainan dipertunjukkan. Laki-laki dan perempuan menari silih berganti. Juga tidak ketinggalan diadakan adu binatang. Keramaian ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam dengan tidak putus-putusnya.

Setelah pesta Upacara Erau selesai, semua bekas balai-balai yang digunakan dalam pesta ini dibagi-bagikan oleh Petinggi kepada penduduk yang melarat. Demikian pula, semua hiasan-hiasan rumah oleh istri Petinggi diberikan kepada penduduk.

Para undangan dari berbagai negeri dan dusun, berpamitan kepada Petinggi dan Aji Batara Agung Dewa Sakti. Mereka memuji-muji Aji Batara Agung dengan berkata, 
"Tiada siapa pun yang dapat menyamainya, baik rupanya yang tampan maupun sikapnya yang berwibawa. Patutlah dia anak dari batara Dewa-Dewa di khayangan."
Setelah berpamitan, para undangan kembali ke negeri dan dusunnya masing-masing untuk mencari nafkah sehari-sehari.

Sementara itu, Aji Batara Agung Dewa Sakti makin hari makin dewasa. Ia tumbuh menjadi remaja yang gagah, tampan, cerdas dan berwibawa. Ia kelak akan menjadi Raja pertama dari kerajaan Kutai Kartanegara. Setelah mencapai usia dewasa, tibalah saatnya Aji Batara Agung Dewa Sakti diangkat menjadi raja Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Marta Dipura yang pertama (1300-1325). Saat ia diangkat menjadi raja, Upacara Erau kembali diadakan dengan meriah. 

Sebagai raja pertama, maka Aji Batara Agung Dewa Sakti dianggap sebagai nenek moyang raja-raja Kutai Kartanegara Ing Marta Dipura. Setelah menjadi raja, Aji Batara Agun Dewa Sakti menikah dengan seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Karang Melenu. Konon ceritanya, Putri Karang Melenu juga merupakan titisan Dewa dari Kahyangan. 

Awalnya, ia adalah ulat kecil yang ditemukan oleh seorang Petinggi Hulu Dusun di daerah kampung Melanti dekat Aliran Sungai Mahakam. Pada suatu hari, ketika Petinggi Hulu Dusun sedang membelah kayu bakar, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seekor ulat kecil. Ulat kecil itu  melingkar di belahan kayu dan memandangnya dengan mata yang sayu, seakan minta dikasihani. Dengan lembut sang Petinggi mengambil ulat itu untuk dipelihara.

Waktu terus berlalu. Ulat kecil itu tumbuh semakin besar. Lama-kelamaan binatang itu berubah menjadi seekor naga yang besar. Meskipun besar dan menyeramkan, naga itu jinak dan tak pernah keluar dari rumah. Pada suatu malam Petinggi bermimpi bertemu seorang putri yang cantik jelita. Dalam mimpinya, sang Putri berkata, 
“Ayah dan Bunda tidak usah takut kepada ananda, meski tubuh ananda besar dan menakutkan. Izinkanlah ananda untuk pergi dari sini. Buatkanlah ananda sebuah tangga untuk merayap ke bawah”. 
Ketika terbangun, sang Petinggi menceritakan mimpinya kepada Istrinya, Babu Jaruma.

Keesokan harinya, sang Petinggi pun sibuk membuat tangga dari kayu lampong. Anak tangganya terbuat dari bambu yang diikat dengan akar lembiding. Selesai membuat tangga, tiba-tiba Petinggi mendengar suara sang Putri yang menemuinya dalam mimpi. 
“Bila ananda telah turun ke tanah, ananda minta Ayahanda dan Bunda menigkuti ananda ke mana saja ananda merayap. Ananda juga minta agar Ayahanda membakar wijen hitam serta menaburi ananda dengan beras kuning. Jika ananda merayap sampai ke sungai dan menyelam, ananda mohon Ayahanda dan Bunda mengiringi buihku.”
Sang Naga pun kemudian menuruni tangga, lalu merayap meninggalkan rumah. Sang Petinggi dan istrinya mengikuti naga itu sesuai dengan petunjuk sang Putri.

Ketika sang Naga sampai di sungai, ia berenang tujuh kali berturut-turut ke hulu dan tujuh kali ke hilir. Kemudian dia berenang ke Tepian Batu. Petinggi dan istrinya mengikuti sang Naga dengan perahu. Di Tepian Batu, sang Naga berenang ke kiri tiga kali dan ke kanan tiga kali kemudian menyelam. Pada saat menyelam, tiba-tiba terjadilah peristiwa yang sangat dahsyat. Air sungai pun bergolak. Angin topan bertiup dengan kencang. Hujan deras turun disertai guntur dan petir bersahut-sahutan. Perahu yang ditumpangi Petinggi dan istrinya terombang-ambing oleh gelombang air sungai. Dengan susah payah Petinggi berusaha mengayuh perahunya ke tepi.

Tak lama peristiwa itu berlangsung, tiba-tiba cuaca kembali terang. Petinggi dan istrinya heran. 
“Kemana perginya sang Naga” 
Tiba-tiba mereka melihat suatu pemandangan yang menakjubkan. Air Sungai Mahakam dipenuhi dengan buih. Warna-warni sinar pelangi menerpa buih hingga bercahaya kemilau. Petinggi dan istrinya mendekat. Mereka terkejut karena ditumpukan buih itu terdapat sebuah gong besar dan di dalamnya ada sebuah benda. 
“Entahlah, benda apa itu” Petinggi dan istrinya semakin penasaran. 
Petinggi bergegas mengayuh perahunya ke arah benda itu. 
“Lihat Pak! Sepertinya benda itu seorang bayi,” seru istri Petinggi sambil menunjuk ke arah gong itu. 
Ternyata benar, benda di dalam gong itu adalah seorang bayi perempuan. Kemudian mereka pun mengambil gong berisi bayi itu dan membawanya pulang.
Sang Petinggi dan istrinya merawat bayi itu dengan baik seperti anak kandungnya sendiri. Mereka sangat senang sekali mendapatkan anak dari Kahyangan. Setelah genap tiga hari, putuslah tali pusar bayi itu. Sesuai perintah Dewa di dalam mimpi Petinggi, bayi perempuan itu diberi nama Putri Karang Melenu.

Waktu terus berjalan, Putri Karang Melanu tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik jelita, baik budi, dan pintar. Setelah dewasa, Dewata pun mempertemukannya dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti. Keduanya lalu menikah. Sang Putri pun menjadi permaisuri Raja Kutai Kartanegara Ing Marta Dipura I dan melahirkan seorang putra bernama Aji Batara Agung Paduka Nira.

*****

Demikianlah kisah LEGENDA ASAL MULA UPACARA ERAU yang merupakan kisah perjalanan hidup Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti dengan permaisurinya Putri Karang Melanu mulai kecil hingga akhirnya mereka menikah. 

Sejak Aji Batara Agung Dewa Sakti menjadi Raja Kutai Kartanegara, Upacara Erau diadakan pada setiap pergantian atau penobatan raja-raja Kutai Kartanegara. Untuk mengenang kembali peristiwa kehadiran Putri Karang Melanu, diadakan pula upacara Mengulur Naga. Upacara ini merupakan puncak acara pada Upacara Erau yang hampir setiap tahunnya diselenggarakan oleh masyarakat Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. 

Selain Mengulur Naga, masyarakat Kutai Kartanegara mengenang Putri Karang Melanu dengan membangun sebuah gedung pertunjukkan yang diberi nama Putri Karang Melanu.    
Pada masa kerajaan Kutai Kartanegara, Upacara Erau diselenggarakan oleh kerabat istana dengan mengundang pemuka masyarakat yang setia kepada raja. Waktu penyelenggaraan Festival Upacara Erau tergantung pada kemampuan kerajaan, minimal tujuh hari delapan malam dan maksimal empat puluh hari empat puluh malam. Namun, sejak masa kerajaan Kutai Kartanegara berakhir tahun 1960, pelaksanaan Upacara Erau sempat terhenti selama beberapa tahun. Baru pada tahun 1971, Upacara Erau, yang kemudian populer dengan sebutan Festival Upacara Erau ini kembali dilaksanakan atas prakarsa Bupati Kutai, Achmad Dahlan, dengan merangkaikan perayaan hari jadi Kota Tenggarong. Sejak itulah, Festival Upacara Erau menjadi agenda rutin pemerintah Kutai Kartanegara dalam rangka memperingati hari jadi Kota Tenggarong. Oleh karena itu, setiap perayaan hari jadi Kota Tenggarong selalu dirangkaikan dengan Festival Upacara Erau dan berbagai festival lainnya. 

Pada tanggal 28 September 2003, perayaan hari jadi Kota Tenggarong ke-221 dirangkaian dengan penyelenggaraan Festival Upacara Erau dan Zapin International Festival. Dalam Festival Upacara Erau, berbagai macam seni dan olahraga tradisional yang mereka tampilkan,  di antaranya Menjamu Benua, Merangin Malam, Mendirikan Tiang Ayu, Upacara Penabalan, Pelas
(Pagelaran Kesenian Keraton Kutai Kartanegara), Seluak Mudik, Mengulur Naga, dan diakhiri dengan Belibur. Selain itu, dalam festival itu juga ditampilkan berbagai kesenian Dayak seperti Papaer Maper, Kuangkay, Mumutn, Ngayau, Lemakan Balei, Uman Undad, Pasek Truit, Upacara Erau Anak (Penhos). Tak ketinggalan pula keseniaan daerah pesisir (kesenian Melayu) seperti Tarsul dan Badendang. Untuk lebih meramaikan Festival Upacara Erau, biasanya diadakan penyalaan kembang api raksasa di Pulau Kumala pada malam hari. Ratusan ribu orang menyaksikan indahnya warna-warni menghiasi langit dari tepian Sungai Mahakam.

Saat ini, penyelenggaraan Festival Upacara Erau oleh masyarakat Tenggarong tidak sekedar untuk melestarikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, akan tetapi juga untuk memperkenalkan potensi wisata Kutai Kartanegara. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bupati Kutai Kartanegera, Syaukani, Festival Upacara Erau merupakan wujud rasa syukur masyarakat Kutai Kartanegara dan pemerintah daerah dalam melakukan kegiatan pembangunan. Pelaksanaan Upacara Erau diharapkan dapat menjadi upaya positif untuk menjual dan memperkenalkan potensi wisata Kutai Kartanegara. Festival Upacara Erau selalu dinanti-nanti oleh masyarakat Kutai Kartanegara setiap tahun, karena memang sudah masuk dalam kalender wisata nasional. Festival Upacara Erau ini merupakan sebuah peristiwa yang telah menjadi kebanggaan masyarakat Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Indonesia.
Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id


BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT TERBARU

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT POPULER

ADHI MEKAR INDONESIA "AMI SCHOOL" DENPASAR BARAT, BALI

 
  • AGATHA NICOLE © 2017 | Modified By YURI | Powered By BLOGGER | KEDAI LOMBOK