Daftar Cerita Legenda Rakyat
Showing posts with label KALIMANTAN BARAT. Show all posts
Showing posts with label KALIMANTAN BARAT. Show all posts

LEGENDA SUNGAI LANDAK

0 komentar

Sungai Landak membentang di wilayah Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Dahulu, sebelum menjadi sungai, daerah ini masih berupa tanah lapang. Namun, karena suatu peristiwa, tanah lapang tersebut kemudian menjelma menjadi sungai.

∞∞∞


Dahulu, di sebuah desa yang terletak di pinggir hutan di pedalaman Kalimantan Barat, hiduplah sepasang suami istri. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehari-hari sang Suami bercocok tanam dengan menanam palawija di ladang. Meskipun hidupnya serba pas-pasan, pasangan suami istri tersebut selalu ingin membantu orang lain yang sedang mengalami kesusahan.

Suatu malam, ketika sang Istri sudah tidur dengan nyenyaknya, sang Suami masih terlihat gelisah. Sesekali ia miring ke kanan, sesaat kemudian miring lagi ke kiri. Malam semakin larut, namun lelaki itu tetap tidak bisa memejamkan mata. Ia pun bangkit dari tidurnya lalu duduk di samping istrinya,
“Huh, kenapa mataku sulit sekali kupejamkan?” keluh petani itu.
Sesekali petani itu memandangi istrinya yang sudah terlelap. Suatu ketika, saat menoleh ke arah istrinya, ia dikejutkan oleh sebuah peristiwa aneh pada istrinya. Kepala sang Istri mengeluarkan asap. Selang beberapa saat kemudian, tiba-tiba seekor kelabang (lipan) yang memancarkan sinar berwarna putih keluar dari kepala istrinya. Kelabang itu kemudian merayap keluar dari rumahnya dan menuruni tangga.
“Hai, mau ke mana kelabang itu?” gumamnya seraya mengikuti hewan berkaki seribu itu.
Cahaya bulan purnama yang menerangi sekitar rumahnya memudahkan sang Suami mengikuti kelabang itu. Tak berapa lama kemudian, kelabang itu sampai pada sebuah ceruk (lubang) yang digenangi air, tidak jauh dari rumahnya.
Si petani menunggu beberapa saat, namun kelabang itu tidak keluar lagi.
“Ah, dasar kelabang aneh,” gumamnya seraya kembali masuk ke dalam rumahnya.
Petani itu kembali merebahkan tubuhnya di samping sang Istri dan mencoba untuk memejamkan mata. Namun, hingga pagi hari, ia tetap tidak bisa tidur. Pada esok harinya, ia pun menceritakan peristiwa aneh yang dilihatnya semalam kepada sang Istri.
  • “Dinda, apakah kamu merasakan kelabang itu keluar dari kepalamu?” tanya sang Suami.
  • “Tidak, Kanda. Tapi, semalam Dinda mimpi aneh,” jawab sang Istri.
  • “Mimpi aneh apakah itu, Dinda?” tanya sang Suami penasaran.
Sang Istri pun menceritakan perihal mimpinya bahwa ia berjalan amat jauh melewati padang tandus hingga sampai ke sebuah pinggir danau yang amat luas. Di tengah danau, terlihat seekor landak yang sangat besar. Bulunya bewarna kuning keemasan dan matanya tajam menyala. Belum lagi istrinya selesai bercerita, sang Suami menyelanya.
  • “Lalu, apa yang dinda lakukan?” tanya sang Suami.
  • “Dinda sangat ketakutan, Kanda. Landak raksasa itu hendak menerkam Dinda. Jadi, Dinda pun lari meninggalkan danau itu,” cerita sang Istri.
Mendengar cerita tersebut, si Petani termenung sejenak dan kemudian berkata kepada istrinya.
“Hmmm... jangan-jangan mimpi Dinda ada hubungannya dengan kelabang yang keluar dari kepala Dinda tadi malam?” pikirnya.
Akhirnya, petani itu mengajak istrinya menuju ceruk tempat kelabang itu menghilang. Ia bermaksud menangkap kelabang itu.
  • “Hati-hati, Kanda!” seru sang Istri, “Jangan sampai tersengat oleh kelabang itu. Racunnya sangat berbahaya.”
  • “Baik, Dinda,” jawab sang Suami.
Sang Suami kemudian memasukkan tangannya ke dalam ceruk itu. Beberapa saat kemudian, tangannya terasa
menyentuh sebuah benda keras dan ujungnya runcing. Dengan hati-hati, ia mencoba memegang dan kemudian mengambil benda itu. Alangkah terkejutnya mereka saat melihat benda itu yang ternyata sebuah patung landak emas. Bentuknya sangat indah dan matanya terbuat dari berlian.
  • “Lihat, Istriku! Patung landak emas ini sungguh luar biasa,” kata sang Suami dengan kagum.
  • “Sebaiknya patung itu kita bawa ke rumah, Kanda,” ujar istrinya.
Suami dan istri itu pun membawa patung landak emas itu ke rumah mereka. Kemudian mereka menyimpannya dengan baik di suatu tempat yang aman.
  • “Wah, jika patung itu kita jual, maka kita akan kaya, Kanda,” kata sang Istri.
  • “Benar, Dinda. Tapi, kita jangan tergesa-gesa menjualnya. Biarlah kita simpan dulu. Siapa tahu kita mendapat petunjuk mengenai patung landak emas itu,” ujar sang Suami.
Benar perkiraan sang Suami. Pada malam harinya, ia mendapat petunjuk melalui mimpi. Dalam mimpi itu, ia didatangi seekor landak besar.
  • “Tuan, izinkanlah hamba tinggal di rumah kalian. Sebagai imbalannya, hamba akan memberikan semua yang Tuan inginkan,” pinta landak raksasa itu kepada si Petani, 
  • “Patung itu cukup diusap kepalanya lalu mengucapkan mantra.”
Landak besar itu kemudian mengajarkan dua jenis mantra. Mantra pertama dibaca saat akan mulai meminta sesuatu, sedangkan mantra kedua dibaca untuk menghentikan apa telah diminta tersebut. Si petani pun dengan cepat menghafal kedua mantra tersebut.
Keesokan harinya, petani itu bercerita kepada istrinya perihal mimpinya semalam. Mendengar cerita itu, sang Istri tidak sabar lagi ingin membuktikannya.
  • “Wah, kalau begitu. Bagaimana kalau perkataan landak besar itu kita buktikan sekarang?” desak sang Istri, “Kanda masih hafal kan kedua mantra itu?”
  • “Iya, Dinda. Kanda telah menghafalnya dengan baik,” jawab sang Suami.
Sang Suami segera mengusap kepala patung landak emas itu lalu membaca mantra pertama. Setelah itu, ia pun menyampaikan keinginannya.
“Wahai, patung landak! Berikanlah kami beras yang melimpah!” pinta si Petani.
Seketika, butiran-butiran beras pun berhamburan keluar dari mulut patung landak emas itu. Setelah mendapatkan beras yang cukup, si Petani pun segera membaca mantra kedua untuk menghentikannya. Beras itu pun berhenti keluar dari mulut patung landak itu. Setelah itu, si Petani dan istrinya mengajukan permintaan lain seperti perhiasan dan segala sesuatu yang mereka butuhkan. Maka, dalam waktu singkat, mereka pun menjadi kaya raya. Keinginannya untuk membantu orang yang susah pun terkabulkan. Sebagian hartanya ia bagi-bagikan kepada mereka.

Rupanya, di antara warga kampung itu, ada seorang perampok yang merasa iri. Ia pun segera menyelidiki asal muasal harta kekayaan suami istri itu. Setelah terus-menerus mengamati dan mengintai, akhirnya perampok itu mengetahui rahasia kekayaan mereka.
“Ooohhh... ternyata patung landak sakti itu yang membuat mereka cepat kaya,” gumam si perampok.
Perampok itu pun segera menyusun siasat untuk bisa mendapatkan patung landak emas itu. Ia segera membuat patung landak yang bentuknya mirip patung landak yang sakti itu. Ketika sepasang suami istri itu pergi ke ladang, ia pun menyelinap masuk ke dalam rumah mereka lalu menukar patung landak emas itu dengan patung landak buatannya. Setelah berhasil mendapatkan patung landak emas itu, ia segera meninggalkan kampung itu dan pindah ke sebuah daerah bernama Ngabang (kini menjadi Kecamatan Ngabang).

Saat itu, Ngabang sedang dilanda kekeringan. Warga sangat kesulitan mendapatkan air. Jangankan untuk mandi, air untuk dipakai memasak pun sangat sulit mereka peroleh. Melihat keadaan itu, timbullah niat si perampok untuk menjadi pemimpin di daerah itu. Ia pun segera mengumpulkan seluruh warga untuk menarik simpati mereka.
“Wahai, seluruh penduduk Ngabang! Aku akan membantu kalian dari kesulitan yang kalian hadapi. Aku akan menyediakan air yang kalian butuhkan,” ujar si Perampok di hadapan seluruh warga Ngabang.
Para penduduk pun amat senang menyambut kabar gembira tersebut. Si Perampok kemudian mengusap kepala patung landak emas itu lalu membaca mantra pertama. Seketika, air pun memancar keluar dari mulut patung landak emas itu dengan deras. Semua warga bersorak-sorai gembira dan berlomba-lomba menadahi air itu dengan tempayan.
“Horeee... horeee... kita dapat air!” terdengar teriakan gembira seluruh warga.
Semakin lama, semburan air itu semakin deras hingga menggenangi daerah tersebut. Para warga yang mulai cemas segera meminta kepada si Perampok agar menghentikannya.
“Cukup... cukup...! Cepat hentikan...!” teriak para warga. 
Si perampok berusaha menutup mulut patung landak itu dengan telapak tangannya. Namun, ia tak kuasa membendung derasnya semburan air. Rupanya ia tidak mengetahui mantra kedua karena ia hanya menyaksikan petani itu membaca mantra yang pertama.
Semakin lama, semburan air yang keluar dari mulut patung landak itu semakin deras. Sebagian wilayah Ngabang pun mulai tergenang banjir. Para warga yang ketakutan melihat kejadian itu berlarian meninggalkan daerah tersebut untuk menghindari banjir yang semakin besar. Si Perampok juga ingin melarikan diri, namun ia tidak dapat menggerakkan kaki dan tangannya. Dalam penglihatannya, ada seekor landak raksasa yang memegang kedua kakinya, sedangkan tangannya terasa lengket pada patung landak emas tersebut. Daerah Ngabang pun terendam banjir besar hingga menenggelamkan si perampok bersama patung landak emas.

Sementara itu, patung landak itu terus-menerus menyemburkan air. Daerah itu tidak dapat lagi menampung genangan air yang semakin banyak sehingga air pun mengalir hingga membentuk sungai kecil dan kemudian menjadi sungai besar.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, masyarakat setempat menyebut sungai itu dengan nama Sungai Landak karena airnya bersumber dari mulut patung landak emas itu. Hingga kini, Sungai Landak masih dapat kita jumpai di Kecamatan Ngabang yang merupakan ibukota Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Aliran Sungai Landak ini melewati tengah-tengah Kota Ngabang. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, patung landak emas itu terus memancarkan air sampai sekarang sehingga Sungai Landak tidak pernah kering sepanjang tahun.


∞∞∞

Demikian LEGENDA SUNGAI LANDAK dari Ngabang, Kalimantan Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa jika sebuah barang berharga jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggungjawab dan serakah seperti si perampok akan mendatangkan bencana bagi dirinya sendiri dan orang lain.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA SUNGAI KAWAT

0 komentar

Sungai Kawat adalah salah satu sungai kecil yang terletak di Kota Sintang Kalimantan Barat. Sungai ini termasuk salah satu cabang atau anak dari Sungai Kapuas. Menurut cerita, sungai ini dinamakan Sungai Kawat karena sebuah peristiwa yang dialami seorang nelayan ketika sedang memancing ikan di sungai tersebut.

∞∞∞


Alkisah, saat Kota Sintang masih sepi penduduk, di daerah itu hidup sebuah keluarga miskin. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri dan seorang anak. Mereka tinggal di sebuah rumah panggung yang sudah tua dan lapuk di tepi sungai. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, setiap hari sang ayah mencari ikan di sepanjang aliran sungai. Jika beruntung, ia terkadang memperoleh ikan yang cukup dimakan beberapa hari bersama keluarganya. Namun jika sedang sial, ia terkadang pulang tanpa membawa seekor ikan pun.

Suatu hari, persediaan makanan di rumah keluarga itu telah habis. Maka, pagi-pagi sekali sang ayah pergi ke sungai untuk mencari ikan dengan menggunakan perahu. Tak lupa ia membawa dua buah pancing dengan harapan bahwa jika pancingnya putus ia masih mempunyai pancing yang lain. Dengan penuh harapan, nelayan itu mendayung perahunya menyusuri aliran sungai menuju ke arah hulu.

Setiba di sebuah lubuk yang dalam, ia pun mulai mengulur salah satu pancingnya yang telah diberi umpan ke dalam air.
“Semoga hari ini aku bisa memperoleh ikan yang banyak,” gumamnya sambil menunggu pancingnya ditarik ikan.
Setelah beberapa waktu nelayan itu menunggu, belum seekor ikan pun yang menyentuh umpannya. Melihat keadaan itu, ia sesekali mengangkat pancingnya untuk memeriksa apakah umpannya masih ada dan ternyata masih tetap utuh. Karena bertekad keras ingin membawa pulang ikan untuk keluarganya di rumah, nelayan itu tidak mau putus asa. Ia tetap bersemangat menunggu pancingnya ditarik ikan.

Hingga hari menjelang siang, nelayan itu belum juga memperoleh seekor ikan pun. Berkali-kali ia berpindah tempat untuk mencari lubuk yang lebih dalam, namun hasilnya tetap nihil.
“Ah, barangkali ikan di sekitar lubuk ini sudah berkurang,” gumamnya, “Sebaiknya aku mencari lubuk yang lebih dalam lagi saja.”
Dengan penuh semangat, nelayan itu mengayuh perahunya menuju ke hulu sungai hingga menemukan sebuah teluk kecil. Tempat itu cukup bagus karena terdapat banyak bebatuan berlumut dan di sekitarnya banyak pepohonan rindang yang menjorok ke sungai.
“Wah, tempat ini pasti banyak ikannya,” gumamnya.
Setelah mengganti umpannya yang lebih baru, nelayan itu segera melemparkan pancingnya ke dalam air yang dalam. Ia dengan penuh harapan terus menunggu pancingnya di atas perahu sambil bersiul-siul dan sesekali menarik tali pancingnya. Namun hingga hari menjelang sore, tak seekor ikan pun yang menarik pancingnya.
  • “Aduuuhhh, sial benar hari ini. Sudah berkali-kali aku berpindah tempat, tapi belum juga memperoleh seekor ikan pun,” keluh nelayan itu, 
  • “Wah, nanti keluargaku akan makan apa?”
Nelayan itu mulai bingung. Ia masih ingin berusaha memperoleh ikan untuk keluarganya, sementara hari sudah semakin sore. Di tengah-tengah kebingungan itu, tiba-tiba ia merasa pancingnya ditarik-tarik.

Ia pun langsung tersentak kaget dan berusaha menarik pancingnya. Namun semakin kuat ia menariknya, pancing itu justru terseret hingga ke tengah sungai. Maka ia dengan cepat mengulur tali pancingnya. Kali ini ia tidak mau kehilangan satu-satunya ikan yang terkena pancingnya. Ia terus mengulur tali pancingnya hingga tak terasa tali pancing itu habis terulur. Karena ikan itu terus menariknya, sang nelayan pun mendayung perahunya mengikuti tarikan itu hingga ke tengah sungai yang paling dalam.

Hari sudah semakin gelap, namun nelayan itu belum juga dapat menarik pancingnya. Untung pada saat itu rembulan malam memancarkan cahayanya sehingga ia masih dapat melihat arah tarikan ikan itu. Begitu tarikan itu mulai lemah, nelayan itu dengan cepat menyentakkan pancingnya ke atas. Betapa kecewanya ia karena harapannya ikan besar yang tersangkut di ujung tali pancingnya namun ternyata hanya seutas tali kawat. Dengan perasaan kecewa, nelayan itu melemparkan kembali ujung tali pancingnya ke dalam air.
“Aku benar-benar sial hari ini,” guman nelayan itu dengan nada kecewa.
Akhirnya, nelayan itu memutuskan untuk menghentikan pemancingannya. Ia pun menggulung tali pancingnya untuk bergegas kembali ke rumah walaupun dengan tangan hampa. Alangkah terkejutnya ia setelah menggulung tali pancingnya sampai ke ujung. Ia melihat tali kawat yang masih tersangkut di ujung tali pancing itu memancarkan cahaya berwarna kuning keemasan diterpa sinar rembulan.
“Hai, apakah aku tidak salah lihat? Bukankah ini kawat emas?” gumamnya dengan terkejut.
Mulanya nelayan itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun, setelah diamati secara seksama, ternyata dugaannya benar bahwa tali kawat itu terbuat dari emas. Wajahnya yang tadi cemberut tiba-tiba berubah menjadi berseri-seri karena gembira.
“Aku akan kaya... aku akan kaya raya...!” teriak nelayan itu kegirangan.
Dengan penuh semangat, ia segera menarik kawat emas itu naik ke perahunya. Meskipun ia sudah mendapat beberapa meter, ia tetap terus menarik kawat emas itu. Sementara itu, kawat emas yang ditariknya itu seperti tidak ada habisnya. Semakin dia tarik, kawat emas itu tetap saja ada sambungannya.
“Panjang sekali kawat emas ini,” gumamnya dengan heran, “Waaah... Aku akan menjadi orang terkaya di negeri ini.”
Hati nelayan itu benar-benar telah teracuni oleh sifat serakah. Padahal, jika seandainya ia mengambil beberapa meter saja dari kawat emas itu, hidupnya sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Namun, sifat serakah yang terus menjalar di hatinya membuat nelayan itu tidak merasa puas dengan apa yang telah didapatkan. Ia terus menerus menarik kawat emas itu hingga perahunya penuh dengan gulungan kawat emas. Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara dari dalam air yang menegurnya.
“Sudah... Potong saja kawat emasnya di situ!” demikian suara teguran itu.
Nelayan itu tidak menghiraukan suara teguran tersebut. Ia tetap asyik menarik kawat emas itu naik ke perahunya. Beberapa saat kemudian, suara misterius kembali menegurnya.
“Hentikan...! Hentikan...! Kamu akan celaka,” ujar suara itu.
Berkali-kali suara itu menasehatinya, namun nelayan yang serakah itu masih saja tidak menghiraukannya. Tanpa diduga, perahu yang ditumpanginya tiba-tiba oleng karena tidak kuat lagi menahan beban berat gulungan kawat emas itu. 

Pada saat itulah ia baru menyadari keserakahannya. Ia pun berhenti menarik kawat emas itu dan berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, usaha itu sudah terlambat. Air sudah masuk ke dalam perahunya hingga penuh. Akhirnya, ia pun tenggelam ke dasar sungai bersama perahu dan kawat emasnya. Nelayan yang serakah itu pun menemui ajalnya. 

Sejak peristiwa itu, masyarakat setempat menyebut sungai tempat tenggelamnya nelayan itu dengan nama Sungai Kawat. Hingga saat ini, Sungai Kawat yang merupakan salah satu anak atau cabang dari Sungai Kapuas ini masih dapat kita saksikan di daerah Kota Sintang, Kalimantan Barat.

∞∞∞

Demikianlah LEGENDA SUNGAI KAWAT dari daerah Kota Sintang, Kalimantan Barat. Kisah ini termasuk kategori kisah legenda/dongeng yang di dalamnya terkandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral yang dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat serakah. Sifat ini ditunjukkan oleh perilaku si nelayan yang terus menerus menarik kawat emas itu hingga perahu yang ditumpanginya tidak kuat lagi menahan beban berat kawat emas tersebut. Akibat keserakahannya terhadap harta benda, nelayan itu pun tenggelam di sungai bersama harta benda yang telah diperolehnya. Dari sinilah dapat kita petik sebuah pelajaran bahwa kita harus pandai mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Pemurah yang telah diberikan kepada kita sehingga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur. Orang yang pandai bersyukur akan dimudahkan rezekinya oleh Tuhan, sedangkan orang yang serakah akan dibinasakan bersama hartanya.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA PUTUNG KEMPAT

0 komentar

KISAH LEGENDA PUTUNG KEMPAT, Putung Kempat  adalah seorang gadis perempuan malang yang tinggal di daerah Gunung Kujai, Kecamatan Sepauk, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia. Ia beberapa kali tertimpa penyakit akibat ulah kelima saudara laki-lakinya. Dalam kisah legenda ini kita mendapat pelajaran yang dapat diambil hikmahnya adalah bahwa sesama saudara akan terlihat sangat baik jika saling melindungi dan saling mengasihi, bukannya saling menyakiti seperti yang dilakukan kelima bersaudara terhadap Putung Kempat. Mereka hanya bisa menyebabkan saudara perempuannya tertimpa penyakit, tetapi tidak pandai untuk mengobatinya.

∞∞∞


Dikisahkan di atas Gunung Kujai yang hijau dan sejuk di daerah Kalimantan Barat, hiduplah sepasang suami-istri dengan keenam anaknya. Sang suami bernama EMBUN MENGULUR, sedang istrinya bernama PUKAT MENGAWANG. Keenam anaknya yaitu berturut-turut dari yang sulung ke yang paling bungsu adalah Belang Pinggang, Suluh Duik, Buku Labuk, Terentang Temanai, Putung kempat, dan Bui Nasi.

Tahukah kamu ?
Dalam adat budaya Dayak EMBUN MENGULUR adalah  SIMBOL MANUSIA PRIA, dan PUKAT MENGAWANG adalah SIMBOL MANUSIA PEREMPUAN.
Dari keenam bersaudara tersebut, hanya Putung Kempat yang perempuan. Sebenarnya, Embun mengulur dan istrinya mempunyai seorang lagi anak laki-laki yang bernama PUYANG GANA, namun anak itu meninggal ketika masih kecil. Untuk menghidupi keenam putra-putrinya, Embun mengulur dan istrinya bercocok tanam di ladang.

Suatu ketika, Embun mengulur mendapat firasat buruk bahwa hidupnya di dunia akan lebih lama lagi. Namun, ia tidak memberitahukan hal itu kepada istri dan anak-anaknya. Suatu hari, ia hanya berpesan kepada keenam anaknya ketika akan masuk ke dalam kepok agar keenam anaknya membuka lahan baru untuk bercocok tanam. (Kepok adalah lumbung padi yang terbuat dari kulit kayu)
“Wahai, anak-anakku! Sebaiknya kalian membuat ladang baru agar kalian bisa hidup,” pesan Embun mengulur.
Keenam anak itu tidak terlalu menanggapi pesan itu karena menganggap ayah mereka hanya bergurau. Ayah mereka masih terlihat sehat dan tidak sedang mengidap penyakit apapun. Hari sudah menjelang sore, namun Embun mengulur belum juga keluar dari kepok.

Ketika keenam anaknya menengok ke dalam kepok itu ternyata sang ayah menghilang entah ke mana, mereka hanya menemukan beraneka ragam bibit tanaman.. Barulah saat itu istri dan keenam anaknya menyadari bahwa pesan ayahnya itu tidak main-main. Betapa sedih istri Embun mengulur dan keenam anaknya.

Kini, keenam bersaudara itu telah menjadi yatim. Mereka harus bekerja untuk menghidupi diri mereka. Akhirnya, mereka pun melaksanakan pesan sang ayah dengan membuka ladang di hutan. Mereka bergotong-royong dan bergiliran mengolah, menanami dan menjaga ladang mereka.

Pada suatu malam, ketika giliran Bui Nasi menjaga ladang, tiba-tiba ia diserang oleh sesosok makhluk raksasa. Rupanya, raksasa itu adalah penjelmaan roh saudaranya, Puyang Gana, yang merasa berhak atas tanah itu. Bui Nasi tidak mengetahui hal itu, sehingga terjadilah perkelahian sengit antara kedua orang bersaudara itu. Perkelahian itu berlangsung hingga pagi, namun tak satu pun yang dapat dinyatakan kalah atau menang. Akhirnya keduanya berdamai setelah mengetahui bahwa mereka adalah bersaudara. Mereka bersepakat untuk mengolah lahan itu secara bersama-sama. Bahkan, raksasa itu bersedia mengajari Bui Nasi tentang cara bercocok tanam.
“Dengarlah, Dik! Jika kamu hendak mengolah lahan dengan baik, perhatikanlah gugusan bintang di langit! Bintang tiga menandakan waktu baik untuk mulai mengejarkan ladang. Bintang lima menandakan musim baik untuk menebang kayu, sedang bintang empat menandakan padi dan tanaman akan diserang oleh babi hutan atau hama,” ujar Puyang Gana.
Bui Nasi memperhatikan ajaran Puyang Gana dengan sungguh-sungguh, kemudian menyampaikannya kepada kelima suadaranya yang lain. Akhirnya keenam bersaudara itu mengolah ladang mereka berdasarkan ajaran Puyang Gana, sehingga mendapat hasil panen yang melimpah. Untuk menyambut keberhasilan tersebut, mereka mengadakan pesta panen selama tujuh hari tujuh malam. Mereka mandi-mandi di sungai atau yang biasa disebut mandi simburan dengan penuh kegembiraan.

Tahukah kamu ?
Puyang Gana, bagi masyarakat dayak  adalah penguasa alam tanah, maka kalau ketika ingin berladang dan mengarap tanah, masyarakak Dayak selalu membuat acara ritual yang intinya mohon ijin dan mohon perlindungan dalam bercocok tanam pada Puyang Gana.
Pada acara mandi simburan tersebut, mereka harus saling memercikkan air antara satu dengan yang lain agar terhindar dari penyakit. Namun, mereka lupa memercikkan air kepada Putung Kempat, sehingga Putung Kempat ditimpa penyakit kusta. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bercak putih kemerahan seperti panu dan di tepinya terdapat penebalan seperti kurap. Kelima saudara Putung Kempat menjadi panik karena takut tertular penyakit kusta yang sulit untuk disembuhkan itu. Akhirnya mereka pun bermusyawarah.
  • “Apa yang harus kita lakukan, Bang?” tanya Bui Nasi kepada Belang Pinggang.
  • “Kita semua tahu, penyakit kusta itu sangat sulit untuk disembuhkan. Bagaimana jika Putung Kempat kita asingkan saja?” usul Belang Pinggang.
Akhirnya, kelima putra Sabung Mangulur tersebut bersepakat mengasingkan Putung Kempat dengan cara menghanyutkannya di Sungai Sepauk.
Betapa sedih hati Putung Kempat akan berpisah dengan saudara-saudaranya. Namun, ia tak kuasa untuk menolak keputusan itu. Putung Kempat didudukkan di atas piring pusaka di dalam rakit dan dibekali keperluan hidup. Kelima saudaranya berharap semoga saudara perempuan itu ditemukan oleh seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya.

Setelah sehari-semalam terombang-ambing di atas Sungai Sepauk, rakit yang ditumpangi Putung Kempat tersangkut pada bubu ikan milik Aji Melayu. Aji Melayu adalah seorang yang kaya dan sakti dan tinggal di sekitar aliran Sungai Sepauk. Seperti biasanya, pagi-pagi sekali Aji Melayu pergi ke sungai untuk memeriksa bubunya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis duduk termenung di atas rakit yang tersangkut pada bubunya.
  • “Hai, siapa gadis itu?” tanyanya dalam hati, seraya menghampiri gadis itu.
  • “Hai, gadis cantik! Engkau siapa dan kenapa berada di tempat ini?” tanya Aji Melayu kepada Putung Kempat.
Putung Kempat belum sempat menjawab namun Aji Melayu kembali bertanya setelah melihat penyakit yang diderita Putung Kempat.
  •  “Apa yang terjadi pada tubuhmu? Bukankah itu penyakit kusta?”
  • “Benar, Tuan!” jawab Putung Kempat dengan perasaan malu.
Setelah itu, Putung Kempat memperkenalkan diri dan menjelaskan semua peristiwa yang telah menimpa dirinya hingga ia berada di tempat itu. Mendengar cerita itu, Aji Melayu merasa iba kepada gadis malang itu dan membawanya pulang ke rumah untuk diobati. Dengan kesaktian yang dimilikinya, Aji Melayu berhasil menyembuhkan penyakit Putung Kempat sehingga kembali cantik seperti semula.

Aji Melayu pun berniat untuk melamar Putung Kempat karena terpesona melihat kecantikannya. Putung Kempat bersedia menerima lamaran tersebut tapi dengan syarat Aji Melayu harus melalui berbagai ujian. Aji Melayu lulus ujian dan menikahi Putung Kempat.

Kabar tentang pernikahan Putung Kempat dengan Aji Melayu didengar oleh saudara-saudaranya yang berada di atas Gunung Kujai. Akhirnya, kelima bersaudara tersebut datang ke tempat Aji Melayu untuk menemui Putung Kempat. Di hadapan Aji Melayu, mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu lalu menyampaikan maksud kedatangan mereka.
  • “Maaf, Tuan! Kami berlima adalah saudara-saudara Putung Kempat dari Gunung Kujai. Bolehkah kami bertemu dengan saudara perempuan kami itu?” pinta Belang Pinggang mewakili kempat adiknya.
  • “Jika kalian ingin bertemu dengan Putung Kempat, kalian harus melalui beberapa ujian,” ujar Aji Melayu.
  • “Apakah ujian itu, Tuan?” tanya Bui Nasi.
  • “Ujian pertama yang harus kalian lalui adalah kalian harus tidur di atas selembar daun pisang hingga besok pagi. Tapi daun itu tidak boleh meninggalkan bekas robek sedikit pun,” jelas Aji Melayu.
Meskipun ujian itu termasuk berat, namun mereka berhasil melaluinya berkat kesaktian mereka. Setelah memuji keberhasilan mereka, Aji Melayu kemudian menjelaskan tentang ujian yang akan mereka lalui berikutnya.
  • “Begini, wahai Anak Muda Sekalian! Saat ini saya sedang bermusuhan dengan AJI KUMBANG dari daerah Batu Kantuk di hulu Sungai Kapuas. Jika kalian berhasil mengalahkannya, maka kalian boleh menemui Putung Kempat. Apakah kalian bersedia menerima ujian ini?” Aji Melayu menawarkan.
  • “Baiklah, kami menerima tawaran Tuan. Tapi, kami ada satu permintaan,” sahut Bui Nasi, 
  • “jika kami berhasil melalui ujian ini, kami tidak hanya diperbolehkan bertemu dengan Putung Kempat, tapi juga diperbolehkan mengajaknya kembali ke Gunung Kujai.”
Aji Melayu menerima permintaan tersebut. Kelima bersaudara itu pun berangkat ke hulu Sungai Kapuas untuk menyerang Aji Kumbang. Pernyerangan itu dipimpin oleh Bui Nasi. Berkat kesaktian dan berbagai strategi yang dilakukan, akhirnya mereka berhasil mengalahkan Aji Kumbang.

Keberhasilan mereka pun disambut baik oleh Aji Melayu. Sesuai dengan janjinya, maka Aji Melayu memperbolehkan kelima bersaudara itu membawa Putung Kempat kembali ke Gunung Kujai meskipun dalam keadaan hamil tua.
Setibanya di Gunung Kujai, kelima bersaudara bersuka ria sambil memukul-mukul gong pusaka keluarga yang bernama GONG TENGKANG untuk menyambut kedatangan Putung Kempat. Namun tanpa mereka sadari, ternyata bunyi gong itu membuat pening kepala Putung Kempat yang akhirnya jatuh sakit. Dalam keadaan sakit, Putung Kempat pun melahirkan putrinya yang pertama dan diberi nama Dayang Lengkong. Selang beberapa hari tinggal di Gunung Kujai, sakit Putung Kempat tak kunjung sembuh. Akhirnya, kelima bersaudara memutuskan untuk mengembalikan Putung Kempat dan anaknya kepada Aji Melayu. Setelah menyerahkan saudara perempuannya itu kepada Aji Melayu, mereka langsung berpamitan untuk kembali ke Gunung Kujai. 

Aji Melayu pun segera mengobati Putung Kempat dan berhasil menyembuhkannya. Suatu hari, ketika sedang duduk menimang putrinya di pendopo istana, Aji Melayu bertanya kepada kepada istrinya, 
“Dinda, kalau boleh Kanda tahu, apa gerangan yang menyebabkan Dinda jatuh sakit saat berada di Gunung Kujai?”
Putung Kempat pun bercerita bahwa ia jatuh sakit akibat mendengar bunyi Gong Tengkang pada saat kelima saudaranya menyambut kedatangannya. Bagaikan disambar petir telinga Aji Melayu mendengar cerita itu. Ia langsung naik pitam dan sangat marah atas perbuatan kelima saudara istrinya itu yang dianggapnya tidak bertanggung jawab. Ia pun berniat untuk memberi pelajaran kepada mereka.

Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada istrinya, berangkatlah Aji Melayu ke Gunung Kujai dengan menggunakan perahu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia merasa sangat rindu kepada anak dan istrinya. Akhirnya, ia memutar balik perahunya dan membatalkan perjalanannya ke Gunung Kujai. Hal itu ia lakukan berulangkali hingga akhirnya suatu hari Putung Kempat memberinya nasehat.
“Kanda! Sekiranya Kanda tidak kuasa berpisah dengan Dinda dan bayi kita, alangkah baiknya jika Kanda membuat dua buah patung yang mirip dengan kami. Jika Kanda tiba-tiba merasa rindu kepada kami, Kanda cukup memandangi kedua patung itu,” saran Putung Kempat.
Rupanya, saran yang diberikan istrinya itu masuk di akal bagi Aji Melayu. Setelah membuat dua buah patung yang mirip istri dan putrinya, ia pun berangkat ke Gunung Kujai. Ketika kerinduan itu tiba-tiba muncul, ia segera memandangi kedua patung itu sehingga kerinduannya terobati.

Akhirnya, Aji Melayu tiba di Gunung Kujai dan berhasil menemui Bui Nasi dan saudara-saudaranya. Ia pun kehilangan kesabaran hendak menghajar mereka. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menyerang Bui Nasi dengan senjata saktinya. Bui Nasi pun tidak tinggal diam. Ia segera mengambil meriam pusakanya bernama yang GEGAR SEPETANG. Hanya sekali tembakan, peluru meriam itu mengenai tubuh Aji Melayu hingga terlempar ke dalam Sungai Sepauk dan tewas seketika. Pada saat itu pula, air Sungai Sepauk tiba-tiba meluap sehingga terjadilah banjir besar. Konon, Gong Tengkang yang menyebabkan Putung Kempat sakit itu juga terjatuh ke dasar Sungai Sepuak. Hingga kini, jika air Sungai Sepauk surut pada saat musim kemarau, gong itu masih terlihat.

∞∞∞

Demikianlah LEGENDA PUTUNG KEMPAT dari daerah Kaliman Barat. Menurut sejarah, Putung Kempat adalah istri Aji Melayu yang kemudian menurunkan raja-raja di Kerajaan Sintang, Kalimantan Barat. Bukti-bukti keberadaan Aji Melayu dan istrinya di daerah ini dapat dilihat dari temuan arkeologis berupa Arca Putung Kempat dan batu berbentuk phallus yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Batu Kelebut Aji Melayu.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA BURUNG RUAI

0 komentar

BURUNG RUAI atau KUAU BESAR (argusianus argus) adalah salah satu jenis burung yang banyak terdapat di daerah Sambas, Kalimantan Barat. Burung ini memiliki warna bulu yang indah dan suara yang lantang. Oleh orang-orang Dayak Kanayatn, bulu burung ruai dibuat mahkota (tangkulas) untuk pakaian adat. Sangat disayangkan Burung Ruai ini sudah masuk kategori binatang unggas yang telah punah, meskipun menurut masyarakat Dayak Kanayatn, burung ini masih ada dihutan-hutan Kalimantan, hanya saja jarang sekali terlihat. Menurut cerita, burung ruai merupakan penjelmaan seorang putri raja.
∞∞∞


Di pedalaman Benua Bantahan sebelah timur Kota Sekura, Ibukota Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, terdapat sebuah kerajaan milik orang-orang suku Dayak. Kerajaan itu berada di dekat Gunung Bawang dan Gunung Ruai. Raja pemimpin kerajaan itu memiliki tujuh orang putri. Namun sayang, ibu dari anak-anaknya itu meninggal dunia saat si Bungsu masih kecil.

Di antara ketujuh putri raja, anak yang paling bungsu adalah yang tercantik. Selain rupawan, si Bungsu juga memiliki budi pekerti yang luhur, rajin, suka menolong, dan taat kepada orang tua. Lain halnya dengan keenam kakaknya, perilaku mereka amat buruk. Mereka memiliki sifat angkuh, pemalas, dan suka membantah. Tidak mengherankan jika sang Ayah lebih sayang dan memanjakan si Bungsu.

Rupanya, perlakuan sang Ayah terhadap si Bungsu membuat keenam kakaknya menjadi iri hati dan benci kepada adiknya. Setiap kali sang Ayah tidak berada di istana, mereka melampiaskan kebenciannya kepada si Bungsu dengan memerintahnya sesuka hati mereka. Bahkan, mereka tidak segan-segan memukulnya. Si Bungsu menjadi takut kepada kakak-kakaknya dan terpaksa menuruti semua perintah yang diberikan kepadanya.

Suatu hari, saat sang Ayah sedang berkunjung ke negeri tetangga karena urusan kerajaan, keenam putri raja itu memukul si Bungsu hingga seluruh tubuhnya lebam. Si Bungsu yang malang itu tidak berani mengadu kepada sang Ayah karena keenam kakaknya selalu mengancamnya.

Saat hari menjelang siang, sang Ayah pun kembali dari negeri tetangga. Alangkah terkejutnya ia saat melihat tubuh putri bungsunya penuh dengan lebam. Karena curiga terhadap keenam putrinya, ia pun segera memanggil mereka untuk menghadap.
  • “Apa yang terjadi dengan si Bungsu? Kenapa tubuhnya lebam-lebam begitu?” tanya sang Ayah kepada keenam putrinya.
  • “Begini, Yah. Tadi si Bungsu terjatuh saat sedang bermain di taman,” sahut putri kedua memberi alasan.
  • “Benarkah begitu, Anakku?” sang Ayah balik bertanya kepada si Bungsu yang duduk si sampingnya.
Putri Bungsu hanya terdiam sambil menunduk. Sesekali ia menoleh ke arah keenam kakaknya. Putri Bungsu pun tidak berani berkata jujur kepada ayahnya karena keenam kakaknya terus memelototinya.
“Benar, Yah. Tadi aku terjatuh saat mengejar kupu-kupu di taman bunga sehingga tubuhku terbentur di pagar taman,” jawab si Bungsu lirih.
Mendengar jawaban itu, sang Ayah pun percaya begitu saja sehingga tidak memperpanjang permasalahan tersebut.
  • “Baiklah, kalau memang benar begitu. Lain kali, berhati-hatilah jika sedang bermain di taman!” pesan sang Ayah.
  • “Baik, Yah,” jawab si bungsu.
Jawaban si Bungsu itu menyelamatkan keenam kakaknya dari hukuman dari sang Ayah. Namun, pada hari-hari berikutnya mereka masih saja memperlakukan si Bungsu dengan semena-mena ketika sang Ayah sedang tidak berada di istana. Begitulah nasib yang dialami si Bungsu setiap hari. Seringkali putri yang malang itu menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.

Suatu malam, si Bungsu duduk di dekat jendela kamarnya sambil memandangi bintang-bintang di langit. Si Bungsu sulit memejamkan mata karena teringat kepada ibundanya. Dalam kondisi yang dialaminya saat ini, si Bungsu amat membutuhkan perlindungan dari sosok seorang ibu.
“Seandainya ibunda masih ada, mungkin nasibku tidak akan seperti ini. Ibunda pasti akan selalu melindungiku,” ratap si Bungsu.
Malam semakin larut. Si Bungsu sudah mulai mengantuk dan akhirnya tertidur. Saat pagi menjelang, si Bungsu sudah bangun terlebih dahulu. Sementara keenam kakaknya masih saja bermalas-malasan di kamar masing-masing.
  • “Tok... Tok... Tok...!” tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu,
  • “Permisi, Tuan Putri!”
Mendengar suara ketukan pintu disusul panggilan seorang dayang istana, Putri Bungsu segera membuka pintu.
  • “Ada apa, wahai dayang?” tanya si Bungsu.
  • “Maaf, Putri! Hamba mendapat perintah dari Baginda agar semua putrinya segera berkumpul di pendapa istana sekarang. Ada sesuatu yang ingin Baginda sampaikan,” jawab dayang itu.
  • “Apakah keenam kakakku sudah kamu bangunkan?” tanya si Bungsu.
  • “Sudah, Tuan Putri! Hamba sudah berkali-kali membangunkan mereka, tapi tak seorang pun yang membukakan pintu. Barangkali mereka masih tertidur pulas,” jelas dayang itu.
  • “Baiklah, kalau begitu. Tolong sampaikan kepada Ayah bahwa kami segera ke sana. Biarlah aku yang membangunkan mereka,” ujar sang putri.
Setelah dayang itu pergi, si Bungsu memberanikan diri untuk membangunkan keenam kakaknya. Namun saat dibangunkan, mereka justru marah-marah karena masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur. Mereka baru bangun setelah sang Ayah yang membangunkan mereka karena sudah tidak sabar menunggu.
  • “Ada apa gerangan Ayah memanggil kami?” tanya putri yang paling sulung setelah mereka semua berkumpul di pendapa istana.
  • “Dengarlah, wahai putri-putriku! Ayah akan berkunjung ke kerajaan tetangga selama satu bulan karena ada urusan penting. Selama Ayah berada di sana, kekuasaan kerajaan ini Ayah limpahkan kepada si Bungsu,” jelas sang Ayah, 
  • “Untuk itu, semua perintah dan keputusan berada di tangan si Bungsu. Kalian pun harus taat dan patuh terhadap perintahnya.”
Alangkah terkejutnya keenam putri raja mendengar pernyataan itu. Iri hati dan kebencian mereka terhadap si Bungsu pun semakin menjadi-jadi. Keesokan harinya, sang Ayah pun meninggalkan istana bersama para pengawal dan prajurit.

Sepeninggal sang Ayah, si Bungsu berharap bahwa dengan kekuasaan yang diamanatkan kepadanya dapat mengatasi perilaku kakak-kakaknya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kakak-kakak yang licik itulah yang mengambil-alih kekuasaan istana dan  semakin leluasa memperlakukan si Bungsu dengan sewenang-wenang.

Suatu hari, keenam putri raja itu berniat mencelakai si Bungsu dengan mengajaknya mencari ikan di Gua Batu. Di dalam gua itu terdapat aliran-aliran sungai kecil yang banyak ikannya. Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata di dalam gua itu juga tinggal seorang kakek yang sakti.

Saat mereka tiba di gua itu, si Bungsu pun disuruh masuk terlebih dahulu menyusuri lorong-lorong gua. Ketika ia telah jauh masuk ke dalam, justru kakak-kakaknya pergi meninggalkannya. Maka, tinggallah si Bungsu seorang diri di dalam gua. Suasana gua yang gelap gulita membuat si Bungsu tersesat. Ia pun hanya bisa menangis siang dan malam.

Setelah tujuh hari berada di dalam gua itu, tiba-tiba si Bungsu mendengar suara gemuruh yang menggelegar seolah-olah hendak meruntuhkan dinding-dinding gua. Ia pun menjerit-jerit ketakutan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang kakek tua muncul di hadapannya.
“Sedang apa kamu di sini, Cucuku?” tanya kakek itu.
Si Bungsu pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga berada di dalam gua itu seorang diri sambil meneteskan air mata. Mendengar cerita itu, kakek itu pun merasa iba kepadanya. Dengan kesaktiannya, kakek itu mengubah setiap tetesan air mata si Bungsu menjadi telur putih yang besar dan berjumlah banyak. Selang beberapa saat kemudian, kedua tangan si Bungsu perlahan-lahan ditumbuhi bulu dan kemudian berubah menjadi sayap burung.
  • “Apa yang terjadi pada tanganku, Kek?” tanya si Bungsu dengan heran.
  • “Tenanglah, Cucuku! Kakek akan menolongmu dari kesengsaraan ini. Kamu akan kuubah menjadi seekor burung. Setelah itu, eramilah telur-telur itu hingga menetas menjadi burung-burung yang akan menjadi temanmu!” ujar kakek itu.
Setelah kakek sakti itu berdoa, seluruh tubuh si Bungsu perlahan-lahan ditumbuhi bulu-bulu yang indah. Saat si Bungsu menjelma menjadi burung, berkatalah kakek itu kepada si Bungsu.
  • “Cucuku, kini kamu telah menjadi burung dan kamu kuberi nama BURUNG RUAI.”
  • “Kwek... Kwek... Kwek...!!!” jawab si Bungsu dengan suara burung.
Begitu si Bungsu selesai menjawab, kakek itu pun menghilang. Burung ruai penjelmaan si Bungsu itu pun segera mengerami telur-telur itu. Setelah dierami selama 25 hari, telur-telur itu akhirnya menetas.

Setelah dewasa, burung-burung ruai itu meninggalkan gua dan bertengger di atas pohon di depan istana ayahnya. Dari atas pohon itulah, si Bungsu menyaksikan keenam kakaknya dihukum oleh ayahnya karena telah mencelakai dirinya.

∞∞∞

Burung Ruai 

Demikian dongeng asal usul LEGENDA BURUNG RUAI dari daerah Sambas, Kalimantan Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari dongeng ini adalah sifat iri hati dapat membuat seseorang melakukan tindakan semena-mena terhadap orang lain, walaupun terhadap saudara sendiri.  Orang yang memiliki sifat dan perilaku jahat dan suka menganiaya orang lain pasti  akan menerima balasannya. Hal ini terjadi keenam kakak si Bungsu, karena suka menganiaya si Bungsu, mereka pun mendapat hukuman dari sang Ayah.


Tahukah Kamu ?
Burung Ruai atau Kuau Besar adalah unggas yang tergabung dalam marga Argusianus. Terdapat dua jenis kuau: kuau raja (Argusianus argus) dan kuau bergaris ganda (Argusianus bipunctatus). Keduanya berasal dari Kepulauan Nusantara. Kuau bergaris ganda tidak pernah ditemukan di alam, deskripsinya didasarkan pada sejumlah bulu yang dikirim ke London dan dipertelakan pada tahun 1871. IUCN memasukkannya dalam status punah.

Selain untuk Argusianus, nama kuau juga diberikan pada kuau kerdil Malaya (Polyplectron malacense). Untuk kuau yang satu ini, statusnya dalam IUCN adalah rentan/VU. Burung ini mudah dikenali karena memiliki tubuh yang indah dan spesifik. Tubuh yang jantan lebih besar daripada betina. Beratnya adalah 11,5 kg dan panjangnya adalah 2 meter. Umumnya, berwarna dasar kecoklatan dan dengan bundaran bundaran kecoklatan. Kulit disekitar kepala dan leher kuau jantan berwarna kebiruan. Bagian belakang jambul betina, ditumbuhi jambul yang lembut. Warna kaki kuau betina kemerahan dan tidak mempunyai taji/susuh.Suara burung kuau terdengar hingga lebih dari 1 mil. 

Burung ini suka hidup di kawasan hutan, mulai dari dataran rendah sampai pada ketinggian sekitar 1300m di atas permukaan laut. Penye baran burung ini adalah di Sumatera dan Kalimantan. Juga terdapat di Asia Tenggara. Mereka jarang dijumpai di hutan sekunder dan bekas tebangan sampai ketinggian 1.300 meter dpl.

Makanannya terdiri dari buah-buahan yang jatuh, biji-bijian, siput, semut dan berbagai jenis serangga. Burung ini juga suka mencari sumber air untuk minum sekitar jam sebelas siang.

Pria Dayak Kanayatn Bermahkota Bulu Burung Ruai

Bulu Burung Ruai ini sangat penting bagi suku DAYAK KANAYATN sebagai MAHKOTA KEPALA pada setiap acara adat selalu digunakan. Dayak Kanayatn adalah salah satu dari sekian ratus sub suku Dayak yang mendiami pulau Kalimantan, tepatnya di daerah kabupaten Landak, Kabupaten Mempawah, Kabupaten Kubu Raya, Serta Kabupaten Bengkayang.

Dayak Kanayatn dikelompokan ke dalam golongan rumpun Land Dayak-Klemantan oleh H.J. Mallinckrodt (1928). Namun Menurut C.H. Duman (1929), Dayak Kanayatn adalah bagian dari Rumpun Ot DanumMaanyan Ngaju. Akan tetapi penelitian oleh W.Stohr (1959) menyatakan bahwa pendapat C.H. Duman adalah salah karena jika dilihat dari wilayah, bahasa, serta hukum adat, suku Dayak Kanayatn tidak menunjukan adanya hubungan dengan kelompok Rumpun Ot Danum Maanyan-Ngaju, akan tetapi lebih mengarah pada kelompok Land Dayak- Klemantan.  Bahkan pemberian nama nama Kabupaten Landak didasarkan pada masyarakat mayoritasnya yaitu Dayak Kanayatn yang merupakan bagian dari rumpun Dayak Darat (Land Dayak atau Land Djak dalam ejaan Belanda).

Pakaian Tradisional suku Dayak Kanayatn terbuat dari kulit Tarab atau Kapuak/Kapoa'. Bajunya berbentuk Rompi yang disebut Baju Marote atau baju uncit. Cawatnya terbuat dari Kain tenun atau kulit Kayu yang disebut Kapoa'. Serta mahkota atau ikat kepala yang dalam bahasa ahe disebut Tangkulas. Tangkulas ini biasanya dihiasi dengan bulu Ruai/Kuau Raja, serta bulu Enggang. Terkadang, jika bulu burung Ruai tidak ada, bisa diganti dengan Anjuang Merah (Hanjuang). Selain itu senjata tradisional Tangkitn/Parang Pandat serta Perisai (Jabakng/Gunapm) merupakan kelengkapan pakaian adat pria. Upacara adat yang biasa diadakan oleh suku ini antara lain Naik Dango, Muakng Rate, Notokng, Gawai Dayak, dan lain-lain.

Religi asli suku Dayak Kanayatn tidak terlepas dari adat istiadat mereka. Bahkan dapat dikatakan adat menegaskan identitas religius mereka. Dalam praktik sehari-hari, orang dayak kanayatn tidak pernah menyebut agama sebagai normativitas mereka, melainkan adat. Sistem religi ini bukanlah sistem hindu Kaharingan seperti yang dikenal oleh orang-orang pada umumnya.

Orang Kanayatn menyebut Tuhan dengan istilah Jubata. Jubata inilah yang dikatakan menurunkan adat kepada nenek moyang Dayak Kanayatn yang berlokasi di Bukit Bawakng ( sekarang masuk wilayah kabupaten Bengkayang ). Dalam mengungkapkan kepercayaan kepada Jubata, mereka memiliki tempat ibadah yang disebut panyugu atau padagi. Selain itu diperlukan juga seorang imam panyangahatn yang menjadi seorang penghubung, antara manusia dengan Tuhan ( Jubata ).

Sekarang ini banyak orang Dayak Kanayatn yang menganut agama Kristen dan segelintir memeluk Islam. Kendati sudah memeluk agama, tidak bisa dikatakan bahwa orang Dayak Kanayatn meninggalkan adatnya. Hal menarik ialah jika seorang Dayak Kanayan memeluk agama Islam, ia tidak lagi disebut Dayak, melainkan Melayu atau orang Laut.

Dayak Kanayatn memakai bahasa ahe/nana' serta damea/jare dan yang serumpun. Sebenarnya secara isologis (garis yang menghubungkan persamaan dan perbedaan kosa kata yang serumpun) sangat sulit merinci khazanah bahasanya. Ini dikarenakan bahasa yang dipakai sarat dengan berbagai dialek dan juga logat pengucapan. Beberapa contohnya ialah : orang Dayak Kanayatn yang mendiami wilayah Meranti (Landak) yang memakai bahasa ahe/nana' terbagi lagi ke dalam bahasa behe, padakng bekambai, dan bahasa moro. Dayak Kanayatn di kawasan Menyuke (Landak) terbagi dalam bahasa satolo-ngalampa, songga batukng-ngalampa dan angkabakng-ngabukit. selain itu percampuran dialek dan logat menyebabkan percampuran bahasa menjadi bahasa baru.

Banyak Generasi Dayak Kanayatn saat ini tidak mengerti akan bahasa yang dipakai oleh para generasi tua. Dalam komunikasi saat ini, banyak kosa kata Indonesia yang diadopsi dan kemudian "di-Dayak-kan". Misalnya ialah :bahasa ahe asli : Lea ,bahasa indonesia : seperti ,bahasa ahe sekarang : saparati .Bahasa yang dipakai sekarang oleh generasi muda mudah dimengerti karena mirip dengan bahasa indonesia atau melayu. 

Suku Dayak merupakan bagian dari masyarakat adat. Masyarakat adat adalah komunitas-komunitas yang hidup berdasarkan asal usul keturunan di atas suatu wilayah adat, yang memiliki kedaulatan atas tanah dan kekayaan alam, kehidupan sosial-budayanya diatur oleh hukum adat dan lembaga adat yang mengelola keberlangsungan hidup masyarakatnya.

Hukum adat Dayak Kanayatn mempunyai satuan wilayah teritorial yang dusebut binua. Binua merupakan wilayah yang terdiri dari beberapa kampung (dulunya Radakng/Bantang). Masing masing binua punya otonominya sendiri, sehingga komunitas binua yang satu tidak dapat mengintervensi hukum adat di binua lain.
Setiap binua dipimpin oleh seorang timanggong(kepala desa). timanggong memiliki jajaran-bawahan yaitu pasirah (pengurus adat) dan pangaraga (pengacara adat). Ketiga pilar inilah yang menjadi lembaga adat Dayak Kanayatn.

Sistem pertalian darah suku Dayak Kanayatn menggunakan sistem bilineal/parental (ayah dan ibu). Dalam mengurai hubungan kekerabatan, seorang anak dapat mengikuti jalur ayah maupun ibu. Hubungan kekerabatan terputus pada sepupu delapan kali. Hubungan kekerabatan ini penting karena hubungan ini menjadi tinjauan terutama pada perkara perkawinan. Mungkin hal ini dimaksudkan agar tidak merusak keturunan.   (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA BUKIT KELAM

0 komentar

BUKIT KELAM merupakan salah satu obyek wisata alam yang eksotis di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia. Bukit yang telah menjadi Kawasan Hutan Wisata ini memiliki panorama alam yang memesona, yaitu berupa pemandangan air terjun, gua alam yang dihuni oleh ribuan kelelawar, dan sebuah tebing terjal yang menjulang tinggi dan ditumbuhi pepohonan di kaki dan puncaknya. Dibalik pesona dan eksotisme Bukit Kelam, tersimpan sebuah cerita yang cukup menarik. Konon, Bukit Kelam dulunya merupakan sebuah pesisir pantai yang panjang.  Namun, karena terjadi suatu peristiwa, maka kemudian pesisir pantai yang panjang itu menjelma menjadi Bukit Kelam.

∞∞∞


Di daerah Sintang, Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah dua orang pemimpin dari keturunan dewa yang memiliki kesaktian tinggi, namun keduanya memiliki sifat yang berbeda. Yang pertama bernama SEBEJI atau dikenal dengan BUJANG BEJI. Ia memiliki sifat suka merusak, pendengki dan serakah. Tidak seorang pun yang boleh memiliki ilmu, apalagi melebihi kesaktiannya. Oleh karena itu, ia kurang disukai oleh masyarakat sekitar, sehingga sedikit pengikutnya. Sementara seorang lainnya bernama TEMENGGUNG MARUBAI. Sifatnya justru kebalikan dari sifat Bujang Beji. Ia memiliki sifat suka menolong, berhati mulia, dan rendah hati. Kedua pemimpin tersebut bermata pencaharian utama menangkap ikan, di samping juga berladang dan berkebun.

Bujang Beji beserta pengikutnya menguasai sungai di Simpang Kapuas, sedangkan Temenggung Marubai menguasai sungai di Simpang Melawi. Ikan di sungai Simpang Melawi beraneka ragam jenis dan jumlahnya lebih banyak dibandingkan sungai di Simpang Kapuas. Tidak heran jika setiap hari Temenggung Marubai selalu mendapat hasil tangkapan yang lebih banyak dibandingkan dengan Bujang Beji.

Temenggung Marubai menangkap ikan di sungai Simpang Melawi dengan menggunakan bubu (perangkap ikan) raksasa dari batang bambu dan menutup sebagian arus sungai dengan batu-batu, sehingga dengan mudah ikan-ikan terperangkap masuk ke dalam bubunya. Ikan-ikan tersebut kemudian dipilihnya, hanya ikan besar saja yang diambil, sedangkan ikan-ikan yang masih kecil dilepaskannya kembali ke dalam sungai sampai ikan tersebut menjadi besar untuk ditangkap kembali. Dengan cara demikian, ikan-ikan di sungai di Simpang Melawi tidak akan pernah habis dan terus berkembang biak.

Mengetahui hal tersebut, Bujang Beji pun menjadi iri hati terhadap Temenggung Marubai. Oleh karena tidak mau kalah, Bujang Beji pun pergi menangkap ikan di sungai di Simpang Kapuas dengan cara menuba [Menuba artinya meracun ikan-ikan dengan tuba, yaitu sejenis racun ikan dari akar tumbuh-tumbuhan hutan yang sangat memabukkan.]. Dengan cara itu, ia pun mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak. Pada awalnya, ikan yang diperoleh Bujang Beji dapat melebihi hasil tangkapan Temenggung Marubai. Namun, ia tidak menyadari bahwa menangkap ikan dengan cara menuba lambat laun akan memusnahkan ikan di sungai Simpang Kapuas, karena tidak hanya ikan besar saja yang tertangkap, tetapi ikan kecil juga ikut mati.
Akibatnya, semakin hari hasil tangkapannya pun semakin sedikit, sedangkan Temenggung Marubai tetap memperoleh hasil tangkapan yang melimpah. Hal itu membuat Bujang Beji semakin dengki dan iri hati kepada Temenggung Marubai.
“Wah, gawat jika keadaan ini terus dibiarkan!” gumam Bujang Beji dengan geram.
Sejenak ia merenung untuk mencari cara agar ikan-ikan yang ada di kawasan Sungai Melawi habis. Setelah beberapa lama berpikir, ia pun menemukan sebuah cara yang paling baik, yakni menutup aliran Sungai Melawi dengan batu besar pada hulu Sungai Melawi. Dengan demikian, Sungai Melawi akan terbendung dan ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.

Setelah memikirkan masak-masak, Bujang Beji pun memutuskan untuk mengangkat puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Dengan kesaktiannya yang tinggi, ia pun memikul puncak Bukit Batu yang besar itu. Oleh karena jarak antara Bukit Batu dengan hulu Sungai Melawi cukup jauh, ia mengikat puncak bukit itu dengan tujuh lembar daun ilalang.

Di tengah perjalanan menuju hulu Sungai Melawi, tiba-tiba Bujang Beji mendengar suara perempuan sedang menertawakannya. Rupanya, tanpa disadari, dewi-dewi di Kayangan telah mengawasi tingkah lakunya. Saat akan sampai di persimpangan Kapuas-Melawi, ia menoleh ke atas. Namun, belum sempat melihat wajah dewi-dewi yang sedang menertawakannya, tiba-tiba kakinya menginjak duri yang beracun.
“Aduuuhhh... !” jerit Bujang Beji sambil berjingkrat-jingkrat menahan rasa sakit.
Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak bukit terputus.
Akibatnya, puncak bukit batu terjatuh dan tenggelam di sebuah pesisir pantai yang panjang yang disebut Jetak. Dengan geram, Bujang Beji segera menatap wajah dewi-dewi yang masih menertawakannya.
  • “Awas, kalian! Tunggu saja pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada dewi-dewi tersebut sambil menghentakkan kakinya yang terkena duri beracun ke salah satu bukit di sekitarnya.
  • “Enyahlah kau duri brengsek!” seru Bujang Beji dengan perasaan marah.
Setelah itu, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di pesisir pantai yang panjang itu. Namun, Bukit Batu itu sudah melekat pada pesisir pantai yang panjang, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua.

Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungai Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu. Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu [Pohon kumpang mambu adalah sejenis kayu raksasa yang ujungnya menjulang tinggi ke angkasa.] yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Kayangan dan membinasakan para dewi yang telah menggagalkan rencananya itu. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dengan mata kepala dari bawah.

Sebelum memanjat pohon kumpang mambu, Bujang Keji melakukan upacara sesajian adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke kayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut. Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajiannya. Binatang itu adalah kawanan sampok (Rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai kayangan.
  • “Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang”“ tanya Raja Sampok kepada Raja Beruang dalam pertemuan itu.
  • “Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang.
  • “Bagaimana caranya”“ tanya Raja Sampok penasaran.
  • “Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.
Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, setuju dengan pendapat Raja Beruang.

Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar pohon itu. Oleh karena jumlah mereka sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai kayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.
“Kretak... Kretak... Kretak... !!!”
Beberapa saat kemudian, pohon Kumpang Mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.
“Tolooong... ! Tolooong.... !” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong.
Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas Hulu, tepatnya di Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan dewi-dewi di kayangan, sedangkan Temenggung Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.

Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap.

โ„ฆโ„ฆโ„ฆ

Demikianlah LEGENDA BUKIT KELAM dari daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Kisah ini termasuk dalam dongeng teladan yang mengandung pesan moral. Sedikitnya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu akibat yang ditimbulkan dari sikap iri hati dan tamak, dan keutamaan sifat suka bermusyawarah untuk mufakat. Sifat iri hati dan tamak tercermin pada sifat dan perilaku Bujang Beji yang hendak menguasai ikan milik Temenggung Marubai yang ada di Sungai Melawi. Dari sini dapat diambil sebuah pelajaran, bahwa sifat tamak dan serakah dapat menyebabkan seseorang menjadi iri dan dengki. Sifat ini tidak patut dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. 
Sementara sifat suka bermusyawarah untuk mufakat terlihat pada perilaku kawanan sampok dan beruang yang berusaha untuk menggagalkan rencana jelek Bujang Beji yang hendak membinasakan dewi-dewi di kayangan. Menurut Tenas Effendy, melalui musyawarah dan mufakat, tunjuk ajar dapat dikembangkan dengan pikiran, ide, atau gagasan yang dapat disalurkan.   (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

LEGENDA BATU MENANGIS

0 komentar

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantan dan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia Timur. Provinsi ini memiliki ratusan sungai besar dan kecil, sehingga dijuluki sebagai wilayah “Seribu Sungai”. Menurut cerita, di sebuah daerah di provinsi ini ada seorang gadis cantik yang menjelma menjadi batu.

∞∞∞


Di sebuah desa terpencil di daerah Kalimantan Barat, Indonesia, hiduplah seorang janda tua dengan seorang putrinya yang cantik jelita bernama Dewi Kusuma.  Mereka tinggal di sebuah gubuk yang terletak di ujung desa. Sejak ayah Dewi Kusuma meninggal, kehidupan mereka menjadi susah. Ayah Dewi Kusuma tidak meninggalkan harta warisan sedikit pun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, ibu Dewi Kusuma bekerja di sawah atau ladang orang lain sebagai buruh upahan.

Sementara putrinya, Dewi Kusuma, seorang gadis yang manja. Apapun yang dimintanya harus dikabulkan. Selain manja, ia juga seorang gadis yang malas. Kerjanya hanya bersolek dan mengagumi kecantikannya di depan cermin. Setiap sore ia selalu hilir-mudik di kampungnya tanpa tujuan yang jelas, kecuali hanya untuk mempertontonkan kecantikannya. Ia sama sekali tidak mau membantu ibunya mencari nafkah. Setiap kali ibunya mengajaknya pergi ke sawah, ia selalu menolak.
  • “Nak! Ayo bantu Ibu bekerja di sawah,” ajak sang Ibu.
  • “Tidak, Bu! Aku tidak mau pergi ke sawah. Nanti kuku dan kulitku kotor terkena lumpur,” jawab Dewi Kusuma menolak.
  • “Apakah kamu tidak kasihan melihat Ibu, Nak”“ tanya sang Ibu mengiba.
  • “Tidak! Ibu saja yang sudah tua bekerja di sawah, karena tidak mungkin lagi ada laki-laki yang tertarik pada wajah Ibu yang sudah keriput itu,” jawab Dewi Kusuma dengan ketus.
Mendegar jawaban anaknya itu, sang Ibu tidak dapat berkata-kata lagi. Dengan perasaan sedih, ia pun berangkat ke sawah untuk bekerja. Sementara si Dewi Kusuma tetap saja tinggal di gubuk, terus bersolek untuk mempecantik dirinya. Setelah ibunya pulang dari sawah, Dewi Kusuma meminta uang upah yang diperoleh Ibunya untuk dibelikan alat-alat kecantikan.
  • “Bu! Mana uang upahnya itu!” seru Dewi Kusuma kepada Ibunya.
  • “Jangan, Nak! Uang ini untuk membeli kebutuhan hidup kita hari ini,” ujar sang Ibu.
  • “Tapi, Bu! Bedakku sudah habis. Saya harus beli yang baru,” kata Dewi Kusuma.
  • “Kamu memang anak tidak tahu diri! Tahunya menghabiskan uang, tapi tidak mau bekerja,” kata sang Ibu kesal.
Meskipun marah, sang Ibu tetap memberikan uang itu kepada Dewi Kusuma. Keesokan harinya, ketika ibunya pulang dari bekerja, si Dewi Kusuma meminta lagi uang upah yang diperoleh ibunya untuk membeli alat kecantikannya yang lain. Keadaan demikian terjadi hampir setiap hari.

Pada suatu hari, ketika ibunya hendak ke pasar, Dewi Kusuma berpesan agar dibelikan sebuah alat kecantikan. Tapi, ibunya tidak tahu alat kecantikan yang dia maksud. Kemudian ibunya mengajaknya ikut ke pasar.
  • “Kalau begitu, ayo temani Ibu ke pasar!” ajak Ibunya.
  • “Aku tidak mau pergi ke pasar bersama Ibu!” jawab Dewi Kusuma menolak ajakan Ibunya.
  • “Tapi, Ibu tidak tahu alat kecantikan yang kamu maksud itu, Nak!” seru Ibunya.
Namun  setelah didesak, Dewi Kusuma pun bersedia menemani Ibunya ke pasar.
  • “Aku mau ikut Ibu ke pasar, tapi dengan syarat Ibu harus berjalan di belakangku,” kata Dewi Kusuma kepada Ibunya.
  • “Memang kenapa, Nak!” tanya Ibunya penasaran.
  • “Aku malu kepada orang-orang kampung jika berjalan berdampingan dengan Ibu,” jawab Dewi Kusuma.
  • “Kenapa harus malu, Nak” Bukankah aku ini Ibu kandungmu” tanya sang Ibu.
  • “Ibu seharusnya berkaca. Lihat wajah Ibu yang sudah keriput dan pakaian ibu sangat kotor itu! Aku malu punya Ibu berantakan seperti itu!” seru Dewi Kusuma dengan nada merendahkan Ibunya.
Walaupun sedih, sang Ibu pun menuruti permintaan putrinya. Setelah itu, berangkatlah mereka ke pasar secara beriringan. Si Dewi Kusuma berjalan di depan, sedangkan Ibunya mengikuti dari berlakang dengan membawa keranjang. Meskipun keduanya ibu dan anak, penampilan mereka kelihatan sangat berbeda. Seolah-olah mereka bukan keluarga yang sama. Sang Anak terlihat cantik dengan pakaian yang bagus, sedangkan sang Ibu kelihatan sangat tua dengan pakaian yang sangat kotor dan penuh tambalan.
Di tengah perjalanan, Dewi Kusuma bertemu dengan temannya yang tinggal di kampung lain.
  • “Hei, Dewi Kusuma! Hendak ke mana kamu”“ tanya temannya itu.
  • “Ke pasar!” jawab Dewi Kusuma dengan pelan.
  • “Lalu, siapa orang di belakangmu itu” Apakah dia ibumu”“ tanya lagi temannya sambil menunjuk orang tua yang membawa keranjang.
  • “Tentu saja bukan ibuku! Dia adalah pembantuku,” jawab Dewi Kusuma dengan nada sinis.
Laksana disambar petir orang tua itu mendengar ucapan putrinya. Tapi dia hanya terdiam sambil menahan rasa sedih. Setelah itu, keduanya pun melanjutkan perjalanan menuju ke pasar. Tidak berapa lama berjalan, mereka bertemu lagi dengan seseorang.
  • “Hei, Dewi Kusuma! Hendak ke mana kamu”“ tanya orang itu.
  • “Hendak ke pasar,” jawab Dewi Kusuma singkat.
  • “Siapa yang di belakangmu itu”“ tanya lagi orang itu.
  • “Dia pembantuku,” jawab Dewi Kusuma mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Jawaban yang dilontarkan Dewi Kusuma itu membuat hati ibunya semakin sedih. Tapi, sang Ibu masih kuat menahan rasa sedihnya. Begitulah yang terjadi terus-menerus selama dalam perjalanan menuju ke pasar. Akhirnya, sang Ibu berhenti, lalu duduk di pinggir jalan.
“Bu! Kenapa berhenti”“ tanya Dewi Kusuma heran.
Beberapa kali Dewi Kusuma bertanya, namun sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaannya. Sesaat kemudian, Dewi Kusuma melihat mulut ibunya komat-komit sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas.
“Hei, Ibu sedang apa”“ tanya Dewi Kusuma dengan nada membentak.
Sang Ibu tetap saja tidak menjawab pertanyaan anaknya. Ia tetap berdoa kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka itu.
“Ya, Tuhan! Ampunilah hambamu yang lemah ini. Hamba sudah tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak hamba yang durhaka ini. Berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya!” doa sang Ibu.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba langit menjadi mendung. Petir menyambar-nyambar dan suara guntur bergemuruh memekakkan telinga. Hujan deras pun turun. Pelan-pelan, kaki Dewi Kusuma berubah menjadi batu. Dewi Kusuma pun mulai panik.
  • “Ibu...! Ibu... ! Apa yang terjadi dengan kakiku, Bu”“ tanya Dewi Kusuma sambil berteriak.
  • “Maafkan Dewi Kusuma! Maafkan Dewi Kusuma, Bu! Dewi Kusuma tidak akan mengulanginya lagi, Bu!” seru Dewi Kusuma semakin panik.
Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hukuman itu tidak dapat lagi dihindari. Perlahan-lahan, seluruh tubuh Dewi Kusuma berubah menjadi batu. Perubahan itu terjadi dari kaki, badan, hingga ke kepala. Gadis durhaka itu hanya bisa menangis dan menangis menyesali perbuatannya.

Sebelum kepala anaknya berubah menjadi batu, sang Ibu masih melihat air menetes dari kedua mata anaknya. Semua orang yang lewat di tempat itu juga ikut menyaksikan peristiwa itu. Tidak berapa lama, cuaca pun kembali terang seperti sedia kala. Seluruh tubuh Dewi Kusuma telah menjelma menjadi batu.
Batu itu kemudian mereka letakkan di pinggir jalan bersandar ke tebing. Oleh masyarakat setempat, batu itu mereka beri nama Batu Menangis. Batu itu masih tetap dipelihara dengan baik, sehingga masih dapat kita saksikan hingga sekarang.


∞∞∞

Demikianlah LEGENDA BATU MENANGIS dari daerah Kalimantan Barat, Indonesia. Cerita di atas termasuk cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat yang ditimbulkan dari sikap durhaka terhadap orang tua. Oleh karena itu, seorang anak harus hormat dan patuh kepada kedua orang tuanya, karena doa ibu akan didengar oleh Tuhan.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT TERBARU

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT POPULER

ADHI MEKAR INDONESIA "AMI SCHOOL" DENPASAR BARAT, BALI

 
  • AGATHA NICOLE © 2017 | Modified By YURI | Powered By BLOGGER | KEDAI LOMBOK