Daftar Cerita Legenda Rakyat

KISAH SYEKH BELABELU YANG RENDAH HATI

SYEKH BELABELU atau yang bernama asli JAKA BANDEM adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Majapahit yang melarikan diri dari istana ke sebuah bukit di wilayah pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, karena tidak mau dipaksa memeluk agama Islam oleh penakluknya yakni kerajaan Islam Demak.
Dalam pelariannya, ia justru bertemu dengan seorang ulama bernama SYEKH MAULANA MAGRIBI dan mulai tertarik belajar tentang Islam dan berguru kepadanya. Syekh Belabelu memiliki suatu kebiasaan buruk yang tidak disukai oleh gurunya, yaitu gemar makan nasi dengan jumlah yang banyak. Beberapa kali sang Guru mengingatkannya agar tidak makan nasi secara berlebihan, namun Syekh Belabelu tetap tidak menghiraukannya. Akhirnya, sang Guru yang merasa ilmunya paling tinggi menantangnya untuk beradu kesaktian dan adu cepat sampai ke Mekah, Arab Saudi.
∞∞∞


Alkisah, di daerah Jawa Timur, tersebutlah seorang raja bernama Raja Hayam Wuruk yang bertahta di Kerajaan Majapahit, dengan gelar Maharaja Sri Rajasangara. Sang Raja mempunyai seorang putri yang lahir dari permaisurinya, bernama Kusumawardani. Ia juga mempunyai seorang putra yang lahir dari selirnya, bernama Wirabhumi. Ketika Raja Hayam Wuruk wafat (1389 M), kedudukannya digantikan oleh menantunya yang bernama Wikramawardhana (suami Kusumawardhani). Sementara itu Pangeran Wirabhumi diberi kekuasaan di ujung timur Pulau Jawa yang bernama daerah Blambangan, sehingga lahirlah Kerajaan Blambangan yang terletak di sebelah selatan Banyuwangi atau yang lebih dikenal Alas Purwo.

Pada mulanya, hubungan antara Wikramawardhana dengan Wirabhumi berjalan harmonis. Wirabhumi tetap mengakui kekuasaan pemerintahan pusat, Kerajaan Majapahit. Namun, ketika Prabu Sri Suhita menjadi raja menggantikan ayahnya Wikramawardhana, Raden Wirabhumi merasa tidak puas dengan penggantian tersebut. Sejak itulah, hubungan kedua kerajaan tersebut menjadi retak, sehingga mengakibatkan terjadinya perang saudara yang dikenal dengan Perang Paregreg (1401-1406 M).

Menurut cerita, Perang Paregreg tersebut menjadi salah satu penyebab kemunduran Kerajaan Majapahit, sebelum akhirnya runtuh setelah diserang oleh Raden Patah dan pasukannya dari Kerajaan Islam Demak, Jawa Tengah pada 1478 Masehi atau 1400 saka. Dengan runtuhnya Kerajaan Majapahit dan masuknya pengaruh Islam, seluruh rakyat Majapahit yang beragama Hindu menjadi terdesak. Para kerabat dan keluarga Keraton Majapahit yang enggan memeluk agama Islam meninggalkan istana. Sebagian besar dari mereka menyeberang ke Pulau Bali, dan sebagian yang lain melarikan diri ke Pulau Kalimantan, serta ke pulau-pulau lainnya.

Salah seorang kerabat Keraton Majapahit yang enggan memeluk agama Islam adalah RADEN JAKA BANDEM, putra Prabu Brawijaya terkahir. Hanya saja, ia dan para pengikutnya tidak tahu harus melarikan diri ke mana. Akhirnya, mereka berjalan menyusuri pantai selatan menuju ke arah barat.
Setelah berhari-hari menempuh perjalanan, mereka pun tiba di sebuah pantai yang bernama Parangtritis, yaitu sebuah pantai yang landai, berpasir putih, dan deburan ombaknya yang besar. Di sebelah utara pantai itu terdapat dua bukit kapur yang berdekatan, yaitu Bukit Pemancingan dan Bukit Sentana.
“Wahai, pengikutku! Pengembaraan ini kita akhiri sampai di sini. Saya kira tempat ini sangat bagus dan aman untuk tempat tinggal. Raden Patah dan para pengikutnya tidak akan mungkin menemukan kita di sini!” ujar Raden Jaka Bandem kepada pengikutnya.
Setelah memeriksa keadaan kedua bukit tersebut, akhirnya Raden Jaka Bandem bersama pengikutnya memilih Bukit Pemancingan untuk tempat tinggal. Di atas bukit itu, mereka mendirikan padepokan, dan Raden Jaka Bandem diangkat menjadi ketua padepokan. Mereka kemudian membuka lahan pertanian di sekitar bukit dan memperoleh hasil padi dan pangan lainnya yang melimpah. Keberhasilan Raden Jaka Bandem tersebut mengundang simpati penduduk sekitar yang sering lewat ketika sedang berburu atau hendak menangkap ikan di pesisir Pantai Selatan. Banyak di antara mereka yang datang ke padepokannya untuk belajar cara bercocok tanam yang baik. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang tertarik ingin belajar baca tulis dan ilmu bela diri kepadanya. Raden Jaka Bandem pun menerima mereka sebagai murid dengan senang hati.

Selang beberapa tahun kemudian, datanglah seorang ulama bernama SYEKH MAULANA MAHGRIBI. Ia adalah utusan RADEN PATAH ATAU PANGERAN SENOPATI PANEMBAHAN JIN BUN yang diperintahkan untuk menyiarkan agama Islam di wilayah itu. Setelah menyaksikan keindahan alam Pantai Parangtritis dan mengetahui bahwa banyak orang yang tinggal di puncak Bukit Pemancingan, ia dan para pengikutnya memutuskan untuk menetap dan mendirikan pondok di atas Bukit Sentana. Setelah pembangunan pondok itu selesai, Syekh Maulana Maghribi mulai mengajak dan menarik sempati penduduk sekitar, terutama Raden Jaka Bandem sendiri yang akhirnya tertarik untuk datang belajar agama Islam di pondoknya, disamping itu juga Raden Jaka Bandem menyadari bahwa tidak mungkin lagi untuk menyingkir atau melarikan diri dan demi keselamatan semua pengikutnya, Raden Jaka Bandem merasa ia tidak bisa menolak dan menampik perubahan kekuasaan yang saat ini dikuasai oleh orang-orang Islam kerajaan Demak .
“Jika aku berhasil mengajak Raden Jaka Bandem masuk Islam, tentu para pengikut dan murid-muridnya akan mengikutinya,” pikir Syekh Maulana Maghribi.
Alhasil, Syekh Maulana Maghribi berhasil menarik simpati Raden Jaka Bandem dan mengangkatnya menjadi murid. Raden Jaka Bandem seorang murid yang cerdas dan tekun, sehingga ia dapat menguasai pelajaran yang didapatkan dari gurunya dengan cepat.
Setelah beberapa lama mendalami ajaran Islam, Raden Jaka Bandem memutuskan untuk masuk agama Islam. Dengan demikian, para pengikut dan murid-muridnya pun berbondong-bondong memeluk agama Islam. Syekh Maghribi Kemudian Mengganti Nama Raden Jaka Bandem Menjadi Syekh Belabelu dan memperkenankannya mengajarkan agama Islam di padepokannya. Syekh Belabelu pun merubah fungsi padepokannya menjadi pondok. Dalam waktu tak berapa lama, orang-orang pun berdatangan berguru kepadanya.

Di sela-sela kesibukannya mengajar di pondoknya, Syekh Belabelu mengisi waktunya dengan bertapa. Namun, cara bertapanya berbeda dari yang biasa dilakukan orang-orang pada umumnya. Ia bukannya menjauhkan diri dari kesenangan dunia dengan cara berpuasa, melainkan lebih mementingkan kepuasan dirinya, terutama pada masalah makan. Sebenarnya, kebiasaan tersebut sudah dilakoni sejak ia masih muda. Tak heran jika seluruh atap dan dinding pondoknya dipenuhi oleh kerak nasi. Semakin hari, ia pun bertambah gemuk.

Syekh Maulana Maghribi yang mengetahui hal itu masih memakluminya, karena Syekh Belabelu masih menjalankan kewajibannya, seperti shalat lima waktu. Namun, lama-kelamaan, ia merasa jengkel karena kebiasaan buruk muridnya itu semakin menjadi-jadi. Semakin hari porsi makannya semakin berlebihan. Suatu hari, sang Guru mendatangi pondoknya untuk menasehatinya.
  • “Hai, Belabelu! Hentikan kebiasaanmu makan berlebihan itu!” seru Syekh Maulana Maghribi dengan nada marah.
  • “Begitu pula cara bertapamu berbeda dengan cara yang pernah kuajarkan kepadamu!” tambah Sykeh Maulana Maghribi.
Syekh Belabelu menjawab bahwa setiap orang mempunyai cara sendiri-sendiri bertapa untuk mencapai tujuannya. Rupanya, ia tetap ingin bertapa dengan caranya sendiri dan tidak mau meninggalkan kegemarannya makan nasi.
“Maaf, Tuan Guru! Aku akan tetap bertapa dengan caraku sendiri,” jawab Syekh Belabelu.
Mendengar jawaban itu, Syekh Maulana Maghribi bertambah jengkel dan menantang muridnya itu untuk saling adu kesaktian.
“Baiklah kalau begitu, Belabelu! Bagaimana kalau kita saling adu kesaktian untuk membuktikan siapakah di antara kita yang paling sakti?” tantang Syekh Maulana Maghribi.
Syekh Belabelu tidak bersedia menerima tantangan gurunya.
“Maaf, Tuan Guru! Jika bertanding hanya untuk mengetahui siapa di antar kita yang terkuat, saya kira tidak ada gunanya, Guru! Bukankah sudah ada yang terkuat, yaitu Allah SWT?” jawab Syekh Belabelu.
Syekh Maulana Maghribi tidak puas dengan jawaban itu. Akhirnya, ia kembali menantang muridnya itu dengan cara yang lain.
“Bagaimana kalau aku tantang kamu berlomba adu cepat?” ajak Syekh Maulana Maghribi.
Syekh Belabelu menerima tantangan itu. Kemudian guru dan murid itu pun bersepakat akan berlomba adu cepat sampai ke Mekah untuk mengikuti shalat Jum’at. Perlombaan itu baru akan dilaksanakan pada pekan keempat bulan depan, karena keduanya harus mengasah kekuatan mereka dengan cara bertapa selama satu bulan. Guru dan murid itu pun mulai bertapa dengan cara mereka masing-masing.

Syekh Maulana Maghribi bertapa dengan cara meninggalkan segala kesenangan dunia, tidak makan dan minum. Sementara Syekh Belabelu melaksanakan tapanya seperti biasanya, yaitu menanak nasi dan makan. Bahkan, ia masih terlihat sibuk menanak nasi hingga hari yang telah ditentukan telah tiba.
“Hai, Belabelu! Apakah engkau sudah lupa bahwa sekarang sudah hari Jum’at? Bukankah pagi ini kita akan berlomba adu cepat sampai ke Mekah untuk melaksanakan shalat Jum’at di sana?” tanya Syekh Maulana.
Syekh Belabelu hanya tersenyum. Ia kemudian menjawab dengan nada santai.
“Saya tidak lupa ketentuan itu, Guru! Tapi saya harus menunggu sampai nasiku matang dan makan dulu. Jika Guru tidak keberatan, silahkan berangkat terlebih dahulu, saya akan segera menyusul, dan saya pasti terlebih dahulu tiba di sana!” ujar Syekh Belabelu sambil meneruskan menanak nasi.
Tanpa menghiraukan lagi perkataan sang Murid, Syekh Maulana Mahgribi pun berangkat ke Mekah dengan membawa bekal seperlunya. Ia merasa yakin bahwa dia pasti akan sampai terlebih dahulu di Mekah. Sementara Syekh Belabelu masih asyik menikmati nasinya yang sudah matang. Di wajahnya sama sekali tidak terlihat perasaan cemas atau khawatir akan dikalahkan oleh gurunya.

Sementara itu, Syekh Maulana Maghribi telah tiba di Mekah. Ia melihat sudah banyak orang yang datang ke MASJIDIL HARAM hendak menunaikan shalat Jum’at. Ia pun segera masuk ke dalam masjid. Alangkah terkejutnya ia ketika menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tempat duduk, tiba-tiba pandangannya tertuju kepada seorang jamaah yang sangat dikenalnya.
“Hai, bukankah itu Syekh Belabelu? Bagaimana mungkin dia bisa sampai di sini terlebih dahulu? Bukankah tadi dia masih sibuk memasak nasi ketika aku meninggalkannya?” gumam Syekh Maulana Maghribi dengan heran.
Syekh Belabelu yang melihat gurunya sedang berdiri di antara jamaah segera melambaikan tangan dan memberi isyarat agar sang Guru duduk di sampingnya. Dengan perasaan malu, Syekh Maulana Maghribi pun segera duduk di samping Syekh Belabelu.
  • “Hai, Belabelu! Bagaimana kamu bisa mendahuluiku tiba di sini?” bisik Syekh Maulana Maghribi.
  • “Maaf, Tuan Guru! Tuan Guru berangkat ke sini dengan kekuatan sendiri, sedangkan saya hanya dengan menyandarkan diri kepada kekuatan Allah SWT, karena kekuatan Allah SWT berada di atas segala-galanya,” jawab Syekh Belabelu sambil tersenyum.
Akhirnya, Syekh Maulana Maghribi menyadari bahwa dirinya mempunyai batas kemampuan dan mengakui keunggulan Syekh Belabelu, meskipun dia adalah muridnya.

∞∞∞

Demikian KISAH SYEKH BELABELU YANG RENDAH HATI dari daerah Bantul, Yogyakarta, Indonesia. Hingga kini, makam Syekh Maulana Maghribi dan Syekh Belabelu yang berada di Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, menjadi salah satu obyek wisata sejarah dan religi yang ramai dikunjungi.
Para peziarah tidak hanya berasal dari wilayah Yogyakarta, tetapi juga dari luar Yogyakarta dan bahkan dari luar Jawa. Mereka datang ke petilasan tersebut dengan niat dan tujuan yang berbeda-beda untuk ngalap (mencari) berkah, seperti memohon kenaikan pangkat, mendapat pekerjaan, dagangannya laris, hasil panennya meningkat, dan bahkan ada yang memohon agar pengetahuan agama Islamnya bertambah.
Permohonan tersebut mereka sampaikan melalui para juru kunci, yaitu abdi dalem Kraton Yogyakarta yang ditugaskan secara bergantian. Biasanya, petilasan kedua syekh tersebut ramai dikunjungi oleh peziarah pada malam Selasa Kliwon dan Juma’at Kliwon, serta malam 1 Syuro (1 Muharram).

Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa hendaknya kita tidak merendahkan orang lain dengan hanya melihat kedudukannya lebih dari pada kita, karena boleh jadi orang yang direndahkan itu lebih baik dari kita, setiap individu/pribadi yang percaya dengan jalan keyakinannya punya cara sendiri-sendiri dalam menjalaninya, dan kita tidak bisa memaksakan kepada orang lain bahwa cara kita lah yang paling benar dan baik. Hal ini terlihat pada sikap dan perilaku Syekh Maulana Maghribi yang merasa lebih hebat dari pada muridnya sendiri, Syekh Belabelu. Akhirnya, ia pun menjadi malu sendiri, karena ternyata sang Murid lebih hebat dari dirinya, “ kalau suka merendahkan orang, kalau tidak menjadi abu, menjadi arang”.  (Agatha Nicole Tjang – Ie Lien Tjang © http://agathanicole.blogspot.co.id)



BERSAHABAT DENGAN AGATHA NICOLE TJANG - IE LIEN TJANG

Show Comments: OR

0 komentar:

Post a Comment

Teman-Teman yang berkunjung pasti komentarnya juga baik. karena kita semua manusia baik-baik. Oleh karena itu Nicole bilang Salam Komen terbaik kepada semua.
Kalau Mau Contact Nicole di :
Em@il : ieliencang@gmail.com
Phone & SMS : +6287760129111
T E R I M A K A S I H - MATUR SUKME - THANK YOU

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT TERBARU

  • NAMA MARGA KETURUNAN CINA DI INDONESIA DAN DUNIA
    Nama Marga Keturunan Cina adalah nama yang diekspresikan dengan karakter Han (Hanzi). Nama ini digunakan secara luas oleh warga negara Republik Rakyat Tiongkok, Republik Tiongkok, Hong Kong, Makau dan keturunan Cina di negara-negara lainnya. Nama Cina biasanya terdiri dari 2 karakter sampai 4 karakter, walaupun ada yang lebih dari 4 karakter, namun umumnya nama seperti itu adalah mengambil...
    Dec-21 - 2017 | 4 Comments | More »
  • PENGGEMBALA SAPI TUA dan TONGKAT AJAIB
    Seperti negara kita tercinta Indonesia, negara-negara lain pun mempunyai cerita-cerita legenda rakyat (folklore) yang menarik dan sarat akan makna dan pesan moral bagi kita. Negeri Tirai Bambu Tiongkok atau China juga memiliki beberapa cerita legenda rakyat salah satunya adalah KISAH PENGGEMBALA SAPI TUA DAN TONGKAT AJAIB. Dahulu kala, ada sebuah danau yang sangat jernih di Yunnan, China....
    Dec-21 - 2017 | No Comments | More »
  • ASAL MULA SELAT BALI
    Selat Bali adalah selat yang memisahkan antara Pulau Jawa dengan Pulau Bali. Untuk menyeberang dari Pulau Jawa ke Pulau Bali melalui Selat Bali ini, yang dihubungkan dengan layanan kapal ferry dengan Pelabuhan Gilimanuk di Pulau Bali dan Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi - Pulau Jawa. Alkisah, di Kerajaan Daha, Kediri, Jawa Timur, hiduplah seorang Brahamana (pendeta) yang bernama Empu...
    Dec-21 - 2017 | No Comments | More »
  • ASAL MUASAL UPACARA NANGLUK MERANA (MEMBASMI HAMA) KABUPATEN KARANGASEM
    Di Pulau Bali yang merupakan Pulau Dewata, terdapat tiga putra Batara Siwa yaitu Batara Gunung Agung, Batara Andakasa dan Batara Batur. Batara Batur setiap ada hama merusak tanamannya agar segera meminta maaf kepada Batara Gunung Agung dan Batara Andakasa ke laut. Di samping itu, Batara Batur juga diharapkan agar setiap tahun memohon maaf ke sana dengan melakukan upacara yang disebut...
    Dec-19 - 2017 | No Comments | More »
  • KISAH PUTRI CILINAYA
    Putri Cilinaya adalah seorang putri raja Kerajaan Daha yang mengingkari NAZAR-nya (Janji Suci Pada Tuhan Yang Maha Esa). Karena pengingkarannya itu sang putri diterbangkan oleh angin dan menjatuhkannya pada sebuah tempat, dimana tempat itu didiami oleh sepasang suami-istri yang kemudian memberi nama sang bayi putri tersebut dengan nama Cilinaya.  Alkisah pada zaman dahulu, tersebut...
    Dec-19 - 2017 | No Comments | More »
  • DONGENG KISAH BATU GOLOQ DI PULAU LOMBOK
    Batu Goloq adalah sejenis batu ceper yang terdapat di sebuah daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Batu ini diyakini oleh masyarakat setempat sebagai penyebab munculnya tiga nama tempat di daerah Nusa Tenggara Barat, yakni Desa Gembong, Dasan Batu, dan Montong Teker. Alkisah, di daerah Padamara dekat Sungai Sawing, Nusa Tenggara Barat, Indonesia, ada sepasang suami-istri...
    Dec-19 - 2017 | No Comments | More »
  • KISAH WINANGSIA, PUTRI RATNA AYU WIDERADIN YANG DISIA-SIAKAN
    Pada jaman dahulu kala, di pulau lombok Nusa Tenggara Barat, berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja Indrapandita. Raja itu memiliki sembilan putri yang cantik-cantik. Putri sulungnya bernama Denda Wingi, sedangkan si bungsu bernama Ratna Ayu Wideradin. Dari kesembilan putri raja tersebut, si bungsulah yang paling cantik dan mempesona. Maka, tidak mengherankan jika si bungsu menjadi...
    Dec-15 - 2017 | 1 Comment | More »

ARTIKEL & CERITA DAN KISAH LEGENDA RAKYAT POPULER

  • NAMAKU
    26.11.2017 - 1 Comments
    Namaku Agatha Nicole, dan nama chinesseku Ie Lien dan margaku Tjang. Orang tuaku memang bukan orang Indonesia asli, nenek moyangku berasal dari China, tepatnya dari Shenzhen, Guandong - 广东 atau Canton atau Kwantung. Tetapi mereka sudah berada di Indonesia jauh sebelum Indonesia Merdeka. Nenek moyangku tiba di Pulau Lombok sekitar tahun 1930-an. Kakek uyutku dari Engkong menikah…
  • ASAL USUL TELAGA WEKABURI
    30.11.2017 - 1 Comments
    Telaga Wekaburi terletak di Desa Werabur, Kecamatan Windesi, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Sebelum menjadi Telaga Wekaburi, tempat ini masih berupa sungai kecil. Namun, tersebab oleh sebuah peristiwa, sungai itu kemudian berubah menjadi telaga. ∞∞∞ Alkisah, di Wekaburi atau yang kini dikenal dengan nama DESA WERABUR, terdapat sebuah sungai kecil yang airnya sangat…
  • ASAL USUL NAMA IRIAN
    02.12.2017 - 0 Comments
    Sebelum pemekaran wilayah provensi, Provensi Papua Barat dan Provensi Papua menjadi satu wilayah provensi, yaitu Irian Jaya yang merupakan wilayah provensi paling timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berbatasan langsung dengan negara tetangga Papua Nugini (New Guinea). Menurut kisah legenda rakyat di Manokwari bahwa nama “Irian” yang dalam bahasa Biak artinya “Panas” tersebut…
  • KISAH PUTERI KACA MAYANG – ASAL MULA NAMA KOTA PEKANBARU
    12.08.2017 - 0 Comments
    Kota Pekanbaru adalah salah satu Daerah Tingkat II sekaligus sebagai ibukota Provinsi Riau, Indonesia. Sebelum ditemukannya sumber minyak, Pekanbaru hanyalah sebuah kota pelabuhan kecil yang berada di tepi Sungai Siak. Namun, saat ini Pekanbaru telah menjadi kota yang ramai dengan aktifitas perdagangannya. Letaknya yang strategis (berada di simpul segi tiga pertumbuhan…
  • PANGLIMA AWANG GARANG
    14.08.2017 - 0 Comments
    Riau merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Sumatera dan beribukota Pekanbaru. Provinsi Riau sebagian besar merupakan wilayah perairan dan termasuk jalur lalu lintas transportasi laut yang sangat strategis dan padat.  Bahkan, sejak ratusan tahun yang lalu, perairan Riau sangat ramai dengan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan dunia kelautan. Tidak terkecuali…

ADHI MEKAR INDONESIA "AMI SCHOOL" DENPASAR BARAT, BALI

 
  • AGATHA NICOLE © 2017 | Modified By YURI | Powered By BLOGGER | KEDAI LOMBOK