“Maaf, Ibu! Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada Ibu,” kata Banta.“Ada apa, Anakku? Katakanlah!” seru sang Ibu.“Dari mana kita mendapat makanan setiap hari, padahal Ayah tidak pernah bekerja?” Tanya Banta ingin tahu.“Ketahuilah, Anakku! Kebutuhan hidup sehari-hari kita dibantu oleh Pakcikmu yang kini menjadi Raja,” jawab ibunya.“Pakcik baik hati sekali ya Bu,” kata Banta.“Iya, Anakku!” jawab sang Ibu sambil tersenyum seraya membelai-belai rambut si Banta.
“Dasar kalian tidak tahu diri! Dikasih sedepa minta sejengkal pula.Bukankah semua kebutuhan hidup sehari-hari kalian telah aku penuhi!” bentak sang Raja. Alangkah sedihnya hati sang Ibu mendengar bentakan itu. Ia pun mengajak Banta kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Banta Seudang berusaha menenangkan hati ibunya.
“Sudahlah, Bu! Ibu tidak usah bersedih begitu. Kita seharusnya bersyukur karena Pakcik sudah banyak membantu kita,” bujuk si Banta.“Banta! Kamu memang Anakku yang baik. Tapi, kamu harus sekolah seperti teman-teman sebayamu,” kata sang Ibu. Mendengar perkataan itu, si Banta tiba-tiba berpikir bahwa apa yang dikatakan ibunya itu benar.
“Bu, Banta ingin pergi mencari obat mata untuk Ayah agar dapat kembali bekerja seperti biasanya dan Banta pun bisa sekolah,” ungkap Banta Seudang.“Baiklah, Anakku! Ibu merestuimu. Pergilah mencari obat mata untuk Ayahmu. Ibu doakan semoga kamu berhasil,” kata sang Ibu. Sang Ibu pun menyampaikan maksud Banta tersebut kepada ayah Banta.
"Kenapa ada balai di tengah hutan ini? Wah, pasti ada orang yang tinggal di sekitar sini,” pikirnya dalam hati. Ternyata benar.Menjelang waktu Ashar, tiba-tiba beberapa orang berjubah putih datang ke balai itu. Mereka lalu melakukan shalat secara berjamaah. Dengan hati bertanya-tanya, Banta hanya diam sambil memerhatikan perilaku orang-orang tersebut. Beberapa saat kemudian, Banta tiba-tiba melihat sebuah peristiwa ajaib. Begitu selesai shalat, orang-orang yang berjubah putih tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan matanya. Rupanya, Banta tidak tahu bahwa mereka itu adalah arwah-arwah para Aulia (Wali) Allah.
“Jika mereka selesai shalat, aku akan langsung memegang tangan sang Imam agar tidak menghilang,” pikirnya. Banta Seudang pun tinggal di balai itu menunggu kedatangan para Wali. Ketika waktu shalat Magrib tiba, para Wali tersebut datang untuk melaksanakan shalat.Banta Seudang pun segera duduk di samping imam. Begitu imam selesai shalat, ia langsung memegang tangannya.
“Hai, Anak Muda! Kenapa kamu memegang tanganku?” tanya imam itu.‘Maaf, Tuan! Saya memegang tangan Tuan supaya tidak menghilang,” jawab Banta.“Kalau saya boleh bertanya, siapakah Tuan-tuan ini sebenarnya? Kenapa Tuan-tuan bisa tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja?” tanya Banta heran.“Kami adalah para Aulia Allah,” jawab imam itu.“Engkau sendiri siapa? Kenapa bisa berada di tempat ini?” imam itu balik bertanya kepada Banta.“Saya Banta Seudang, Tuan! Saya hendak mencari obat mata untuk Ayah saya,” jawab Banta.‘Memang kenapa mata Ayahmu?” tanya imam itu.“Mata ayah saya buta, Tuan! Saya ingin agar mata Ayah saya bisa melihat lagi,” jawab Banta.“Engkau adalah anak yang berbakti. Baiklah kalau begitu, kamu tunggu di sini saja. Nanti akan datang gajah putih ke balai ini. Ikuti gajah putih itu ke mana pun pergi,” ujar sang Imam dan langsung menghilang.
“Jangan takut, Anak Muda! Aku sudah tahu maksud kedatanganmu kemari. Kamu ingin mencari obat mata untuk Ayahmu bukan?” tanya Jin Pari kepada Banta.“Benar, Jin Pari!” jawab Banta.“Baiklah kalau begitu. Aku tahu cara untuk menyembuhkan mata Ayahmu. Di tengah sungai itu, terdapat sebuah bunga ajaib, namanya bunga bangkawali,” ungkap Jin Pari.“Bagaimana saya bisa mendapatkannya, Jin?” tanya Banta bingung.
“Cucuku, jika ingin mendapatkan bunga bangkawali itu, kamu harus mengambilnya sendiri dengan berenang ke tengah sungai itu,” ujar Mak Toyo kepada Banta.Setelah mendapat penjelasan dari Mak Toyo, Jin Pari dan Banta pun mohon diri. Untuk melaksanakan syarat Mak Toyo, Banta harus menunggu hingga hari jumat. Maka ketika hari jumat tiba, ketujuh putri raja yang cantik-cantik tersebut datang dengan baju terbang mereka hendak mandi di sungai. Usai berganti pakaian, mereka lalu turun ke sungai dan berenang sambil tertawa bersuka ria.
“Mak Toyo! Aku sudah mendapatkan bunga bangkawali. Terima atas kebaikan, Mak!” ucap Banta Seudang.“Ya, sama-sama. Segeralah bawa bunga ajaib itu untuk ayahmu!” kata Mak Toyo.
“Ibu.. Ibu! Banta sudah pulang membawa obat mata untuk ayah!” teriak Banta Seudang dari depan rumahnya.“Ya, masuklah anakku! Ibu sedang sibuk memperbaiki lampu minyak,” teriak sang Ibu. Banta Seudang pun masuk ke dalam rumah bersama Mak Toyo dan Jin Pari.“Kenapa gelap begini? Di mana lampu minyaknya, Bu?” tanya Banta.“Lampunya kehabisan minyak. Ibu baru mengisinya,” jawab sang Ibu.
“Bu, ini Mak Toyo dan Jin Pari. Merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan obat mata untuk ayah,” jelas Banta Seudang. Ibu Banta Seudang pun tidak lupa berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari yang telah membantu Banta Seudang.“Bagaimana keadaan ayah dan Ibu selama Banta pergi?” Banta Seudang kembali bertanya. Mendengar pertanyaan Banta, sang ibu terdiam sejenak. Dengan wajah sedih, sang Ibu kemudian bercerita bahwa selama kepergian Banta Seudang, Pakciknya tidak pernah lagi membantu mereka. Terpaksalah sang ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Betapa sedih dan terharunya Banta Seudang mendengar cerita ibunya.“Benar, anakku! Pakcikmu memang sungguh keterlaluan dan tidak tahu diri. Sejak kamu pergi, dia tidak pernah lagi memberi kami makanan. Seandainya Ayah tidak buta begini, Ayah pasti sudah menghajarnya,” sahut sang Ayah dengan geram.“Sabar, Ayah! Banta membawakan obat mata untuk Ayah,” kata Banta menenangkan hati sang ayah. Setelah keadaan tenang, Banta Seudang segera mengambil semangkuk air, lalu mencelupkan bunga bangkawali yang ia bawa ke dalam mangkuk. Setelah beberapa saat, ia mengusapkan air dari mangkuk itu ke mata ayahnya hingga tiga kali.“Ayah! Cobalah buka mata Ayah pelan-pelan!” pinta Banta Seudang. Sang Ayah pun pelan-pelan membuka matanya. Sungguh ajaib, matanya dapat melihat seketika. Alangkah bahagianya sang Ayah dapat melihat wajah putranya.“Sejak kamu dilahirkan, barulah kali ini Ayah bisa melihat wajahmu, Anakku! Ayah sangat bangga padamu. Berkat usaha dan perjuanganmu, mata Ayah dapat melihat kembali seperti semula,” ucap sang Ayah seraya merangkul Banta Seudang.“Seharusnya,Ayah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, karena merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu,” kata Banta Seudang. Setelah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, sang Ayah pun membuka rahasia mengenai siapa diri mereka sebenarnya.“Ketahuilah, anakku! Sebenarnya, Ayah adalah Raja negeri ini. Sejak mata Ayah buta akibat terkena ranting kayu ketika berburu di hutan, kerajaan Ayah serahkan kepada Pakcikmu. Namun, ketika menjadi Raja, Pakcikmu telah lupa diri dan mencampakkan kita,” ungkap sang Ayah. Betapa terkejutnya Banta Seudang mendengar penjelasan ayahnya.
“Apa maksud kedatangan Kakak kemari?” tanya sang Raja.“Hai, Adikku! Engkau memang adik yang tidak tahu diri. Kakak berikan tahta kerajaan ini untuk sementara, tapi engkau malah mencampakkan Kakak bersama permaisuri dan putraku selama bertahun-tahun. Kini saatnya Kakak harus mengambil kembali tahta kerajaan ini!” seru sang Kakak.
“Ha... ha... ha...! Akulah penguasa negeri ini. Tidak akan ada yang bisa menggantikanku sebagai Raja. Aku memiliki banyak pengawal dan prajurit. Tapi, kalau Kakak berani merebut kembali tahta ini, hadapi dulu para pengawal dan prajuritku!” seru sang Raja sambil tertawa terbahak-bahak dengan angkuhnya.